Bab 4

1 dibaca

A

“Waktu berputar cepat dan sekejap membuat segalanya tidak sama.”


Tangan mungil itu berusaha meraih jemari Rindu. Namun, dengan sigap dia menjauhkan tangannya. Rindu tidak suka digandeng oleh siapapun, dewasa maupun anak-anak. Ia tidak nyaman cenderung sangat membenci skinship malah.

Raja, anak yang ingin menggandeng Rindu kini cemberut. Ia mengeratkan gandengannya pada Jiro. Anak itu melirik sekilas ke arah teman sang papa. Ekspresinya datar cenderung dingin, tapi anehnya anak itu sama sekali tidak takut. Malah, ia penasaran mengapa tante teman papa tampak baik meski tidak ramah.

Tawaran traktir es krim itu akhirnya diterima Rindu kala ia mendengar suara tangis nyaring keponakannya yang baru berusia sembilan bulan. Ia tidak begitu suka mendengar rengekan dan tangisan bayi, berisik menurut Rindu. Kepalanya sering sakit saat keponakannya itu menangis kencang terutama di malam hari. Gara-gara ini, perempuan itu merasa kalau dirinya sama sekali tidak punya jiwa keibuan.

Berhubung Jiro menawarkan untuk pergi beli es krim, akhirnya ia setuju. Rindu menggantung plastik berisi bawang merah di pagar rumah sebelum pergi. Sialnya, perjalanan beli es krim itu juga dibersamai oleh Raja—anak laki-laki Jiro.

“Tante,” panggil anak itu. “Kenapa awannya nggak banyak di langit?”

Arah pandang anak itu tertuju ke langit yang luas dan biru. Sangat minim polusi, tidak seperti di kota industri. Langitnya lebih sering tampak kelabu dan membuat Rindu semakin depresi saat menatapnya. Itulah mengapa ia memilih pulang meski rumah tidak terasa nyaman. Setidaknya, Rindu bisa menghirup udara bersih dan menatap langit biru.

“Karena sekarang musim kering. Suhu udara relatif sejuk dan nggak begitu lembab. Air dari laut, danau, dan sungai tidak cukup banyak ditarik ke langit. Makanya, awannya sedikit dan tipis sekaligus nggak ada hujan.” Rindu menjelaskan dengan serius.

Sambil berjalan, Raja menatap perempuan itu dengan takjub. Sementara Jiro tersenyum kecil saat memeriksa ekspresi putranya. Si pemberi jawaban malah sibuk menatap jalanan di depan. Fokusnya adalah minimarket yang sedikit lagi bisa dicapai. Rindu sudah membayangkan manis, dingin, dan creamy es krim meleleh di mulutnya.

Rindu pikir, Raja tidak akan banyak bertanya setelah puas mendapat jawaban soal awan. Ternyata dia salah. Perempuan itu kehilangan kedamaian saat hendak menyendok es krim pemberian Jiro. Sendoknya menggantung di udara, mulutnya tidak jadi menyambut manis kudapan dingin itu sebab harus menjawab pertanyaan si Raja kecil.

“Kenapa es krim bekunya beda dari es batu?” Mata bulat anak itu menatap ke arah Rindu dengan berbinar.

Di sebelahnya, Jiro yang minum kopi kemasan melirik Rindu. Agaknya, ia juga penasaran dengan jawaban apa lagi yang akan perempuan itu lontarkan. Di depan mereka, Rindu meletakkan sendoknya. Matanya begitu lekat membalas tatapan Raja.

“Es krim.” Rindu mengangkat sendoknya. “Ini isinya bukan cuma air. Ada gula dan lemak dari susu. Semuanya dicampur, dikocok sampai gelembung udara terjebak di dalamnya. Makanya, es krim itu lembut. Kalau es batu cuma air, nggak ada campuran dan prosesnya cuma dibekukan aja. Makanya, hasil bekunya berbeda.” Kali ini, perempuan itu akhirnya memasukkan es krim ke mulut.

Mata Rindu terpejam sejenak. Bibirnya tersenyum kecil, merasa senang menyesap sensasi dingin, manis, dan lembut dari es krim di mulutnya. Tingkah perempuan itu sontak saja membuat Jiro terkekeh. Ia ingat masa kanak-kanak mereka, saat Rindu jelas mendapat larangan makan es krim. Perempuan tersebut cepat sekali kena radang tenggorokan kalau makan atau minum minuman dingin.

“Habis ini, kamu nggak ada radang kayak dulu kan?” Tanya Jiro. Kalau sampai teman masa kecilnya sakit tenggorokan, ia akan merasa bersalah sudah menawarkan membeli es krim.

Mata almond perempuan itu berotasi. “Imunku jauh lebih tahan banting sekarang. Mental aja yang acak-acakan.” Rindu terkekeh dan memakan es krimnya lagi.

Bibir Jiro mengukir senyum kecil. Ia mengalihkan atensi ke sampingnya. Sang putra, Raja, tampak fokus makan es krim coklat berukuran kecil. “Habis ini Raja mau main di taman?”

“Iya.” Kepala anak itu mengangguk.

“Hati-hati, di taman suka banyak ular,” celetuk Rindu tiba-tiba.

“Ular?” Mata Raja terbelalak. Ia merapatkan duduknya ke arah Jiro, takut. “Pa.”

Mangkuk es krim Rindu sudah sisa setengah. Perempuan itu memajukan tubuhnya, mencoba lebih dekat ke arah Raja. “Ularnya besar dan menyeramkan.” Suara Rindu dibuat lebih rendah untuk menakuti anak enam tahun di depannya.

Jiro menggelengkan kepala. Ia menatap sang teman masa kecil lagi. “Ular beneran apa kiasan aja?” Tanya sang lelaki.

Tubuh Rindu kini bersandar di sandaran kursi. Ia melanjutkan makan es krim beberapa suap sebelum menjawab pertanyaan Jiro. “Menurut kamu?” Sebelah alisnya terangkat.

Si lelaki tahu maksud dari temannya itu tidak benar-benar ular. Bisa jadi ibu-ibu komplek tukang gosip. Sekarang sedang liburan sekolah dan banyak anak kecil di komplek perumahan mereka akan menghabiskan waktu bermain di ruang publik. Tentu, mereka tidak akan bermain sendirian. Pastinya ada orang dewasa termasuk ibu mereka yang menemani.

“Bibi!” Suara kompak dua anak kecil dari kejauhan masuk ke dalam telinga Rindu. Perempuan itu menoleh dengan gerakan dramatis dan menghela napas kasar.

Dua anak perempuan memakai kaos putih dan rok tutu warna merah muda keluar dari mobil. Mereka berlari dan langsung merebut es krim milik Rindu. Anak kembar yang wajahnya benar-benar seperti pinang dibelah dua itu lebih fokus pada es krim.

“Kak.” Seorang lelaki yang menyetir mobil membuka kaca jendela. “Ibu sama bapak lagi pergi ya?”

Rindu mengangguk kaku. “Mau titip si kembar?”

Lelaki itu nyengir. “Aku buru-buru karena ada rapat.”

Mata perempuan itu berotasi lagi. Tangannya mengibas, membuat tanda bahwa lelaki itu boleh pergi. Sementara si kembar terdistraksi dari es krim. Mereka melambaikan tangan penuh semangat ke arah mobil. “Bye bye, Daddy!”

Arah pandang Rindu kini tertuju pada Jiro yang bertanya-tanya siapa anak kembar itu dan juga lelaki tadi. Perempuan itu memegang dua kepala yang rambutnya diikat rapi dan diberi pita yang warnanya senada dengan rok mereka.

“Salim dulu sama om itu. Itu juga, Abang Raja namanya.” Adegan melambaikan tangan si kembar berubah. Mereka rebutan mencium tangan Jiro dan Raja sebelum rebutan naik ke pangkuan Rindu.

“Ini…” Rindu menatap wajah si kembar bergantian sebelum lanjut memperkenalkan mereka. “Di kanan Lira dan yang kiri Lina. Benar kan?” Kemiripan si kembar sering mengecoh Rindu. Perbedaan mereka adalah ada tahi lalat kecil di pipi Lira sementara Lina tidak punya tanda lahir di wajahnya.

“Halo!” Raja tersenyum lebar, senang punya teman yang tampak sebaya.

“Mereka baru lima tahun. Badannya aja yang gede.” Rindu memberikan tambahan informasi. “Oh, mereka anaknya Rania.” Rindu semakin memperjelas semuanya pada Jiro.

Rania adalah adik Rindu. Begitulah, perempuan itu sudah dilangkahi adik-adiknya. Rania menikah tujuh tahun lalu tepat setelah beberapa bulan lulus kuliah. Kalau Rafandra, adik bungsunya menikah hampir dua tahun lalu. Tidak heran para tetangga semakin nyinyir melihat kehidupan Rindu yang kini menjadi pengangguran karena sangat berbeda dengan jalan hidup adik-adiknya.

“Oh, Rania sudah menikah.” Kepala Jiro mengangguk.

“Rafandra juga.” Rindu mengedikkan bahunya.

“Bibi, ayo main di taman.” Tiba-tiba saja si kembar mengajak Rindu ke taman.

“Aku juga main di sana.” Raja menyambut.

Tiga anak itu bersorak riang. Raja menarik tangan Jiro sementara si kembar menarik tangan Rindu agar segera beranjak dari tempat duduk. Meski enggan, Rindu terpaksa menuruti anak-anak itu. Ia tidak mau repot saat kembali ke rumah dan si kembar malah tantrum karena tidak bisa bermain menyalurkan energi mereka yang berlebih.

Taman komplek di pagi menjelang siang cukup ramai. Banyak anak bermain perosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan. Si kembar dan Raja memilih naik perosotan. Dua orang dewasa yang datang bersama mereka ke taman menunggu di pinggir. Keduanya duduk di pinggir parit dengan aliran air jernih. Mata mereka begitu fokus mengawasi anak-anak yang terlalu bersemangat berlari kesana-sini.

“Dulu perosotan favorit kita itu gundukan tanah di sawah belakang komplek.” Jiro membawa Rindu pada nostalgia masa kecil.

“Gara-gara ngikut kamu bajuku kotor dan ibu marahin aku habis-habisan. Paha aku biru-biru karena dicubit.” Kenangan bermainnya memang menyenangkan, tapi setelahnya cukup meninggalkan trauma pada diri Rindu.

Masa kecilnya menyenangkan asalkan di luar rumah. Kalau di dalam rumah, ia banyak mendengar omelan dan tekanan sebagai anak tertua. Mungkin, Rindu tidak begitu memikirkan semuanya saat itu. Masalahnya, semua rasa sakit yang membekas membentuk luka batin menahun yang kini meledak sangat parah.

Di sebelahnya, Jiro menatap Rindu lagi. Ia menilik ekspresi datar sang teman masa kecil. Lelaki itu berusaha keras membaca isi kepala Rindu. Masalahnya, temannya itu sudah tidak sama lagi. Isi kepalanya jelas berbeda sebab waktu memisahkan mereka sangat lama. Bahkan, sebelum terpisah, Jiro sadar jika sosok Rindu tidak akan pernah sama sejak hari hujan itu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk