3. The Festival of the Curse

14 dibaca

A

“Dewi terkutuk!”

Teriakan serak itu memantul kasar di antara deretan bangunan batu Veyloria, membuyarkan ketenangan padahal kota baru saja bernapas.

Rhea yang baru saja keluar dari mulut gang sempit segera memperlambat langkah kaki, tidak berniat memancing perhatian dengan gerakan yang terburu-buru atau mencurigakan bagi orang sekitar. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah sumber suara, ia menarik tudung jubahnya sedikit lebih rendah hingga menyembunyikan sebagian wajah pucatnya, lalu memosisikan diri di bawah kegelapan balkon sebuah bangunan yang sepi.

Di jalan utama yang mulai menggeliat oleh aktivitas, seorang pria bertubuh tambun berdiri sempoyongan tepat di depan sebuah kedai minum dengan botol kaca yang tergenggam erat di jemarinya yang gemetar. Wajah orang itu merah padam akibat pengaruh alkohol, rambutnya acak-acakan, dan suaranya menggelegar lantang untuk ukuran kota yang baru saja memulai denyut harian mereka.

“Hari ini mereka merayakan kelahiran dewi terkutuk itu lagi!” raung pria mabuk itu sembari mengacungkan botol kacanya ke udara.

Beberapa pemilik kios yang sedang menyusun barang dagangan spontan menghentikan aktivitas mereka, menoleh dengan tatapan jengah yang terang-terangan.

Seorang pedagang buah yang tengah mengangkat peti kayu berat meletakkan bebannya dengan hentakan kasar, lalu menggelengkan kepala. “Garren, pulanglah sebelum kau membuat masalah besar dengan para penjaga kota.”

“Masalah?” Pria tambun yang bernama Garren itu pun tertawa terbahak-bahak, tubuhnya terguncang-guncang hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia menunjuk ke arah langit dengan jari yang gemetar. “Aku cuma mengatakan kebenaran yang ditutupi oleh pihak istana! Kerajaan benar-benar sudah gila! Uang pajak rakyat dibakar habis hanya untuk pesta yang tidak berguna!”

“Kalau kau mau masuk penjara karena menghina perintah raja, silakan lanjutkan sendiri,” sahut seorang pemuda dari balik gerobak roti dengan nada mencemooh.

Beberapa orang di sekitar toko hiasan kain yang mendengar celoteh itu langsung tertawa gugup, lekas-lekas memalingkan muka seolah-olah takut ikut terseret dalam masalah hukum.

“Aku tidak takut!” Garren mendenkus, lalu meneguk sisa minuman kerasnya sampai habis. Ia berbalik, kemudian melemparkan botol kosong tersebut ke arah dinding seberang jalan. “Dewi terkutuk!”

Botol itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam setelah menghantam dinding jalan.

Rhea sedikit menggeser tubuhnya ke balik tiang pelindung ketika beberapa pecahan kaca memantul ke tengah jalan setapak yang lembap oleh embun. Fokus mata ungunya sama sekali bukan pada keributan yang dibuat oleh si pemabuk, melainkan pada sesuatu yang berada tepat di titik hancurnya botol kaca tadi di atas permukaan dinding batu tersebut.

Di sana terdapat sebuah simbol bulan sabit yang telah lama digambar, bentuknya sama persis seperti coretan misterius yang sempat ia lihat di dinding gang beberapa menit lalu setelah ia membeli pakaian di toko. Namun, kali ini ia memperhatikannya dengan jauh lebih saksama hingga menyadari keberadaan detail tiga garis pendek yang melintang vertikal tepat di bagian tengah lengkungan bulan tersebut. Rhea mengangkat tangan kirinya perlahan, mengusap tengkuknya sendiri melewati pembatas kain, dan seketika itu pula ia menyadari tanpa keraguan sedikit pun bahwa bentuk ukiran di kulit tubuhnya benar-benar identik dengan lambang itu.

Sembari menahan denyut hangat yang kembali terasa membakar leher belakangnya, Rhea tetap berdiri diam di tempatnya untuk mengumpulkan informasi dari perdebatan yang kian memanas di depan kedai minum tersebut.

“Dewi itu sudah mati ratusan tahun lalu,” ujar seorang lelaki tua yang tiba-kira muncul dari balik tirai kegelapan dalam kedai. Ia melangkah keluar dengan punggung agak membungkuk, menatap Garren dengan mata yang menyipit dalam. “Berhentilah membuat keributan di depan keduaku, Garren.”

“Justru itu, Pak Tua!” Garren membalas, meninggikan suara sembari melangkah maju mendekati lelaki tua tersebut. “Kalau dia sudah mati, untuk apa kita masih merayakannya? Lilin, persembahan, makanan, hingga penjaga tambahan ... semuanya memakai uang kerajaan yang diperas dari kita!”

“Karena dia adalah dewi,” sahut lelaki tua itu.

“Ya ... tepatnya dewi terkutuk!” cela Garren dengan sisa-sisa napasnya yang bau alkohol.

Begitu nama dewi tersebut kembali disebut, tawa gugup beberapa pedagang yang tadinya terdengar di sekitar jalan seketika surut. Keheningan yang mencekam merayap cepat, menyusul kesunyian dan kehati-hatian yang mendalam dari seluruh orang yang berada di jalan itu.

Beberapa orang bahkan refleks menundukkan kepala dan mempercepat gerakan tangan mereka untuk menata barang, menganggap pembicaraan itu adalah hal terlarang yang bisa mendatangkan kemalangan. Rhea menyadari bahwa di balik nama dewi itu, ada sebuah rahasia besar yang membuat orang-orang ketakutan.

Lelaki tua di depan kedai menarik napas panjang, melirik waspada ke kiri dan kanan jalan sebelum akhirnya merendahkan suaranya secara drastis. “Selene. Nama dewi itu adalah Dewi Selene. Jangan bicara sembarangan tentang sesuatu yang tidak kau pahami.”

Garren mendengkus kasar, lalu meludahi tanah kering di dekat kakinya. “Aku tahu cukup banyak tentang dia! Lihat lambangnya! Mereka bahkan memasangnya di seluruh kota hari ini!” Ia mengangkat tangannya yang kotor, menunjuk dengan kasar ke arah simbol bulan sabit di dinding tempat botolnya hancur tadi. “Dia membawa bencana! Tanah-tanah di utara mati setelah kemunculannya ratusan tahun lalu!”

“Bohong,” potong pemuda dari gerobak roti dengan ketukan tangan yang keras pada papan kayu gerobaknya, menarik perhatian orang-orang kembali.

Garren menoleh cepat dengan mata merah yang melotot gusar. “Kau bilang apa, anak muda?”

Pemuda itu mengangkat bahu acuh tak acuh, melipat kedua tangannya di depan dada tanpa rasa takut menghadapi gertakan si pemabuk. “Kisah itu berubah setiap kali diceritakan oleh para tetua desa. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi dua ratus tahun lalu di tanah utara. Aku cuma tidak suka orang mabuk menganggap dongeng menakutkan sebagai sejarah resmi.”

“Jadi kau membela Selene?!” tantang Garren, melangkah limbung mendekati gerobak roti tersebut dengan kepalan tangan yang terangkat.

“Aku tidak membela siapa pun,” sahut pemuda itu, tetap berdiri kokoh di posisinya.

Sebelum Garren sempat membalas atau melayangkan pukulan, sebuah suara dentangan lonceng besar dari pusat kota mendadak berbunyi nyaring memecah ketegangan di antara mereka. Suara pertama bergaung berat, disusul oleh dentangan kedua dan ketiga yang menggema membelah langit fajar Veyloria.

Mendengar penanda tersebut, orang-orang di sekitar jalan langsung meninggalkan percakapan mereka begitu saja. Beberapa pemilik toko bergegas keluar mengenakan jubah putih bersih, anak-anak kecil mulai berlarian ke arah jalan utama sembari membawa pita-pita putih dekorasi, sementara dari kejauhan terdengar lamat-lamat suara musik tiup yang semakin jelas.

Perayaan resmi telah benar-benar dimulai.

Rhea mulai memindai sekeliling area jalanan utama kota secara diam-diam. Setelah mengetahui bentuk apa yang harus dicari, simbol bulan sabit itu mendadak mulai terlihat di mana-mana secara nyata, mulai dari ukiran pintu toko, lukisan tiang kayu, ornamen gerobak dagang, hingga kain putih yang berkibar di atas menara kecil di ujung jalan.

Ia sempat melewati sebuah papan pengumuman resmi kerajaan yang dihiasi kain putih dan membaca tulisan yang menyatakan bahwa hari ini merupakan hari ke-217 sejak pembukaan musim persembahan, sebuah ritual wajib yang mengikat bagi seluruh warga kota.

Langkahnya kembali terhenti beberapa meter kemudian ketika sepasang matanya menangkap sebuah coretan bulan sabit berukuran jauh lebih kecil dan kasar yang digambar secara terburu-buru di celah tembok sempit antara dua bangunan toko. Tepat di bawah simbol tak resmi yang memiliki pola guratan tiga garis vertikal menyerupai tanda di lehernya itu, tertulis tiga kata yang dipahat dengan tajam.

IA AKAN KEMBALI.

Rhea tidak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali di wajahnya, tetapi benaknya langsung menyusun ulang rencana prioritasnya untuk sisa hari ini. Petunjuk tentang tanda lahir misterius di tubuhnya sudah terlalu gamblang untuk diabaikan begitu saja.

Rencana awal untuk mencari penginapan kumuh guna mengamankan diri dan memeriksa isi kantung koinnya seketika gugur, berganti dengan dorongan kuat untuk mencari kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Rasa sakit fisik di sekujur tubuhnya akibat hantaman dari langit seolah-olah sirna, kalah oleh gelombang rasa penasaran dan insting paranoid yang menuntutnya untuk waspada sekaligus mencari kepastian.

Ia tidak bisa hanya bersembunyi dalam ketidaktahuan sementara takdir seakan menaruh jawaban tepat di depan matanya dalam bentuk festival dewi terkutuk ini. Rhea menarik tudung jubahnya lebih rapat hingga bayangan kain menutupi seluruh rambut hitam dan mata ungunya, lalu melangkah mantap mengikuti arus manusia menuju pusat perayaan demi mengupas tuntas misteri Dewi Selene yang terkutuk itu.


Penginapan kumuh itu berdiri di ujung distrik luar Veyloria, sedikit menjauh dari jalan utama yang mulai dipenuhi arus penduduk menuju pusat kota. Bangunannya tidak terlalu besar, tiga lantai dengan dinding batu tua dan papan nama kayu yang menggantung miring di atas pintu.

Dari cerobong di belakang bangunan, asap tipis mengepul, membawa aroma daging panggang dan rempah yang membuat perut Rhea yang sejak kemarin hampir tidak terisi mulai terasa kosong.

Rhea mendorong pintu agak tersentak ketika lonceng kecil berdenting dari bagian atas pintunya.

Di balik meja resepsionis, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sedang menghitung beberapa keping uang. Begitu melihat Rhea, ia segera berdiri. “Selamat datang, Nona. Mencari kamar?”

“Ya.” Rhea mengangguk sambil memperhatikan sekitar.

“Sendiri?”

Rhea hanya mengangguk lagi.

Pemilik penginapan itu memandang pakaian Rhea sekilas. Jubah kelabu, sepatu kulit, pedang yang tergantung di pinggang, serta kantung kecil yang tampak cukup berat. Ia menepuk kedua tangannya dengan antusias. “Kalau begitu, kebetulan sekali. Kami masih punya beberapa kamar kosong.”

“Berapa?”

“Biasanya dua keping perak untuk satu malam.”

Rhea menunggu, tidak terburu-buru mengeluarkan uang dari kantungnya.

Pria itu kemudian tersenyum lebar, jenis senyuman bermanis-manis yang langsung membuat naluri waspada Rhea berdenting. “Tetapi karena sedang musim festival, harganya sedikit berbeda.”

Rhea memutar bola matanya sambil mengembuskan napas panjang. “Tentu saja.”

“Lima keping perak per malam.”

Rhea menatap pria kurus berkumis tipis itu beberapa saat. Tidak ada perubahan pada wajahnya sendiri. Namun, Ia bisa membaca kilat oportunis di mata pria tua ini. Keramaian festival digunakan sebagai alat untuk memeras pendatang baru, sebuah pola taktik dagang yang picik.

“Festival membuat kasur lebih mahal?” cibir Rhea, tepat pada intinya.

Senyum pria itu sedikit kaku, buru-buru membenarkan posisinya agar tidak terkesan sebagai penipu. “Bu-bukan begitu, Nona. Permintaan kamar sedang tinggi-tingginya. Semua penginapan di seluruh penjuru Veyloria menaikkan harga mereka karena peziarah membanjiri kota. Ini harga yang sangat wajar saat ini.”

Rhea sudah menduga alasan klise tersebut. Sejak memasuki kota, ia melihat cukup banyak bangunan penginapan di sepanjang jalan dan tidak mungkin semuanya penuh hanya karena sebuah pesta tahunan. Namun, Rhea tidak tertarik untuk mendebat atau membuang energinya yang berharga hanya demi beberapa keping perak. Tubuhnya yang memar dan letih menuntut tempat bernaung yang tertutup sesegera mungkin.

Tangannya masuk meraih tas pinggang dan mengeluarkan sekeping koin emas murni yang terasa berat di jemarinya. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan ketukan yang tegas. “Aku punya satu koin emas.”

Mata pemilik penginapan langsung berubah, melebar dan terkunci pada logam mulia yang berkilau mewah di bawah siraman matahari.

Rhea melanjutkan dengan nada mengintimidasi, “Berapa malam yang bisa kudapatkan?”

Pria itu memandangi koin tersebut dengan tatapan memuja, lalu senyum lebarnya yang penuh kepatuhan kembali terkembang. “Kalau begitu, Nona datang pada waktu yang tepat! Kami bisa memberikan empat malam di kamar terbaik kami,” katanya cepat, bicaranya mendadak menjadi sangat lancar.

“Kamar paling luas di lantai tiga yang menghadap langsung ke kota. Air mandi hangat juga akan tersedia sekali sehari, setiap petang. Dan tentu saja, tiga kali makan sehari.” Ia bahkan mulai menghitung dengan jari-jarinya yang gemuk dihadapan Rhea. “Pagi, siang, dan malam. Nona juga akan mendapatkan menu terbaik yang kami punya selama festival berlangsung tanpa perlu membayar biaya tambahan apa pun.”

Rhea menatap koin emas di atas meja, lalu membandingkannya dengan fasilitas yang ditawarkan. Empat malam, kamar terbaik yang terisolasi, makanan tiga kali sehari untuk memulihkan tenaganya, serta air mandi. Penawaran itu jauh lebih masuk akal dibanding ia harus dipusingkan dengan tarif perak harian yang fluktuatif, meskipun ia yakin pemilik penginapan tersebut masih mengambil keuntungan yang besar dari ketidaktahuannya sebagai orang asing. Namun, Rhea tidak keberatan selama privasi dan keamanannya terjamin.

“Setuju.”

Koin emas itu didorong ke depan. Pemilik penginapan segera mengambilnya dengan kedua tangan seakan takut koin itu akan menguap jika lambat disentuh. “Pilihan yang sangat tepat, Nona!” Pria itu memasukkan koin tersebut ke laci kasir dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah seorang pria yang sedang membawa peti kayu di dekat tangga.

“Bram!”

Pria itu menoleh. Tubuhnya besar, tinggi, dan kekar. Lengan bajunya digulung, memperlihatkan otot-otot lengan yang kokoh dan urat yang menonjol dari pekerjaan kasar.

“Antar Nona ini ke kamar terbaik di lantai tiga.”

“Baik, Tuan.” Pria bernama Bram meletakkan peti kayunya, lalu berjalan mendekat ke arah meja resepsionis dengan langkah yang mantap. “Silakan, Nona. Biar saya tunjukkan jalannya.”

Rhea pun mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara, menjaga jarak amannya sekitar dua langkah di belakang punggung lebar pria itu. Mereka menaiki tangga kayu tua yang berderit setiap kali diinjak. Situasi di lantai pertama cukup ramai, beberapa tamu sedang menikmati sarapan di ruang makan kecil yang remang-remang.

Dari arah sana, sayup-sayup terdengar percakapan riuh mengenai persiapan festival, kedatangan para pedagang kaya dari luar kota, dan rombongan bangsawan tinggi yang kabarnya akan tiba di distrik dalam siang nanti. Rhea menyerap setiap kata yang melintas, menyimpannya di kepalanya. Begitu mereka melintasi lantai kedua, gema suara bising dari bawah perlahan menghilang, digantikan sunyi koridor.

Rhea memperhatikan langkah kaki Bram di depannya sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara guna memancing informasi lebih dalam. “Katanya tadi ada festival.”

Bram menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya di tangga. “Ya, Nona. Seluruh kota sedang bersiap untuk itu.”

“Festival apa?” tanya Rhea, pura-pura tidak tahu demi menguji konsistensi cerita orang-orang kota.

“Perayaan kelahiran Dewi Selene,” jawab Bram lugas. Pria itu terus menaiki tangga dengan santai. “Setiap tahun Veyloria mengadakan perayaan ini selama beberapa hari berturut-turut. Tapi tahun ini suasananya jauh lebih ramai dan megah karena banyak pedagang besar dan peziarah mengalir datang dari luar batas kerajaan.”

“Peziarah?” Rhea mengulang kata itu, membiarkan nadanya terdengnar sedikit bingung.

“Dewi Selene punya banyak penganut setia yang rela menempuh perjalanan jauh demi memberikan persembahan.” Bram berhenti sebentar di bordes tangga untuk menarik napas sebelum melanjutkan penjelasannya. “Meski di sudut-sudut kota yang gelap, ada juga beberapa golongan orang yang sangat membencinya.”

Rhea memicingkan mata, mengarahkan umpan berikutnya. “Karena dianggap terkutuk?”

Bram menoleh penuh, tampak sedikit terkejut dengan keberanian kata yang diucapkan Rhea. “Ternyata Nona sudah mendengar tentang hal itu. Padahal di distrik luar seperti ini, membicarakan kutukannya secara terang-terangan bisa memancing masalah dengan pengawal.”

“Aku mendengar seseorang berteriak di jalan utama tadi,” sahut Rhea datar, jempolnya mengacung, mengarah ke wilayah pasar.

Bram terkekeh, suara beratnya bergetar di tengah keheningan tangga lantai tiga yang dingin. “Kalau begitu, Nona pasti baru saja berpapasan dengan si tua Garren. Tidak salah lagi.”

“Dia terkenal?”

“Lebih terkenal daripada yang seharusnya, terutama bagi para penjaga malam.”

Rhea akhirnya melihat sudut bibir pria bertubuh kekar itu bergerak geli, membentuk senyum sinis. “Setiap kali festival ini dimulai, dia pasti akan mabuk berat dan mengeluh di sepanjang jalan bahwa kerajaan membuang-buang uang hanya untuk merayakan seorang dewi yang sudah mati ratusan tahun lalu.”

“Dewi mati?” kata Rhea, membiarkan memorinya mengingat kembali tulisan tersembunyi yang ia temukan di celah dinding batu toko sebelumnya.

Ia akan kembali.

“Begitulah yang dipercaya oleh kebanyakan orang awam dan pihak istana hari ini,” jawab Bram lagi sembari melanjutkan langkah menuju koridor atas.

Rhea meraba rasa penasaran yang kian menuntut jawaban di dalam dadanya. “Lantas, apa yang dipercayai oleh para penganutnya yang datang dari jauh itu?”

Bram mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Mereka yang memegang teguh iman lama percaya bahwa Dewi Selene tidak pernah benar-benar lenyap dari dunia ini.” Mereka kembali berjalan beriringan menyusuri lantai kayu yang sunyi. “Katanya, suatu hari nanti ketika segelnya melemah, dia akan kembali ke dunia fana.”

Rhea menatap punggung lebar pria tersebut dengan pandangan yang kian menajam. “Untuk apa dia kembali?”

“Tidak ada yang benar-benar tahu jawabannya secara pasti, Nona.” Bram menjawab dengan nada santai, ia hanya sedang menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur yang sudah didengarnya ribuan kali sejak masa kecil tanpa beban. “Ada faksi yang mengatakan kehadirannya akan membawa keselamatan dan kejayaan baru. Tapi ada juga yang sangat percaya bahwa kepulangan-nya justru akan mengakhiri riwayat kerajaan ini. Ceritanya selalu berubah dan berbeda, tergantung pada siapa Anda melemparkan pertanyaan tersebut.”

Mereka akhirnya mencapai ujung lantai tiga yang remang-remang karena minimnya jendela penembus cahaya matahari. Koridor di sana jauh lebih sepi dan terasa terisolasi dengan baik. Bram berjalan mendekati pintu kayu yang terletak di posisi paling ujung.

“Festival besar seperti ini juga selalu berhasil membuat banyak orang asing yang mencurigakan datang dan menyusup ke kota,” kata Bram. Tangannya yang besar meraih gagang pintu dari besi hitam, lalu ia menghentikan gerakannya sejenak untuk melirik Rhea dari atas ke bawah secara menyeluruh. “Kalau boleh saya bertanya, Nona ... Anda sendiri bukan berasal dari wilayah Veyloria atau kerajaan sekitarnya, bukan?”

Rhea tidak menjawab langsung pertanyaan tersebut. Sikap diamnya yang kaku memancarkan penolakan yang amat kentara untuk berbagi informasi pribadi tentang dirinya kepada siapa pun.

Bram tertawa kecil melihat reaksi defensif tersebut, sama sekali tidak merasa tersinggung oleh kebisuan sang tamu. “Tidak perlu khawatir atau memasang wajah setajam itu, Nona. Saya hanya bisa mengetahuinya dengan mudah dari cara Anda berpakaian dan cara berbicara Anda yang terkesan sangat asing.”

Pria itu kemudian memutar kunci dan membuka pintu kayu tebal tersebut. “Kalau begitu, malam nanti saat pasar bawah dibuka dan perayaan mencapai puncaknya, saya bisa mengajak Nona keluar untuk melihat festival yang sebenarnya. Saya tahu tempat-tempat yang bagus untuk mengamati tanpa harus berdesakan.”

Rhea menatap pria itu lurus-lurus, sepasang mata ungunya yang menyimpan misteri nebula menyipit penuh waspada. Otaknya yang tajam langsung bekerja. Menyisir dan menganalisis setiap kata dari tawaran mendadak tersebut. Rhea sama sekali tidak mudah terbuai oleh ketampanan fisik, tutur kata yang halus, atau perawakan besar Bram yang tampak bersahabat.

Baginya, kebaikan yang ditawarkan terlalu cepat oleh orang yang baru dikenal di tempat asing selalu memiliki motif tersembunyi; entah itu jebakan untuk merampok pedang permata hitamnya atau mengincar koin-koin di pinggangnya. Namun, di sisi lain batin Rhea berkata bahwa ini adalah kesempatan yang sangat masuk akal bagi kondisinya yang amnesia.

Jika ia menolak dan nekat mencari informasi sendirian, ia akan buta arah dan mudah terjebak di kota sebesar ini. Menggunakan Bram sebagai pemandu lokal adalah cara paling efisien untuk memetakan Veyloria dan mengenali festivalnya tanpa menarik kecurigaan. Lebih dari itu, ini adalah jalannya untuk mencari tahu mengapa lambang Dewi Selene yang diributkan sepanjang fajar sangat mirip dengan tanda misterius yang terukir dan terasa membakar di tengkuknya sendiri.

Bram belum sempat menjelaskan lebih detail ke mana ia hendak membawanya atau menyadari penolakan tersembunyi yang bergolak di balik tatapan dingin Rhea, karena tepat saat itu, daun pintu sudah terbuka sepenuhnya.

“Ini kamar Anda, Nona. Kamar terbaik yang kami miliki,” ujar Bram sembari mengulurkan tangannya, mempersilakan Rhea melihat bagian dalam.

Ruangan itu cukup luas dan bersih, dilengkapi dengan ranjang besar yang dilapisi linen putih, sebuah meja kayu dengan cermin perunggu, lemari pakaian yang kokoh, serta sebuah jendela besar yang langsung menghadap ke arah lanskap distrik tengah kota Veyloria. Bram mundur satu langkah, memberikan ruang yang lapang bagi Rhea. “Silakan masuk.”

Rhea tidak langsung mengiyakan ajakan pergi untuk malam nanti, menolak untuk memberikan komitmen yang bisa mengikat dirinya. Ia hanya memberikan anggukan datar sebagai formalitas pembatas jarak agar Bram tahu ia bukan wanita yang mudah dikendalikan atau ditipu.

“Aku akan memikirkannya nanti setelah aku selesai beristirahat,” sahut Rhea ketus, menghentikan peluang obrolan lebih lanjut yang tidak perlu.

Ia kemudian melangkah melewati Bram dan memasuki kamar, mengabaikan senyum pria itu yang tampak maklum dengan sikap liarnya. Sejak tubuhnya terhempas jatuh dari langit, Rhea akhirnya memiliki sebuah tempat tertutup yang bisa disebut aman, setidaknya untuk beberapa jam ke depan, sebelum malam festival tiba dan memaksanya keluar mencari jawaban atas tanda di tubuhnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk