KLAIM SANG PENGHUNI CERMIN

0 dibaca

A

Versi suara

Dibacakan zaxarofna · 4 mnt

Gigi taring Sophie berkilau lembayung di bawah cahaya lampu kamar, sejajar dengan bahu Sofie yang lebih pendek. Tidak ada pantulan di mata Sophie - pupilnya melebar seperti lubang yang mengarah ke ruang hampa, bukan ke arah Sofie yang berdiri di depan cermin.

“Enam puluh detak,” gumam Sofie.

Jarinya masih menekan pergelangan tangan kirinya, merasakan denyut yang tetap stabil.

“Kalau kamu benar-benar ada, detakku harusnya naik.”

“Detak jantung bukan bukti,” jawab Sophie.

Suaranya datar, tanpa intonasi yang bisa dibaca.

“Kamu bisa memegang pisau tanpa merasa takut. Kamu bisa melihat mayat tanpa mual. Tubuh ini udah terbiasa menampung dua kesadaran - sistem sarafmu tidak lagi tahu bedanya ancaman dan kenyataan.”

Sofie menggeser telapak kakinya di lantai kayu. Suara gesekan itu terdengar terlalu keras, seolah ruangan mengecil.

“Kamu belum menjelaskan taring.” ujar sofie

“Kau belum bertanya.” ucap sophie

Sophie mengangkat tangan kanannya, membiarkan kuku-kuku hitamnya menggores kaca sekali lagi. Decitan itu berbeda kali ini - lebih pendek, lebih terkontrol. Seperti sinyal.

“Tubuh ini lahir dengan mereka,” lanjut Sophie.

“Ayah dan Ibu - penjaga yang kau panggil orang tua - menutupinya dengan bedak dan larutan. Setiap pagi sebelum sekolah. Kau ingat bau alkohol di wajahmu? Bukan jerawat yang mereka obati.”

Sofie mengingatnya. Bau yang tajam, dingin, menempel di bantal sampai siang. Ia selalu mengira itu obat jerawat khasiatan yang Ibu beli dari tetangga.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Sofie.

“Kenapa gak dari dulu?”

Sophie mencondongkan tubuhnya ke depan, dahinya hampir menyentuh permukaan cermin. Uap napasnya - atau ilusi napasnya - membuat kabut kecil di kaca.

“Karena kamu baru sekarang mencoba melihat. Sebelumnya kamu cuma menatap.”

Perbedaan itu terasa tipis tapi tajam. Sofie mengerti. Ia mengerti juga bahwa Sophie tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya.

“Orang tuaku,” ucap Sofie perlahan.

“Mereka tahu kamu ada?”

“Mereka yang membangun dinding.”

“Dinding apa?”

Sophie tidak menjawab. Ia menggeser pandangan ke arah lemari pakaian di sudut kamar - lemari kayu tua dengan gagang tembaga yang selalu macet. Sofie mengikutinya. Tidak ada yang berubah di sana. Tapi Sophie terus menatap, seolah sesuatu di balik pintu itu lebih nyata dari kamar ini.

“Kamu ingat malam ketika kau berusia tujuh tahun?” tanya Sophie.

“Kamu terbangun di lemari itu. Kamu gak tahu gimanabisa ada disitu.”

Sofie ingat. Keringat dingin. Kegelapan yang terlalu rapat. Suara Ayah dari luar, berbisik dengan Ibu, kata-kata yang tidak bisa dibaca tapi nadanya - nadanya seperti orang berunding tentang binatang yang terluka.

“Itu aku,” kata Sophie. “Aku yang mereka kurung.”

Suara tawa logam itu mengendur. Sophie merentangkan tangan, jari-jarinya yang panjang bergerak lambat ke arah dada Sofie, mencari sesuatu yang tersembunyi di balik pakaian.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk