RAHASIA KALUNG PERAK

0 dibaca

A

Jari Sophie berhenti di atas dada Sofie, ujung-ujungnya menekan tulang rusuk yang terasa seperti batu karang di bawah kulit.

“Kamu nyimpennya terlalu dekat dengan jantung,” ucap Sophie.

“Seolah-olah kamu tahu.”

“Tahu apa?” ucap Sofie

“Bahwa gak ada aku, kamu udah hancur sejak lama.”

Sofie menunduk. Kalung itu menggantung di antara mereka, liontin berbentuk bulan sabit yang selalu ia anggap sebagai hadiah dari ibu kandungnya. Logamnya menghangat, bukan panas biasa, melainkan denyut yang sinkron dengan detak jantungnya sendiri.

“Kamu bilang aku senjata,” kata Sofie.

“Senjata siapa?”

Sophie menggeser jari ke bawah, menelusuri rantai kalung hingga ke liontin.

“Mereka yang membuatmu. Mereka yang membuatku.” Ia menarik napas, suaranya menjadi lebih berat.

“Kita berdua hasil percobaan yang sama. Hanya saja kamu di kasih kulit manusia, dan aku di kasih taring.”

“Kenapa kamu melindungiku?”

“Karena kamu adalah satu-satunya orang yang bisa melihatku.”

Sofie mengangkat kepala. Sophie berdiri begitu dekat sehingga ia bisa mencium bau tanah basah dan besi tua, bau yang sama saat dia terbangun di malam-malam tanpa mimpi.

“Aku gak pernah milih buat bisa melihatmu.”

“Tepat sekali,” jawab Sophie.

“Itulah kenapa kamu berharga. Kamu gak mencari. Kamu cuna terima apa yang ada.”

Liontin di tangan Sofie semakin panas. Ia ingin melepaskannya, tapi jari-jarinya kaku tidak bisa bergerak.

“kalo aku lepas kalung ini?”

“Berarti aku pergi. Dan semua yang kamu tahan-kesedihan, ketakutan, rasa bersalah-akan kembali sekaligus. Aku bahkan gak tau apa kamu akan bisa bertahan dengan semua itu nantinya”

“Kamu ngancem aku?” tegas sofie

“Itu peringatan.” ujar sophie

Sophie mundur selangkah. Cahaya dari jendela yang pecah menerangi separuh wajahnya, meninggalkan separuh lain dalam bayangan yang terlalu pekat untuk ukuran ruangan kecil ini.

“Kamu masih pengen tahu siapa yang membuat kita?”

Sofie mengangguk.

“Coba lihat ke cermin lagi,” kata Sophie.

“Tapi kali ini, lihat matamu sendiri. Bukan mataku. Matamu.”

Sofie berbalik. Cermin di dinding sudah retak sejak ia pindah ke rumah ini, garis-garisnya membentuk pola seperti jaring laba-laba. Ia menatap bayangannya, menunggu sesuatu berubah. Menunggu Sophie muncul di belakangnya. Tapi tidak ada yang datang.

“Aku gak lihat apa-apa.” kata sofie

“Terus lihat.” desak sophie

Pupilnya melebar, menyesuaikan diri dengan redupnya ruangan. Dan kemudian dia melihatnya-bukan Sophie, bukan bayangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Warna biru di iris matanya bukan biru biasa. Ada corak di sana, pola geometris yang berputar perlahan seperti mesin yang baru dihidupkan.

“Itu barcode,” kata Sophie dari belakangnya.

“Mereka nandain kita kayak hewan ternak. Supaya bisa melacak. Supaya bisa terkontrol.”

Sofie menyentuh pipinya sendiri di cermin, jari-jarinya menekan kaca dingin. Corak itu berdenyut, seolah merespons sentuhannya.

“Kenapa baru sekarang aku bisa lihat ini?”

“Karena kamu baru bertanya sekarang.”

Suara langkah kaki terdengar dari lantai bawah. Sofie membeku. Sophie tidak bereaksi, matanya tetap tertuju pada pantulan Sofie di cermin.

“Siapa itu?” bisik Sofie.

“Tetangga. Datang tiap pagi buat meriksa apa kau masih hidup atau enggak.” Sophie tersenyum, giginya yang tajam berkilau.

“Mereka pikir kamu aneh. Gak pernah main keluar. Gak pernah bercanda. Mereka gak tahu kalo kamu lagi perang tiap malam.”

Langkah itu berhenti di depan pintu. Ketukan datang, tiga kali, ritme yang sama setiap hari.

“Jawab,” kata Sophie.

“Atau kamu mau aku yang jawab?”

“Kamu bisa?”

“Aku bisa jadi kamu. Buat sementara. Kamu cuma perlu biarin aku masuk lebih dalam.”

Sofie menatap Sophie lewat pantulan cermin. Wajah mereka berdampingan sekarang, begitu mirip namun begitu berbeda. Satu dengan kulit pucat dan mata biru yang palsu. Satu dengan kulit abu-abu dan mata hitam yang tenggelam.

“Berapa lama?” tanya Sofie.

“Seperlunya.”

“Dan setelah itu?”

Sophie gak menjawab. Dia cuma mengulurkan tangan, menunggu di ambang bayangan dan cahaya.

Ketukan ketiga datang, lebih keras. Sofie menatap tangannya sendiri di cermin, kemudian tangan Sophie yang mengambang di sampingnya. Dia ingat malam-malam tanpa mimpi. Dia ingat pagi-pagi dengan rasa hampa yang tidak bisa dijelaskan. Dia ingat bertanya-tanya kenapa dia gak pernah menangis ketika kakeknya meninggal.

“Baiklah,” kata Sofie.

Sophie tersenyum lebar, terlalu lebar untuk wajah manusia.

“Pegang kalung itu erat-erat. Jangan lepas. Ini akan berasa kayak kamu tenggelam, tapi kamu akan bangun lagi. Kamu akan selalu bangun lagi.”

Jari-jari Sophie menyatu dengan bayangan Sofie di cermin. Ruangan berputar. Bau tanah basah menjadi lebih kuat, menenggelamkan bau kopi dari tetangga dan lembab dinding tua. Sofie merasa dirinya menciut, bukan tubuhnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang dia gak pernah tahu namanya.

Dan kemudian dia berdiri di ambang pintu, tangan di gagang, wajahnya tersenyum sebelum ia sempat memerintahkannya.

“Selamat pagi, Bu Sari,” suaranya keluar, hangat dan ramah, sama sekali bukan miliknya.

“Maaf terlambat membuka. Malam agak sulit tidur.”

Tetangga itu tersenyum kembali, menyerahkan koran dan sebungkus kue. Sofie-atau sesuatu yang menyerupainya-menerima dengan kedua tangan, ucapan terima kasih mengalir mulus dari bibirnya.

Di dalam, di belakang mata yang kini menjadi hitam pekat, Sofie menonton. Menunggu. Menghitung detik-detik sampai dia bisa kembali mengendalikan tubuhnya sendiri.

Malam pun berakhir. Keheningan menyelimuti rumah saat fajar menyingsing, membawa Sofie menuju meja makan untuk menghadapi kebenaran yang tersembunyi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk