“Orang yang tak menangis bukan berarti tak berduka. Dia hanya sudah terlalu lama belajar menghitung, bukan merasakan.”
— Catatan Surya
Sofie berdiri di tepi semak, sepatunya hampir menyentuh bulu-bulu yang kusut. Bau tanah basah tercium dari bekas paruh yang terbuka. Matanya tetap terarah pada patahan sayap yang tersangkut di dahan rendah.
“Kenapa kau tidak menangis, Sofie? Burung ini sudah mati,” tanya Pak Surya sambil menunjuk bangkai pipit di halaman.
Sofie hanya menatap bulu-bulu yang kaku itu tanpa kedipan sedikit pun. Baginya, kematian hanyalah berhentinya fungsi biologis sistem pernapasan dan jantung.
“Secara anatomis, sayapnya patah dan terjadi pendarahan internal, Ayah. Menangis tidak akan menyambung kembali pembuluh darahnya,” jawab Sofie datar.
Pak Surya menelan ludah, tangannya yang memegang buku catatan medis tampak sedikit gemetar. Ia segera menuliskan sesuatu dengan sangat cepat sembari menghindari tatapan mata putrinya yang terlalu jernih.
“Tapi ini makhluk hidup, Sof. Bukan mesin.”
“Semua makhluk hidup adalah mesin biologis, Ayah. Hanya lebih kompleks.”
Pak Surya berhenti menulis. Ujung penanya menekan kertas hingga berlubang kecil.
“Kau pernah menangis? Waktu ibumu pergi?”
Sofie mengedip sekali. “Air mata adalah respons fisiologis terhadap stres emosional. Stres itu tidak mengubah kenyataan.”
“Dan kenyataannya?”
“Ibu tidak kembali.”
Pak Surya menutup buku catatannya dengan bunyi pelan. Langit mulai memerah di barat, memanjangkan bayangan mereka di rumput. “Masuklah. Makan malam sudah siap.”
Sofie masih berdiri di tempatnya, menatap bangkai itu dengan ekspresi yang sama — bukan sedih, bukan pula acuh. Hanya pengamatan. Seperti seseorang yang membaca peta jalan yang sudah usang.
Malam tiba, meredupkan cahaya sore. Kamar Sofie sunyi, hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui celah tirai, mempersiapkan kegelapan untuk malam itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!