Jalan yang Membuat Kael Diam Sebentar

1 dibaca

A

Lima menit yang diminta Liora tidak pernah benar-benar menjadi lima menit. Di dunia yang sudah rusak, waktu tidak mengikuti angka. Lima menit bisa terasa terlalu panjang kalau ada suara mesin di kejauhan, tetapi bisa terlalu pendek ketika ada darah yang harus dihentikan, bahu yang harus dibalut, air yang harus dibagi, dan tiga orang yang saling menahan diri agar kelelahan tidak berubah menjadi alasan untuk saling melukai.

“Bahu dulu,” kata Liora.

Kael menatapnya. “Pahanya lebih buruk.”

Zevran menoleh tetapi tidak sampai benar-benar melihat Kael. Liora berhenti sesaat. Kael sadar apa yang baru saja ia katakan dan wajahnya langsung menjadi lebih keras, seperti ia bisa menarik kalimat itu kembali hanya dengan marah.

“Jangan salah paham,” kata Kael kepada Zevran. “Kalau kamu mati, kami kehilangan pembaca jalan.”

“Aku belum sempat salah paham,” jawab Zevran pelan.

“Bagus.”

Liora membuka jaket Kael sebelum kalimat itu menjadi pertengkaran. Bahu kakaknya bengkak lebih buruk daripada saat mereka masih bergerak. Kulit di sekitar tulang selangka memar gelap, dan ada luka gesek dari pintu servis REG-K/17 yang terbuka paksa. Kael menahan sakit dengan cara yang membuat seluruh tubuhnya tampak seperti benda yang dipaku terlalu kuat di tempat.

“Kalau kamu pakai bahu ini lagi untuk membuka jalan, aku akan mengikat tanganmu ke kursi,” kata Liora.

“Kamu mulai terdengar sepertiku.”

“Itu tuduhan paling buruk hari ini.”

Kael hampir membalas, tetapi Liora menekan kain ke lukanya. Kalimatnya berubah menjadi napas tertahan. Ia menunduk, menggigit bagian dalam pipinya, lalu memalingkan wajah ke jendela seolah malam di luar lebih pantas dilihat daripada tangan Liora yang sedikit gemetar saat membalut bahunya.

Setelah Kael, Liora pindah ke kursi depan. Zevran menurunkan pandangan ketika ia mendekat. Liora membuka balutan di pahanya dengan cepat, menemukan darah baru di tepi luka, lalu membersihkannya tanpa komentar. Zevran menegang, tetapi tidak menarik diri. Tangannya yang terikat mengepal sebentar di pangkuan, kemudian melemas lagi saat Liora selesai menekan kain baru.

“Kalau sakit, bilang,” kata Liora.

“Sudah lewat bagian yang berguna untuk diberi nama.”

Kael dari belakang mengeluarkan suara pendek. “Kalimat seperti itu membuatmu terdengar ingin dikasihani.”

Zevran menatap kaca depan. “Aku tidak sedang meminta bagian itu.”

Liora mengikat balutan terakhir lebih kuat. “Kalian berdua punya cara yang melelahkan untuk mengatakan sakit.”

Tidak ada yang membalas. Liora membagi air dalam tutup botol, memberi Kael dulu karena ia paling mungkin menolak jika diberi belakangan, lalu memberi Zevran sedikit. Zevran menerima air itu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Setelah itu mereka tidak langsung berjalan. Liora keluar sebentar untuk memeriksa jejak di sekitar ban dan memastikan tidak ada darah menetes terlalu jelas ke tanah. Kael turun menyusul dengan gerakan kaku. Zevran tidak bergerak. Tidak mencoba mendengar.

Kael akhirnya berkata, rendah, “Kamu tetap membutuhkanku.”

“Aku tahu.”

“Jangan bicara seperti aku bisa digantikan.”

Liora menoleh pelan. “Aku tidak sedang menggantimu.”

“Kursi itu kosong dariku belum sampai sehari.”

“Aku tidak sedang mengganti kakakku dengan pemburu terluka yang belum tentu hidup saat kita sampai di Avara.”

Kael menatapnya lama. Kalimat itu kasar. Sengaja. Liora tahu Kael kadang hanya bisa mendengar cinta kalau dibungkus dalam bentuk yang tidak membuatnya merasa dikasihani. Kalau ia berkata terlalu lembut, Kael akan menolaknya seperti menolak air, obat, dan semua hal yang mengingatkan bahwa tubuhnya punya batas.

“Kamu masih kakakku,” lanjut Liora. “Kamu masih orang yang paling tahu Rav. Kamu masih orang yang akan kupercaya untuk menabrak jalan kalau semua rute tertutup. Tapi sekarang kamu terluka. Sekarang aku menyetir. Sekarang dia membaca tanda. Terima itu sebagai susunan sementara, bukan sebagai pengkhianatan.”

Kael memalingkan wajah. Bukan menyerah. Bukan setuju. Namun ia tidak membalas, dan untuk malam itu, tidak membalas adalah ruang yang cukup untuk diselamatkan.

Liora mengambil kesempatan sebelum Kael menemukan kata baru untuk menyakiti dirinya sendiri. “Masuk. Makan. Jangan ganggu tangannya lagi.”

Kael tertawa kecil, pahit. “Tangannya sekarang jadi urusanmu?”

“Semua tangan di Rav jadi urusanku kalau tangan itu bisa membuat makanan jatuh, pistol menembak, atau kemudi salah belok.”

Kael menatapnya dari samping. Liora menatap balik. Akhirnya Kael masuk ke kursi belakang. Liora berdiri di luar sebentar, menahan napas. Setelah itu ia kembali ke kursi pengemudi. Di dalam, Zevran sudah mengambil makanan dari pangkuannya. Ia tidak makan. Hanya menggenggamnya dengan tangan terikat.

“Maaf,” katanya pelan, tidak menatap Liora.

“Berhenti meminta maaf untuk tangan yang gemetar.”

“Aku tidak ingin membuatnya lebih buruk.”

“Dia membuat dirinya lebih buruk dengan bakat alami.”

Kael dari belakang berkata, “Aku mendengarnya.”

“Bagus,” kata Liora. “Makan.”

Setelah makan, Liora kembali menyalakan Rav. Mesin hidup dengan batuk berat, lalu stabil dalam getar rendah. Kael bersandar di kursi belakang seperti orang yang memilih tidak kalah lebih jauh hanya karena belum bisa menang.

Tanah tampak gelap dan rapat oleh bayangan batang pohon. Zevran menatapnya lama, lalu berkata, “Ada jalan di antara pohon.”

Kael langsung menatapnya. “Kamu tahu atau menebak?”

“Menebak dari tanah.”

Liora memperlambat Rav. Di depan, jalur utama kembali terbuka sedikit, cukup lebar untuk membuat mereka terlihat dari atas jika ada kendaraan lewat. Di sisi kiri, pepohonan mati berdiri rapat, tetapi di antara akarnya ada tanah yang lebih padat dan lebih halus, seolah sering dilewati tanpa pernah dibiarkan menjadi jalan.

“Berapa lama?” tanya Liora.

“Hitung sampai tujuh. Pelan. Setelah itu nyalakan lampu paling rendah.”

Kael menatapnya lewat spion. “Jangan.”

Liora diam sebentar, menimbang jalan, suara, dan tanah di bawah pohon. Lalu ia membawa Rav mendekat. Mesin hidup berat di bawah kendalinya. “Kita coba,” katanya. Kael menatapnya. Liora tidak menoleh.

Rav bergerak pelan ke arah pepohonan mati. Lampu rendah menyapu batang-batang yang tampak seperti tulang. Tanah di bawahnya memang berbeda, lebih padat, lebih halus, seolah sering dilewati oleh orang yang tidak ingin terlihat di jalan utama.

“Sekarang,” kata Zevran.

Liora mematikan lampu. Gelap langsung menelan kaca depan.

Kael mengumpat rendah. “Liora.”

“Satu,” kata Zevran pelan.

Rav bergerak sangat lambat. Liora tidak melihat dengan jelas.

“Dua.”

Kael bergerak di belakang, lalu menahan diri. Untuk sekali itu, semua orang di dalam Rav harus percaya pada hitungan seseorang yang tidak mereka percaya.

“Tiga.”

Roda kiri melewati akar kecil. Liora membetulkan setir sedikit.

“Empat.”

Zevran tidak menyentuh kemudi. Tidak menyentuh tangan Liora. Ia hanya menahan napas dan menatap kaca depan.

“Lima.”

Kael berkata rendah, “Kalau ini jebakan—”

“Enam,” potong Zevran.

Tidak ada keberanian dalam potongan itu. Hanya waktu yang terlalu pendek untuk memberi ruang pada ancaman.

“Tujuh. Lampu.”

Liora menyalakan lampu rendah. Jalur muncul di depan. Sempit. Tersembunyi. Tetapi nyata. Di belakang mereka, dari jalur yang tadi mereka tinggalkan, suara kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi. Lampunya tidak terlihat dari tempat Rav berada, tetapi suaranya jelas melewati jalan utama, terus ke depan, tidak turun ke pepohonan. Liora menahan napas. Kael diam. Zevran juga. Suara kendaraan itu menjauh.

Rav tetap pelan di jalur gelap bawah pohon. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Kael menatap punggung kursi penumpang. Pistol masih di tangan kanannya. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Liora menggenggam kemudi lebih kuat. “Lanjut?”

Zevran menunjuk ke depan, suaranya tetap rendah. “Lanjut. Pelan dulu. Kalau tanah mulai berbatu hitam, kita bisa keluar dari bayangan pohon.”

Kael akhirnya bicara. “Kalau kamu salah?”

Zevran menoleh sedikit, cukup untuk melihat Kael dari sudut mata, tidak cukup untuk menantang. “Maka kamu boleh membenciku sambil menembak.”

Liora menarik napas lewat hidung. “Tidak ada yang menembak siapa pun sampai aku selesai menyetir.”

Rav terus bergerak di bawah pepohonan mati, melewati jalur yang tidak tercatat di peta ayah, tetapi cukup nyata untuk membawa mereka menjauh dari mesin pengejar. Di depan, tanah mulai berubah warna. Hitam, keras, dan pecah-pecah di beberapa bagian. Liora melihatnya di bawah lampu rendah Rav, lalu melirik peta. Tidak ada nama di sana, hanya garis putus-putus yang mengarah ke barat.

Kael melihat peta itu dari belakang. “Kita cari tempat berhenti sebelum jalur terbuka. Jangan matikan mesin dulu kalau tempatnya terlalu sunyi.”

Liora menahan lelah yang naik ke lidahnya. “Aku tahu, Kael.”

Kael mendengar nada itu. Dan baru menyadari bahwa semua perintahnya lahir dari tempat yang sama, takut ditinggalkan.

Zevran menunjuk ke depan. “Ada dataran kecil setelah batu hitam.”

Kael langsung berkata, “Kamu tahu dari mana?”

“Aku melihat bentuk tanahnya yang turun.”

Liora membawa Rav menuju arah yang ditunjuk. Rav keluar dari jalur pepohonan ketika langit di atas barat mulai lebih gelap. Di depan, dataran kecil di balik batu hitam menunggu, tidak ramah, tetapi cukup tertutup untuk berhenti. Liora menurunkan laju.

Kael tetap diam karena jalan baru saja membuktikan sesuatu yang belum bisa ia terima tanpa melukai dirinya sendiri, Liora bisa menyetir, Rav bisa bertahan di tangannya, dan Zevran, laki-laki yang seharusnya tidak mereka selamatkan, kadang melihat bahaya sedikit lebih cepat daripada amarah Kael.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk