“Kamu seharusnya tidak berada di sini, Sofie,” suara itu keluar dari cermin, serak namun terdengar sangat mirip dengannya.
Sofie melangkah mundur setapak. Lantai kayu dingin menekan telapak kakinya yang telanjang. Ia tidak ingat melepaskan sandal.
“Siapa kamu?”
Suaranya keluar lebih datar dari yang ia rasakan. Jantungnya berdetak di tenggorokan, tapi tangannya tetap di sisi tubuh, tidak bergerak menuju sakelar lampu. Sesuatu menahannya di sana - bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih tajam: rasa ingin tahu yang menusuk.
Sosok di balik kaca tidak menjawab langsung. Bayangan itu berubah bentuk secara drastis dalam hitungan detik. Rambut hitam Sofie kini terikat dua kuncir kuda di sisi kanan dan kiri kepala, padahal ia tahu persis rambutnya tergerai lepas sejak tadi malam. Sepasang tanduk kecil - tidak lebih besar dari jari telunjuk - mencuat dari sela rambut bob yang tiba-tiba tampak rapi, dan telinganya memanjang runcing ke belakang.
“Secara logika,” ujar Sofie, suaranya tetap tenang,
“pantulan harus mengikuti objek aslinya.”
“Logikamu berlaku di sana.” Sosok itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah lantai kayu tempat Sofie berdiri.
“Bukan di sini.”
Sofie melihat lebih dekat. Bukan cermin biasa. Bingkai kayu tua dengan ukiran yang ia tidak kenali - daun-daun yang melilit batang, buah-buahan yang membusuk setengah jalan menjadi wajah. Ia tidak ingat memiliki cermin ini. Ia tidak ingat memasangnya di dinding kamar sewaannya yang seharusnya kosong.
“Siapa kamu?” ulang Sofie.
Sosok itu menyeringai. Mulutnya terbuka terlalu lebar, rahangnya bergerak seperti sendi yang salah pasang. Taring tajam berkilau di baris gigi atas, panjangnya hampir menyentuh dagu. Bola matanya hitam pekat tanpa bagian putih sedikit pun - dua lubang basah yang menatap Sofie dengan intensitas yang mengerikan.
“Kamu udah tahu jawabannya,” bisik suara itu, kini keluar dari mulut yang bergerak sinkron dengan kata-kata.
“Kamu selalu tahu. Itu masalahnya.”
Sofie merasakan sesuatu dingin merayap di punggungnya. Bukan dari udara. Dari dalam. Seperti ingatan yang salah tempat, yang tiba-tiba menuntut tempat di depan.
“Aku gak-“
“Kamu membuka pintu,” potong sosok itu.
“Bukan aku.”
Sofie menatap taring itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!