Bab 2 - Gema Prana

0 dibaca

A

Mentari tak memberikan belas kasihan kepada bocah bermandikan keringat. Napasnya terengah-engah seolah ia berusaha mengais udara, tak tahu berdiri sampai berapa lama mengingat kaki lemahnya telah bergetar hebat. Kedua tangan lecetnya mendekap sebilah kayu berbentuk belati, tak ingin dilepas walau merasakan nyeri.

Di hadapannya ada laki-laki dewasa membawa sebuah tongkat tebal, tak mengalihkan konsentrasinya kecuali pada anak itu. “Ada apa? Hanya ini kemampuanmu? Lakukan lagi!”

Kedua mata si bocah memerah, tak terasa air mata telah terkuras. Untuk sekadar melangkah maju saja terasa berat, apalagi menahan rasa sakit di kaki dan lengan; tak memiliki banyak pilihan kecuali menyelesaikannya segera. Ia mempersiapkan kuda-kuda sebelum melancarkan aksi, memaksa diri meski meronta-ronta dalam hati. Benar saja, belum sampai menyelesaikan rangkaian kedua teknik bela diri, ia kesulitan menjaga keseimbangan tatkala kaki diharuskan terulur ke depan—ambruk di tanah bebatuan bersama ketakutan.

Pria tersebut lantas mendekat, memukul-mukul tongkat di tangan sembari melotot. “Kau benar-benar tidak berguna! Aku tak membesarkanmu untuk menjadi lemah!”

Suara hantaman keras memenuhi halaman belakang rumah, disisipi oleh isakan minta ampun memekikkan telinga. “Tak bisa merasakan Prana, bodoh dalam bela diri! Jadi apa kau nanti? Jawab aku! Kau harus menjadi Wiradharma!”

Lambat laun bocah itu kehilangan kesadaran menerima tumbukan beruntun, semua mulai terlihat kabur dan suara caci makian kian sirna. Kemudian, sepasang kelopak mata milik Suluh terbuka secara tiba-tiba, bangun terhentak, dan nyaris terjatuh dari salah satu dahan pohon raksasa. Napasnya masih memburu, tangannya bergetar seolah-olah rasa sakit di dalam mimpi menembus kenyataan.

Sebuah buku masih tergeletak di dadanya, teringat bahwa sebelumnya ia membaca kembali karya akhir tingkat Pratama. Suluh menatap sampul hitam itu, memikirkan mitos-mitos bahasan Serat Telaah.

“Jadi, orang dahulu sudah tahu bagaimana membaca aksara menggunakan Prana?” bisik Suluh memperhatikan dataran luas di depan, ke arah hingar bingar halaman utama sebelum turun dari sana. Ia menunduk, ada kekecewaan terlintas dari ekspresinya.

“Apakah aku tak akan bisa menguak kebenaran di balik kisah mereka?”

Suluh mengembuskan napas, memilih bergerak menuruni bukit. Harapannya kian menciut sebab di tempat itu ia setidaknya sudah sedikit merasakan energi Prana, begitulah Aris melakukannya. Namun, sepertinya cara serupa tak berpihak kepada Suluh. Berbagai metode dikerahkan hanya demi mengetahui kehadiran Prana, dan setiap kali ia berusaha, ingatan itu terus mengetuk membawa kabar buruk.

Suluh menapaki setapak, membawanya ke wilayah botani di mana murid-murid menulis bagaimana tata cara merawat tanaman hayati. Padepokan Sastra bergerak di bidang umum, segala ilmu akan dilestarikan bila dibutuhkan, maka mereka harus menjaganya agar tidak tergerus oleh waktu.

“Bunga ini berasal dari Candraloka, sangat beracun, terutama di bagian tangkainya,” kata laki-laki dewasa berdiri di antara tumbuhan, badan lebarnya terutama di bagian perut tak dapat disembunyikan. “Tapi, kau bisa menciptakan masakan teramat enak dari daunnya.”

Para murid tidak asal mencatat, mereka ditemani ahli kebun berpengalaman tapi ia sendiri kesulitan menuangkan ilmunya dalam bentuk aksara. Suluh ingat saat masih berada tingkatan Pratama, ia diharuskan mencatat pengetahuan dari nelayan mengenai bagaimana membaca ombak dan arah angin, semua keahlian ini tidak tumbuh dari tulisan; melainkan hasil didikan lisan secara turun temurun.

Semenjak itu, Suluh mengerti kalau ia berada di Padepokan Sastra bukan sekadar mencekoki warga dengan ilmu, tetapi mengetahui sesuatu yang belum termaktub dalam lembaran-lembaran buku.

Suluh tak berlarut-larut memandangi kebun, memutuskan menyusuri derasnya sungai. Semakin jauh ia menelusuri alirannya ke arah hulu, semakin rapat semak belukar menghadang. Pepohonan saling bertautan, menyisakan celah-celah sempit bagi cahaya mentari menembus kerimbunan. Di bawah naungan tajuk berlapis-lapis, udara terasa semakin dingin dan mencekam. Kicauan burung bersahut-sahutan, mengisi kesunyian rimbun hutan yang barangkali telah melampaui batas wilayah padepokan.

Namun, sebelum sempat kembali, telinga Suluh memergoki sayup-sayup suara; lirih, tetapi entah mengapa begitu menenangkan.

Penasaran, ia memutuskan mencari tahu sumbernya. Ia tak memikirkan bahaya, tak memperhitungkan tingkat ancaman. Suluh hanya ingin tahu karena suara itu berubah indah, teramat indah untuk diabaikan begitu saja. Ia akhirnya dihadapkan oleh tempat aneh bila ditilik dari letak rerimbunan di sekitar sana.

Area tersebut terbuka dan berundak ke atas dengan bebatuan besar di setiap lapisan. Di belakang sana, Suluh menyaksikan air menurun landai, terpecah menjadi beberapa aliran kecil sebelum menyatu di sungai.

Suluh akhirnya menemukan siapa di balik suara itu. Ada seorang perempuan tegak berdiri merentangkan tangan seolah-olah hendak meraih sesuatu. Lalu, burung berekor unik mendarat di telapaknya, beberapa mengitari sembari berbicara menggunakan bahasa mereka.

Suluh berhati-hati agar tidak merusak kedamaian, sulit mengelak dari serasah yang berserakan di mana-mana; sampai akhirnya langkah berderak membubarkan kawanan cenderawasih di sana.

“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu,” Suluh berhenti seketika, bahkan tumitnya masih terangkat dari tanah. “Aku mendengar suara di dalam hutan dan ingin memeriksanya.”

Terkekeh untuk dirinya sendiri karena malu, ia baru sadar kalau wanita di atas sana belum mengutarakan sepatah kata terlepas dari lantunan sajak mengalun merdu.

“Apa itu tadi cenderawasih?” ia berinisiatif bertanya, menyaksikan burung-burung yang masih berterbangan ke sana kemari. “Bukankah mereka langka? Baru kali ini aku melihatnya.”

Perempuan tersebut mengangguk sekilas, tanpa ekspresi, dan terus memejamkan mata bahkan semenjak Suluh menemukannya. Berlapiskan kain hitam dengan sentuhan corak keemasan, seragamnya tampak berbeda dari murid tingkatan Utama. Wastra Padepokan selalu memberikan sedikit keistimewaan untuk membedakan murid berprestasi, atau setidaknya telah memberikan sumbangsih berarti untuk dunia sastra.

Rambutnya senada dengan warna baju itu diikat sebagian, sementara sisanya dibiarkan terurai, bergerak lembut mengikuti embusan angin. Sesekali, ia harus menyibak helaian menutupi wajahnya. Semakin lama Suluh mengamati, semakin kuat pula perasaan bahwa ia familiar dengan wajah itu. Seragam yang dikenakannya mengingatkan Suluh pada acara Luhung Karya, ketika murid-murid berbakat diperkenalkan kepada khalayak atas karya mereka. Tak lama kemudian, sebuah ingatan pun terkuak.

“Tunggu, apakah kau senior Kirana?” ucap Suluh sedikit meninggikan nada, tak terlintas dalam benaknya bahwa ia akan berbicara empat mata dengan salah seorang dari mereka di tempat antah berantah. “Puisimu, ‘Mengais Kepingan Aksara’, bukankah begitu? Ah, tak heran kalau suaramu begitu luar biasa bahkan dari kejauhan!”

Kirana hanya menoleh, masih menunduk. “Mungkin aku terlalu keras.”

“Tidak, tidak,” sahut Suluh sembari mendekati Kirana. “Lantunan kalimatmu sudah sangat—“

“Cenderawasih.”

Suluh tercekat, tak tahu harus bereaksi apa kecuali satu kata. “Huh?”

“Aku tidak sengaja menaikkan nada saat kau kemari.” Kirana berbalik, mendongak tepat ke arah burung-burung berterbangan. “Sebab itu mereka bertebaran.”

Suluh mengernyit, turut terpaku di atas sana. “Apa mereka sensitif terhadap suara?”

“Mungkin. Tapi bagiku, masalahnya lebih dari itu.” Tanpa aba-aba, Kirana melompat begitu saja ke arah sungai, menyebabkan Suluh kalang kabut dan telat meraihnya. Namun, di luar antisipasi, Kirana menapaki batu-batu kecil di atas air dengan sangat tepat, tak tergelincir, maupun salah sasaran. Sebagai manusia biasa tanpa keterbatasan, tindakan ini masih teramat sulit dilakukan. Sementara Kirana menyeberanginya tanpa hambatan, mendarat di atas batu besar di tengah air terjun.

“Prana mereka tak lagi beraturan,” Kirana menambahkan, kembali merentangkan tangan ke depan. “Di sini, semuanya masih mengalir sebagaimana mestinya.”

“Apa?” Terkejut, suara Suluh nyaris tak terdengar. Belum selesai urusan dalam merasakan Prana, ia dihadapkan dengan kabar bahwa hewan sama-sama mampu mengetahui kehadiran energi alam. Bila mereka berhasil melakukannya, lantas bagaimana Suluh sampai kesulitan? Kenyataan ini semakin menciutkan hatinya—semakin was-was dihantui kegagalan.

”Kala bulu-bulu dari kayangan berguguran,
Bayangmu tetap memancarkan keindahan.
Laksana mutiara di kedalaman lautan,
Elokmu kurasakan, bahkan dalam kegelapan.”

Begitulah bagaimana Kirana menyampaikan lantunan lembutnya. Burung cenderawasih berputar-putar tepat di atasnya, berkicau seolah-olah mengerti arti di setiap kata. Sampai seekor dari mereka akhirnya mendarat di telapak Kirana, bergerak melambaikan ekor menjuntai miliknya. Dibalut bulu merah kecokelatan serta coretan kekuningan di bagian kepala, burung itu mengepakkan sayap merahnya; mengundang kawan-kawannya supaya ikut berlabuh di sana.

“Apakah kau tingkat Madya?” Kirana bertanya, teramat berhati-hati mencoba mengelus hewan berbulu tersebut.

Dilanda lamunan, Suluh tersentak, cepat-cepat menggelengkan kepala. “Ya, dalam naungan Pandita Adiarta.”

Jemari lentik Kirana membelai burung cenderawasih, secara mengejutkan tidak memberontak maupun melarikan diri. Senyuman tipis tercetak di wajah manisnya, semakin lama semakin lebar; sarat akan ketulusan. “Lalu, apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Bukankah seharusnya saat ini kau ada urusan?” Kirana berbalik, mengarahkan tubuhnya tepat di seberang Suluh.

Semangat laki-laki itu terlanjur terkuras, tak memiliki tenaga untuk sekadar menjelaskan masalahnya. Semakin ia membuka suara, semakin keruh isi kepalanya. Di satu sisi, ia masih belum menyerah, ia tidak boleh berputus asa sebab mau bagaimanapun, menjadi Pengurai Aksara adalah impiannya. Suatu impian di mana ia merasa ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Ia harus membuktikan kalau ia bisa menjadi seorang tokoh dengan keinginannya sendiri.

“Senior ... bagaimana caraku merasakan Prana?” tanya Suluh berbisik, sedikit enggan meminta bantuan kepada kakak seperguruannya. “Kau merupakan murid dengan bakat alami memanfaatkan Prana. Saat kau berkata aliran energi dan bagaimana kau mengetahuinya, kabar itu ternyata benar adanya. Kalau kau dapat mengerti sekitar dikarenakan kau senantiasa berinteraksi dengan Prana.”

Kirana hanya berdiri di sana, terdiam di bawah sinar surya.

“Jika kau berkenan, mohon bantu aku!” Suluh membungkuk dalam-dalam, dilanda keputusasaan.

“Aku tidak bisa.”

Suluh terdiam. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, menahan keinginan untuk kembali menunduk. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, menggantungkan harapan pada penelitian yang belum tentu membawanya ke mana-mana. Barangkali ayahnya benar. Barangkali ia memang tidak ditakdirkan menjadi siapa-siapa.

“Tapi aku kenal seseorang yang mungkin mau membantumu.”

Suluh perlahan mengangkat wajah. Untuk sekian kalinya hari itu, ia kembali memiliki alasan untuk bertahan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk