Bab 3

1 dibaca

A

“Hal paling mudah adalah memberi label tertentu pada seseorang.”


“Laki-laki gagal itu yang nggak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya.” Bapak menatap ke arah Rafandra—adik bungsu Rindu. Arah matanya lalu beralih menatap si sulung.

“Bapak lagi bahas Jiro?” Rindu menebak arah pembicaraan bapak.

“Siapa lagi orang gagal selain kamu di RT sini?” Ibu berceletuk seraya menatap tegas ke arah putri sulungnya.

Kalau boleh jujur, Rindu malu sekali dicap gagal oleh orang tuanya sendiri. Apalagi, bapak dan ibu mengucapkannya di depan Rafandra juga istrinya, Nadira. Sepertinya, Rindu akan absen dalam kegiatan makan malam bersama. Lebih baik menahan lapar atau pergi mencari makanan di luar sana. Ia tidak peduli lagi dengan uang tabungannya, toh nominalnya masih banyak. Kalau takut kekurangan, ia akan cari pekerjaan ringan saja, tidak perlu gaji besar asal mencukupi untuk dirinya sendiri.

“Mau kemana?” Tanya bapak ketika tiba-tiba saja Rindu beranjak dari tempat duduknya.

Perempuan itu menatap bergantian pada dua pasang orang di meja makan itu. “Sudah kenyang.”

“Beresin dulu baru pergi.” Ibu menegur manakala sulungnya pergi ke arah tangga menuju kamar di lantai atas.

Namun, Rindu melengos. Ia pura-pura tidak mendengarkan ucapan ibunya. Rindu sangat muak dengan peraturan harus bersih-bersih sebelum meninggalkan ruang makan. Sejak kecil peraturan itu selalu diterapkan, tapi tidak pernah berlaku pada Rafandra—adik lelakinya. Bagi ibu, perempuan itu lahir untuk melayani laki-laki. Tentu saja Rindu sangat tidak setuju dengan itu.

Samar-samar, terdengar suara ibu yang mengomel. Namanya beberapa kali disebut, seolah kehidupan Rindu memang sudah hancur lebur.

“Bagaimana mau dapat jodoh kalau malas begitu. Tuanya dia nanti gimana?” Begitulah ibu bicara.

Rindu baru mendapatkan kedamaian begitu masuk kamar dan menutup pintunya. Sesaat, ia menatap gagang pintu. Tidak ada lubang kunci karena memang sengaja ibu dan bapak tidak memasangnya. Itu semua supaya lebih mudah mebangunkan Rindu di pagi hari. Jadi, ia tidak bisa malas-malasan. Tetapi, pintu tanpa kunci itu menyisakan petaka yang tidak akan pernah bisa Rindu lupakan dalam hidupnya.

Perlahan, perempuan itu menghela napas. Ia menutup matanya seraya menggumam, “Semuanya sudah lewat, semuanya baik-baik saja.”

Kali ini, dia segera naik ke kasur. Rindu bergelung di dalam selimut. Ia membuka jendela kamarnya lebar-lebar, membiarkan angin malam dari luar berhembus masuk ke ruang tidurnya. Dari tempatnya berbaring, perempuan tersebut bisa menatap langit yang gelap. Tidak banyak bintang berkelip di malam ini. Sebagian besar dari mereka tertutup awan. Namun, sinar bulan purnama sangat terang menembus barikade embun pembentuk awan di atas sana.

“Papa, Raja mau naik ke pundak.” Suara imut dari luar menjadi distraksi fokus Rindu.

Posisi Rindu yang berbaring kini berubah. Ia duduk bersila di atas kasur. Pelan-pelan perempuan itu merapat ke arah jendela. Matanya yang sedikit rabun masih bisa menangkap dua orang di depan rumah seberang. Mereka—Jiro dan Raja—tampak baru keluar dari gerbang.

Melihat dua anak dan ayah itu mengingatkannya pada pertanyaan polos anak lelaki bernama Raja. Bisa-bisanya anak sekecil itu mengira dirinya pacar Jiro. Keduanya saja baru bertemu setelah puluhan tahun putus kontak. Lagipula, anak seperti Raja biasanya memilih orang tuanya bersama tidak pisah seperti kasus Jiro.

“Duda gagal,” gumam Rindu. Ia agak marah mendengar hinaan itu keluar dari mulut orang tuanya.

Kini, Rindu menumpukan kepalanya di kusen jendela. Mata perempuan itu masih tertuju pada tetangga depan. Jiro mengangkat Raja dengan ringan, membawanya duduk di atas bahu lebar itu. Si anak tampak senang apalagi saat Jiro berputar.

“Eh, tante tadi siang!” Siapa sangka, Raja yang mendongak bertemu mata dengan Rindu.

Dari tempatnya, perempuan itu melambaikan tangan dengan canggung. Bibirnya dipaksa untuk tersenyum. Ternyata, senyum kecil itu sulit sekali diukir dalam keadaan seperti ini. Keadaan di mana hidup Rindu tidak lagi dipenuhi semangat menggebu. Tidak ada tujuan maupun letupan ambisi untuk mencapai sesuatu. Rindu hanya menunggu waktu merenggut kehidupannya dalam damai.

Giliran tatapan Rindu bertemu dengan manik coklat terang Jiro. Lelaki itu tidak bersuara, hanya tersenyum kecil sambil mengangguk. Rindu membalas serupa sebelum menutup rapat jendelanya dan memutuskan memejamkan mata, meski tahu bahwa mungkin mimpi enggan menjemputnya seperti biasa.

+=+=+=

“Si Duda Gagal.” Ujaran itu terdengar samar di telinga Jiro. Ia baru saja hendak membuka gerbang rumah dan mengeluarkan skuter mainan Raja. Tetapi, urung karena ibu-ibu komplek sedang asyik bergosip di lapak tukang sayur keliling.

Jiro meletakkan mainan itu di tembok dekat pintu samping. Ia masuk ke rumah, menatap Raja yang sudah siap keluar rumah. Anak itu sibuk memasang sepatunya dan menatap Jiro dengan mata bulat berbinar.

“Kita ke taman kan, Pa?” Tanyanya penuh semangat.

Lelaki itu tersenyum simpul. Ia mendekati sang putra dan melepas kembali sepatunya. “Pagi ini kita menyusun puzzle aja. Sore nanti papa ajak bermain ke pantai.”

Senyum lebar Raja berangsur sirna. Lengkungan bibirnya yang ke atas berubah menjadi condong ke bawah. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Cuma sekarang mataharinya sudah terlalu terang.” Jiro masih berupaya membujuk anaknya.

Kepala anak itu menoleh, menatap cahaya pagi yang hangat di luar pintu. Melalui pintu itu pula udara berhembus dingin. Kebetulan, ini sedang bulan kering di mana hembusan udara dari benua di selatan melewati daerah mereka. Meski matahari begitu terang, tetapi udaranya sejuk cenderung dingin di pagi hari.

“Raja suka kena matahari,” tutur anak enam tahun itu. Ia sangat ingin keluar karena kemarin seharian di rumah saja bersama Jiro serta kakek dan nenek.

“Udaranya lagi sejuk dan cuaca cerah. Memang lebih baik berkegiatan di luar. Sekarang, taman komplek juga ada tempat bermainnya.” Sosok Pak Beni—ayah Jiro—muncul dari balik pintu kamarnya.

“Tapi…” ekspresi Jiro penuh keraguan. “Raja tunggu di sini dulu. Papa cek keadaan di depan.”

Jiro memutuskan untuk memeriksa situasi. Jika ibu-ibu itu sudah bubar, maka ia akan langsung membawa Raja keluar. Lelaki tersebut berjalan mengendap di balik gerbang yang tertutup rapat. Matanya mengarah ke lubang kunci untuk mengintip apakah masih ramai di luar sana.

Lelaki itu menghela napas kasar. Ibu-ibu biang gosip masih bertahan. Omongan mereka pun masuk lagi ke telinga Jiro.

“Memang kapan si Jiro itu nikahnya? Kayaknya kita nggak pernah dapat undangan atau cerita dari Ibu Miyuki soal anaknya nikah beberapa tahun silam.” Wanita paruh baya dengan daster hitam bersuara.

“Iya juga. Apa jangan-jangan nikahnya diam-diam karena hamil duluan?” Ibu berkerudung merah mengungkapkan asumsi berbahaya. Sialnya, banyak yang mengangguk, menyetujui dugaan tidak berdasar itu.

Tiba-tiba saja, gerbang rumah seberang menjeblak keras. Rindu berdiri berkacak pinggang menatap tajam ke arah ibu-ibu yang sedang berkumpul. Ia melangkah lebih dekat dan menarik satu plastik berisi bawang merah. “Mas Joko habis ini harus tobat soalnya omongan tukang gosip semua ini. Apa jangan-jangan Mas Joko ikutan jadi penyebar berita hoax?”

“Apa sih Rindu, kok tiba-tiba ngomong gitu ke Mas Joko?” Ibu berkerudung merah menatapnya dengan sinis.

Rindu membalas tatapan itu dengan sorot menghakimi. “Malu sama kerudungnya Bu Azizah. Mulut kok nggak punya penyaringan. No akhlak banget itu isi omongan.”

“Ini ceritanya kamu belain sesama orang gagal?” Kali ini, ibu muda dengan daster hitam bernama Mbak Salma bicara sangat nyinyir.

Rindu sudah muak. Ia menoleh, menatap sinis ke arah Mbak Salma itu. Dua alisnya terangkat seraya tersenyum mengejek. “Kalau ngomongin kegagalan, bukannya Mbak Salma juga sama? Janda tiga kali loh, tiga anaknya semua anak pertama.”

Mbak Salma mendengkus kesal mendengar ejekan Rindu. “Daripada kamu perawan tua.”

Apakah Rindu marah-marah mendengar ejekan barusan?

Tidak. Ia malah terbahak sampai memegang perutnya. Rindu memberikan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar bawang merah itu. Kebetulan, adik iparnya minta tolong dibelikan karena tidak sempat keluar. Anaknya rewel, tidak enak badan. Ibu dan bapak juga kebetulan pergi ke rumah kerabat dari pagi buta.

“Ibu-ibu semua di sini kan nganggur juga. Bukankah itu sama aja gagal seperti aku si pengangguran ini?” Apa yang Rindu ucapkan membungkam para penggosip. Mereka segera menyelesaikan transaksi dan bubar, masuk ke dalam rumah masing-masing sambil mendumal.

Rindu tidak beranjak sampai semuanya benar-benar pergi. Perempuan itu beralih menatap Mas Joko sambil menengadahkan tangan. “Kembaliannnya dong. Saya bukan dermawan yang nggak sayang sama duit, apalagi sekarang nganggur.”

Mas Joko dengan terburu-buru memberikan kembalian dan pergi membawa motor dan dagangannya menuju gang sebelah. Bahkan sampai si tukang sayur keliling sudah tidak ada, Rindu tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap ke arah gerbang hitam rumah seberang.

“Kamu bisa keluar sekarang.” Baru setelah itu Rindu berbalik.

Memang kebetulan tadi perempuan itu melihat Jiro di balik gerbang rumahnya sendiri. Rindu bisa melihat jelas halaman rumah seberang saat membuka jendela kamarnya. Merasa teman lamanya butuh bantuan, dia tergerak untuk membantu. Lagipula, Rindu juga sudah muak dengan para tukang gosip. Berhubung tidak ada ibu di rumah, dia bisa lebih leluasa untuk bicara tanpa filter seperti tadi.

Suara derit gerbang besi terbuka terdengar di balik punggung Rindu. Kemudian, perempuan itu mendengar suara Jiro menyebut namanya, “Rindu.”

Langkah Rindu berhenti. Ia berbalik, menatap datar teman masa kecilnya itu. “Thanks.”

Perempuan tersebut mengangguk kecil. “Never mind.” Rindu mengulas senyum singkat sebelum balik badan lagi.

Hanya saja, ia kembali tidak melanjutkan langkah menuju halaman rumah karena Jiro memanggil. “Rindu.”

Sang perempuan menghela napas kasar. Ia berbalik lagi, menatap malas ke arah Jiro yang masih tersenyum ramah. “Apa?”

“Sebagai tanda terima kasih, aku akan traktir kamu.” Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, menunggu tanggapan sang teman bermain masa kecil.

“Es krim mangkuk besar yang isinya tiga rasa,” ucap perempuan itu, menyebut apa yang diinginkannya.

“Oke. Kita beli sekarang.” Jiro menatap Rindu dengan tatapan penuh semangat.

“Sekarang?” Masalahnya, Rindu sedang tidak dalam suasana hati baik untuk berjalan jauh keluar komplek menuju minimarket di depan sana.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk