Rav yang Dikenali

0 dibaca

A

Menara prioritas berdiri di atas bukit rendah. Bagian atasnya patah, panel sampingnya menggantung dan bergerak pelan setiap kali angin lewat, sementara kabel-kabel tua menjuntai dari satu sisi, sebagian putus, sebagian lain masih terhubung ke kotak logam di bawah layar besar yang berkedip lemah. Cahaya dari layar itu tidak stabil. Kadang ia mati beberapa detik, lalu menyala lagi dengan warna yang pucat.

Kael tidak membawa Rav mendekat. Ia menurunkan kecepatan jauh sebelum bukit, lalu membelok ke balik gugusan batu yang cukup tinggi untuk menutup sebagian badan kendaraan. Hidung Rav tetap menghadap jalur keluar. Tangannya tidak langsung memutar kunci. Ia menunggu, mendengar mesin, mendengar angin, mendengar kemungkinan suara lain di balik debu. Tidak ada suara kendaraan mengejar. Namun bagi Kael, tidak adanya suara hanya berarti bahaya belum memperkenalkan diri.

Liora menahan peta di pangkuannya. Di garis yang digambar ayah mereka, menara itu hanya muncul sebagai lingkaran kecil dengan tanda pendek di sampingnya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada catatan apakah menara itu harus dihindari atau didekati. Di bawah lingkaran kecil itu, ada tulisan yang hampir tertutup lipatan,

[ … menara prioritas — lihat arah setelah terbaca.]

 Liora membaca kalimat itu dua kali.  “Ayah menulis setelah terbaca,” katanya.

“Dan tetap tidak menulis apa yang akan dibaca.”

“Dia mungkin tidak sempat.”

“Dia selalu tidak sempat saat informasi itu paling dibutuhkan.” Kael mengatakan itu tanpa nada tinggi, tetapi justru karena itu kalimatnya lebih terasa. Liora menatap peta lebih lama. Ia tidak ingin membela ayah mereka hari itu. Di kursi belakang, Zevran membuka mata. Wajahnya masih pucat, tetapi tidur pendek di perjalanan tadi setidaknya membuat napasnya tidak sepatah sebelumnya.

“Menara itu bukan pos biasa,” kata Zevran.

Kael melihatnya dari spion. “Aku tidak bertanya.”

“Liora membaca tulisan ayah kalian.”

“Dan kamu memutuskan ikut hidup di dalam kalimat itu?”

Zevran menggeser duduknya sedikit, menahan sakit di paha sebelum bicara lagi. “Menara prioritas tidak membaca orang.”

Liora menoleh. “Barang?”

“Kendaraan, peti, arsip berjalan, unit medis, kadang orang kalau sistemnya sudah dimodifikasi.” Zevran berhenti sebentar, menatap layar pucat di kejauhan.

Kael kembali melihat ke bukit. Rav diam di bawah tangannya, mesin masih menyala rendah, seolah kendaraan itu juga mendengarkan.

“Berarti mereka menginginkan Rav,” kata Liora.

“Belum tentu,” jawab Zevran. Satu kata itu membuat kabin terasa lebih sempit.

Kael mematikan mesin. “Kita lihat dari luar.”

Liora langsung memasukkan peta ke jaketnya. Kael menoleh, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tahu Liora akan turun sebelum dilarang. Kali ini ia tidak mengatakan jangan. Pistolnya keluar lebih dulu, dan ia membuka pintu dengan tubuh menutupi Liora dari arah menara. Zevran bergerak di belakang.

Kael menoleh. “Kamu tetap di Rav.”

Zevran menatap layar menara yang berkedip di atas bukit, lalu menunduk pada tali di tangannya. “Kalau menara itu membaca Rav dari atas, kalian mungkin tidak akan melihat panel bawah menyala.”

“Aku bisa melihatnya sendiri.”

“Kamu bisa melihatnya setelah terlambat.”

Kael memutar tubuhnya. Ada cukup amarah di wajahnya untuk membuat orang lain berhenti bernapas. Zevran tidak memalingkan mata, tetapi ia juga tidak menantang.

Liora membuka pintu. “Dia bisa ikut sampai batas batu. Tidak lebih.”

“Liora.”

“Kalau dia salah bergerak, kamu lebih dekat untuk menembaknya. Kalau dia benar, kita tidak kehilangan tanda yang tidak bisa kita baca.”

Kael menatap Liora lama. “Kalau kamu jatuh, aku akan menyeretmu,” katanya.

Zevran menggerakkan kakinya dengan hati-hati. “Aku tidak memintamu bersikap lembut.”

“Bagus. Aku tidak punya itu.”

Liora tidak menanggapi pertengkaran itu. Ia berjalan lebih dulu, lalu berhenti saat Kael mengeluarkan suara rendah dari belakang. Liora tidak kembali, tetapi ia memperlambat langkah sampai Kael berada di sampingnya. Itu kompromi kecil yang tidak mereka beri nama.

Mereka mendaki sisi bukit lewat jalur yang rendah, tidak sampai ke puncak. Dari sela batu, menara terlihat lebih jelas. Layar besarnya menghadap ke jalur utama, tetapi di bawahnya ada panel kecil yang menyala lebih stabil. Kaca panel itu retak di beberapa sisi, tertutup debu, tetapi huruf-huruf yang bergerak di dalamnya masih bisa dibaca dari jarak tertentu.

Zevran berlutut lebih dulu karena pahanya tidak kuat menahan posisi berdiri lama. Kael tidak membantunya. Liora hampir saja bergerak, tetapi Zevran mengangkat tangannya sedikit, memberi tanda tidak perlu.

Layar besar menara berkedip. Awalnya hanya garis-garis cahaya yang patah. Kemudian satu bunyi rendah terdengar dari dalam tiang, seperti mesin tua yang dipaksa bangun dari tidur terlalu panjang. Liora merasakan getaran kecil di tanah. Huruf pertama muncul di layar.

UNIT MASUK TERBACA.

Kael tidak bergerak. Tangan kirinya menggenggam pistol lebih kuat. Zevran menatap layar tanpa berkedip, wajahnya semakin pucat. Huruf berikutnya muncul setelah jeda pendek.

RAV-09.

Nama itu berada di layar menara, di tengah reruntuhan yang tidak mengenal mereka. Selama ini Rav adalah kendaraan tua yang mereka rawat karena tidak ada pilihan lain. Kael menyebut Rav seperti menyebut sesuatu yang masih bisa diajak bertahan. Liora menulisnya di peta sebagai titik hidup, bukan benda. Namun di layar menara, nama itu tidak terdengar seperti panggilan. Ia terdengar seperti arsip.

Zevran menarik napas pelan. “Mereka tidak menandai kalian. Mereka menandai Rav.”

Kael menoleh. “Siapa mereka?”

“Siapa pun yang memakai tiga garis untuk membaca jalur ini. Siapa pun yang masih punya akses ke daftar.” Zevran menatap kendaraan di bawah, lalu kembali ke layar. “Aku tidak tahu Rav. Tapi sistem ini tahu.”

Layar besar berkedip lagi.

PRIORITAS GARIS. 

STATUS UNIT: TIDAK DIHANCURKAN. 

ARAHKAN KE REG-K/17.

Kael mengumpat pelan. Liora membaca tulisan itu dengan rasa dingin. REG-K/17, tulisan kecil di peta ayah, bukan sekadar pilihan berikutnya. Menara ini mengarahkannya. Atau memaksa mereka ke sana. Perbedaannya belum bisa dibaca, dan itulah yang membuatnya lebih buruk. Dari jalur bawah, suara mesin terdengar lagi. Kali ini tidak jauh. Kael langsung bergerak turun. “Ke Rav.”

Liora sudah berbalik sebelum ia selesai bicara. Zevran berusaha bangun, tetapi kakinya goyah. Kael menarik bagian belakang jaketnya, menahan tubuhnya sebelum jatuh ke batu. Gerakan itu kasar, membuat Zevran terhuyung, tetapi cukup untuk membuatnya tetap berdiri.

“Jangan mati di sini,” kata Kael.

Zevran menatapnya sekilas. “Aku sedang berusaha tidak memberimu kepuasan itu.”

Mereka turun dengan cepat ke arah Rav. Liora sampai lebih dulu dan membuka pintu penumpang, lalu berhenti saat layar menara mengeluarkan bunyi panjang. Bukan bunyi peringatan biasa. Bunyi itu bergerak di udara seperti panggilan yang menemukan jalur siar.

Di kejauhan, dari arah jalan yang mereka tinggalkan, kendaraan pengejar muncul di balik debu. Satu. Lalu satu lagi.

Kael mendorong Zevran ke kursi belakang, mengikat tali ke pegangan samping dengan gerakan cepat, lalu masuk ke kursi pengemudi. Liora belum sempat memasang sabuk ketika tembakan pertama mengenai sisi luar Rav.

Bunyinya keras, menghantam panel samping. Liora refleks menunduk. Kael menyalakan mesin. Rav batuk sekali, lalu hidup.

Tembakan kedua menyusul, mengenai kaca samping belakang. Kaca itu retak di bagian luar, tetapi tidak pecah. Zevran menatap bekas peluru itu dari jarak terlalu dekat, napasnya tertahan.

“Panelnya menahan peluru,” katanya.

“Jangan kagum,” kata Kael sambil memutar kemudi. “Itu pekerjaan Rav.”

“Rav punya lapisan anti peluru?”

“Rav punya kebiasaan untuk tidak mati dengan mudah.”

Kael menginjak gas. Rav melonjak keluar dari balik batu, turun ke jalur miring dengan tubuh berat yang dipaksa bergerak lebih cepat daripada seharusnya. Tembakan lain menghantam sisi belakang. Liora menahan dashboard dengan satu tangan, tangan lainnya memegang peta agar tidak terlempar ke lantai. Di belakang, Zevran terlempar ke sisi pintu.

Kael tidak melihat ke belakang. “Masih hidup?”

Zevran menarik napas. “Kurang sopan kalau mati sebelum menjawab.”

Liora membuka peta di pangkuan, matanya mencari tulisan REG-K/17 di bawah garis menara.

“Jalur ke REG di timur laut. Kalau kita turun dari sisi kiri, kita masuk jalan sempit.”

“Jalan sempit bisa dikunci,” kata Zevran dari belakang.

Kael menatap spion. “Apa kamu punya pilihan yang tidak terdengar seperti kamu sedang mengatur kematian kami?”

“Naik sedikit ke jalur terbuka.  Mereka akan mengira kita turun ke jalan yang paling dekat karena sedang ditembak.”

Kael memandang jalur depan. Sisi terbuka berarti terlihat lebih lama. Jalan sempit berarti bisa dijepit. Tidak ada pilihan yang bersih. Liora tahu Kael membenci keputusan seperti itu karena semuanya memberi dunia terlalu banyak ruang untuk menang.

“Kael,” katanya. “Jalur terbuka.”

Kael menekan gas lebih dalam. Rav naik ke jalur terbuka, meninggalkan debu lebih banyak di belakangnya. Kendaraan pengejar ikut membelok, tetapi tidak secepat Rav. Mungkin mereka tidak percaya Rav bisa naik di tanah terbuka dengan badan sebesar itu.

Layar menara masih menyala di belakang mereka. Liora melihat tulisan itu lewat spion sampai tertutup debu. Tidak ada lagi pura-pura bahwa mereka hanya dua orang tanpa Tanda yang mencoba sampai ke Avara. Rav sudah dipanggil dengan namanya. Jalan mulai mengenali mereka sebelum kota melihat wajah mereka. Jika sistem lama masih punya ingatan, berarti ayah mereka meninggalkan lebih banyak daripada peta dan kalimat pendek.

“Pagar setelah batu datar,” kata Zevran.

Kael tidak menjawab, tetapi ia memutar kemudi tepat sebelum batu datar. Rav menghantam bekas pagar dengan sisi depan yang lebih kuat. Liora menahan napas saat Rav masuk ke jalur yang lebih sempit. Di belakang, kendaraan pengejar terlambat membaca belokan. Salah satunya mengerem terlalu cepat dan tergelincir ke debu. Yang lain tetap mengejar, tetapi jaraknya melebar.

Kael baru menurunkan kecepatan setelah mereka masuk ke balik rangka bangunan lama yang cukup menutup pandangan dari menara. Rav masih hidup, mesinnya panas, panel sampingnya penuh bekas peluru yang tidak menembus. Liora menatap bekas retak di kaca belakang, lalu menoleh ke Zevran. Laki-laki itu menatap panel yang baru saja menahan tembakan dengan wajah yang sulit dibaca.

“Kamu bilang mereka ingin Rav utuh,” kata Liora.

“Mereka ingin mengambilnya utuh,” jawab Zevran. “Belum tentu menginginkan orang yang ada di dalamnya utuh.”

Kael tidak menoleh. “Berarti mereka akan terus menembak di sekitar titik yang tidak merusak mesin.”

Liora memandang peta lagi. REG-K/17 berada tidak jauh dari jalur yang mereka masuki, ditandai dengan tulisan kecil yang selama ini tampak tidak penting. Sekarang tulisan itu seperti lubang yang sudah menunggu sejak lama.

“Kalau menara mengarahkan ke REG,” kata Liora, “REG mungkin punya data asal Rav.”

Kael menatapnya. Liora tidak menurunkan mata. Di belakang, Zevran diam. Ia membaca jalan, membaca debu, membaca suara mesin yang mulai menjauh sementara pengejar kehilangan jalur cepat.

“Kalau sama seperti pos lama, gerbang utamanya terlalu jelas. Masuk dari pagar samping, bukan gerbang.”

Kael menatap spion. “Kamu tahu tempatnya?”

“Tidak. Aku tahu bentuk posnya.”

Jawaban itu tidak membuat Kael lebih tenang. Namun, ia tidak menyuruh Zevran diam. Ia hanya menatap jalan, lalu menyesuaikan arah Rav ke jalur yang lebih rendah.

Di kejauhan, kompleks REG-K/17 mulai tampak. Kael menurunkan kecepatan sebelum mereka cukup dekat. Kali ini ia tidak membawa Rav ke gerbang. Ia memutar ke sisi kiri, mencari pagar yang runtuh.

Zevran melihatnya dari belakang. “Kamu belajar.”

Kael menatapnya lewat spion, wajahnya datar. “Aku bisa melupakan pelajaran itu setelah menembakmu.”

Zevran menunduk. “Catatan diterima.”

Liora membuka pintu setelah Rav berhenti di balik reruntuhan pos tiket lama, memasukkan peta ke jaket, dan menatap pagar runtuh di sisi kiri kompleks. Kael turun setelahnya, pistol sudah di tangan.

Zevran mengikuti dengan napas yang buruk, langkahnya lebih lambat karena luka di paha mulai kembali menahan semua gerakannya. Liora berjalan di depan cukup jauh untuk melihat jalur, cukup dekat untuk membuat Kael tetap mengejarnya jika sesuatu bergerak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk