“Senyum itu bisa menjadi ekspresi untuk semua rasa.”
Suara dari jingle khusus minimarket mengalun, masuk ke telinga Jiro dan Rindu yang kini saling adu tatap. Mie instan milik lelaki itu masih mengepul. Asapnya tampak tebal saat dilihat dari pantulan kaca jendela yang mulai berembun akibat perbedaan suhu di dalam ruangan dan di luar sana. Buramnya perlahan terhapus oleh titik-titik gerimis yang hadir tanpa ada pertanda.
“Nggak perlu jawab kalau memang kamu nggak berkenan. Aku nggak penasaran kok.” Rindu mengedikkan bahunya. Atensi perempuan itu kembali pada pemandangan buram di luar sana.
Sementara itu, Jiro mengulas senyum simpul. “Lain kali,” katanya. “Lain kali aku akan cerita.”
Kepala Rindu mengangguk kecil. “Habiskan makanan kamu. Aku pulang dulu sebelum bapak mengunci pintu.” Sang perempuan beranjak. Ia merapikan meja dan membawa bungkus makanan dan minumannya keluar dari minimarket.
Jiro sendiri segera memakan sisa makanannya. Gerakannya begitu cepat merapikan meja. Ia berlari kecil di bawah gerimis yang tidak seberapa. Air dari langit yang jatuh ke bumi malam ini lebih seperti percikan kecil. Matanya fokus ke depan, tepatnya ke punggung Rindu.
Tadinya, Jiro ingin mensejajarkan langkahnya dengan teman kecilnya itu. Namun, urung dilakukan sebab merasa tidak ingin mengganggu Rindu. Tampaknya, perempuan di depannya itu ingin menikmati waktu sendiri dengan tenang.
Dari posisi beberapa meter di belakang, Jiro sadar bahwa punggung kecil itu masih tampak sama seperti dulu. Bedanya, bahu Rindu jauh lebih turun. Mungkin, bebannya menjadi jauh lebih berat. Beberapa kali perempuan itu menghela napas berat. Di tengah gelapnya bagian depan jalanan komplek—karena masih berupa tanah lapang dan kebun—kaki Rindu berhenti melangkah.
Tiba-tiba saja perempuan itu menengadahkan kepala. “Aaa!” Rindu berseru. Setelahnya, napas perempuan itu sedikit terengah. Kepalanya kembali menatap ke depan. Telapak tangannya terkepal kuat.
Jiro ingin menghampiri. Ia penasaran apa yang membuat kehidupan Rindu tampak jauh lebih berat. Apakah kejadian di masa lalu itu masih menghantuinya. Mungkinkah semuanya belum benar-benar berakhir sampai sekarang.
“Jiro, aku bisa dengar langkah kaki kamu yang ngikutin aku dari tadi.” Perempuan itu balik badan. Ia menatap tajam ke arah Jiro yang nyengir karena ketahuan.
“Aku nggak punya pembelaan karena memang jalan ngikutin kamu.” Lelaki melangkah lebih dekat dan berhenti beberapa langkah dari sosok teman masa kecilnya.
Entah mengapa, tangannya mengudara dan berhenti di puncak kepala Rindu. Ia menepuk pelan kepala itu seraya berkata, “Semua akan berlalu dan baik-baik saja.” Tidak lupa, Jiro mengukir senyum simpul nan hangat di bibirnya.
Rindu terpaku dengan mata mengerjap. Perempuan itu masih ingat bagaimana dulu hal serupa pernah Jiro lakukan untuk menghiburnya. Tatapan Rindu begitu nanar tatkala membalas tatapan lelaki di depannya. Dua telapak tangannya di sisi tubuh mengepal lagi.
Jiro segera menarik tangannya. Ia memasukkan dua telapaknya ke kantong celana training biru tua andalan. “Udaranya semakin dingin.” Lelaki tersebut berjalan melewati Rindu. Langkahnya sama sekali tidak pelan.
Kali ini, Rindu menjadi orang yang berusaha mensejajarkan langkah. “Aku bukan remaja rapuh kayak dulu yang bisa dikasih penghiburan kayak begitu.”
Mata si lelaki melirik ke samping kirinya. “Terus, bagaimana cara menghibur kamu yang bisa mempan bikin kamu lebih baik?”
Sambil berjalan, Rindu bersedekap. Ia menoleh sekilas ke samping kanan. Sebelah alisnya terangkat. “Traktiran makan enak.”
Jiro terkekeh. “Mau makan apa memangnya?” Ia berlagak seperti memang benar akan mentraktir Rindu.
Jawaban tidak langsung didengarnya. Tangan kanan Rindu mengetuk pelipisnya, seperti sedang berpikir apa yang ia inginkan. “Kayaknya enak kalau makan di tempat all you can eat.”
Sorot mata Rindu menjadi lebih terang saat mengutarakan keinginannya. Perempuan itu menatap Jiro penuh harap. Bahkan, ia sampai menaik turunkan dua alisnya. BIbir perempuan itu juga mengukir senyuman kecil. “Gimana?”
Kepala si lelaki mengangguk. “Mau kapan?”
“Serius?” Tentu saja, seorang Rindu tidak mau asal terperangkap dalam kebohongan. Dirinya sudah muak dengan janji kosong.
“Beneran. Kamu mau di mana? Di sini nggak ada restoran khusus begitu kecuali di hotel-hotel berbintang. Kamu mau di restoran hotel dalam kota atau yang di pinggir laut?” Jiro malah semakin menambahkan opsi yang membuat semangat Rindu tiba-tiba membuncah.
“Di pinggir laut.” Tanpa ragu perempuan tersebut menyebutkan tempat yang diinginkannya.
“Besok kita pergi.” Jiro melangkah lebih cepat ketika masuk ke jalanan menuju rumah.
“Besok?” Karena kaki Jiro cukup panjang, Rindu sampai harus berlari kecil untuk mensejajarkan langkah.
“Iya.” Lelaki itu mengangguk dengan sangat yakin.
Di sampingnya, senyum Rindu semakin lebar. “Makasih.” Perempuan itu mengucapkan rasa terima kasihnya sebelum berlari meninggalkan Jiro dan segera masuk ke halaman rumahnya.
Sejenak, Jiro berhenti berjalan. Atensinya hanya tertuju pada gerbang rumah tetangga depannya itu. Lelaki tersebut ikut tersenyum lebih lebar. Mungkin, ini senyuman paling lebar yang diukirnya sejak beberapa tahun belakangan.
Masuk ke dalam rumah, mami menyambut di ruang tengah. Ibunya yang masih keturunan Jepang itu menatap sang putra bungsu dengan tatapan mendalam. “Kamu tersenyum?”
“Ya?” Jiro mengerjapkan mata.
“Kamu masuk rumah sambil senyum. Kayak anak remaja yang baru diterima sama cewek yang ditaksirnya,” komentar Ibu Miyuki.
Senyum Jiro masih bertahan. Namun, tatapannya yang berbinar berubah menjadi lebih redup cenderung sendu. “Memang masih pantas aku bertingkah begitu?”
Ibu Miyuki beranjak dari tempat duduknya. Dalam keremangan ruangan, ia melangkah mendekati sang putra dan memeluknya erat. “Setiap orang boleh banget merasa bahagia, terutama orang baik.”
Dalam pelukan ibunya, Jiro terkekeh. Sesaat, dunia lelaki itu terasa baik-baik saja. Tetapi, saat siluet bangunan rumah di depan sana terlihat dari jendela, sendu itu datang lagi. Sesaknya ketika mengingat masa lalu tidak akan pernah bisa hilang. Rasa bersalahnya pada Rindu akan selalu menghantuinya.
“Tidur sana. Raja tadi sempat terbangun dan mengigau. Mami puk puk sebentar, tapi takutnya bangun lagi dan nangis.” Ibu Miyuki mengurai pelukan itu. Ia memandang lembut sosok tinggi anak bungsunya.
Jiro mengangguk dan segera naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Langkahnya pelan cenderung mengendap saat membuka pintu. Sedikit berjinjit, ia mendekati ranjang dan melihat Raja tidur dengan kening mengerut dalam.
“Papa di sini,” bisiknya. Jiro naik ke atas kasur dan memeluk tubuh kecil Raja. “Jangan khawatir, ada papa di sini,” ulangnya.
Perlahan, Raja tidak lagi mengernyit. Napasnya jauh lebih teratur dan tidurnya benar-benar pulas ketika merasakan hangat dari tubuh Jiro ada di dekatnya. Dalam gelapnya kamar, mata lelaki itu masih terbuka. Kali ini, ia kembali menatap jendela. Gorden putih tipis masih dapat menembus penglihatan ke arah rumah tetangga depan.
Fokus lelaki itu ada pada jendela kamar seberang. Jendela itu terbuka dan samar-samar tampak sosok yang tadi dijanjikannya makan all you can eat. Iya, Rindu menatap langit dari jendela, seperti kebiasaan lamanya. Dahulu, Jiro sampai membelikan teleskop di hari ulang tahun ke tujuh belas Rindu.
“Carikan aku satu bintang paling terang di langit.” Jiro remaja menyerahkan kadonya tapi dengan syarat.
Saat itu, Rindu merengut. “Nggak ikhlas ngasih kado?”
“Ikhlas kok. Tapi, aku memang mau lihat bintang yang paling terang. Cuma nggak tau yang mana.” Jiro tidak bohong tentang itu. Ia sama sekali tidak pernah menatap bintang dengan sengaja.
“Besok sebelum subuh, kita ke lapangan komplek. Aku akan perlihatkan bintang paling terang itu menjelang pagi.” Sayangnya, mereka tidak pernah sempat melihat bintang paling terang itu sampai jarak dan waktu memisahkan mereka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!