Bab 5

1 dibaca

A

“Tidak ada manusia terlahir sial, tapi dalam prosesnya pasti kesialan itu datang menghampiri.”


“Kamu ajak si kembar main sama anaknya Jiro?” Tanya ibu di malam hari.

Rindu yang sedang membaca novel di ruang santai lantai atas langsung mengalihkan atensi. Ia menatap sang ibu dengan ekspresi datar. Tatapannya begitu malas sebab tahu pasti ibunya akan mengomel atau memberi nasihat yang seperti pepesan kosong belaka. Namun, hal itu malah membuatnya tergelitik untuk membalas dengan nada bicara menantang.

“Memangnya kenapa?” Perempuan itu menaikkan sebelah alisnya. “Ibu takut Lira sama Lina ketularan jadi anak broken home?” Mulut Rindu memang sudah tidak bisa lagi disaring. Ia akan mengeluarkan semua isi kepalanya tanpa dipikir dulu.

Tangan ibu menepuk keras punggung si sulung. “Kamu ini, amit-amit!” Matanya melotot.

Bibir Rindu cemberut. “Ya makanya, emang salah anak kecil seusia mereka main bareng?”

“Nggak sih, cuma…” ibu menatap ke arah jendela. Bibir bawahnya digigit dan di wajahnya jelas menyiratkan sebuah keresahan. Hanya dari ekspresi sang ibu, Rindu bisa menebak apa keresahan itu.

Tentu saja, mulut tetangga.

Rindu menghela napas dengan kasar. Posisi duduknya menjadi tegap. Bahkan, perempuan tersebut meletakkan novel di meja samping sofa. “Nggak usah dengarkan omongan tetangga.”

“Tapi kan, kamu ngerti sendiri gimana. Sudah cukup kamu jadi omongan, jangan sampai terseret juga sama Jiro dan anaknya. Kata Bu Azizah, kemungkinan anaknya si Jiro itu lahir karena sudah kecelakaan duluan.”

Tiba-tiba, Rindu terbahak. Sungguh, kenapa ibunya sangat percaya perkataan tidak beradab para tetangga. Ia juga tidak habis pikir, kenapa orang-orang di lingkungan rumahnya gemar sekali membicarakan dan ikut campur urusan orang. Jika ada yang tampak seperti gagal, maka akan dicemooh. Begitu ada yang sukses, tetap dicari kesalahannya. Apakah ini yang dinamakan mental kepiting?

“Pantas negara ini nggak bisa maju. Orang-orang yang sudah mengenyam pendidikan saja masih terpengaruh omongan orang yang nggak berpendidikan,” celetuk Rindu.

“Rindu,” geram ibu.

Perempuan itu menatap kesal ke arah ibunya sebelum pergi dari area ruang santai. Kakinya melangkah menuruni tangga. Meski sudah malam, tapi rasa ingin keluar rumahnya tidak dapat dibendung.

“Mau kemana?” Tanya bapak yang sedang menonton televisi ketika sulungnya lewat.

“Cari udara segar,” jawab perempuan itu dengan ogah-ogahan.

Tanpa jaket, Rindu keluar rumah. Sandal bututnya menjadi pelindung kaki. Perempuan itu terus berjalan, melewati sekumpulan bapak-bapak yang sedang bermain catur dan menatapnya dengan tatapan iba.

Memang, apa sih yang perlu dikasihani darinya?

Rindu hanya sedang rehat dari lelahnya bekerja di ibu kota. Ia memang menganggur dan tidak punya pendapatan. Tetapi, Rindu punya tabungan yang cukup banyak. Setahun tidak bekerja masih cukuplah uangnya asal tidak boros.

Kasihan lainnya mungkin karena Rindu belum menikah. Alasan itu sudah basi. Para tetangga ini terlalu mengagungkan status pernikahan. Padahal, banyak juga yang tidak harmonis hubungannya. Rindu sering mendengar beberapa tetangga bertengkar dengan pasangan mereka. Lantas, apakah pantas mereka juga menghakimi dan menganggapnya kasihan karena bebas tanpa pasangan.

“Dasar orang-orang menyebalkan,” gerutu perempuan itu. Mulutnya komat-kamit, tatapannya begitu sinis, dan tanpa segan ditunjukkan di depan sekumpulan bapak-bapak di sana.

“Mau kemana, Rindu?” Tanya seorang pria. Usianya mungkin sekitar lima puluhan tahun bernama Pak Rudi.

Seingat Rindu, Pak Rudi ini sangat menyebalkan. Dari dulu ketika ia remaja, mulut Pak Rudi tidak kalah bocor dengan para ibu penggosip. Belum lagi sukanya menyulut api di atas bara emosi orang lain. Kalau bisa, orang seperti ini harus dihindarinya.

Bukannya menjawab, mata Rindu malah melotot. Perempuan itu mengabaikannya dan tetap berjalan. Sayup-sayup, dia mendengar bisik-bisik para bapak. Tentu, mereka membicarakannya.

“Kasihan Pak Iskandar dan Ibu Sumi. Satu anaknya malah gagal begitu. Padahal waktu sekolah dulu bukannya sering dapat juara?”

“Dapat juara belum tentu jadi orang sukses.”

“Terlalu pemurung juga sih, pantas nggak ada laki-laki mau sama dia.”

Begitulah isi pembicaraan kumpulan bapak-bapak itu. Meski tidak begitu jelas, tapi tetap sampai di telinga Rindu. Akibatnya, sang perempuan mengepalkan kedua telapak tangannya erat. Kalau mau, ia bisa saja berbalik arah dan mendekati bapak-bapak itu untuk memarahi mereka. Sayang, Rindu terlalu malas dan lelah. Ia hanya ingin mendapat kedamaian sebentar saja meski harus bertarung dengan dinginnya angin malam.

Kaki perempuan itu terus melangkah. Tanpa terasa, dia sudah melewati gapura komplek perumahannya. Mata Rindu tertuju pada minimarket yang lampunya menyala terang di antara keremangan lampu kuning. Sepertinya, memang tempat itu diperuntukkan menjadi tujuan merenung bagi Rindu.

“Selamat datang, selamat berbelanja!” Sambutan kasir di balik konter menjadi ciri khas yang terasa jauh lebih hangat di telinga Rindu.

Kepalanya mengangguk kecil sebagai balasan dari sapaan itu. Rindu pun menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol minuman bersoda rasa jeruk nipis. Ia juga memilih satu cup mie instan dengan rasa cabe rawit. Secara mandiri, ia menyeduhnya dengan air panas di dalam termos besar yang sudah disediakan pihak minimarket.

“Semuanya jadi delapan belas ribu. Pembayarannya mau tunai atau…” ucapan kasir yang berjaga malam ini disela.

“Pakai QR.” Rindu yang hanya membawa ponsel tentu saja memilih opsi pembayaran itu. Ia mengeluarkan ponsel dan melakukan transaksi dengan mulus. Setelahnya, membawa minuman dan makanan yang sudah dibayar ke meja pinggir jendela.

Baru juga akan duduk, pintu minimarket terbuka. Sapaan gadis penjaga toko terucap sama ramah seperti sebelumnya. Sejenak, Rindu terdistraksi. Kepalanya secara otomatis menoleh dan sosok itu kembali ditemuinya.

“Jiro,” gumam Rindu.

Jiro, tetangga sekaligus teman masa kecilnya, ikut menoleh. Senyum hangat terukir di bibir lelaki itu kala sadar bahwa Rindu ada di sana. “Hai.”

Bukannya pergi mencari barang yang ingin dibeli, Jiro malah mendekatinya. Lelaki tersebut duduk di bangku kosong tepat di sebelah Rindu. “Makan mie kayaknya enak,” komentarnya begitu melihat satu cup mie tersaji di depan sang teman masa kecil.

Rindu melirik sinis. “Ikut-ikutan aja,” gerutunya.

Jiro tidak menanggapi. Ia malah beranjak dan pergi ke rak khusus mie instan. Diam-diam, Rindu menoleh ke belakang, memperhatikan sosok itu yang kini beralih menuju lemari pendingin untuk memilih minuman. Manakala Jiro berbalik, Rindu cepat-cepat melengos dan pura-pura mengaduk makanannya.

“Memang lapar atau sekadar mau ngemil aja?” Tanya Jiro setelah membayar dan menyeduh mie instan pilihannya.

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Rindu menatap pilihan rasa mie yang sama sekali tidak mengandung pedas. Minuman dingin pilihan lelaki itu juga hanya air mineral.

“Kamu sendiri, cuma fomo karena aku makan mie?” Atensinya beralih ke mata lelaki yang duduk di sebelahnya.

“Iya, memang fomo.” Jiro mengakui sambil mengaduk mie yang masih mengepul.

Selama beberapa waktu, hanya ada kebisuan yang mengisi ruang di antara dua orang itu. Rindu menyeruput mie pedasnya. Sesekali ia terbatuk dan minum. Sementara Jiro mengunyah dengan mata melekat ke arah Rindu.

“Kalau lapar seharusnya jangan ambil rasa super pedas begitu.” Tanpa diminta, Jiro memberikan selembar tisu agar Rindu mengelap mulutnya.

“Yang bilang lapar juga siapa?” Sang perempuan melirik sinis lagi. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba untuk mengusir rasa pedas nan panas dari dalamnya.

Wajah Rindu sudah merah karena pedas. Tetapi, ia tetap menyuapkan makanannya, makan sampai tersisa kuah berwarna merah. Perlahan, rasa pedas itu hilang ketika air soda diminum hingga tetes terakhir.

Di sampingnya, Jiro terkekeh. “Kamu ternyata nggak banyak berubah.”

Sebelah alis Rindu terangkat. Perempuan itu memiringkan posisi duduk ke arah Jiro. “Apanya yang nggak berubah?”

“Keras kepalanya.” Senyum Jiro merekah lebar.

Bahu Rindu mengedik. Ia bersedekap, masih menatap sang teman masa kecil. Kali ini, tatapannya cenderung datar meski pertanyaan selanjutnya yang keluar dari mulut perempuan itu terkesan sedang mengulik rasa ingin tahunya. “Kamu cukup banyak berubah dan sebenarnya apa alasan kamu pulang sampai jadi gosip seantero komplek?”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk