Hari kedua setelah Renata turun ke lantai sembilan tanpa alasan kerja yang cukup sah, divisi finance berubah menjadi tempat yang lebih rajin dari biasanya. Bukan karena target. Bukan karena audit. Bukan juga karena Pak Oka mendadak menemukan metode kepemimpinan baru. Semua orang hanya ingin terlihat sibuk kalau Renata lewat lagi. Sayangnya, Renata tidak lewat. Justru itu yang membuat suasana menjadi lebih tidak sehat.
Sejak pagi, Raka sudah tiga kali berdiri dari kursinya hanya untuk mengambil air minum yang tidak diminum. Dua staf lain beberapa kali menoleh ke pintu kaca. Bahkan Pak Oka sempat keluar dari ruangannya, melihat koridor, lalu masuk lagi dengan wajah seolah hanya mengecek suhu AC.
Satria bekerja seperti biasa. Atau setidaknya, berusaha tampak seperti biasa. File rekonsiliasi terbuka di layar. Angka tersusun rapi. Catatan kecil di sisi kanan menunjukkan koreksi yang harus selesai sebelum jam tiga. Semua masih berada dalam urutan yang bisa dipahami: data masuk, angka diperiksa, selisih dicari, laporan diperbaiki.
Hidup Satria selalu terasa paling aman ketika masalah bisa dipecah menjadi baris dan kolom. Renata Maharani bukan baris. Bukan kolom. Bukan juga selisih yang bisa ditemukan dengan rumus. Perempuan itu lebih mirip file yang tiba-tiba terbuka sendiri, memakai password yang tidak pernah diberikan, lalu mengubah format hidup orang lain sambil tersenyum seolah semua itu fitur resmi.
“Mas.”
Satria tidak mengangkat wajah. “Kalau tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, diam.”
“Ini pekerjaan.”
“Apa?”
“Kalau Bu Renata datang lagi, aku pura-pura ke toilet atau tetap di meja demi keselamatan divisi?”
Jari Satria berhenti di atas keyboard. Ia menoleh pelan. Raka memasang wajah tidak berdosa yang gagal sejak awal. “Kamu punya bakat luar biasa,” kata Satria datar.
“Terima kasih.”
“Bakat membuat orang ingin memindahkanmu ke cabang paling jauh.”
Satria kembali ke layar. Satu angka ia tandai lebih keras daripada yang diperlukan. Raka memutar kursinya sedikit mendekat. “Kamu tahu satu lantai membahas kalian?”
“Kami tidak ada.”
“Justru itu. Orang kantor paling suka membahas yang belum ada. Bebas membangun sendiri.”
“Biarkan mereka sibuk.”
“Tidak semua orang bisa setenang kamu, Mas.”
Satria hampir tertawa. Tenang. Kata itu terasa sangat tidak akurat sejak kemarin.
Ia masih ingat Renata di pantry. Kaki disilangkan, gelas kopi di tangan, suara tenang yang menyebut namanya seolah nama Satria sudah lama berada di mulutnya. Masih ingat sentuhan singkat di siku, jari yang bersinggungan di gelas, ujung tangan yang membetulkan kerah, dan kalimat tentang rahangnya yang sampai sekarang tidak punya folder aman di kepala.
Satria tidak naif. Ia tahu Renata tertarik. Yang membuatnya kacau adalah dirinya tidak sepenuhnya keberatan. Itulah masalah yang sesungguhnya. Kalau ia tidak tertarik, semua akan sederhana. Ia bisa menjaga jarak. Bisa membalas secukupnya. Bisa menjadikan jabatan Renata sebagai pagar yang tinggi dan tidak perlu dilompati. Tapi Renata tertawa kemarin. Dan Satria, dengan seluruh prinsip hidup sederhana yang ia jalani sejak lama, menyadari satu hal yang menyebalkan, ingin mendengar tawa itu lagi.
“Mas.” Satria menghela napas. “Kamu senyum.” Satria langsung menoleh. Raka mengangkat dua tangan. “Fakta.”
“Faktamu mengganggu.”
“Berarti valid.”
Satria belum sempat membalas ketika pintu kaca finance terbuka. Semua orang mendadak kembali ke posisi masing-masing. Kursi berderit. Keyboard berbunyi. Mouse digerakkan tanpa tujuan. Ada yang membuka file terlalu cepat sampai salah klik dan menampilkan foto kucing dari grup keluarga. Satria tidak langsung menoleh. Ia tahu. Entah bagaimana, sebelum suara hak sepatu itu mendekat, ia tahu.
Renata masuk dengan langkah rapi dan wajah tanpa rasa bersalah. Hari itu ia memakai blazer abu-abu gelap, kemeja satin warna gading, rambut diikat rendah, dan lipstik yang tidak mencolok tapi cukup untuk membuat orang paham bahwa ia tidak butuh warna keras untuk menguasai ruangan.
Di tangannya ada map biru. Bagus, pikir Satria. Setidaknya hari ini dia membawa alasan.
Renata berhenti di depan meja Pak Oka lebih dulu. Profesional. Sangat profesional sampai terlihat mencurigakan. “Pak Oka.”
Pak Oka keluar dari ruangannya dengan kecepatan orang yang sudah menunggu sejak tadi tapi tidak ingin terlihat begitu. “Ya, Bu Renata?”
“Ada revisi forecast dari board. Saya butuh finance breakdown dampaknya ke tiga proyek aktif. Bisa sekarang?”
“Tentu. Dengan saya?”
Renata membuka map, melihat lembar pertama, lalu menatap area staf dengan santai yang terlalu terukur. “Saya perlu orang yang kemarin menghitung skenario konservatif.”
Seluruh perhatian ruangan bergeser ke Satria tanpa ada satu kepala pun bergerak jelas. Satria menutup mata sebentar. Sangat sebentar. Raka batuk kecil. Batuk tanpa penyakit.
Pak Oka menoleh. “Satria, ikut.”
Satria berdiri, membawa laptop, buku catatan, dan sisa martabat yang belum diambil Renata kemarin. Renata tidak tersenyum padanya di depan orang banyak. Ia hanya memberi anggukan formal, lalu berjalan lebih dulu ke ruang diskusi kecil di sisi finance.
Ruangan itu berdinding kaca, tirainya terbuka. Setidaknya Renata masih menghargai kemungkinan gosip dan tidak memberinya bahan bakar terlalu mudah. Pak Oka membuka pembicaraan dengan kalimat teknis. Renata menjelaskan perubahan arahan board. Ada pengurangan alokasi pada satu proyek, penambahan ruang untuk biaya vendor lain, dan kemungkinan pergeseran timeline yang harus dihitung ulang agar tidak menabrak target kuartal.
Satria mendengarkan. Ketika pekerjaan mulai berbicara, gangguan di kepalanya mereda. Renata pun berubah. Itu yang membuat Satria sadar perempuan ini lebih berbahaya daripada sekadar cantik dan nekat.
Di luar urusan makan siang, Renata tajam, playful, dan suka mendekat seperti kucing mahal yang tahu semua orang akan memberi ruang. Tapi ketika bicara pekerjaan, ia bersih. Tidak banyak basa-basi. Tidak melempar pertanyaan untuk menjebak kalau tidak perlu. Ia tahu titik yang harus ditekan, tahu kapan mendengar, dan tahu kapan diam agar orang lain menyelesaikan kalimatnya sendiri. Satria tidak suka mengagumi orang terlalu cepat. Tapi Renata memang tahu apa yang ia lakukan.
“Kalau timeline digeser dua minggu,” kata Pak Oka, menunjuk angka di layar Satria, “impact ke biaya operasional harian naik.”
“Naik,” jawab Satria, “tapi tidak sebesar kalau vendor kedua tetap pakai termin lama.”
Ia menarik file pembanding, lalu memutar laptop sedikit agar Pak Oka dan Renata bisa melihat. “Masalahnya bukan pergeseran waktu. Masalahnya pembayaran awal yang terlalu besar. Kalau dinegosiasikan ulang, arus kas proyek masih bisa ditahan.”
Renata menatap layar. “Batas aman?”
“Dua puluh persen di awal. Sisanya bertahap sesuai milestone.”
“Vendor biasanya minta tiga puluh lima.”
“Karena biasanya kita memberi.” Pak Oka menoleh cepat. Renata justru diam sebentar. Lalu sudut bibirnya naik tipis. Satria langsung menyesal sudah bicara terlalu lurus.
“Lanjut,” kata Renata.
Satria melanjutkan. Ia menjelaskan pendekatan negosiasi dari sisi angka. Tidak banyak kata, tapi setiap kalimat punya tempat. Ia tidak menjual optimisme. Tidak juga berusaha terdengar lebih pintar daripada yang diperlukan. Sesekali Pak Oka memberi tambahan. Sesekali Renata bertanya, dan Satria menjawab tanpa menunduk. Tiga puluh menit kemudian, mereka punya kerangka revisi. Pak Oka tampak puas.
Renata menutup map birunya. “Pak Oka, saya pinjam Satria lima belas menit.”
Satria berhenti mengetik. Pak Oka menatap Renata, lalu Satria, lalu Renata lagi. “Untuk?”
“Detail asumsi vendor. Sebelum saya bawa ke Damar.”
Alasan itu masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak. Pak Oka mengangguk. “Baik, Bu.”
Satria menatap laptopnya dengan batin yang mulai kehilangan pegangan. Ia tahu angka vendor itu bisa dibahas bersama Pak Oka. Ia tahu Renata tahu bahwa ia tahu. Dan Renata tampak sangat menikmati itu tanpa perlu mengatakannya.
Setelah Pak Oka keluar, ruangan menjadi lebih kecil. Tidak secara fisik. Tirai tetap terbuka. Orang-orang di luar masih bisa melihat mereka. Tapi udara di antara Renata dan Satria berubah begitu pintu tertutup.
Renata menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu menghindariku pagi ini.”
“Saya bekerja.”
“Bisa dua-duanya.”
“Saya tidak tahu, tidak mencari Renata ke lantai atas termasuk menghindar.”
Renata tampak puas karena ia mengoreksi panggilan itu tanpa harus ditatap. “Aku menunggumu mengajak makan siang.”
“Saya tidak pernah berjanji.”
“Makanya aku datang menagih yang belum kamu janjikan.”
Satria menatapnya cukup lama. Renata menatap balik tanpa rasa bersalah.
Di luar, seseorang lewat membawa tumpukan dokumen. Satria menoleh sebentar, mengingatkan dirinya bahwa ruangan ini berdinding kaca dan ia masih berada di tempat kerja. Sangat penting untuk diingat, karena perempuan di depannya punya kemampuan buruk membuat batas terasa seperti garis tipis yang bisa disapu ujung jari. “Renata,” katanya pelan, “ini kantor.”
“Aku tahu. Aku vice manager di sini.”
“Justru itu.”
Renata tidak langsung menjawab.
Satria merapikan buku catatannya, bukan karena perlu, tapi karena tangannya butuh pekerjaan. Kalau tangannya kosong, ia takut Renata akan melihat bahwa seluruh tubuhnya sedang terlalu sadar pada jarak. Pada kursi. Pada meja. Pada cara perempuan itu menatapnya seperti ia bukan staf baru yang harusnya disimpan di kategori aman, melainkan sesuatu yang ingin dibuka pelan-pelan.
“Orang melihat,” katanya.
“Orang selalu melihat.”
“Dan bicara.”
“Orang juga selalu bicara.”
“Tidak semua hal perlu diberi bahan.”
Renata memandangnya lebih lama. Godaan di wajahnya tidak hilang, hanya turun sedikit, seperti lampu yang diredupkan tanpa dipadamkan. “Baik.” Satria menunggu lanjutan yang lebih kacau. Tidak ada. Renata hanya mengambil pulpen, memutarnya sekali, lalu meletakkannya lagi. “Kamu tidak nyaman kalau aku turun ke sini?”
Pertanyaan itu terlalu jujur untuk dijawab dengan formal. Satria menatapnya. Renata, dengan semua keberaniannya, ternyata masih bisa berhenti tepat sebelum menabrak terlalu keras. Itu membuatnya lebih susah ditolak. Kalau Renata hanya arogan, ia bisa menjauh. Kalau Renata hanya genit, ia bisa menutup pintu. Tapi perempuan itu mengganggu, lalu mendengar. Mendekat, lalu memberi ruang.
“Saya baru masuk,” kata Satria akhirnya. “Masih probation. Saya tidak mau dikenal karena alasan yang salah.”
Renata mengetuk ujung pulpen ke meja. “Alasan yang salah itu aku?”
Satria mengangkat wajah terlalu cepat. Renata melihatnya. Ia tidak tertawa. Hanya menunggu sampai Satria mengatur napasnya sendiri. “Bukan,” jawabnya.
“Tapi kamu takut dianggap naik karena aku.” Satria tidak menjawab. Itu jawabannya. Renata menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak menjadikan keheningan itu permainan. Tidak ia isi dengan candaan. Tidak ia tekan dengan tatapan. Ia membiarkan Satria duduk bersama harga dirinya yang kaku, dengan ketakutan yang tidak mau disebut minder, dengan dunia kecil yang mungkin selalu menuntutnya berjalan sendiri agar tidak dikira ditarik orang lain. “CV kamu biasa,” kata Renata akhirnya.
Satria menatapnya. Kalimat itu bisa terdengar kejam dari mulut orang lain. Dari Renata, anehnya terdengar seperti ia sedang membuka file yang memang perlu dibaca.
“Kampus negeri di Semarang. Tiga tahun di perusahaan distribusi regional. Sertifikat standar. Tidak ada cerita anak komisaris menyamar jadi staf biasa.”
Satria menatapnya datar. “Terima kasih sudah merangkum kekurangan saya.”
“Itu bukan kekurangan.”
“Biasanya orang menyebutnya apa?”
“Fondasi.” Renata mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu stabil. Tidak ribut. Tidak menjual diri terlalu murah di ruangan yang penuh orang ingin terlihat mahal. Itu bukan CV yang bersinar dari jauh, tapi terlihat saat dipakai kerja.”
Satria menatap pulpen di meja. Tidak ada ekspresi besar di wajahnya. Tapi Renata melihat jari-jarinya berhenti bergerak. Sejak tadi pria itu terus merapikan buku, menyentuh laptop, memindahkan pulpen, melakukan hal-hal kecil agar tangannya tidak kosong.
Sekarang ia diam. Renata tidak tersenyum. Kalau ia tersenyum, kalimat itu akan berubah menjadi godaan. Padahal kali ini ia tidak sedang menggoda. “Aku tidak tertarik karena kamu perlu diselamatkan,” katanya. “Aku tertarik karena kamu tidak minta diselamatkan.”
Satria mengangkat wajah perlahan. Di luar kaca, dunia tetap bergerak. Orang berjalan, printer berbunyi, ponsel berdering di meja seseorang. Tapi di dalam ruangan kecil itu, ada jeda yang tidak punya tempat untuk bersembunyi. “Tertarik?” tanya Satria pelan.
Renata menatapnya seolah ia baru bertanya apakah hujan itu basah. “Iya.”
“Renata.”
“Apa?”
“Kamu tidak bisa mengatakannya seperti update proyek.”
“Kalau pakai bunga, kamu panik.”
“Saya tetap panik sekarang.”
“Tapi lebih hemat.”
Satria menutup wajah dengan satu tangan. Renata tersenyum. Ia suka ketika Satria mulai retak. Bukan hancur. Hanya retak sedikit, cukup untuk memperlihatkan bahwa di balik wajah tenang itu ada manusia yang bisa kewalahan, bisa tersipu diam-diam, bisa ingin marah tapi terlalu sopan untuk melempar kursi.
“Dengar,” kata Satria setelah menurunkan tangannya. “Saya tidak menolak...”
Ia berhenti. Kesalahan. Renata langsung menangkapnya. “Tidak menolak apa?”
Wajah Satria berubah seperti orang yang baru sadar pintu lift sudah tertutup dan ia berada di dalam bersama predator yang memakai parfum mahal.
Renata tertawa, ringan. “Baik. Aku diam.” Itu bohong. Renata memang tidak bicara, tetapi ia berdiri, menggeser kursinya sedikit, lalu berjalan ke sisi meja Satria. Tidak jauh. Tidak menyudutkan. Tapi cukup untuk membuat Satria mengangkat wajah karena tubuhnya lebih dulu sadar Renata mendekat. “File vendor yang tadi,” katanya, menunjuk layar. “Buka skenario dua.”
Satria menatapnya curiga. “Untuk apa?”
“Kerja.” Renata menunduk sedikit di dekat layar. “Aku bisa tertarik padamu dan tetap butuh angka yang benar.”
“Saya mulai takut pada kemampuanmu menjalankan dua kekacauan sekaligus.”
“Bagus. Takut membuatmu waspada.”
Satria membuka file. Renata berdiri di sebelahnya, sedikit membungkuk untuk melihat layar. Ujung rambutnya jatuh di dekat bahu, dan Satria, yang biasanya bisa bekerja di tengah suara printer, telepon, dan orang berdebat soal budget, tiba-tiba kesulitan membaca angka yang baru ia buat sendiri. Renata menyadari itu.
“Kamu berhenti membaca.”
“Saya mencari kolom.”
“Kolomnya di depanmu.”
“Saya tahu.”
“Berarti masalahnya bukan kolom.”
Satria menatap layar, rahangnya mengeras. Renata menahan senyum, lalu menurunkan tangan ke meja. Jemarinya berhenti dekat punggung tangan Satria yang memegang mouse. Tidak menyentuh. Hanya dekat. Sengaja cukup dekat agar Satria tahu ia punya pilihan untuk mundur. Satria tidak mundur.
Renata menyentuh punggung tangannya dengan ujung jari. Sangat ringan. Satria langsung diam. Tidak tegang seperti kemarin. Lebih buruk. Ia seperti menahan seluruh tubuhnya agar tidak bereaksi terlalu banyak. Matanya tetap di layar, tetapi napasnya berubah. Tipis. Hampir tidak ada orang yang akan menyadarinya.
Renata menyadarinya. “Kamu selalu diam kalau terlalu jengah,” katanya pelan.
“Saya sedang bekerja.”
“Bohong. Kamu bertahan hidup.”
“Di dekatmu, dua hal itu mulai terlihat mirip.”
Renata tertawa kecil, puas bukan karena menang, melainkan karena Satria mulai menjawab dengan sesuatu yang lebih hidup daripada kalimat aman.
“Lihat ini.” Ia menunjuk kolom di layar. “Kalau termin awal kita tahan dua puluh persen, vendor menekan biaya tambahan di sini?”
Satria menarik napas, lalu kembali ke angka. “Kemungkinan besar. Mereka akan minta penyesuaian biaya layanan. Bisa ditahan kalau klausul milestone diperketat.”
“Batasnya?”
“Tidak lebih dari lima persen dari baseline.”
Renata mengangguk. “Bagus.” Tangannya masih di punggung tangan Satria. Satria menatap jari Renata. Renata mengikuti arah pandangnya. “Mengganggu?”
“Ya.”
“Terlalu?”
Satria diam sebentar. Lalu berkata, sangat pelan, “Belum.”
Renata tidak tertawa. Tidak menggoda. Ia hanya menarik tangannya perlahan, memberi Satria ruang setelah satu jawaban kecil yang pasti sulit dikeluarkan pria itu. “Baik.”
Satria kembali menatap layar, tapi angka-angka di sana sudah tidak sepenuhnya angka. Ada bagian kecil dari dirinya yang marah karena Renata bisa berhenti. Kalau Renata memaksa, ia bisa mundur. Kalau Renata seenaknya, ia bisa menutup pintu. Tapi Renata berani mendekat sekaligus cukup peka untuk berhenti di batas yang belum Satria sendiri pahami. Itu membuatnya lebih jengah daripada tergoda.
Karena tiba-tiba, di dalam tubuhnya yang selama ini ia atur seperti meja kerja, ada ruang yang mulai meminta sesuatu. Dan Satria tidak tahu harus membayar keinginan itu dengan apa.
Mereka bekerja lagi hampir sepuluh menit. Benar-benar bekerja. Renata memberi catatan, Satria memperbaiki asumsi, file dikirim ke email Renata dan Pak Oka. Di sela semua itu, Renata tidak menyentuhnya lagi.
Anehnya, absennya sentuhan itu terasa seperti sentuhan lain. Satria membenci itu. “Selesai,” katanya.
Renata melihat ponselnya. Email masuk. “Efisien.”
“Saya mencoba menyelamatkan diri sebelum lima belas menit selesai.”
Renata berdiri.
Satria berdiri, menjaga jarak yang cukup sopan. Renata menyadari itu, tentu saja. Perempuan itu selalu menyadari jarak. Mungkin karena sepanjang hidupnya ia terbiasa melihat orang mengatur posisi di sekitarnya: siapa yang mendekat karena butuh, siapa yang menjauh karena takut, siapa yang berdiri di tengah karena ingin tampak setara.
Satria berbeda. Ia menjaga jarak bukan karena takut pada Renata. Ia menjaga jarak karena takut pada dirinya sendiri.
Renata mengambil map, lalu berhenti di depan pintu. “Satria.”
“Ya?”
“Nanti makan siang jam dua belas lima belas.” Satria menatapnya dengan wajah yang menyimpan seratus argumen. Renata mengangkat satu tangan sebelum ia bicara. “Tidak di pantry. Tidak di finance. Tidak memberi orangmu bahan tambahan. Kita makan di luar.”
“Lebih buruk.”
“Kenapa?”
“Di luar kantor, saya tidak punya alasan pekerjaan untuk kabur.”
Renata tertawa. Satria ingin menyesali kalimat itu, tapi terlambat. “Jadi kamu sadar akan sulit kabur?” Satria menatapnya cukup lama sampai Renata tersenyum lebih dulu. Renata membuka pintu. “Tenang. Hari ini aku tidak menyeretmu.” Satria hampir saja merasa lega. Lalu Renata melanjutkan, cukup pelan agar hanya Satria yang mendengar, “Aku tunggu di lobby. Kalau kamu tidak turun, aku naik.” Setelah itu ia keluar dengan wajah profesional sempurna.
Satria berdiri di ruang diskusi kecil, menatap pintu yang baru tertutup, lalu melihat pantulan dirinya di kaca. Wajahnya masih sama. Rambut rapi. Kemeja tidak kusut. Kartu akses tergantung lurus. Tapi ia tahu ada sesuatu yang mulai bergeser.
Di luar, Raka menatapnya dari meja dengan ekspresi yang bahkan tidak berusaha netral. Satria kembali ke kursinya. Raka menunggu sampai Satria duduk, tetapi mulutnya sudah lebih dulu menyimpan senyum yang membuat Satria ingin menutup laptop tepat di wajahnya.
Satria tidak menoleh. “Kerja.” Raka mengangkat kedua tangan, padahal tidak ada yang menuduhnya. Senyumnya justru makin lebar.
Di meja, Satria mengetik password terlalu keras. Itu cukup bagi Raka untuk tahu. “Jadi makan siang,” gumam Raka. Satria menatapnya. Raka langsung menunduk ke layar, pura-pura menemukan angka penting. “Saya tidak melihat apapun sebelum gajian.”
Pukul dua belas lewat sepuluh, Satria masih duduk di meja. Pukul dua belas lewat dua belas, ia membuka file yang tidak perlu dibuka. Pukul dua belas lewat tiga belas, ia melihat ponsel. Tidak ada pesan. Pukul dua belas lewat empat belas, Raka mulai menghitung mundur dengan suara sangat pelan dan sangat ingin dipukul. Pukul dua belas lewat lima belas, Satria berdiri. Raka langsung menutup mulut dengan tangan.
Satria mengambil dompet dan ponsel. “Saya makan.”
“Sendiri?” Satria menatapnya. Raka mengangguk bijak. “Baik. Berdua dalam semangat kemandirian.” Satria meninggalkannya sebelum tangannya benar-benar bergerak mengambil stapler.
Lift turun terasa lebih lama dari biasanya. Di dalam, Satria berdiri di sudut, menatap angka lantai yang berganti satu per satu. Ia bisa saja tidak turun. Bisa mengirim pesan bahwa ia ada pekerjaan. Bisa memilih aman. Semua alasan tersedia. Semua cukup masuk akal.
Tapi tubuhnya sudah bergerak sebelum harga dirinya menyelesaikan rapat internal. Itulah yang membuatnya jengah. Bukan karena Renata memaksa. Bukan karena Renata terlalu cantik, terlalu berani, atau terlalu pintar menemukan celah. Melainkan karena di balik semua penolakan, ia datang.
Satria hidup bertahun-tahun dengan kemampuan menahan diri. Menahan ingin membeli sesuatu yang tidak perlu. Menahan marah pada keadaan yang tidak bisa diganti. Menahan lelah agar tidak sampai terdengar di telepon ibunya. Menahan mimpi agar tidak terlalu mahal. Menahan kesepian sampai bentuknya mirip kemandirian.
Lalu Renata berdiri di lobby, dan tubuhnya turun sebelum ia sempat menyusun alasan untuk tetap di atas. Pintu lift terbuka. Renata berdiri di dekat sofa tunggu, tidak duduk. Ia melihat ponsel, blazer tersampir di lengan, tas kecil di bahu, dan wajah yang terlalu tenang seperti ia tidak membuat staf finance baru turun dari lantai sembilan dengan kombinasi ancaman dan janji.
Saat melihat Satria, ia memasukkan ponsel ke tas. “Kamu datang.”
“Saya lapar.”
“Alasan bagus.”
“Alasan kerja saya ditolak.”
Renata tersenyum, lalu berjalan mendekat. Tidak menyentuh. Hanya berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk membuat parfum Renata masuk ke udara yang Satria hirup. “Mau makan apa?”
“Yang dekat.”
“Takut ketahuan?”
“Takut kamu memilih restoran yang harga air mineralnya bisa membeli paket data sebulan.”
Renata berhenti setengah langkah. Lalu tertawa. Bukan tawa kecil seperti di ruang rapat. Kali ini benar-benar tawa. Ringan, jernih, dan membuat dua resepsionis di lobby menoleh tanpa sadar.
Satria menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak bangga karena berhasil membuat Renata tertawa begitu.
“Baik,” kata Renata setelah tawanya reda. “Kamu pilih.” Satria diam. Ia tidak siap diberi kendali. Renata melihat itu. “Kamu boleh memilih tempat makan, Satria. Aku tidak akan pingsan kalau duduk di warteg.”
“Saya tidak bilang warteg.”
“Tapi wajahmu sedang menghitung sesuatu yang murah, aman, dan tidak membuat pelayan memanggilku Ibu setiap tiga menit.” Satria hampir tersenyum. Renata menunjuk pintu lobby. “Ayo. Aku ikut.”
Di luar, panas Jakarta menunggu mereka dengan cara yang sangat tidak romantis. Suara kendaraan berdesakan, satpam meniup peluit, pengemudi ojek online berjejer di pinggir jalan, dan beberapa karyawan berjalan cepat mencari makan siang dengan wajah pasrah.
Satria memilih kedai kecil di seberang gedung. Bersih, ramai, dan menjual nasi ayam dengan harga yang tidak membuatnya perlu menghitung napas. Renata masuk tanpa ragu. Beberapa orang menoleh karena pakaiannya terlalu rapi untuk meja plastik dan sambal sachet, tapi Renata tidak menunjukkan ketidaknyamanan.
Ia duduk di kursi yang dipilih Satria, meletakkan tas di pangkuan, lalu melihat menu tempel di dinding. “Rekomendasi?”
Satria masih berdiri. “Kamu sungguh mau makan di sini?”
“Aku sudah duduk.”
“Bisa berubah pikiran.”
“Bisa. Tapi tidak mau.”
Satria duduk di depannya. Ada sesuatu yang bergeser lagi di dadanya, kecil. Renata tidak membuat adegan tentang kesederhanaan. Tidak berkata tempat ini lucu, unik, merakyat, atau kalimat menyebalkan lain yang biasa keluar dari orang kaya ketika masuk ke tempat murah dan ingin terlihat rendah hati. Ia hanya duduk, membaca menu, dan bertanya lauk mana yang enak. Itu membuat Satria kehabisan satu alasan untuk menjauh.
Mereka memesan. Satria membayar lebih dulu sebelum Renata sempat membuka tas. Renata melihatnya, tetapi tidak langsung berkata apa-apa. Ia hanya kembali duduk, menaruh tas di pangkuan, lalu menatap Satria dengan senyum kecil yang sudah membuat pria itu menegang sebelum kalimat apapun keluar.
Satria merapikan posisi gelasnya. Percuma. Renata sudah melihat semuanya. “Kamu membayar makan siang kita.”
“Saya yang memilih tempat.”
“Berarti kamu yang mengajakku.” Satria berhenti satu detik. Renata menyandarkan dagu di punggung tangan. “Manis juga caramu menyerah.”
“Ini bukan kencan.”
“Belum aku sebut kencan.” Satria menatapnya. Renata tersenyum tipis. “Tapi kalau kamu ingin membahasnya duluan, aku dengarkan.”
Di luar, klakson terdengar panjang. Di dalam, Renata tampak sangat puas.
Nasi ayam datang sebelum Satria perlu menyelamatkan dirinya dengan jawaban buruk. Satria langsung diam, seperti makanan itu penyelamatan resmi dari seluruh kemungkinan buruk.
Renata menerima piringnya, mengucapkan terima kasih pada ibu penjual, lalu mencicipi sambal sedikit. “Enak.” Satria memperhatikannya tanpa sadar. Renata menangkap tatapan itu. “Apa?”
“Tidak.”
“Kamu kira aku tidak bisa makan di tempat seperti ini?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Matamu sibuk menilai.”
Satria mengambil minum. “Saya memastikan kamu tidak butuh sendok emas.”
Renata menatapnya dua detik. Lalu tertawa lagi. Kali ini Satria tidak bisa menahan sudut bibirnya. Renata melihat senyum itu. Kecil. Cepat. Hampir disembunyikan. Tapi ada.
Renata melihat senyum itu dan lupa pada sendok di tangannya.
Satria menunduk, makan dengan tenang yang sudah tidak sepenuhnya berhasil. Renata tidak menggodanya lagi selama beberapa menit. Ia membiarkan mereka makan. Kadang, bentuk perhatian paling berbahaya bukan mendekat. Melainkan berhenti tepat ketika orang lain mulai berharap itu tidak berhenti.
Satria merapikan tisu di samping piringnya. Renata memperhatikan gerakan itu. Tidak banyak orang merapikan tisu di tengah makan siang. Tidak banyak orang menggeser gelas sedikit menjauh dari tepi meja seolah gelas itu punya kemungkinan jatuh dan memperburuk hari. Tidak banyak orang menyusun sendok di sisi kanan piring setelah beberapa suap, lalu mengembalikannya ke tempat yang sama tanpa sadar.
Satria hidup seperti orang yang terus-menerus mencegah sesuatu tumpah. Renata menahan komentar itu. Ia memilih jalur lain yang lebih tepat untuk membuat pria di depannya kesal. “Kamu tampan saat makan.”
Satria batuk kecil. Renata langsung menyodorkan air, matanya terang oleh kesenangan yang sangat tidak membantu keadaan. Ia minum, lalu menatapnya dengan mata sedikit basah karena tersedak. “Kenapa harus saat saya makan?”
“Karena saat rapat kamu tampan dengan cara menyebalkan. Saat makan, kamu lebih manusiawi.”
“Saya mohon berhenti memakai kata itu untuk aktivitas dasar.”
“Tampan?” Satria meletakkan gelasnya pelan. Renata tersenyum seperti orang yang tahu persis di mana batas, lalu memilih berdiri satu langkah di depannya. “Baik.” Ia mengambil satu suap nasi, menelan, lalu berkata tenang, “Rahangmu bagus saat mengunyah.”
Satria meletakkan sendok. Pelan. Sangat pelan. Renata menahan tawa dan gagal separuh.
“Ini tempat umum,” kata Satria rendah.
“Aku tidak menyentuhmu.”
“Itu bukan satu-satunya bentuk gangguan.”
“Aku memuji anatomi wajahmu secara spesifik.”
“Itu lebih buruk.”
“Tidak ada yang salah.”
Satria menatapnya seperti sedang mempertimbangkan apakah masa probation layak dipertahankan kalau harga dirinya harus terus-menerus diserang oleh perempuan yang terlalu cantik dan terlalu percaya diri. “Kalau saya memuji wajahmu di tengah makan siang, kamu nyaman?”
Renata tidak langsung menjawab. Senyumnya berubah. Sedikit lebih pelan. “Coba.” Satria langsung menyesal. Renata menaruh sendok, menyandarkan punggung ke kursi plastik, lalu menatapnya dengan kesabaran yang jelas-jelas palsu. “Ayo. Bagian mana?”
Satria menatap piringnya. Ia sangat ahli diam. Tapi Renata menatapnya, dan ada bagian kecil dari dirinya yang lelah selalu menjadi pria yang menyelamatkan semua orang dari kejengahan. Akhirnya ia berkata, “Matamu tajam.”
Renata diam. Hanya satu detik. Tapi cukup. Satria melihatnya. Kali ini Renata yang tidak langsung punya jawaban. Ia berkedip, lalu tersenyum, tetapi senyumnya datang terlambat sedikit. “Terima kasih.”
Satria mengambil sendok lagi. “Jawaban paling aman biasanya begitu.”
Renata menatapnya. Lalu tertawa. Tidak keras. Lebih seperti tawa yang keluar karena ia baru saja dipukul dengan senjatanya sendiri. “Baik,” katanya. “Kamu belajar.”
“Saya beradaptasi untuk bertahan hidup.”
“Berbahaya. Kamu semakin menarik.”
Satria menghela napas, tetapi ada sesuatu yang sedikit lebih ringan di wajahnya. Renata tidak melewatkan itu.
Ia mengulurkan tangan ke tengah meja, mengambil wadah tisu. Saat menariknya, ujung jarinya menyentuh punggung tangan Satria yang berada dekat gelas.
Satria menegang. Tidak secepat kemarin. Tapi tetap. Renata tidak langsung menarik tangan. Tidak juga menggenggam. Ia hanya membiarkan ujung jarinya menyentuh kulit Satria satu detik lebih lama dari yang bisa disebut tidak sengaja. “Satria.”
“Hm?”
“Kalau aku menyentuhmu dan kamu ingin aku berhenti, bilang.”
Satria menatap tangan mereka. Lalu wajah Renata. “Kalau saya tidak bilang?” Pertanyaan itu kecil, tapi bukan hal kecil bagi Satria.
“Berarti aku akan bertanya lagi nanti,” jawab Renata. “Bukan menganggapnya izin.”
Satria memandangnya lama. Renata tidak tersenyum. Tidak kali ini. Ia hanya menunggu, dan tangan itu masih di sana, ringan, hangat, tidak cukup kuat untuk menahan siapapun.
Satria menarik tangannya perlahan. Bukan menepis. Bukan kabur. Hanya menarik. Renata membiarkannya. “Baik.”
Satria kembali makan. Tapi nasi di piringnya sudah tidak lagi sama. Bukan karena Renata. Bukan hanya karena Renata. Lebih karena dirinya sendiri. Ia menyadari ada bagian di tubuhnya yang kecewa ketika sentuhan itu hilang. Kesadaran itu membuat siang terasa lebih gelap beberapa tingkat.
Satria belajar hidup tanpa meminta banyak. Ia tidak menyebutnya sedih. Orang dewasa tidak punya waktu memberi nama dramatis untuk semua hal yang kurang. Ia hanya terbiasa. Terbiasa makan seadanya. Terbiasa mencatat pengeluaran sampai angka kecil. Terbiasa menaruh keinginan di ujung bulan, lalu menghapusnya kalau saldo tidak setuju. Terbiasa tidak berharap disentuh dengan hati-hati, karena tidak berharap disentuh sama sekali lebih mudah dijalani.
Lalu Renata duduk di depannya, memuji rahangnya, mencuri tisu, dan bertanya sebelum mengambil ruang tubuhnya lebih jauh. Itu bukan sekadar membuatnya jengah. Itu membuatnya ingin. Dan bagi Satria, keinginan selalu terasa seperti pengeluaran tak terduga.
Setelah makan siang selesai, mereka kembali ke gedung tanpa banyak bicara. Di trotoar, Renata hampir tersenggol orang yang berjalan cepat sambil membawa kopi. Satria bergerak lebih dulu, tangannya menyentuh ringan punggung Renata, mengarahkannya setengah langkah ke sisi dalam. Tidak lama. Tidak erat. Hanya refleks.
Renata berhenti. Satria juga berhenti, terlambat menyadari tangannya masih ada di punggung perempuan itu. Ia melepasnya cepat. “Maaf.”
Renata menoleh, matanya tenang, tapi senyumnya pelan-pelan naik. “Tidak apa-apa.” Satria tampak ingin masuk ke lubang drainase terdekat.
Renata tidak mengatakan apapun sampai mereka masuk lobby. Baru saat berdiri menunggu lift, ia bergerak sedikit mendekat dan berbisik, “Tadi kamu menyentuhku duluan.”
Satria menatap angka lift seperti sedang membaca dokumen keselamatan kerja. “Itu refleks.”
“Aku tidak protes.”
Lift terbuka. Mereka masuk bersama beberapa orang lain, jadi Satria selamat dari percakapan lanjutan selama kurang lebih tiga puluh detik. Renata berdiri di sampingnya, bahu mereka hampir sejajar. Di pantulan pintu lift yang mengilap, Satria bisa melihat wajahnya sendiri yang terlalu tegang dan wajah Renata yang terlalu menikmati hidup.
Saat lift sampai lantai sembilan, Satria keluar lebih dulu. Renata tidak ikut. Ia tetap di dalam, menuju lantainya sendiri. Sebelum pintu tertutup, Renata menatap Satria dan berkata dengan suara normal, cukup sopan untuk siapapun yang mendengar, “Terima kasih makan siangnya.”
Satria mengangguk. “Sama-sama.”
Pintu lift mulai menutup. Lalu Renata menambahkan, dengan senyum yang hanya terlihat setengah sebelum pintu benar-benar rapat, “Besok aku yang pilih tempat.”
Satria berdiri di depan lift yang tertutup. Di belakangnya, Raka muncul entah dari mana seperti hantu operasional gosip. “Mas.” Satria tidak menoleh. “Wajahmu seperti orang yang habis kalah tender tapi dapat proyek.” Satria berjalan kembali ke meja. Raka mengikuti dengan langkah ringan. “Enak makan siangnya?”
“Biasa.”
“Bu Renata suka?”
Satria duduk, membuka laptop. “Kerja.”
Raka tersenyum sangat lebar. “Kalau jawabannya kerja, berarti suka.”
Satria tidak membalas. Tapi ketika ia membuka file vendor, ada satu pesan masuk di ponselnya. Nomor tidak dikenal.
Ini Renata. Nomormu dari daftar peserta rapat, bukan dari HR. Simpan nomorku. Jangan beri nama Vice Manager.
Satria menatap pesan itu lama. Lalu pesan kedua masuk.
Saran: Renata yang Tidak Bisa Kamu Hindari.
Satria menutup ponsel menghadap meja. Lima detik kemudian, ia mengambilnya lagi. Ia menyimpan nomor itu. Bukan sebagai Vice Manager. Bukan juga sebagai nama yang disarankan Renata, karena harga dirinya masih membutuhkan sisa perlawanan.
Ia mengetik: Renata Maharani. Formal. Aman. Berjarak. Lalu ponselnya berbunyi lagi.
Kamu pasti menyimpanku dengan nama lengkap.
Satria menatap layar. Di sebelahnya, Raka pura-pura tidak melihat. Satria mengetik balasan pertama yang seharusnya tidak ia kirim.
Kamu terlalu percaya diri.
Balasan Renata datang nyaris seketika.
Tidak. Tapi aku benar.
Satria membaca pesan itu, lalu tanpa bisa ia cegah, senyumnya muncul lagi. Kecil. Diam-diam. Dan kali ini, ia tidak cukup cepat menyembunyikannya dari Raka.
“Wah,” kata Raka pelan.
Satria menatapnya tajam. Raka mengangkat tangan. “Aku tidak lihat apa-apa.”
“Bagus.”
“Tapi sebagai anak finance, aku mencatat semuanya.”
Satria melempar penghapus. Raka menghindar sambil tertawa.
Di lantai atas, Renata masuk ke ruangannya dengan langkah lebih ringan daripada pagi tadi. Mila berdiri di dekat meja dengan beberapa dokumen dan wajah yang sudah menerima bahwa hari ini pekerjaannya akan melibatkan hal-hal di luar job description.
“Bu,” kata Mila hati-hati, “makan siangnya lancar?”
“Lancar.”
“Vendor?”
“Tidak dibahas.”
Mila menutup mata sebentar seperti orang sedang mendoakan keselamatan struktur perusahaan. Renata duduk, membuka laptop, lalu melihat ponselnya. Pesan terakhir dari Satria masih ada di layar.
Kamu terlalu percaya diri.
Ia tersenyum. Mila melihat senyum itu dan tampak makin takut.
“Bu.”
“Apa?”
“Saya bicara sebagai perempuan yang ingin mempertahankan pekerjaan.” Renata mengangkat wajah. “Orang kantor bisa jahat,” kata Mila. “Dan kalau staf itu laki-laki baru yang posisinya jauh di bawah Ibu, mereka akan lebih jahat kepadanya daripada kepada Ibu.”
Renata diam. Kali ini ia tidak membalas cepat. Mila menunggu, mungkin siap dimarahi, mungkin siap dipindah ke meja dekat printer sebagai hukuman emosional. Renata meletakkan ponselnya pelan. “Aku tahu.” Dua kata itu keluar tanpa senyum.
Mila melunak sedikit. “Saya cuma mengingatkan.”
“Aku tahu,” ulang Renata, lebih pelan. Dan memang ia tahu. Ia tahu dunia lebih mudah memaafkan perempuan seperti dirinya selama ia tetap berada di jalur yang bisa dipahami orang: karier bagus, keluarga mapan, pasangan setara, keputusan rapi, hidup yang kalau dilihat dari luar tampak seperti brosur bank premium.
Ia juga tahu Satria tidak punya perlindungan sebanyak itu. Satria bisa bekerja sangat baik selama setahun, tetapi satu gosip buruk bisa membuat semua orang membaca kemampuannya dengan kacamata berbeda. Kalau ia naik, orang akan bertanya siapa yang menarik. Kalau ia benar, orang akan mencari tangan siapa di belakangnya. Kalau ia salah, orang akan menyebut Renata bodoh karena memilih pria biasa.
Renata membenci fakta bahwa dunia masih sering bekerja dengan cara sekotor itu. Tapi membenci fakta tidak membuat fakta hilang. “Tenang,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan membuat dia jadi korban pilihanku.”
Mila mengangguk pelan. Renata mengambil dokumen dari meja dan membuka halaman pertama. Wajahnya kembali tenang. Vice manager lagi. Perempuan yang tahu cara mengunci sesuatu sebelum orang lain melihatnya terlalu banyak.
Tapi di bawah meja, ponselnya menyala. Pesan baru dari Satria.
Jangan kirim pesan saat jam kerja.
Renata membacanya. Lalu tersenyum sangat pelan.
Ia mengetik:
Baik. Setelah jam kerja aku lanjut.
Belum sampai sepuluh detik, balasan masuk.
Bukan itu maksud saya.
Renata menahan tawa. Mila menatapnya dari seberang meja, lalu menghela napas kecil. “Bu, tolong jangan buat finance mengajukan resign massal.”
Renata meletakkan ponsel, membuka dokumen lagi, dan menjawab dengan wajah sungguh-sungguh yang sama sekali tidak dapat dipercaya. “Aku usahakan.”
Satria pulang lebih lambat hari itu. Bukan karena pekerjaannya belum selesai. Justru ia menyelesaikan semua lebih rapi dari biasanya, terlalu rapi sampai Raka sempat menatapnya dengan curiga sebelum memutuskan hidupnya lebih penting daripada komentar tambahan.
Satria duduk di bus dengan tangan memegang pegangan atas, tubuhnya mengikuti gerak jalan tanpa banyak melawan. Di kaca gelap, wajahnya muncul samar. Wajah yang tadi disebut tampan. Rahang yang tadi dipuji seolah itu bagian dari laporan. Mata yang Renata paksa untuk menatap dirinya sendiri terlalu sering.
Ia menurunkan pandangan ke ponsel. Tidak ada pesan baru. Bagus. Ia seharusnya lega.
Bus berhenti. Orang naik. Bahunya tersenggol tas seseorang. Ia bergeser sedikit, memberi ruang, lalu kembali menatap kaca. Di pantulan itu, Satria terlihat seperti laki-laki yang hidupnya masih sama: staf finance baru, kos sederhana, gaji yang belum stabil, keluarga jauh, catatan pengeluaran yang menunggu ditulis malam nanti. Namun ada satu hal yang berubah. Di punggung tangannya, ia masih bisa mengingat ujung jari Renata. Dan di kepalanya, ada kalimat yang terus kembali meski ia sudah mencoba menenggelamkannya dengan angka.
Kamu tampan.
Ia menutup mata sebentar. Bukan karena senang. Bukan hanya karena malu. Melainkan karena pujian itu, dari Renata, tidak terdengar seperti basa-basi. Tidak terdengar seperti permainan kosong. Perempuan itu melihatnya terlalu terang, dan terang seperti itu membuat semua kekurangan di sekitarnya ikut terlihat: kamar kosnya yang sempit, sepatu yang ia rawat agar tampak baru lebih lama, dompet yang ia hitung sebelum memilih tempat makan, hidup yang selalu cukup tapi jarang lebih.
Renata maju dengan tawa, sentuhan, dan kalimat berani. Satria mundur dengan diam, kerapian, dan seluruh ketakutan yang tidak ingin ia beri nama. Masalahnya, setiap kali ia mundur satu langkah, Renata tidak selalu mengejar. Kadang ia hanya berdiri di tempat, tersenyum, lalu membiarkan Satria sadar sendiri bahwa ia ingin kembali mendekat.
Malam itu, setelah mencatat pengeluaran makan siang di aplikasi keuangan, Satria menatap angka kecil di layar. Tidak besar. Masih aman. Tapi ada kategori yang terasa aneh ketika ia menulisnya. Makan siang. Ia hampir menambahkan: dengan Renata. Tentu saja tidak. Ia menghapus layar, meletakkan ponsel telungkup, lalu membuka buku catatan hitamnya.
Di halaman kosong paling belakang, tanpa sadar, ia menulis satu kata.
Renata.
Satria menatap tulisan itu lama. Lalu menutup buku cepat-cepat, seperti orang yang baru saja menyembunyikan barang bukti dari dirinya sendiri.
Ponselnya menyala. Renata Maharani.
Sudah pulang?
Satria menatap layar. Ia bisa tidak membalas. Bisa tidur. Bisa berpura-pura tidak melihat. Namun jarinya bergerak.
Sudah.
Balasan Renata datang cepat.
Bagus. Rahangmu aman sampai besok.
Satria menutup mata. Ia hampir membenturkan kepala ke meja. Lalu ia mengetik, lebih cepat dari yang seharusnya:
Renata.
Balasan datang:
Ya?
Satria menatap layar lama. Terlalu lama. Akhirnya ia hanya menulis:
Tidur.
Renata membalas setelah beberapa detik.
Perhatian?
Satria menaruh ponsel di meja, berdiri, lalu mematikan lampu. Ia tidak menjawab. Tapi di kamar kos yang gelap, dengan kipas angin berbunyi pincang dan suara motor lewat dari jalan kecil di luar, Satria sadar satu hal yang membuat dadanya terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya. Ia tidak menjawab bukan karena tidak peduli. Ia tidak menjawab karena kalau menjawab jujur, pertahanannya mungkin runtuh terlalu cepat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!