“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.
Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru tentang kehidupan.
Hati Miri sempat berdebar karena mengira Jihan atau Kemal akan menyinggung soal pacar baru ibunya. Namun, topik itu tak pernah menguak ke permukaan.
“Sampai ketemu hari Senin, ya, Mir. Siapin mental buat pelatihan intens. Oke?” ujar Kemal, mengacungkan jempol.
“Siap, Pak Chef,” balas Miri sambil iseng memberi hormat.
Miri menutup pintu, menyusul ibunya ke dalam. Bu Sara sedang menumpuk piring-piring makan yang telah kosong.
“Biar aku aja yang beresin, Ma. Mama pasti capek abis kerja shift malam, kan?” Miri mengajukan diri.
Ia mengambil tumpukan peralatan makan itu dari tangan ibunya, buru-buru membawanya ke dapur. Bu Sara mengalah, memilih duduk kembali di meja. Sambil mengamati punggung putrinya yang sedang mencuci piring, Bu Sara menikmati segelas es teh manis dingin yang sengaja ia simpan di kulkas.
Rumah keluarga Miri kembali sepi setelah Kemal dan Jihan berpamitan pulang. Bu Sara berharap mereka dapat tinggal lebih lama. Namun, di sisa akhir pekan, siapapun akan memilih untuk beristirahat di rumah.
“Gimana di restoran, Miri? Sibuk banget, ya?” tanya Bu Sara.
“Iya, Ma. Aku udah cerita, kan, ada acara katering minggu depan? Sebentar lagi juga waktunya Chef Dom minta menu baru untuk persiapan bulan Desember,” ungkap Miri.
Piring-piring dan gelas-gelas bersih menumpuk di rak. Miri mengeringkan tangannya pada handuk, lalu bergabung dengan ibunya di meja.
Sambil duduk dengan malas di kursi, Miri teringat dengan tantangan membuat menu baru yang diadakan setiap enam bulan sekali. Di paruh pertama, menu baru buatannya gagal masuk ke dalam menu.
“Bulan Desember jadi kesempatanku untuk bikin menu baru. Apalagi biasanya restoran lebih ramai di akhir tahun,” Miri menjelaskan.
“Semangat, ya, Nak. Kerjain dulu satu-satu. Pertama-tama, kamu harus fokus ke acara katering dulu, kan? Tanggung jawabnya besar, loh,” Bu Sara mengingatkan.
Miri setuju. Menggantikan posisi Kemal untuk mengerjakan menu pasta adalah hal serius. Chef Dom tidak akan segan memecat Miri jika ia membiarkan seorang tamu acara kelaparan sedetik saja.
“Kamu harus jaga kesehatan juga. Pasti capek menyiapkan porsi makanan besar untuk 200 orang lebih,” tambah Bu Sara.
“Iya juga, ya. Aku nggak boleh sakit. Dan harus latihan makan makanan pedas biar bisa ngikutin level masakannya Kemal,” canda Miri.
Bu Sara tertawa kecil, lalu membelai kepala Miri. Rambutnya yang panjang terurai hingga ke punggung, tampak kusam di bawah sinar matahari. Di balik kaus oversized yang ia kenakan, bahu dengan lengan Miri tampak kurus.
“Ma,” panggil Miri.
“Iya, Nak?”
“Mama … dan pacar Mama … hubungan kalian serius?”
Bibir Bu Sara mengatup. Ia menarik tangannya, meletakkannya di meja. Miri menunduk, menghindari tatapan mata sang ibu.
“Kenapa kamu tanya gitu, Miri?”
“Aku cuma penasaran aja. Nggak ada maksud apa-apa. Aku bahagia, kok, kalau Mama bahagia,” balas Miri cepat.
Bu Sara menelan kata-kata putrinya, mengulangnya dalam hati. ‘Aku bahagia kalau kamu bahagia’ adalah prinsip yang mereka pegang selama ini. Keluarga kecil yang hanya bertahan berdua, setelah suaminya menghilang tanpa jejak.
Ia tak akan pernah bisa melupakan hari itu, ketika suaminya tiba-tiba berhenti pulang ke rumah. Tanpa pesan. Ponsel mati, tak bisa dihubungi. Mencari ke manapun, bayangnya tak nampak.
“Kalau Mama boleh jujur … kami ada pembicaraan ke jenjang yang lebih serius. Tapi, di umur Mama segini, rasanya konyol bicara soal menikah,” Bu Sara tertawa kecil.
Miri mengerutkan kening.
“Kenapa Mama ngomong gitu? Aku nggak akan menentang kalau Mama memilih–”
“Buat Mama, kamu nomor satu, Miri.”
Miri menggeleng cepat. Ia meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat. Ujung jarinya dapat merasakan setiap kerutan, kulit yang mulai kering, dan tulang-tulang yang menonjol di bawah kulit.
Ibunya tak lagi muda, tapi bukan berarti ia perlu melewati masa tuanya sendirian. Siapapun pria ini, Miri tak pernah melihat wajah ibunya yang berseri setiap kali pulang ke rumah. Kebahagiaan itu terpancar jujur, sekalipun Bu Sara melewati hari yang melelahkan selepas kerja.
“Mama nggak usah khawatir soal aku. Aku kan udah ada Baskara. Kalaupun besok Mama mau tinggal bersama laki-laki itu, aku nggak akan menentang,” ucap Miri tegas.
Bu Sara menggigit bibirnya. Kini ia yang menunduk, menghindari mata Miri yang berbinar.
“Untuk sekarang, Mama nggak ambil pusing soal menikah, Miri. Mama mau menikmati dulu waktu bersama dia. Banyak banget hal seru yang lagi kami bicarakan. Termasuk kamu,” ungkap Bu Sara, tersenyum simpul.
“Aku? Kalian ngomongin aku juga?” Miri melepaskan tawa kecil.
Kini berganti Bu Sara yang menggenggam tangan Miri. Ketika Jihan dan Kemal membicarakan soal kekasihnya, diam-diam Bu Sara mendengarkan dari balik pintu kamarnya. Ia menahan tawa, ketika Jihan melontarkan rasa penasarannya.
Namun, rasa penasaran itu akan terjawab sendiri.
“Mama sesekali ngomongin soal kamu. Tapi, Mama nggak mau bicara banyak supaya kalian bisa ngobrol sendiri kalau ketemu minggu depan,” ungkap Bu Sara.
“Minggu depan? Maksudnya?” Miri mengerutkan kening.
Bu Sara menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia tak ingin mengacaukan kejutan, tapi Bu Sara mengenal putrinya. Miri akan panik seharian ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan.
“Miri, acara katering yang akan kamu pegang minggu depan itu acara kantornya Seno, pacar Mama.”
“... Hah?!”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!