Satria lulus probation tiga bulan kemudian. Tidak ada pesta besar. Tidak ada pengumuman dramatis di tengah divisi finance. Pak Oka hanya memanggilnya ke ruangan, menyerahkan surat keputusan, lalu berkata, “Kerjamu rapi. Pertahankan. Jangan jadi sombong.” Satria menerima surat itu dengan wajah tenang.
Raka, yang menunggu di luar ruangan dengan pura-pura mengambil air minum, langsung bertepuk tangan pelan begitu Satria keluar. “Selamat, Mas. Kamu resmi menjadi aset tetap emosional perusahaan.”
Satria menatapnya. “Itu istilah yang buruk.”
“Tapi penuh rasa.” Raka tersenyum. “Aku bangga, Mas.” Kalimat itu keluar terlalu jujur sampai Satria tidak langsung punya jawaban. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali ke meja.
Di layar ponselnya, ada pesan dari Renata.
Selamat. Aku ingin turun ke finance membawa spanduk, tapi aku sedang menjaga pertumbuhan karakter.
Satria menahan senyum.
Terima kasih sudah tidak membuat HR menangis.
Balasan Renata datang cepat.
Malam ini makan dengan Mama. Jangan kabur.
Senyum Satria berhenti. Raka melihat perubahan itu seperti alarm yang menemukan api. “Mas?”
Satria membalik ponsel. “Tidak apa-apa.”
Raka menatapnya lama. “Kalau wajahmu begitu, berarti kamu akan dimakan keluarga Maharani.”
Satria membuka laptop. “Kerja, Raka.”
“Tuhan bersama pria yang akan diaudit mantan manajer bank.”
Malam itu, Satria datang ke restoran yang dipilih Larasati Maharani. Bukan hotel mahal. Bukan tempat dengan air mineral seharga paket data. Restoran keluarga yang rapi, cukup tenang, cukup nyaman, dan cukup mahal untuk membuat Satria tetap memeriksa menu dua kali, tetapi tidak sampai ingin pura-pura sakit perut. Renata sudah menunggu di depan pintu. Ia memakai dress biru gelap sederhana, rambutnya diikat rendah, dan wajahnya tampak terlalu santai untuk perempuan yang baru saja mengantar pria yang disukainya ke arena ibunya. “Kamu pucat.”
“Saya tidak pucat.”
“Wajahmu seperti file Excel yang belum sempat di-save.”
“Perbandinganmu makin buruk.” Renata tersenyum, lalu mengangkat tangan ke kerah kemejanya. Satria menahan pergelangan tangan itu sebelum jari Renata sampai. “Kita di depan umum.”
Renata menatap tangannya yang ditahan, lalu mengangkat alis. “Kamu yang menggenggam duluan.”
Satria terlambat menyadarinya. Ia melepas dengan cepat. Renata tertawa pelan. “Kemajuan kecil.”
“Renata.”
“Baik. Masuk sebelum kamu membatalkan ini.”
Di dalam, Larasati sudah duduk bersama Bima. Tidak ada agenda tersembunyi yang terlalu ramai. Hanya meja untuk empat orang, makanan yang belum datang, dan tatapan Larasati yang begitu tenang sampai Satria merasa tulang punggungnya otomatis duduk lebih tegak.
“Satria,” sapa Larasati.
“Bu Larasati.”
“Panggil Tante saja. Kalau kamu memanggil saya Bu terus, Renata akan merasa punya alasan untuk menyindir saya sepanjang malam.”
Renata duduk di sebelah Satria. “Aku tidak perlu alasan, Ma.”
Bima tertawa kecil. “Nah, mulai.”
Satria menyalami mereka satu per satu. Tangannya dingin, tetapi suaranya tetap stabil. Setidaknya begitu yang ia harapkan.
Makan malam dimulai dengan hal-hal aman. Pekerjaan. Task force. Panduan costing yang sekarang dipakai beberapa divisi. Bima bertanya dengan rasa ingin tahu yang tidak terasa menguji. Satria menjawab secukupnya. Tidak melebih-lebihkan, tidak merendahkan diri.
Sesekali Renata hendak menambahkan sesuatu, tetapi berhenti di tengah napas. Satria melihat itu dari sudut mata. Renata benar-benar belajar diam. Tidak sempurna. Tapi cukup membuat Satria ingin tersenyum.
Larasati lebih banyak mendengar. Ia memotong makanan dengan rapi, mengangguk pada saat yang tepat, lalu tiba-tiba bertanya, “Kamu anak pertama, kan?”
Satria meletakkan sendoknya pelan. “Iya, Tante.”
“Masih sering kirim uang ke rumah?”
Renata langsung menoleh. “Ma.”
Satria menyentuh ujung lutut Renata dengan lututnya di bawah meja. Kecil saja. Tanda agar ia tidak menyerang. Renata diam, tetapi wajahnya masih siaga.
Satria menatap Larasati. “Iya. Kalau ada lebih.”
“Berat?” Pertanyaan itu tidak terdengar menghina. Justru karena itu, Satria menjawab jujur.
“Kadang.”
Larasati mengangguk pelan. “Anak pertama sering lupa bahwa dirinya juga anak seseorang.”
Satria diam. Renata juga. Bima menurunkan gelas airnya, tidak ikut bercanda kali ini.
Larasati menatap Satria, lalu berkata, “Saya tidak akan pura-pura tidak khawatir. Renata anak saya. Dia keras kepala, terlalu cepat mengambil keputusan, dan kalau menyukai sesuatu, dia bisa membuat dunia merasa harus ikut menyesuaikan.”
“Ma.”
“Itu pujian dengan bentuk realistis.”
“Tidak terasa seperti pujian.”
Satria hampir tersenyum.
Larasati melihat itu, lalu kembali padanya. “Tapi kamu juga keras kepala. Bedanya, kamu menyembunyikannya di balik sopan santun.”
Satria menunduk sedikit. “Mungkin, Tante.”
“Bagus. Setidaknya kamu tahu.” Renata menghela napas kecil, tetapi tidak memotong lagi. Larasati meletakkan alat makannya. “Saya tidak butuh kamu terlihat sejajar dengan Renata malam ini. Jabatan bisa berubah. Gaji bisa naik. Keluarga bisa menerima pelan-pelan. Tapi ada satu hal yang perlu saya tahu.” Satria menatapnya. “Kamu mendekati Renata karena ingin berdiri di sampingnya, atau karena ingin naik lewat tangannya?”
Udara di meja itu berhenti sejenak. Renata menegang. Satria tidak langsung menjawab. Ia tahu pertanyaan itu bisa menyakiti. Tapi anehnya, ia tidak merasa dihina. Mungkin karena ia pernah menanyakan versi yang sama pada dirinya sendiri berkali-kali. Mungkin karena Larasati, dengan segala ketajamannya, akhirnya bertanya langsung tanpa memutar pisau lewat basa-basi. “Saya tidak ingin naik lewat tangan Renata,” katanya pelan. “Justru itu yang paling saya takutkan sejak awal.” Larasati menatapnya. “Saya belum sejajar dengan Renata,” lanjut Satria. “Mungkin masih lama. Tapi saya sedang berjalan ke sana dengan kaki saya sendiri. Kalau Renata mau menemani, saya bersyukur. Tapi saya tidak ingin dia menarik saya sampai saya lupa caranya berdiri.”
Renata menatap piringnya. Ada senyum kecil di bibirnya yang ia sembunyikan dengan susah payah. Satria menarik napas. “Dan saya juga tidak ingin membuat Renata menunggu di luar hidup saya hanya karena saya takut dinilai orang.”
Bima tersenyum tipis. Larasati diam cukup lama. Lalu ia mengambil gelas air, minum sedikit, dan berkata, “Cukup baik.”
Renata langsung menoleh. “Cukup baik?”
“Kalau Mama bilang sangat baik, nanti kalian berdua sombong.”
Satria menunduk, menyembunyikan senyum. Renata menatap ibunya dengan wajah tidak puas, tetapi tangannya bergerak di bawah meja. Pelan-pelan, ia mencari tangan Satria. Satria merasakan ujung jari Renata menyentuh punggung tangannya. Ia menatap lurus ke depan. Larasati sedang mengambil makanan. Bima sedang menuang air. Tidak ada yang melihat. Atau mungkin mereka pura-pura tidak melihat.
Satria membiarkan jari Renata masuk ke sela jarinya. Sebentar saja. Cukup untuk mengatakan, aku di sini. Renata menggenggam balik.
Makan malam itu tidak membuat semua hal selesai. Larasati tetap mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat Satria merasa seperti sedang menyusun laporan hidup. Bima tetap bercanda di saat yang membuat Renata ingin memejamkan mata. Renata tetap beberapa kali hampir membela Satria sebelum Satria menghentikannya dengan sentuhan kecil di bawah meja. Tapi Satria tidak kabur. Dan Renata tidak menyeretnya.
Setelah makan malam selesai, mereka berdiri di depan restoran. Bima dan Larasati masuk ke mobil lebih dulu. Sebelum pintu mobil tertutup, Larasati menatap Satria. “Lain kali datang ke rumah.”
Satria menelan ludah. “Baik, Tante.”
Renata menoleh cepat. “Ma, jangan menakut-nakuti.”
Larasati tersenyum tipis. “Kalau dia tidak takut padamu, harusnya tidak takut ke rumah.”
Satria menjawab terlalu jujur, “Saya takut dua-duanya, Tante.”
Bima tertawa keras. Larasati pun tersenyum.
Mobil mereka pergi meninggalkan Renata dan Satria di bawah lampu restoran.
Renata menatap Satria dengan mata berbinar. “Kamu hebat.”
“Saya hampir mati.”
“Tapi tidak.”
“Belum. Undangan ke rumah itu ancaman lanjutan.”
“Benar.” Renata mengangguk serius. “Rumahku level berikutnya.”
Satria mengusap wajah dengan satu tangan. “Saya butuh pelatihan.”
“Aku bisa buat modul.”
“Jangan.”
Renata tertawa, lalu berdiri lebih dekat. Tidak terlalu dekat. Hanya cukup agar bahu mereka hampir bersentuhan. “Masih takut?” tanyanya.
Satria menatap jalan, lampu mobil yang lewat, malam Jakarta yang tetap bising dan tidak peduli pada keberanian kecil siapa pun. “Iya.”
Renata menoleh. “Tapi?”
Satria mengulurkan tangan. Kali ini tidak sembunyi di bawah meja. Tidak terburu-buru. Tidak setengah-setengah. Renata menatap tangan itu, lalu tersenyum pelan sebelum meletakkan tangannya di sana. Satria menggenggamnya. “Tapi saya tidak lari.”
Renata tidak menjawab. Untuk sekali itu, ia membiarkan kalimat Satria berdiri tanpa ia hiasi dengan candaan. Mereka berjalan ke parkiran berdampingan. Tidak sejajar dalam semua hal. Mungkin memang tidak akan pernah sepenuhnya sama, karena hidup tidak bekerja seperti tabel yang bisa diseimbangkan hanya dengan rumus. Renata tetap membawa dunianya. Satria tetap membawa jalannya. Keduanya masih punya ketakutan, harga diri, keluarga, dan luka kecil yang kadang muncul di saat paling tidak praktis.
Tapi malam itu, tangan mereka saling menggenggam. Bukan sebagai janji bahwa cinta akan membereskan semuanya. Hanya sebagai keputusan sederhana bahwa kalau besok mereka harus berhadapan dengan dunia lagi, mereka tidak akan mulai dari tempat yang saling berjauhan. Renata meremas tangan Satria sedikit. “Satria.”
“Hm?”
“Besok makan siang?”
Satria menoleh pelan. “Kita baru selesai makan malam dengan ibumu.”
“Justru itu. Kita butuh pemulihan.”
“Renata.”
“Aku pilih tempat biasa. Air mineralnya tidak mahal.”
Satria menatapnya lama. Lalu menghela napas, kalah dengan cara yang mulai terasa akrab. “Jam dua belas lima belas.”
Renata tersenyum seperti baru memenangkan tender besar. Satria menatap senyum itu, lalu menyadari satu hal yang cukup mengerikan. Ia mungkin akan kalah berkali-kali dari perempuan ini. Tapi selama ia masih bisa memilih cara berjalan di sampingnya, kekalahan itu tidak lagi terasa seperti kehilangan dirinya sendiri.
Renata menarik tangannya sedikit. “Ayo pulang, pria sejajar masa depan.”
Satria menutup mata sebentar.
“Jangan memberiku nama proyek.”
“Terlambat.”
“Tentu saja.”
Renata tertawa. Dan kali ini, Satria tidak menahan senyumnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!