2. Veyloria

8 dibaca

A

Rhea menatap pekatnya kegelapan Hutan Myrddal yang membentang di luar jendela kecil kereta. Pepohonan raksasa yang berjejer rapat seperti menelan setiap sisa cahaya dan mengubur jalan fana di bawah dedaunannya.

Di dalam kotak kayu yang terus bergoyang ini, Rhea merasa bak seekor binatang buruan yang terjebak di ruang sempit. Punggungnya menegak dengan kaku, menempel erat pada dinding kereta, sementara jemarinya tidak sedetik pun lepas dari hulu pedang bermata permata hitam di pangkuannya.

Setiap indranya dipasang pada tingkat tertinggi. Di depannya, duduk Marda dan kakak laki-lakinya yang memegang kendali tali kuda di bagian depan sebelum akhirnya ikut masuk saat kereta melaju stabil. Rhea tidak memercayai mereka. Di dunia yang baru ia injak beberapa jam lalu ini, kebaikan tanpa pamrih adalah hal pertama yang harus dicurigai.

“Kau yakin tidak mau minum, Nona? Perjalanan ke Veyloria masih memakan waktu hingga fajar,” tegur Marda memecah keheningan, intonasinya yang begitu lembut, entah kenapa terasa mengganggu di telinga Rhea. Wanita itu lantas menyodorkan sebuah kantung air dari kulit domba.

Rhea tidak bergerak. Matanya yang ungu seindah nebula menatap dingin ke arah kantung air itu, lalu beralih ke wajah Marda. Racun? Obat tidur? Pikiran Rhea langsung melompat ke kemungkinan terburuk. “Tidak,” tolak Rhea sambil menggeleng. Suaranya serak, tenggorokannya sebenarnya terasa sekering padang pasir, tetapi ia lebih memilih menahan dahaga daripada kehilangan kesadaran di hadapan orang asing.

Marda menghela napas pelan, menarik kembali kantung airnya tanpa memaksa. Sementara itu, Gideon yang duduk di samping Marda sedari tadi memperhatikannya dengan sebelah alis terangkat. Tatapan pria itu tajam, penuh selidik, menjelajahi gaun hitam Rhea yang compang-camping dan berlumur arang.

Kereta tiba-tiba menghantam batu cukup besar, membuat seluruh kabin terguncang hebat. Tubuh Rhea yang masih didera rasa sakit luar biasa pun terlonjak. Bersamaan dengan guncangan itu, sebuah bunyi dentingan logam yang nyaring dan berat terdengar dari arah pinggangnya.

Gideon langsung mengalihkan pandangan, menatap tepat ke arah kantung kulit hitam yang tergantung di sabuk Rhea. “Bunyi yang cukup berat untuk seorang pengembara yang tersesat di tengah hutan mati,” puji Gideon, penuh akan rasa ingin tahu. “Kantungmu tampaknya penuh, Nona.”

Rhea menegang. Secara refleks, tangan kirinya bergerak cepat menutupi kantung kulit tersebut di balik lipatan gaun hitamnya yang robek. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia sendiri sebenarnya sama sekali tidak tahu apa isi kantung itu. Mengapa benda itu begitu berat? Ada berapa banyak koin di dalamnya? Dari mana asalnya? Rhea buta tentang benda itu, tetapi nalurinya berteriak bahwa ia tidak boleh membiarkan siapa pun menyentuh atau melihat isinya.

“Bukan urusanmu,” desis Rhea, ibu jarinya mendorong sedikit hulu pedang hingga bilah baja hitamnya mengintip, memantulkan cahaya lentera minyak di dalam kereta. Sebuah ancaman yang sangat jelas.

Gideon mengangkat kedua tangannya ke udara, senyum tipis yang dingin terukir di wajahnya yang berbonggol. “Tenang, Nona. Aku hanya tidak ingin ada perampok Myrddal yang mencium bau logam berharga dari keretaku. Itu buruk untuk bisnis kami.”

Suasana di dalam kereta menjadi semakin mencekam. Ketegangan merayap di antara mereka. Rhea terus mengawasi setiap gerak-gerik tangan Gideon, memastikan pria itu tidak meraih senjata tersembunyi. Namun, di tengah kepungan rasa curiga itu, sebuah sensasi aneh mendadak menyerang tubuh Rhea.

Kereta saat ini sedang melewati celah hutan yang agak terbuka, membuat cahaya bulan purnama yang bulat sempurna menembus bagian lowong belakang kereta dan menyiram tubuh Rhea. Seketika itu juga, tengkuknya terasa seperti ditempel oleh besi panas yang membara.

Rhea merintih tertahan, giginya berantuk rapat.

Rasa panas yang luar biasa membakar kulit di bagian belakang lehernya. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang dipaksakan mendidih di dalam darahnya, tepat di bawah tengkuk tempat tanda tersembunyi itu berada. Rhea melepaskan satu tangannya dari pedang untuk mencengkeram leher belakangnya sendiri, tubuhnya gemetaran, napasnya pun tersengal-sengal.

“Nona? Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali!” Marda yang panik langsung bergeser dari kursinya, tangannya terulur hendak menyentuh bahu Rhea untuk memeriksa keadaan gadis itu.

Melihat tangan Marda yang mendekat, insting bertahan hidup Rhea meledak melampaui rasa sakitnya. Bilah pedang lalu sepenuhnya terhunus dalam sekejap mata. Ujungnya yang runcing dan dingin berhenti tepat satu inci di depan tenggorokan Marda. Mata ungu Rhea yang tadinya sayu kini menyala penuh amarah dan rasa takut.

“Kukatakan ... jangan ... menyentuhku!” Rhea mengeja setiap kata dengan napas yang terengah-engah. Keringat dingin bercampur debu arang mengalir di pelipisnya.

Marda membeku dengan mata membelalak, tangannya tertahan di udara. Gideon yang berada di depan pun bergerak cepat memegang pundak adiknya, menarik Marda mundur perlahan sembari menatap Rhea dengan pandangan yang kini benar-benar waspada. “Marda, kembali ke tempatmu. Gadis ini berbahaya.”

Rhea tidak menurunkan pedangnya sampai Marda benar-benar duduk kembali di pojok kursi terjauh. Rasa panas di tengkuknya perlahan mereda seiring dengan kereta yang kembali memasuki bagian hutan yang rimbun, menyembunyikan rembulan. Namun, kewaspadaan Rhea sudah mencapai puncaknya; ia tidak akan pernah memercayai kedua orang ini.

Sebuah lolong mengerikan yang memekakkan telinga bergema dari kedalaman Hutan Myrddal. Suara itu bukan milik serigala biasa, bunyinya bergetar rendah, menimbulkan tekanan udara yang membuat dinding kayu kereta bergetar.

Kuda-kuda di depan meringkik panik, membuat kereta bergoyang tidak keruan.

“Sial, mereka mencium bau kita!” kutuk Gideon. Ia segera bangkit dan melompat keluar ke kursi kemudi depan, mencambuk kuda-kuda agar berlari lebih kencang. “Marda! Pegangan yang erat!”

Kereta melesat bagai kesetanan menembus kegelapan. Rhea mencengkeram erat pegangan kursi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengacungkan pedang ke arah Marda. Di dalam kepalanya yang kosong akan memori, Rhea tidak merasakan takut pada monster di luar hutan. Fokusnya justru beralih. Apakah raungan itu merupakan jebakan dari kedua orang ini? Apakah mereka membawaku ke sarang makhluk mengerikan?

Rhea bersiap untuk melompat keluar dari kereta jika keadaan memburuk. Namun, setelah beberapa menit yang menyiksa dengan guncangan yang hampir mematahkan tulang, laju kereta perlahan melambat.

Pekatnya pepohonan Myrddal mendadak sirna, digantikan oleh hamparan tanah lapang. Dari balik kaca jendela yang buram oleh debu, Rhea melihat jajaran obor besar yang menyala terang benderang di kejauhan, membakar kabut malam. Sebuah dinding batu yang menjulang tinggi berdiri kokoh di depan mereka.

“Kita sampai.” Vokal Marda terdengar masih ketakutan, tetapi ada nada lega. “Itu gerbang Veyloria.”

Rhea menatap lurus ke arah gerbang kota yang mulai terbuka perlahan di hadapan mereka. Tempat baru yang dipenuhi oleh ribuan manusia dan lampu. Bagi orang lain, kota itu adalah tempat perlindungan. Namun, bagi Rhea, tempat yang penuh dengan manusia hanyalah sebuah arena baru yang dipenuhi oleh lebih banyak ancaman, tipu daya, dan mata yang siap menerkamnya dari balik kegelapan.

Kereta kuda kian melambat saat melintasi kolong gerbang batu Veyloria. Dari balik jendela, Rhea menatap barisan penjaga berbaju zirah yang berdiri di bawah siraman cahaya obor minyak. Matanya bergerak liar, memindai setiap celah, setiap sudut, dan setiap bayangan yang tercipta di balik dinding pembatas kota.

Begitu roda kayu sepenuhnya berhenti di sisi jalan yang agak lengang, Rhea tidak menunggu sedetik pun. Ia melompat turun dari undakan kereta dengan tangkas, mengabaikan rasa nyeri yang sempat memprotes di lututnya.

Marda ikut melongokkan kepalanya dari pintu, wajahnya masih menyiratkan sisa kecemasan dari insiden di hutan tadi. “Nona, kau yakin tidak ingin kami antar sampai ke penginapan? Hari belum sepenuhnya terang.”

Rhea tidak menjawab tawaran itu. Pikirannya menolak mentah-mentah ide untuk terus berlama-lama dengan dua orang yang bisa saja mengubah pikiran mereka dan merampoknya di gang sempit. Rhea tahu ia berutang budi atas tumpangan ini.

Tangannya merosot ke sabuk pinggang. Tanpa melihat, jemarinya meraba ke dalam kantung kulit hitam yang misterius itu. Begitu tangannya masuk, ia merasakan tumpukan logam pipih di dalamnya. Rhea menarik keluar satu koin secara acak tanpa sempat menghitung atau memeriksa jenisnya di bawah kegelapan. Baru setelah koin itu berada di bawah bias lampu kereta, ia menyadari kilau kuning yang pekat.

Emas. Sebuah koin emas murni dengan ukiran yang asing bagi matanya. Rhea melemparkan koin itu ke arah Marda.

Wanita paruh baya itu dengan kikuk menangkapnya, dan begitu melihat apa yang ada di telapak tangannya, sepasang mata Marda membelalak rata. “Astaga, Nona! Ini ... ini terlalu banyak!” seru Marda panik, mencoba mengulurkan kembali koin tersebut dari pintu kereta. “Kami ikhlas menolongmu dari Myrddal. Ongkos kereta bahkan tidak sampai sepertiga dari koin emas ini!”

“Ambillah,” potong Rhea tidak menerima penolakan. “Terima kasih atas tumpangannya.” Sebelum Marda atau Gideon yang berada di kursi kemudi sempat membalas, Rhea memutar tubuh. Ia melangkah cepat, menyusup ke balik bayangan deretan bangunan kayu yang berjejer di tepi jalan.

Langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin, berbaur dengan sunyinya sisa malam. Marda sempat memanggil namanya sekali lagi, tetapi Rhea mengabaikannya. Dalam hitungan detik, sosoknya telah sepenuhnya menghilang, ditelan oleh kegelapan subuh hari yang berkabut.

Setelah memastikan kereta Marda tidak lagi terlihat dan tidak ada langkah kaki yang menguntitnya, Rhea memperlambat temponya. Ia menyandarkan punggung pada dinding batu sebuah kedai yang tutup. Hawa dingin subuh menusuk pori-porinya. Rhea menunduk, menatap penampilannya sendiri dengan rasa muak yang tak tertahankan. Gaun hitam panjang yang melekat di tubuhnya sudah compang-camping akibat hempasan di tumpukan jerami desa sebelumnya.

Bagian dadanya robek cukup rendah, membuat area buah dadanya sedikit terbuka dan terekspos pada udara malam. Gaun sialan ini, makinya dalam hati. Dengan gusar, Rhea menarik paksa sisa kain di bagian bahu, merapatkannya ke dada untuk menutupi bagian yang terbuka sembari menahan jepitan kain itu dengan tangan kiri.

Berjalan dengan pakaian robek seperti ini di tempat asing sama saja dengan memasang target besar di punggungnya. Ia harus segera mencari pakaian baru yang lebih layak dan tidak memancing perhatian. Ia harus menggantinya.

Rhea kembali melangkah, menyusuri trotoar batu yang lembap. Melewati beberapa pria yang berkumpul dan bersiul ketika melihatnya. Matanya terus menyipit penuh waspada.

Setiap kali ada bayangan orang melintas di kejauhan, entah itu kuli angkut yang mulai bekerja atau penjaga malam yang berpatroli, Rhea akan otomatis merapatkan tubuhnya ke dinding, memastikan hulu pedangnya tetap tersembunyi dan siap dihunus dalam satu gerakan.

Ada satu hal yang membuatnya sedikit lega. Veyloria setidaknya tampak seperti kota yang tidak pernah tidur. Meski fajar belum benar-benar menyingsing, aktivitas di beberapa sudut jalan sudah mulai menggeliat. Di ujung jalan besar, beberapa kedai roti mulai mengepulkan asap dari cerobongnya. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan utama tetap dibiarkan menyala, menyita embun subuh.

Bagi orang biasa, keramaian ini mungkin terasa hangat. Namun, bagi Rhea, setiap pasang mata yang mulai bermunculan adalah ancaman potensial.

Ia memeluk pedang hitamnya lebih erat ke dada, menyembunyikan rasa sakit yang masih berdenyut di balik wajahnya. Rhea mempercepat langkah saat sepasang matanya menangkap siluet manekin kayu di balik jendela kaca sebuah toko. Di atas pintunya, sebuah lentera minyak bergoyang pelan, menandakan tempat itu sudah buka meski pagi baru saja menyapa. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk menyusun gulungan kain di atas meja kayu panjang.

Entah kenapa, ada suatu dorongan aneh dalam benaknya yang membisikkan bahwa ia harus masuk ke sana. Langkahnya seolah-olah dituntun untuk lebih mempercayai toko ini. Namun, Rhea segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran naif itu jauh-jauh. Kejahatan tidak mengenal siapa pun dirimu, batinnya mengingatkan diri sendiri dengan sinis. Wanita atau pria, di dunia asing ini, semua orang bisa saja menggorok lehernya saat ia lengah.

Bunyi lonceng kecil di atas pintu berdenting saat Rhea melangkah masuk. Ia tetap memeluk dadanya yang terekspos, matanya langsung memindai setiap sudut ruangan, mencari jalan keluar darurat jika situasi memburuk.

Sang penjual menoleh. Alih-alih merasa takut atau jijik melihat penampilan Rhea yang berantakan, berlumur arang, dan compang-camping, wanita itu justru tersenyum tulus. “Selamat datang, Nona manis. Astaga, apa yang terjadi padamu? Kau tampak seperti baru saja lolos dari kejaran bandit.”

Rhea tidak membalas basa-basi itu. Ia berdiri di depan meja, menatap sang penjual dengan mata ungunya yang tajam. “Aku butuh pakaian baru,” ujar Rhea, sambil mengedarkan pandangan. “Sesuatu yang mudah untuk bergerak dan awet. Aku ... tidak tahu persis apa nama atau jenis yang kubutuhkan di sini.”

Wanita penjual itu mengerutkan kening, tampak bingung dengan kalimat terakhir Rhea, tetapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Rhea memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung kulit di pinggangnya. Ia menarik sekeping logam dari sana dan melemparkannya ke atas meja.

Koin emas murni berukuran tebal itu berputar sekilas sebelum berhenti tepat di tengah meja, berkilau mewah di bawah cahaya lampu toko.

Sang penjual terkesiap. Matanya membelalak menatap logam mulia tersebut, lalu beralih menatap Rhea dengan pandangan yang benar-benar berubah. Nilai koin itu jelas jauh melampaui harga pakaian biasa di kota ini.

“Baik, Nona. Serahkan padaku,” ucap wanita itu, nadanya kini berubah menjadi jauh lebih patuh dan cekatan. Ia melangkah maju, menjaga jarak aman seolah tahu Rhea tidak suka didekati, lalu mulai menilai postur tubuh Rhea dengan tatapan profesional.

Tanpa membuang waktu, wanita itu bergerak lincah mengitari rak-rak tokonya. Ia mengambil sepasang celana berburu dari bahan kulit rusa yang lentur dan tebal, kemeja kain rami yang kokoh, serta sebuah jubah luar berwarna kelabu gelap yang dilengkapi dengan tudung kepala besar.

“Ini akan sangat cocok untukmu. Kuat, tidak mudah robek, dan memberimu ruang gerak yang leluasa,” kata wanita itu sambil menumpuk pakaian tersebut di atas meja. Tidak berhenti di situ, ia juga mengambil sebuah sabuk kulit baru, sebuah tas pinggang kecil yang kokoh, serta sebilah sarung pedang kulit hitam yang dihiasi pengait besi. “Cobalah di kamar pas di sebelah sana, Nona.”

Rhea menatap tumpukan barang itu dengan curiga, tetapi rasa dingin yang menggigit tubuhnya membuat ia tidak punya pilihan lain. Ia membawa semua pakaian itu ke balik tirai kamar pas. Sambil tetap memasang telinga untuk mendengar setiap pergerakan di luar, Rhea menanggalkan gaun hitam sialannya.

Saat mengenakan pakaian baru itu, Rhea harus mengakui dalam hati bahwa pilihan si penjual sangat pas. Pakaian ini memeluk tubuhnya dengan nyaman tanpa membatasi gerakannya sama sekali. Celana kulitnya kokoh, dan jubah kelabunya mampu menyembunyikan siluet tubuh serta pedang di pinggangnya dengan sempurna.

Ketika Rhea keluar dari kamar pas sembari mengancingkan sabuk barunya, sang penjual tersenyum puas. Wanita itu kemudian mengambil pedang bermata permata hitam milik Rhea yang tadi tergeletak di meja, lalu dengan hati-hati memasukkannya ke dalam sarung pedang kulit yang baru.

“Nah, sekarang kau tampak seperti seorang petarung yang disegani,” puji wanita itu. Ia lalu menyerahkan tas kecil baru untuk menyimpan koin-koin Rhea. “Masukkan kantung koinmu ke dalam tas pinggang ini, Nona. Dan sarung pedang ini akan menjaga bilah senjatamu tetap aman dari karat dan debu jalanan.”

Rhea menerima pedangnya kembali, mengaitkannya ke sabuk barunya dengan gerakan cepat. “Aku tidak butuh pujian. Aku hanya membayar apa yang kudapatkan.”

Wanita penjual itu terkekeh pelan, tidak tersinggung oleh sikap dingin Rhea. Sembari merapikan sisa kain di meja, ia menatap Rhea dengan pandangan keibuan. “Dengar nasihatku, Nona Muda. Gadis sendirian dengan senjata mahal dan sekantung emas seperti dirimu adalah makanan empuk di Veyloria. Di siang hari, kota ini memang tampak seperti pusat perdagangan yang makmur. Tapi begitu malam tiba, atau jika kau salah melangkah ke gang yang salah ... orang-orang di sini akan menguliti mapmu demi sekeping perak.”

Wanita itu mendekat selangkah, merendahkan suaranya. “Jika kau butuh tempat aman, carilah penginapan di distrik dalam dekat pos penjaga. Jangan pernah mempercayai siapa pun yang menawarkan bantuan dengan harga murah di sekitar pasar bawah. Di kota ini, bahkan bayangan sendiri pun bisa mengkhianati.”

Rhea mendengarkan semua ucapan itu, tetapi sudut bibirnya justru terangkat, membentuk seulas senyuman yang teramat sinis. “Terima kasih atas nasihat yang bagus,” sahut Rhea sambil mengangguk. Ia menarik tudung jubah abu-abunya ke atas, menyembunyikan rambut hitam dan mata ungunya di balik bayangan kain. “Tapi kau lupa satu hal, Nyonya. Aku juga tidak pernah berencana untuk mempercayaimu, atau siapa pun di kota busuk ini.”

Tanpa menunggu balasan dari wanita yang terpaku itu, Rhea membalikkan tubuh. Mendorong pintu toko hingga loncengnya kembali berdenting, lalu melangkah mantap keluar, menyatu kembali dengan hiruk-pikuk subuh Veyloria yang kian merayap bangun.

Langkahnya kini tertuju pada penginapan kumuh di sudut distrik, tempat terbaik untuk bersembunyi sembari merencanakan cara mencari tahu siapa dirinya. Seraya berjalan menembus kabut, jemarinya bergerak ke belakang, mengusap tengkuknya yang masih terasa hangat dan perih, menyadari bentuk tanda misterius berupa bulan sabit yang kini terukir permanen di kulitnya.

Rasa asing dan banyak pertanyaan bercampur aduk dalam benaknya. Tubuhnya menyimpan rahasia yang bahkan tidak diingat oleh otaknya sendiri. Namun, lamunan Rhea buyar saat indra penglihatannya menangkap coretan simbol bulan sabit di sebuah dinding gang gelap, seolah-olah sengaja digambar untuk menyambut kehadirannya.

Apa ini ... kenapa bentuknya sama ... dengan ... tanda di leherku.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk