Bab 8

0 dibaca

A

“Tidak apa sejenak melupakan segala perih masa lalu.”


Angin laut berhembus lembut menyapa orang-orang yang duduk bersantai di restoran salah satu resort. Mereka semua menghadap lautan lepas, menatap matahari yang siap tenggelam dari batas horizon. Pancaran warna keemasan dari sinarnya menyebar ke langit. Keindahan tidak dapat terhindarkan, apalagi awan begitu minim menggantung di atas sana.

Suara deburan ombak yang tidak seberapa besar menambah indah suasana. Burung-burung yang terbang berkelompok di atas permukaan air laut menambah sempurna pemandangan khas kepulauan di sore ini.

“Pantai selalu jadi tempat paling melegakan untukku,” kata Rindu.

Atensinya tidak lepas dari mentari di ufuk barat. Sesekali ia mengangkat ponsel dan memotret keindahan di depannya. Sementara Jiro malah menilik profil samping teman masa kecilnya itu. Ia mengukir senyum tipis di bibir manakala hembusan angin membuat rambut Rindu bergerak.

“Seharusnya dari pertama pulang aku main ke pantai. Padahal jaraknya nggak jauh. Memang bahaya sekali rasa malas gerak ini.” Perempuan itu lanjut bicara.

“Kalau kamu sering main ke pantai, acara kita hari ini jadi nggak istimewa lagi,” komentar Jiro.

Mendengar itu, Rindu menoleh. Manik coklat gelapnya bersirebak dengan manik coklat terang milik Jiro. “Tetap istimewa dong, soalnya kamu bawa aku ke resort untuk makan all you can eat.”

Respons sang teman masa kecil berhasil mengundang gelak tawa Jiro. Ia mengangguk, mengakui kalau sosok sahabat kecilnya memang sulit digoda. Pantas saja kalau selama ini tidak pernah berkencan atau pacaran. Mungkin, para lelaki yang mendekati bingung setiap berusaha membangun suasana romantis di antara mereka.

Tapi, ini bukan berarti Jiro sedang melakukan hal serupa—membangun suasana romantis. Lelaki tersebut hanya senang melihat temannya sedikit lebih leluasa. Jika bertemu Rindu di sekitar komplek, perempuan itu pastinya tampak seperti sedang memikul beban sangat berat. Belum lagi ekspresi datarnya seringkali membuatnya sedikit gentar untuk memulai obrolan.

“Sayang sekali Raja nggak jadi ikut.” Jiro menyayangkan hal itu. “Dia belum pernah lihat pantai. Kemarin nggak jadi pergi karena dia kelelahan duluan setelah main di taman.”

“Si Raja suka cepat lelah ya?” Ada kekhawatiran dalam raut wajah Rindu. “Kamu kurang ngajak dia main secara fisik.” Kali ini, perempuan itu malah menatap Jiro dengan sorot prihatin.

Bibir sang lelaki melengkungkan senyuman. “Begitulah,” tanggapnya sambil mengedikkan bahu.

Atensi dari pemandangan matahari terbenam berpindah pada sepiring makanan pembuka yang belum mereka sentuh. Rindu menjadi yang pertama menyendok salad di piringnya. Berbeda dengan Jiro yang mengambil semangkuk sup krim ayam sebagai pembuka.

Sebelum matahari benar-benar terbenam, piring di meja dua teman lama itu semakin banyak. Rindu sangat bersemangat mengambil dua jenis pasta yaitu saus tomat dan keju. Kemudian, perempuan itu juga mengambil beberapa potong ayam panggang. Tidak lupa, ia menambahkan dua potong pizza pepperoni. Belum cukup dengan semuanya, perempuan itu juga mengambil dua potong daging steak lengkap dengan mash potato serta aneka sayuran panggang.

“Yakin bisa menghabiskan ini semua?” Jiro menelan ludahnya. Ia menatap ngeri pada aneka makanan yang diambil Rindu. Perempuan itu seperti tidak mau melewatkan semua menu.

“Pasti habis. Ini belum dessert. Tadi aku udah cek ke dessert station dan mereka punya banyak jenis cake. Kamu harus bungkusin Raja karena kelihatannya enak banget.” Sisi ceriwis Rindu muncul akibat melimpahnya makanan.

“Selamat makan,” kata Jiro, mempersilahkan perempuan di depannya mulai menyantap makanan.

Melihat bagaimana lahap dan bahagianya Rindu, Jiro sudah merasa kenyang duluan. Bibir lelaki tersebut tidak lepas dari senyum hangat. Ia cukup lega karena sejenak sang sahabat masa kecil dapat menikmati kehidupan.

“Jiro, coba steak ini.” Perempuan itu membuat potongan kecil steak dan menyuapkannya ke mulut lelaki itu.

Jiro menerima suapan itu sambil mengerjapkan mata. Sejenak, ia tertegun. Matanya semakin tidak bisa lepas dari sosok perempuan di depannya. Apalagi, saat Rindu tersenyum cerah dan angin petang membuat rambutnya bergerak.

“Enak,” gumam lelaki itu saat sadar harus bersikap lebih santai.

Seperti kata Rindu, semua makanan bisa habis tanpa sisa. Jiro sendiri cukup terkesan dengan kapasitas lambungnya. Semua makanan terasa enak dan rasanya sangat sepadan merogoh kocek agak dalam untuk mentraktir Rindu.

“Cake!” Perempuan itu segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan cepat ke arah dessert station.

Mata Jiro terus mengikuti kemana temannya melangkah. Ia tersenyum lagi ketika Rindu menggunakan akalnya untuk membawa beberapa dessert sekaligus. Perempuan itu mengambil piring besar untuk makan nasi. Ia meletakkan beberapa potong cake juga pudding.

Saat kembali ke meja, perempuan itu melotot ke arah Jiro. “Ada sushi. Tunggu di sini.” Ia tergopoh kembali ke tempat makanan lain.

Tidak lama, Rindu kembali dengan dua piring sushi di tangannya. Saat duduk, perempuan tersebut makan sushi terlebih dahulu. Sekali lagi, ia menyuapi Jiro yang tampak bengong saja. Bukannya apa, lelaki itu benar-benar takjub dengan nafsu makan Rindu.

“Badan kamu lumayan kecil, tapi bisa menampung semuanya,” komentar Jiro.

Rindu masih mengunyah cake setelah menghabiskan makanan khas Jepang. Selepas menelan makanannya, ia pun menanggapi, “Setelah ini nggak makan juga nggak apa-apa.”

“Maksudnya?” Sebelah alis Jiro terangkat.

“Maksudnya, aku biasa nggak begitu doyan makan. Kalau badan udah gemetar, baru deh makan sekadarnya. Tapi, di tempat begini aku nggak males kok.” Perempuan itu kembali menyuap dessert lain.

Senyum di bibir Jiro sedikit pudar. Tatapannya yang berbinar kini berubah menjadi nanar. Lelaki itu sangat sadar bahwa memang ada yang salah dari diri Rindu. Sayangnya, dia tidak tahu dan tidak bisa memaksa sang perempuan menceritakan masalahnya. Satu hal yang pasti, ucapan Rindu tentang mental yang acak-acakan tempo hari memang benar adanya.

Ini bukan soal omongan tetangga semata. Ada hal yang Rindu simpan rapat pada semua orang tentangnya. Ini bukan lagi masalah masa lalu yang juga menyakitkan bagi Jiro, tapi hal berbeda lainnya yang lelaki itu sama sekali tidak tahu.

“Jangan liat aku segitunya. Aku bukan pengemis kok, cuma mensyukuri traktiran sahabat masa kecil yang pulang kampung untuk slow living.” Rindu menjentikkan jari di depan wajah Jiro.

Suasana kembali cair. Jiro ikut makan dessert. Ia juga mengomentari soal beberapa menu terenak malam ini. Namun, keseruan itu mendadak berubah. Tatapan Rindu menjadi tidak fokus. Badannya sedikit bergetar dan pegangannya pada garpu terlepas. Awalnya, Jiro pikir dirinya ada salah. Hanya saja semua terpatahkan setelah ada suara berbeda datang dari balik punggung Jiro.

“Halo, Rindu.” Suara itu cukup rendah dan terdengar berwibawa.

Saat Jiro menoleh, ia melihat seorang lelaki yang sedikit lebih tua dari mereka mendekat. Pria itu menggandeng seorang wanita dan satu tangannya mendorong kereta bayi.

“Malam, Pak Angga.” Rindu balik menyapa.

Kali ini, perempuan itu menurunkan tangannya. Ia menyembunyikan getaran itu. Sebisa mungkin Rindu juga menatap tegas ke sosok yang menghampiri meja.

“Wah, boleh dong perkenalkan siapa ini?” Nada bersahabat dari orang yang dipanggil Pak Angga terdengar terlalu artifisial di telinga Jiro.

Lelaki itu berdiri dari posisinya. Pak Angga yang ada di dekat Jiro jadi kalah tinggi. “Saya Jiro…” lelaki itu menggantung kalimatnya.

“Dia suami saya.” Rindu ikut beranjak dan segera menggandeng lengan sang teman lama. Ia memberi isyarat mata supaya Jiro mengikuti saja permainan ini.

“Suami?” Kali ini, si istri Pak Angga yang bersuara. Ia terkekeh sambil menatap Rindu dengan tatapan remeh.

“Kami harus segera pulang.” Rindu tampak agak panik. Ia menarik Jiro untuk menjauh.

Getaran di tangan dan tubuh perempuan itu terhenti saat keduanya berada di parkiran mobil. Helaan napas lega keluar dari mulut Rindu. Perempuan tersebut tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia bersandar sebentar di pinggir pintu untuk mengatur napas.

Sementara itu, rasa penasaran Jiro semakin membuncah. “Itu tadi siapa?”

“Ya?” Tampak kalau Rindu tidak fokus mendengarkan.

“Laki-laki tadi siapa?” Jiro mengulang pertanyaannya.

“Bos di kantor lama. Mungkin lagi liburan di sini.” Kali ini, Rindu bicara lebih cepat. Ia segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman bahkan sebelum Jiro—si pengemudi—masuk.

Sayang, jawaban tadi malah semakin membuat Jiro penasaran dengan kehidupan Rindu sebelumnya. Sang teman masa kecil tampak ketakutan, menandakan ada sesuatu di antara mereka. Perempuan itu seperti enggan berlama-lama berada di tempat yang sama dengan orang itu. Bahkan, memeluk erat lengan Jiro untuk menguatkan dirinya.

Hanya saja, Jiro tidak mau langsung mengorek semuanya ketika Rindu masih tampak linglung. Jiro hanya takut bahwa yang terjadi, serupa ketika mereka remaja dulu. Tingkah laku Rindu terlalu mirip seperti di masa lalu.

Masalah lama yang sempat terlupakan tadi kembali lagi di kepala Jiro. Rasa leganya berubah menjadi rasa bersalah yang selama ini menggerogoti. Ketakutan yang sempat pergi datang lagi dan Jiro tidak mau perasaan ini menghancurkan mereka lagi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk