Anak Kost

1 dibaca

A

Alarm kembali membangunkan Saga pagi-pagi. Suara berisik dari luar kamar membuatnya mengerang pelan. Ternyata tinggal di kos berarti tidak bisa memilih kapan dunia mulai ramai. Orang-orang sudah sibuk sejak matahari belum benar-benar tinggi. Ada suara ember, suara pintu kamar dibuka tutup, suara orang memanggil penjual sayur, dan suara motor yang dipanaskan terlalu lama.

Saga duduk di kasur sambil menatap kemeja kerja yang kemarin dia pakai. Kusut. Sangat kusut. Dia baru sadar bahwa selama ini bajunya bisa rapi setiap pagi karena ada yang mengurusnya. Sekarang kemeja itu tergeletak begitu saja, dan dia tidak tahu harus menyetrika di mana. “Gawat,” gumamnya.

Dia membuka koper dan mencari kemeja lain yang masih cukup rapi. Untung saja masih ada. Setelah mandi, dia bersiap dengan lebih cepat. Dasi tidak dia pakai kali ini. Dia tidak mau terlihat terlalu berlebihan lagi di kantor. Cukup kemeja, celana, dan sepatu yang masih terlihat terlalu mahal untuk jalanan gang.

Saat hendak keluar, dia teringat ucapannya kemarin tentang botol minum. Dia harus membeli botol minum. Kalau setiap hari membeli minum, uangnya akan cepat habis. Saga mulai merasa hidup hemat ternyata penuh perhitungan kecil yang melelahkan.

Dia sarapan di warung seperti biasa. “Mas Saga, seperti biasa?” tanya Bu Warung.

Saga terdiam sebentar karena baru dua hari makan di sana dan sudah punya sebutan seperti biasa. “Iya, Bu. Yang penting ada nasinya.”

Bu Warung tertawa kecil. “Lauknya mau apa?”

“Itu saja,” kata Saga menunjuk ayam goreng.

Setelah makan, Saga berjalan ke minimarket kecil dekat jalan raya. Dia membeli botol minum, detergen saset, sabun cuci piring kecil, dan gantungan baju karena melihat barang-barang itu terpajang di sana. Dia tidak benar-benar tahu semuanya diperlukan atau tidak, tapi sepertinya benda-benda itu masuk akal untuk orang yang tinggal sendiri.

Saat membayar, kasir menatap barang belanjaannya, lalu menatap Saga yang berdandan seperti pegawai kantor. “Baru ngekos, Mas?” tanyanya.

Saga menatapnya. “Kelihatan?”

Kasir tersenyum sopan. “Biasanya yang baru ngekos belinya begini, Mas. Nanti jangan lupa ember.”

Saga terdiam. Ember. Dia belum punya ember. “Ember ukuran kecil ada?” tanyanya akhirnya.

Kasir menunjuk ke bagian belakang. Saga mengambil satu ember kecil dengan wajah datar, seolah membeli ember adalah keputusan besar yang harus dilakukan dengan penuh martabat. Setelah selesai, dia berjalan ke kantor dengan membawa kantong plastik yang cukup mencolok.

Sari yang melihatnya datang langsung menahan senyum. “Mas Saga habis belanja?”

“Botol minum,” jawab Saga singkat, lalu mengangkat kantongnya sedikit.

“Wah, sudah mulai hidup hemat?”

“Sepertinya harus.”

Sari tertawa pelan. “Dispenser bebas dipakai, Mas. Gelas juga ada, tapi kalau bawa botol sendiri memang lebih enak.”

Saga mengangguk dan masuk ke ruangannya. Hari kedua bekerja dimulai dengan data yang masih sama banyaknya. Bedanya, Saga sudah sedikit lebih tahu apa yang harus dia lakukan. Dia membuka file, mengecek data masuk, lalu mulai memasukkan satu per satu ke Google Form. Beberapa data masih membuatnya berhenti cukup lama, tapi dia tidak lagi sepanik kemarin.

Saat jam makan siang, Sari kembali muncul di pintu. “Makan, Mas?”

Saga melihat jam. Kali ini dia tidak terkejut seperti kemarin. “Iya.”

Di warung sebelah kantor, Dina kembali duduk di dekatnya. Pandu dan Jeri masih sibuk membahas pekerjaan mereka. Saga makan lebih tenang. Dia sudah bisa menunjuk lauk tanpa terlalu lama bengong di depan etalase.

“Mas Saga tadi bawa ember?” tanya Jeri tiba-tiba.

Saga berhenti mengunyah. “Kamu lihat?”

“Kelihatan dari plastiknya,” jawab Jeri sambil tertawa.

Dina ikut menahan tawa. “Baru ngekos, ya, Mas?”

Saga menatap piringnya. “Iya.”

“Oh, pantes,” kata Pandu. “Nanti kalau nyuci jangan kebanyakan detergen. Busa semua nanti.”

Saga menatap Pandu, sedikit tersinggung karena nasehat itu terdengar seperti ditujukan kepada anak kecil, tapi dia juga sadar bahwa dia memang belum pernah mencuci baju sendiri dengan benar. “Aku tahu,” jawab Saga, meski tidak sepenuhnya yakin.

Sari hanya tersenyum. “Kalau bingung, tanya Ibu Kos saja, Mas. Daripada bajunya rusak.”

Saga memilih diam dan melanjutkan makan. Dia tidak suka semua orang tahu dirinya sedang belajar hal-hal dasar, tapi dia juga tidak bisa menyangkal kenyataan.

Sore harinya, pekerjaan Saga selesai lebih rapi daripada kemarin. Pak Rudi sempat masuk ke ruangannya dan memeriksa beberapa data yang sudah dia kerjakan.

“Lumayan,” kata Pak Rudi.

Saga menegakkan tubuh. “Ada yang salah, Pak?”

“Belum. Tapi jangan terlalu percaya diri. Data itu kelihatannya kecil, tapi kalau salah satu angka saja, masalahnya bisa panjang.”

“Baik, Pak.”

Pak Rudi menatapnya sejenak. “Kamu masih mau lanjut?”

Saga mengerutkan dahi. “Tentu saja, Pak.”

Pak Rudi mengangguk. “Bagus kalau begitu. Pulanglah. Jangan sampai besok datang dengan wajah seperti orang habis perang.”

Saga ingin mengatakan bahwa tidur di kasur kapuk sudah cukup seperti perang, tapi dia menahan diri. Dia hanya mengangguk dan membereskan tasnya.

Malam itu, setelah pulang dan makan di warung, Saga akhirnya berhadapan dengan cucian pertamanya. Ember kecil, detergen saset, air dari kamar mandi, dan beberapa baju yang harus dicuci. Dia menatap semuanya dengan serius.

“Ini tidak mungkin sesulit data kantor,” gumamnya.

Ternyata, dia salah. Busa memenuhi ember lebih banyak dari yang dia kira. Airnya menjadi terlalu licin, baju terasa berat, dan dia tidak yakin apakah bajunya sudah bersih atau hanya tenggelam dalam busa. Seorang ibu penghuni kos yang lewat di depan kamar mandi berhenti melihatnya.  “Mas, itu detergennya kebanyakan.”

Saga menoleh dengan wajah kaku. “Oh.”

Ibu itu tertawa kecil. “Baru belajar nyuci, ya?”

Saga ingin menyangkal, tapi kondisi embernya sudah menjadi bukti yang tak bisa dibantah. “Iya, Bu.”

“Sedikit saja cukup. Kalau kebanyakan, bilasnya capek.”

Saga menatap ember penuh busa itu. “Sudah terlanjur, Bu.”

“Ya sudah, bilas yang banyak.”

Saga mengangguk pasrah. Malam itu, dia menghabiskan waktu lebih lama dari yang dia perkirakan hanya untuk mencuci beberapa potong baju. Setelah menjemurnya di tali kecil yang disediakan di belakang kamar, Saga berdiri menatap hasil kerjanya. Bajunya tidak tampak sempurna, tapi setidaknya sudah dicuci.

Dia kembali ke kamar dengan tubuh lelah. Ponselnya bergetar.

Sastra.

[Masih hidup?]

Saga menatap pesan itu sebentar, lalu membalas.

[Masih.]

Pesan Bhumi menyusul.

[Jangan lupa hitung pengeluaran hari ini.]

Saga mendengus pelan. Jagad mengirim pesan terakhir.

[Katanya anak kos sejati baru sah kalau pernah salah pakai detergen.]

Saga menatap pesan itu lebih lama.

[Siapa yang bilang?]

Balasan Jagad datang cepat.

[Sastra nebak.]

Saga menatap ember di kamar mandi, lalu memejamkan mata dengan kesal. Mereka terlalu mengenalnya.

Dia merebahkan diri di kasur kapuk, tubuhnya pegal, tangannya terasa kasar karena mencuci, dan kepalanya masih penuh data kantor. Namun, di antara semua rasa lelah itu, ada sedikit rasa bangga yang diam-diam tumbuh. Hari kedua selesai. Dia masih bertahan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk