“Manusia tidak bisa memilih untuk lahir dari orang tua seperti apa.”
“Ini rumah apa taman tempat penitipan anak sih?” Gerutu Rindu begitu menuruni tangga rumahnya.
Komentar itu terlontar begitu saja sebab ruang keluarga sudah dipenuhi dengan mainan berserakan. Ada boneka beruang, mainan kereta api beserta relnya, lego, boneka barbie, dan juga bola-bola kecil aneka warna. Rindu harus memperhatikan langkahnya jika tidak ingin menginjak dan merusak mainan-mainan milik para keponakan.
Bersama mainan-mainan berserakan, tiga keponakan Rindu duduk di antaranya. Si kembar Lina dan Lira sibuk menyusun Lego yang entah apa bentuknya. Tidak jauh dari mereka, bayi sembilan bulan bernama Juzar juga duduk memainkan kereta api yang keluar dari jalur.
“Bibi!” Lina memanggil Rindu. “Ini gimana sih pasangnya?” Anak itu tampak frustasi sebab mainannya tidak berbentuk.
Bahu Rindu mengedik. “Nggak tau. Nggak usah tanya-tanya.” Perempuan itu berujar galak.
“Rindu, sama keponakannya kok gitu?” Ibu menegur. Ia mendekat dari arah dapur seraya membawa piring plastik berisi tiga potong kue bolu pandan.
“Terserah.” Netra Rindu berotasi.
Perempuan tersebut berjalan melewati ruang keluarga. Bahkan, sengaja menendang jalur kereta mainan yang menghalangi kakinya. Ibu yang ada di dekat situ seketika memukul keras punggung sang sulung. Perlakuan itu tidak membuat Rindu berubah berbaik hati, malah kelakuannya menjadi. Ia menginjak salah satu bola plastik kecil warna hijau kesukaan Juzar sampai penyok.
Melihat mainannya rusak, Juzar mulai menangis. Pada akhirnya, ibu repot menenangkan cucu kecilnya. Si pelaku pengrusakan—Rindu—kabur keluar rumah. Perempuan itu berlari membuka gerbang. Panggilan penuh geram dari ibu tidak masuk ke kupingnya. Kaki Rindu baru terhenti saat dirinya melihat Raja bermain sendirian di depan gerbang rumah keluarga Jiro.
“Heh!” Panggil Rindu. “Anaknya Jiro!” Ia memanggil lagi karena tidak mendapat respons.
Kepala Raja terangkat. Ekspresi nelangsanya berubah menjadi lebih ceria. Anak itu menatap Rindu dari jauh dengan mata berbinar. “Tante!” Senyumnya merekah sampai giginya yang seperti kelinci terlihat.
Kalau diperhatikan lagi, Raja tidak begitu mirip dengan Jiro. Kulitnya lebih coklat dan matanya bulat besar. Sementara ayah anak itu waktu kecil punya kulit putih. Berhubung masih keturunan Jepang, mata Jiro juga cenderung kecil meski punya kelopak mata.
“Kenapa main sendiri di luar?” Tanya Rindu. Ia mendekat dan berjongkok di depan Raja.
Raja yang juga jongkok sambil memegang mobil-mobilan kembali cemberut. “Nggak ada yang mau main sama aku,” adunya.
“Kenapa?” Kening Rindu mengernyit dalam.
“Katanya, mereka nggak mau main sama anak yang nggak punya ibu. Tapi aku punya kok.” Bahu Raja terkulai. Ia menunduk dan kembali memainkan mobil-mobilannya. “Walaupun nggak tau sekarang ada di mana.”
Mata Rindu mengerjap. Ia belum bertanya tentang mantan istri Jiro. Lagipula, itu urusan pribadi tetangga yang kebetulan teman sepermainannya juga. Perempuan tersebut tidak ingin ikut campur. Siapa tahu, ada luka yang tidak ingin Jiro korek lagi dalam dirinya soal hubungan yang kandas bersama ibunya Raja.
“Pasti orang tua mereka ngajarinnya nggak bener,” gerutu Rindu.
Tiba-tiba, perempuan itu berdiri. Ia mengulurkan tangan di depan Raja. “Ayo main di tempat yang banyak mainan.”
Raja mendongak. Wajah Rindu tidak tampak begitu jelas di matanya karena teman sang papa membelakangi matahari. Namun, uluran tangan itu begitu nyata. Perlahan, anak enam tahun tersebut menyambut. Ia berdiri dan dengan senang hati digandeng Rindu. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam rumah orang tua Rindu.
“Lina, Lira, ini ada Bang Raja!” Seru perempuan itu.
Raja yang digandengnya sempat mundur selangkah, takut masuk lebih dalam ke rumah. Tetapi, sambutan hangat si kembar membuatnya berani maju. Gandengan tangannya terlepas dari tangan Rindu, berpindah bergandengan dengan si kembar.
Tiga anak itu pun bermain di ruang keluarga dengan gembira. Si kembar akhirnya bisa menyelesaikan susunan lego sebab Raja sangat pandai mengikuti petunjuk gambar. Dua anak itu bertepuk tangan sangat heboh saat lego berbentuk bangau bisa diselesaikan.
“Kita punya bentuk lainnya juga!” Lina mengeluarkan beberapa kotak lego.
Sementara anak-anak bermain, Rindu pergi ke dapur. Ibu ada di sana menggendong Juzar yang tertidur. Mata ibu menatap tajam ke arah putri sulungnya. “Kenapa kamu bawa anak itu ke sini?” Ibu bicara sambil berbisik.
“Biar main sama anak sebayanya.” Jawaban Rindu terkesan masa bodoh.
Ibu berdecak kesal. Ia duduk di salah satu kursi makan. Tatapannya masih tajam ke arah Rindu. “Dia itu…”
“Apa?” Sela si sulung. “Ibu, nggak bagus diskriminasi seorang anak hanya karena hubungan orang tuanya yang bermasalah. Anak kecil nggak berdosa, nggak bisa milih mau punya orang tua modelan gimana.”
Mata ibu semakin melotot. Satu tangannya mendarat di telinga Rindu dan menjewernya. “Kamu ini kok sekarang suka sekali membalikkan kata-kata orang tua?”
Rindu meringis seraya menjauhi tubuhnya dari jangkauan sang ibu. “Memang ibu mau aku diam terus kayak orang bego walaupun ada sesuatu yang salah?” Cara Rindu menatap sangat sinis. “Aku lelah harus diam terus-terusan.”
“Rindu, kita hidup nggak sendirian. Kita harus memikirkan pandangan orang lain juga.” Kali ini, ibu menimang cucunya lagi karena bayi dalam gendongannya menggeliat.
Rindu yang sudah muak mendengar semuanya hanya berdecak. Sebelum beranjak dari dapur, ia sempat berbalik dan mengatakan satu hal telak di depan ibunya. “By the way, sore ini aku mau pergi sama Jiro. Semacam kencan gitu deh.”
Mata ibu tambah membulat. Tetapi, ia tidak bisa protes terkendala cucunya merengek hampir menangis. Senyum kemenangan pun terukir di bibir Rindu. Ia kembali ke ruang keluarga dan duduk tidak jauh dari anak-anak yang mendadak menjadi sangat tenang. Bagaimana tidak, mereka begitu fokus menyusun lego ketiga.
=+=+=+=
“Kakak serius mau kencan sama Bang Jiro?” Pintu kamar Rindu menjeblak terbuka.
Setelah ini, mungkin Rindu akan mengganti kenop dan memasang kunci ganda. Apa sekalian saja memasang smart door lock? Perempuan itu menoleh dan mendapati adik perempuannya berdiri di ambang pintu.
“Nggak suka?” Rindu merotasikan matanya.
Kali ini, Rania melangkah masuk. Adik perempuan yang empat tahun lebih muda itu duduk di tepi ranjang. Tatapannya penuh selidik ke arah sang kakak yang sedang memakai pelembab bibir. Penampilan Rindu sore ini memang lebih rapi, sangat tidak seperti biasa yang cenderung berantakan.
Rambut sebahunya tampak disisir dan dibiarkan tergerai. Gaun rumahan alias daster berganti menjadi gaun denim berpotongan rok A dan panjang di bawah lutut. Aroma tubuh Rindu yang biasa hanya beraroma sabun kini ditambah aroma bunga-bunga segar dari parfum.
“Bukannya nggak suka, tapi kan Bang Jiro itu baru cerai. Kayak nggak etis aja tiba-tiba kencan sama cewek lain. Bagaimana perasaan anaknya juga, tiba-tiba ada perempuan berbeda masuk ke dalam hidup mereka. Kakak menggantikan posisi ibu kandungnya. Itu mempengaruhi mental anak.” Rania mengutarakan pendapatnya.
Tubuh Rindu berbalik. Ia bersedekap, menatap datar ke arah adik perempuannya. “Percaya banget aku kencan sama Jiro.”
“Memang bukan kencan?” Tanya Rania dengan dua alis bertaut.
Melihat ekspresi lucu adiknya, Rindu terkekeh. “Cuma mau makan di all you can eat. Lagian, aku sama Jiro kan sobat dari kecil. Seleraku juga bukan duda apalagi udah punya anak. Males banget jadi ibu tiri.”
“Tapi kata ibu…” Rania bicara berdasarkan laporan dari ibu.
Rindu menyeringai. “Sengaja aja aku bilang mau kencan. Habis ibu mendiskriminasi anak kecil. Anak-anak kamu nggak dibolehin main sama anaknya Jiro. Padahal mereka senang sekali bisa main bareng.”
“Eh, ibu melarang begitu?” Rania tampak skeptis.
Lagi dan lagi, Rindu merotasikan netranya. “Kayak nggak tau gimana ibu. Selalu mendengarkan dan terlalu peduli omongan tetangga. Di komplek kamu tinggal sih enak, nggak rese orang-orangnya. Di sini emang komplek sih, tapi ngampung.” Perempuan itu jelas sekali sangat kesal saat menyerocos.
Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nanti aku bilang ke ibu kalau anak-anak boleh kok main sama anaknya Bang Jiro. Kan kasihan kalau sendirian.”
Setidaknya, di keluarga Rindu masih ada adik yang waras. Rania mungkin senasib, sama tertekannya dengan Rindu selama ini. Bagaimanapun, mereka adalah anak perempuan dari ibu yang begitu menjunjung tinggi patriarki. Untungnya, Rania dapat suami yang bisa diandalkan. Mereka sama-sama bekerja dan bisa bahu-membahu mengurus anak sekaligus rumah.
“Jangan lupa kata-kata nyelekitnya dikeluarkan biar ibu tersentil,” pesan Rindu.
Dua saudara itu keluar kamar bersamaan. Rania mengantarkan sang kakak ke depan gerbang, di mana Jiro menunggu di dalam mobil. Sang tetangga sempat membuka jendela mobilnya dan menyapa Rania dengan senyum ramah seperti dulu.
“Apa kabar, Rania?” Sapa Jiro.
“Baik. Jangan lupa bawa oleh-oleh makanan yang banyak,” canda perempuan itu.
Jiro terkekeh seraya mengacungkan satu jempol. “Pergi dulu.”
“Hati-hati!” Rania melambaikan tangan.
Di kursi samping kemudi, Rindu duduk bersedekap setelah memasang sabuk pengaman. Perempuan itu memeriksa bangku belakang dan menyadari Raja tidak ikut. “Anak kamu nggak ikut?”
“Raja ketiduran, kayaknya kelelahan main sama si kembar. Tadi dia cerita semangat sekali soal menyusun lego. Aku mau bangunin, tapi mami bilang ditinggal aja,” jelas Jiro.
Kepala Rindu manggut-manggut. “Jadi beneran kayak kencan.”
“Ya?” Rasanya, telinga Jiro seperti salah dengar. “Kencan?”
Rindu tersenyum kecil. Ia menghela napas kasar dan menoleh ke jendela di sampingnya. “Aku ngompor-ngomporin ibu, bilang kalau kita mau pergi kencan. Marah banget dong si ibu, tapi aku kan sekarang anak bandel.”
Di balik kemudi, Jiro terkekeh. “Kamu ini, ada-ada aja.”
“Anggap aja ini experience kencan pertama untukku,” gumam Rindu.
“Kencan pertama?” Lelaki di sampingnya mengulang dua kata terakhir yang terucap.
Tanpa menatap sang lawan bicara, Rindu mengangguk. Tatapan datarnya kembali menguasai sorot mata. “Aku belum pernah kencan.”
Saat mobil berhenti sejenak untuk masuk ke jalan raya, Jiro sempat menatap profil samping teman masa kecilnya itu. “Sama,” bisik Jiro dengan suara sangat kecil, nyaris terbawa oleh angin dan tidak dapat ditangkap gendang telinga Rindu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!