Tidak Sejajar, Tapi Berdampingan

0 dibaca

A

Gosip tidak mati karena dibantah. Ia mati karena kelaparan. Beberapa hari setelah rapat vendor yang membuat Pak Oka menampar ruangan dengan kalimat kerja, cerita tentang Satria dan Renata masih berjalan di kantor, tetapi langkahnya tidak lagi segarang di awal. Orang-orang tetap melirik. Tetap menahan kalimat ketika Satria masuk pantry. Tetap menyimpan nama Renata di sela percakapan yang pura-pura membahas jadwal rapat.

Namun gosip membutuhkan bahan baru agar tetap hidup. Dan Satria, dengan wajah datar, laporan rapi, serta kemampuan membuat vendor terlihat seperti anak kecil yang menyembunyikan permen di saku, tidak memberi mereka cukup makanan.

Renata juga tidak. Itu bagian yang paling menyiksa baginya. Ia benar-benar menahan diri. Tidak turun ke finance tanpa alasan kerja. Tidak mengirim kopi. Tidak menyentuh kerah. Tidak menyandarkan kepala. Tidak meninggalkan sticky note di map. Tidak memanggil Satria di ruang rapat dengan nada yang bisa membuat orang-orang procurement menulis novel sendiri dalam kepala mereka.

Mila bahkan sempat berdiri di ambang pintu ruangannya pada suatu sore, menatap Renata seperti sedang menyaksikan fenomena alam. “Bu.”

Renata tidak mengangkat wajah dari laptop. “Apa?”

“Ibu baik-baik saja?”

“Kenapa?”

“Sudah empat hari tidak melakukan tindakan yang bisa membuat HR berkeringat.” Renata berhenti mengetik. Lalu menatap Mila datar. Mila memeluk tablet ke dada. “Saya hanya mengapresiasi pertumbuhan karakter.”

“Keluar.”

“Baik, Bu. Pertumbuhan karakter diterima dengan penuh kebanggaan.”

“Mila.”

“Saya keluar.”

Renata kembali menatap layar, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Ia memang sedang belajar. Buruk. Lambat. Dengan banyak keluhan yang hanya ia tulis di chat lalu hapus sebelum dikirim. Tapi ia belajar.

Di sisi lain, Satria juga belajar. Belajar bahwa memberi jarak tidak sama dengan mengusir. Belajar bahwa menerima perhatian tidak selalu berarti menjual harga diri. Belajar bahwa Renata bisa duduk diam di ruang rapat sambil marah untuknya, dan itu justru membuatnya lebih dihormati daripada kalau perempuan itu berdiri di depan semua orang sebagai perisai.

Task force selesai dalam dua minggu. Vendor menyetujui revisi termin. Perusahaan menyelamatkan biaya cukup besar. Damar puas. Legal puas. Procurement tidak sepenuhnya bahagia, tetapi setidaknya mereka tidak punya cukup celah untuk membantah.

Di rapat penutup, Damar menampilkan ringkasan final di layar. “Costing structure baru akan dipakai sebagai template proyek berikutnya,” katanya. “Finance, terutama Satria, saya minta siapkan draft panduan teknis dengan Pak Oka. Ini bukan pekerjaan satu kali. Kita butuh standar baru.”

Ruangan menoleh pada Satria. Tidak semua dengan hangat. Tapi kali ini, tatapan itu berbeda. Bukan lagi tatapan pada staf baru yang kebetulan dekat dengan vice manager. Lebih mirip tatapan pada orang yang mau tidak mau harus diakui karena kerjanya meninggalkan bekas. Satria mengangguk. “Baik, Pak.”

Pak Oka yang duduk di sebelahnya menepuk meja pelan. “Nanti kita kerjakan bareng. Tapi kamu lead draft awalnya.” Satria menoleh cepat. Pak Oka hanya menatap layar, seolah baru menyuruh hal biasa.

Renata duduk di sisi lain meja. Tangannya berada di atas dokumen. Pulpen di antara jari. Wajahnya tenang. Tidak tersenyum besar. Tidak menunjukkan kebanggaan yang bisa dipungut orang lain sebagai bahan baru. Tapi Satria melihat satu hal kecil. Pulpen Renata berhenti bergerak. Hanya itu. Dan anehnya, itu cukup.

Setelah rapat selesai, semua orang keluar. Satria membereskan laptopnya lebih lambat dari biasa karena Damar masih bicara dengan Pak Oka. Renata keluar lebih dulu tanpa menoleh, patuh pada aturan yang sekarang sudah mereka hafal seperti jalur evakuasi kebakaran.

Namun ketika Satria membuka buku catatannya untuk memasukkan pulpen, ada secarik kertas kecil terselip di halaman belakang. Bukan sticky note kuning. Kali ini kertas putih biasa, dilipat kecil. Tulisan Renata rapi.

Aku tidak bilang apa-apa di ruangan. Jadi aku tulis di sini: aku bangga. Sangat. Tapi jangan sombong. Aku belum siap menghadapi kamu versi sadar diri penuh.

Satria menatap kertas itu lama. Lalu menutup buku perlahan.

Raka, yang entah sejak kapan berdiri di pintu ruang rapat, menyipitkan mata. “Mas.”

Satria memasukkan buku ke tas. “Tidak.”

“Aku belum bicara.” Raka tersenyum. “Aku cuma mau bilang selamat. Bukan sebagai pengamat romansa kantor. Sebagai teman yang sering kamu ancam pakai penghapus.”

Satria diam sebentar. Lalu mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Raka tampak tersentuh selama satu setengah detik sebelum kembali rusak. “Tapi kalau nanti kamu naik jabatan, jangan lupa aku saksi penderitaan awal.”

Satria berjalan melewatinya. “Kamu lebih mirip beban operasional.”

“Beban yang setia.”

“Sayangnya.”

Hari itu Satria pulang lebih awal dari biasanya. Bukan karena pekerjaan sedikit. Justru karena setelah dua minggu penuh rapat, vendor, gosip, dan ketegangan yang disimpan di bawah meja, tubuhnya akhirnya menagih hak untuk berhenti.

Ia turun ke lobby pukul enam lewat tiga puluh. Renata tidak ada. Bagus. Ia seharusnya lega. Namun ketika ia keluar gedung, ponselnya menyala.

Jangan pulang dulu. Parkiran basement B2.

Satria berhenti di depan pintu lobby. Ia menatap pesan itu. Lalu mengetik:

Kenapa?

Balasan datang cepat.

Aku tidak turun ke finance. Aku tidak menunggumu di lobby. Aku tidak muncul di lift. Aku menemukan lokasi netral baru.

Satria memejamkan mata sebentar. Wanita ini tidak pernah kehabisan celah. Namun ia berjalan ke basement. Di B2, suasana lebih sepi. Lampu putih pucat memantul di mobil-mobil yang terparkir. Suara mesin pendingin terdengar jauh. Renata berdiri di dekat mobilnya, mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam, blazer sudah dilepas, rambutnya diikat seadanya.

Di kap mobilnya ada kantong kertas. Bukan dari restoran mahal. Bukan juga kafe lobby. Logo kecil minimarket terlihat jelas.

Satria berjalan mendekat. “Kamu merayakan task force dengan roti?”

Renata mengangkat kantong itu. “Roti naik jabatan. Ada susu kotak juga.”

“Saya tidak naik jabatan.”

“Lead draft awal panduan. Itu cukup untuk roti premium.”

“Roti minimarket punya kasta premium?”

“Aku sedang mencoba masuk ke duniamu. Jangan bunuh antusiasmeku.”

Satria menatapnya. Renata tersenyum, tapi tidak seperti biasanya yang penuh serangan. Ada sesuatu yang lebih hati-hati di sana. Tetap Renata, hanya sedikit menahan pisau agar tidak selalu mengenai tempat yang sama. Ia mengambil satu roti dan menyerahkannya pada Satria. “Selamat.”

Satria menerima roti itu. “Terima kasih.”

“Dan maaf.” Ia mengangkat wajah. Renata menyandarkan pinggul ke sisi mobil, menatap lantai basement sebentar sebelum kembali padanya. “Awalnya aku pikir selama aku yakin, semuanya bisa kupaksa berjalan. Ternyata tidak. Kamu benar. Aku harus belajar tidak membuat semua hal bergerak dengan kecepatanku.”

Satria membuka bungkus roti perlahan. Tidak langsung makan. “Kamu sudah belajar.”

“Masih buruk.”

“Lumayan.”

Renata mengangkat alis. “Lumayan?”

“Itu pujian stabil.”

“Aku benci pujian stabil.”

“Tapi kamu menerimanya.”

Renata ingin membantah, tetapi senyumnya keburu muncul. Satria akhirnya menggigit roti. Cokelat. Manis. Sederhana. Entah sejak kapan rasa itu mulai punya asosiasi dengan Renata dan semua kekacauannya. “Saya juga minta maaf,” katanya setelah menelan. Renata menatapnya. “Karena terlalu sering membuatmu merasa harus menunggu di luar.” Ia menggenggam bungkus roti di tangan, suara tetap rendah. “Saya minta waktu, tapi kadang saya memakainya seperti tembok. Bukan jalan.” Renata tidak bicara. Satria melanjutkan, “Saya belum sejajar denganmu.”

“Aku tidak minta kamu selesai hari ini.”

“Saya tahu.” Ia menatap Renata lebih lama. “Tapi saya juga tidak mau kamu berdiri sendirian hanya karena saya sibuk mengukur jarak.”

Wajah Renata berubah. Tidak banyak. Hanya matanya yang sedikit melembut, dan bahunya yang turun pelan seperti seseorang baru saja meletakkan tas berat dari satu sisi tubuhnya.

Di basement yang dingin, dengan bau beton, bensin samar, dan roti minimarket yang sama sekali tidak romantis, Renata merasa dadanya penuh oleh sesuatu yang tidak perlu kalimat besar. Satria tidak memberi janji mewah. Tidak berkata akan segera pantas. Tidak berkata akan melawan semua orang. Tidak berkata cinta akan membuat kelas sosial hilang seperti kabut pagi dalam iklan asuransi. Ia hanya berkata tidak ingin Renata berdiri sendirian. Untuk Renata, itu lebih dari cukup malam itu.

“Jadi,” katanya pelan, berusaha kembali ke nada ringan meski gagal sedikit, “apa ini berarti aku boleh mengajakmu makan tanpa membuatmu mengeluarkan daftar larangan baru?”

“Tergantung tempatnya.”

“Aku pilih.”

“Saya mulai khawatir.”

“Tenang. Bukan hotel.”

“Kalimat itu tidak cukup menenangkan.”

Renata mengambil susu kotak dari kantong, menusukkan sedotan, lalu menyerahkannya pada Satria. “Minum. Pria yang baru dapat tanggung jawab panduan tidak boleh dehidrasi.”

Satria menerima susu itu, menatapnya. “Kamu benar-benar punya bakat membuat perhatian terdengar seperti ancaman kesehatan.”

“Aku belajar dari caramu menyebut kencan sebagai distribusi karbohidrat.”

Ia tersenyum. Kali ini tidak ditahan. Renata melihatnya. Dan kali ini juga, ia tidak langsung menggoda. Mereka makan roti sambil bersandar di mobil Renata, berjajar tapi tidak terlalu dekat. Beberapa mobil lewat. Seorang satpam basement melirik sebentar, lalu lanjut berjalan. Tidak ada drama besar. Tidak ada musik. Tidak ada lampu lembut. Hanya dua orang dewasa yang terlalu lama bernegosiasi dengan luka masing-masing, akhirnya menemukan jeda kecil yang bisa ditinggali bersama.

Ponsel Renata menyala. Ia melihat layar. Mama. Satria melihat perubahan kecil di wajahnya. “Angkat.” Renata menatapnya. “Saya tidak akan hilang karena kamu bicara dengan ibumu.”

Kalimat itu sederhana, tapi Renata menangkap lapisan di bawahnya. Dulu, Satria mungkin akan mundur begitu nama Mama muncul. Kini ia tetap berdiri di sana, roti di tangan, susu kotak di tangan lain, tampak sangat tidak siap menghadapi keluarga Renata tapi tidak lagi terlihat ingin kabur dari seluruh kemungkinan.

Renata mengangkat telepon. “Ma?” Suara Larasati terdengar samar dari seberang. Tidak jelas bagi Satria. Renata hanya menjawab pendek-pendek. “Iya, masih di kantor.” Jeda. “Sudah mau pulang.” Jeda lebih panjang. Renata melirik Satria. Satria pura-pura membaca komposisi roti. Renata menahan senyum. “Iya. Dengan orang itu.” Satria berhenti membaca komposisi. Renata menatapnya sambil tetap mendengar ibunya. “Belum, Ma. Belum sekarang.” Jeda lagi. Kali ini wajah Renata melunak sedikit. “Nanti kalau dia sudah siap.”

Satria menunduk. Bukan karena sepenuhnya malu. Lebih karena kalimat itu tidak mendorongnya, tidak memamerkannya, tidak menjadikannya alat perlawanan. Renata menempatkannya di masa depan tanpa menyeretnya ke sana malam ini.

Setelah panggilan selesai, Renata memasukkan ponsel ke saku.

“Mama bilang apa?” tanya Satria.

“Katanya kalau suatu hari aku membawamu makan, jangan pilih restoran yang membuatmu menghitung harga air mineral.” Satria menatapnya. Renata mengangkat bahu. “Mungkin Mama sedang berusaha tidak tampak menakutkan.”

“Sedikit gagal.”

“Sedikit?”

“Cukup banyak.” Renata tertawa. Satria ikut tersenyum kecil. Lalu hening datang lagi. Tidak canggung. Tidak kosong. Hening yang seperti kursi ketiga di antara mereka, tempat semua hal yang belum selesai bisa duduk tanpa harus diusir.

Renata meremas bungkus roti kosong dan memasukkannya ke kantong sampah kecil yang ia bawa dari mobil. “Aku sering salah langkah,” katanya. “Salah sedikit saja, kena harga diri orang.”

Satria diam. Ia menatap wajah Satria. Satria tidak terlihat terluka. Hanya berpikir. Lalu ia mengulurkan tangan. Renata menatap tangan itu. Gerakan itu sangat kecil. Hampir kaku. Satria tidak langsung menggenggam. Ia hanya meletakkan tangannya di antara mereka, telapak terbuka, seperti seseorang yang tidak terbiasa meminta tapi sedang mencoba tidak menyembunyikan keinginan. Renata tidak bergerak selama dua detik. Untuk perempuan yang biasanya lebih cepat daripada peringatan, dua detik itu terasa seperti sejarah baru. Lalu ia meletakkan tangannya di atas tangan Satria. Hangat. Utuh. Tidak di ruang rapat. Tidak di depan lift. Tidak di koridor. Tidak di tempat yang membuat Satria harus menghitung mata orang.

Di basement parkiran, di sisi mobil Renata, setelah roti minimarket dan task force yang melelahkan, Satria menggenggam tangan Renata untuk pertama kalinya dengan sadar. Tidak kuat. Tidak dramatis. Tapi tidak setengah-setengah. Renata menatap tangan mereka. Lalu mengangkat wajah, matanya terlalu terang untuk tempat segelap basement. “Kamu sendiri yang kasih tangan.”

Satria menatap lurus ke depan, wajahnya mulai memanas. “Aku lengah.”

“Bagus.”

“Jangan mulai.”

“Sering-sering.”

Satria menutup mata sebentar. Renata tertawa, lalu menggenggam balik sedikit lebih erat. Untuk beberapa saat, mereka tetap begitu. Tidak ada yang berubah secara ajaib. Besok, Satria masih staf finance yang baru mulai terlihat. Renata masih vice manager dengan keluarga yang akan bertanya banyak hal. Kantor masih punya mulut. Dunia masih punya ukuran. Jarak mereka belum hilang hanya karena tangan bertemu di basement.

Tapi malam itu, Satria tidak lagi berdiri di luar hidup Renata sambil menunggu dirinya cukup pantas. Dan Renata tidak lagi berlari sendirian sambil menoleh apakah pria itu tertinggal.

Ia menatap bahu Satria. Ada lelah di sana. Ada tegang yang belum benar-benar hilang. Ada laki-laki yang terlalu lama menjadikan tubuhnya tempat menyimpan semua hal agar tidak merepotkan siapa pun. Renata melepas genggaman mereka lebih dulu. Satria menoleh, refleks, seolah kehilangan sesuatu yang belum sempat ia akui. Renata melihat itu. Ia tersenyum, tajam dan lembut dalam ukuran yang hanya bisa dilakukan Renata.

“Tenang,” katanya. “Aku tidak mundur. Aku cuma menaikkan level gangguan.”

Satria belum sempat bertanya ketika Renata melangkah mendekat. Tidak cepat. Tidak seperti biasanya yang menabrak celah sebelum Satria selesai membangun pagar. Kali ini ia berhenti cukup dekat, memberi Satria satu detik untuk menolak. Satria tidak mundur. Renata mengangkat kedua tangannya, lalu memeluknya ringan. Sangat ringan. Bukan pelukan besar yang menuntut balasan. Bukan pelukan yang menghapus semua jarak. Hanya lengan Renata di sisi tubuh Satria, kepalanya tidak sampai menempel penuh di dada, tubuhnya cukup dekat untuk memberi hangat, tapi cukup hati-hati untuk menghormati gentar yang masih hidup di antara mereka.

Satria membeku. Bungkus roti di tangannya berbunyi kecil karena diremas. Renata tidak tertawa. Tidak menggoda. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam di sana, memberikan berat kecil yang bisa diterima Satria tanpa membuatnya merasa ditelan. Beberapa detik berlalu. Lalu tangan Satria bergerak. Ragu. Lambat. Seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang bisa pecah atau justru membuat dirinya pecah. Tangannya berhenti di punggung Renata. Tidak memeluk penuh. Hanya menyentuh. Tapi Renata merasakannya. Napasnya turun pelan. “Satria,” katanya rendah.

“Hm?”

“Ini pelukan paling sopan yang pernah kuterima.”

Satria memejamkan mata sebentar. “Jangan rusak momennya.”

“Aku sedang menjalaninya dengan caraku.”

“Caramu berbahaya.”

“Aku tahu.” Renata tersenyum di dekat bahunya. “Makanya kamu suka.”

Satria menghela napas, jengah, kalah, dan sedikit lega dalam satu tarikan yang sama. Tangannya di punggung Renata menekan sedikit. Tidak banyak. Tapi cukup. Renata berhenti tersenyum. Kali ini, ia yang diam. Mereka belum sejajar. Tapi tangan Satria ada di punggung Renata, dan pelukan ringan itu tidak membuatnya kabur. Untuk saat ini, itu cukup untuk mulai berjalan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk