Jam ke-lima belas syuting iklan Luminé, Claire Andalas sudah berganti baju sembilan kali, tersenyum ke kamera kira-kira tiga ratus kali, dan mengoleskan serum yang sama ke pipinya sambil berkata “Glowing dari dalam, bersinar sepanjang hari” dengan dua puluh tujuh intonasi berbeda.
Ia tidak merasa glowing. Ia tidak merasa bersinar.
Ia merasa seperti ponsel di baterai empat persen yang terus dipaksa memutar video 4K.
“Cut! Bagus, Claire, bagus banget.” Sutradara iklan, pria berkacamata bulat yang memanggil semua orang “Sayang” tanpa pandang bulu, bertepuk tangan dari balik monitor. “Kita ambil satu lagi ya, Sayang? Kali ini lebih... gimana ya. Lebih effortless. Kayak kamu nggak lagi kerja.”
Claire tersenyum. Satu, dua, tiga. “Siap, Mas.”
Tentu. Akan ia lakukan. Ia akan terlihat tidak sedang bekerja di jam ke-lima belas kerjanya. Itu keahliannya. Itu, secara harfiah, satu-satunya keahlian yang orang mau bayar darinya.
Ruang rias di studio Kemang itu sebenarnya cukup luas untuk enam orang. Malam itu isinya empat belas.
Claire tidak tahu persis kapan ruangan itu mulai penuh. Tadi hanya ada dia, Sinta si penata rias dengan tripod kecilnya di sudut meja yang merekam seluruh sesi rias untuk portofolio, dan dua asisten wardrobe. Lalu Valerie datang.
Valerie tidak ada jadwal syuting hari ini. Valerie hanya kebetulan sedang di Kemang, katanya, dan kebetulan tahu Claire syuting di sini, dan kebetulan membawa tiga kotak donat untuk kru. Dan karena Valerie adalah Valerie, dalam dua puluh menit ruang rias itu sudah berubah menjadi ruang tunggu acara musik. Kru lighting yang ingin selfie. Dua staf brand Luminé yang ingin foto bareng “Val dan Claire, ya ampun, bestie goals banget”. Seorang anak magang wardrobe, perempuan muda bertubuh kecil dengan name tag bertuliskan NADIA, yang terus berdiri di dekat pintu memeluk nampan berisi aksesori dan terlihat seperti tidak tahu apakah ia boleh pergi.
Terlalu ramai. Terlalu terang. Terlalu banyak suara.
Ghea sedang di luar, menelepon brand manager Luminé soal klausul perpanjangan kontrak. Claire yang menyuruhnya. Aku nggak apa-apa, Ghe. Lima belas menit doang.
Bohong yang sudah tidak dihitung.
Sinta sedang menghapus riasan lama di wajahnya dengan kapas dingin ketika Claire pertama kali merasakannya.
Tamu itu lagi.
Duduk di tulang rusuk. Pelan-pelan menekan.
Jangan sekarang. Tolong, jangan sekarang.
Jantungnya mulai berlari. Telapak tangannya dingin. Suara tawa di ruangan itu berubah aneh, seperti datang dari dalam air, lalu tiba-tiba terlalu keras, seperti seseorang memutar volume ke angka maksimal tepat di telinganya. Lampu cermin rias yang mengelilingi wajahnya, dua puluh empat bohlam bulat, mendadak terasa seperti dua puluh empat mata.
Ia mencoba trik lima benda. Lima benda yang bisa dilihat.
Bohlam. Bohlam. Bohlam. Bohlam. Bohlam.
Tidak berhasil.
“Kak Claire?” Sinta berhenti mengusap. “Kakak pucat banget. Mau minum?”
“Nggak apa-apa.” Suaranya keluar terlalu tipis. Claire berdeham. “Sin, bisa minta... bisa minta orang-orang keluar dulu sebentar? Lima menit aja. Aku cuma butuh lima menit.”
Sinta menoleh ke ruangan. Mengangkat tangan dengan ragu. “Teman-teman, maaf, Kak Claire butuh...”
“Eh, bentar, bentar!” Valerie memotong dengan riang dari sofa, ponsel teracung, kamera menghadap ke arah meja rias. “Aku lagi rekam BTS buat TikTok. Claire, senyum dong, beb! Kita bikin konten ‘a day with my bestie’, ya? Guys, jangan keluar dulu, kalian masuk frame, lucu!”
Semua orang tertawa. Tidak ada yang keluar.
Claire mencengkeram pinggiran meja rias. Kukunya memutih.
“Val,” katanya, sangat pelan. “Tolong.”
Tapi Valerie sudah menoleh ke staf Luminé, bertanya soal varian serum terbaru, tertawa keras sekali, dan Claire tidak yakin apakah suaranya tadi benar-benar keluar atau hanya ada di kepalanya.
Napasnya pendek. Pendek. Pendek. Udara di ruangan itu habis. Seseorang menyalakan musik dari speaker ponsel. Seseorang lain memotret. Klik. Lampu kilat. Dua puluh empat bohlam. Empat belas orang. Dinding yang bergerak mendekat.
Lalu Nadia, si anak magang, melangkah maju dengan nampannya. Wajahnya ramah dan gugup. Ia hanya ingin menanyakan anting mana yang akan dipakai untuk take berikutnya. Ia menyentuh bahu Claire dari belakang.
Sentuhan kecil. Tidak berbahaya. Tapi tubuh Claire sudah tidak lagi bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak.
Claire berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
“KELUAR!”
Suaranya memecah ruangan seperti piring jatuh di lantai keramik.
“Aku bilang keluar! Semuanya! Aku cuma minta lima menit, kenapa nggak ada yang dengerin aku?!”
Nampan di tangan Nadia jatuh. Anting-anting berhamburan di lantai, berkilauan di bawah lampu seperti pecahan kaca. Gadis itu mundur dua langkah, matanya membesar, lalu berkaca-kaca, lalu dalam satu detik air mata itu jatuh.
Ruangan hening total. Musik di speaker ponsel masih berbunyi, riang, tidak tahu diri.
Dan di sofa, ponsel Valerie masih teracung.
Masih merekam.
Ruangan itu kosong dalam tiga puluh detik.
Lucu. Lima menit yang ia minta dengan sopan tidak pernah datang. Satu teriakan, dan semua orang pergi seperti asap.
Claire terduduk kembali di kursi rias. Kedua tangannya menutupi wajah. Napasnya masih pendek, tapi pelan-pelan, setelah pintu tertutup dan suara-suara menjauh dan hanya tersisa dengung pendingin ruangan, tamu itu mulai bangkit dari tulang rusuknya. Pergi tanpa pamit, seperti biasa. Meninggalkan rumah yang berantakan.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Dua menit. Mungkin sepuluh.
Yang ia tahu, saat akhirnya ia menurunkan tangan, Sinta masih ada di ruangan.
Penata rias itu berjongkok di lantai, memunguti anting-anting yang berserakan satu per satu, memasukkannya kembali ke nampan dengan hati-hati. Tripod kecilnya masih berdiri di sudut meja rias. Lampu merah kecil di ponselnya masih menyala.
Sinta tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan sebotol air mineral di dekat tangan Claire, lalu kembali memunguti anting.
Claire menatap botol itu.
Ada sesuatu yang aneh tentang botol air dingin yang diletakkan diam-diam di dekatmu oleh orang yang tidak minta terima kasih. Sesuatu yang terasa familiar, entah dari mana.
“Makasih, Sinta.”
“Sama-sama, Kak.” Sinta tidak menoleh. “Mbak Nadia ke toilet belakang, tadi.”
Claire berdiri.
Nadia sedang mencuci muka di wastafel toilet kru, yang lampunya kekuningan dan kerannya bocor. Matanya merah. Name tag-nya miring. Saat melihat Claire masuk lewat pantulan cermin, ia menegang seperti kucing yang terpojok.
“Kak, maaf, saya... saya nggak maksud...”
“Bukan kamu yang harus minta maaf.” Claire berdiri dua langkah darinya. Tidak terlalu dekat. Ia tahu rasanya disentuh saat tubuhmu sedang tidak mau disentuh. “Aku yang salah. Aku nggak seharusnya teriak ke kamu. Kamu nggak ngapa-ngapain, Nad. Kamu cuma mau tanya soal anting.”
Nadia menatapnya. Ragu.
“Aku...” Claire menelan ludah. Kalimat berikutnya terasa seperti batu di tenggorokan. Ia belum pernah mengucapkannya keras-keras pada siapa pun yang bukan Ghea atau psikolog yang hanya tiga kali itu. “Aku kadang kena serangan panik. Tadi itu lagi kambuh. Itu bukan alasan buat bentak orang, aku tahu. Tapi aku mau kamu tahu itu bukan karena kamu.”
Gadis itu diam lama. Lalu, pelan, mengangguk. “Kakak udah nggak apa-apa sekarang?”
Pertanyaan itu menghantam Claire lebih keras daripada yang seharusnya. Seorang anak magang berumur, berapa, dua puluh? yang baru saja ia bentak sampai menangis, adalah orang pertama dalam tiga hari yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
“Udah,” katanya. Dan untuk sekali ini, itu hampir benar. “Makasih udah nanya.”
Tidak ada kamera di toilet kru. Tidak ada yang merekam. Tidak ada yang akan pernah melihat ini.
Itu, Claire akan sadari nanti, adalah masalahnya.
Valerie menunggunya di lorong depan ruang rias, bersandar di dinding dengan kotak donat terakhir di tangan dan ekspresi khawatir yang sempurna. Alis sedikit naik di bagian tengah. Bibir sedikit cemberut. Ekspresi yang, kalau Claire jujur, pernah mereka latih bersama di kelas akting yang sama waktu umur tujuh belas.
“Babe.” Valerie memeluknya. Vanila lagi. “Ya ampun, kamu kenapa tadi? Aku kaget banget.”
“Capek aja, Val.”
“Kamu harus lebih jaga diri.” Valerie mengusap punggungnya, naik turun, seperti sedang menenangkan anak kecil. “Kamu tahu kan orang-orang suka salah paham. Apalagi kamu, semua orang ngelihatin kamu.”
“Tadi kamu rekam?”
Pelukan itu tidak berubah. Tidak menegang, tidak mengendur. Valerie adalah aktris yang sangat, sangat baik.
“Rekam apa?”
“BTS. Buat TikTok.”
“Oh, itu.” Valerie melepaskan pelukan, tertawa kecil, mengibaskan tangan. “Udah aku hapus, beb. Nggak kepake. Mana mungkin aku upload kamu lagi kayak gitu. Aku kan sayang kamu.”
Claire mengangguk. Ia percaya. Tentu saja ia percaya. Mereka sudah berteman sejak audisi Gadis Sampul, saat dua gadis enam belas tahun duduk bersebelahan di ruang tunggu dan berbagi satu roti sobek karena sama-sama lupa sarapan. Valerie kalah malam itu. Claire menang. Valerie memeluknya paling erat dan menangis paling keras di belakang panggung, dan Claire selalu mengira itu tangisan bahagia.
Di ujung lorong, Ghea muncul dari pintu darurat dengan ponsel masih di telinga, wajahnya berubah begitu melihat mata Claire yang sembap.
“Ada apa?” tanyanya, menurunkan ponsel. “Aku keluar lima belas menit.”
“Nggak ada apa-apa,” kata Claire. “Udah beres.”
Di belakang mereka, di dalam ruang rias yang sudah kosong, Sinta menyambar tas kosmetiknya dan bergegas ke pantry kru, mencari es batu untuk mata Nadia yang bengkak. Ia tidak menyentuh tripod kecil di sudut meja, di balik botol-botol hairspray. Ponselnya masih merekam. Ia baru akan mengambilnya malam nanti, setelah syuting selesai, dan mematikan rekaman enam jam itu tanpa berpikir apa-apa.
Video itu naik pukul 23.07.
Claire sedang di kamar mandi, duduk di pinggir bathtub dengan masker wajah Luminé yang dingin di kulitnya, karena Mama bilang ia harus mengunggah story pakai produk sponsor setiap malam selama masa kontrak. Ia baru saja memotret dirinya sendiri. Belum sempat mengunggah.
Ponselnya bergetar sekali. Lalu dua kali. Lalu tidak berhenti.
Enam pesan dari Ghea dalam satu menit.
Ghea: Claire
Ghea: Jangan buka IG
Ghea: Serius jangan
Ghea: Aku telepon sekarang
Ghea: ANGKAT
Ghea: Claire tolong jangan buka komennya
Tentu saja ia membukanya.
@lambe_kepo. Video. Empat belas detik.
Tidak ada ruangan penuh. Tidak ada musik dari speaker ponsel. Tidak ada Sinta yang berkata Kakak pucat banget. Tidak ada suara kecil Claire yang meminta lima menit, dua kali, dengan sopan. Tidak ada Val, tolong.
Video itu dimulai tepat saat kursinya terdorong ke belakang.
Claire Andalas, dengan setengah riasan dan rambut dijepit asal, berdiri dan berteriak. KELUAR! Aku bilang keluar! Semuanya! Wajahnya merah, matanya liar, suaranya pecah. Lalu kamera bergeser, mulus sekali, ke arah Nadia. Nampan jatuh. Anting berhamburan. Gadis muda itu mundur dengan air mata mengalir.
Video berhenti di wajah Nadia yang menangis. Diperlambat. Diberi musik latar sedih.
Siapa pun yang menyunting ini tahu persis apa yang mereka lakukan.
Aslinya gini guys 😬 Bentak kru junior sampe nangis gara2 hal sepele. Image kalem di depan kamera, di belakang ternyata... ya gitu deh. Masih mau bela? 🙃 (video kiriman followers, admin cuma share)
Pukul 23.11: dua puluh ribu likes.
Pukul 23.20: seratus ribu.
Claire menonton video itu sebelas kali. Setiap kali, ia berharap bagian lain akan muncul. Bagian di mana ia meminta dengan baik-baik. Bagian di mana tidak ada yang mendengarkan. Bagian di toilet kru, di mana ia meminta maaf dan Nadia bertanya apakah ia baik-baik saja.
Bagian itu tidak pernah muncul. Tentu saja tidak. Bagian itu tidak ada di internet. Bagian itu hanya ada di kepalanya, dan kepalanya tidak dihitung sebagai bukti.
Ia membuka kolom komentar.
AKHIRNYA KEBONGKAR JUGA 🤣🤣
pantes ga mau main sinetron, takut ketahuan aslinya kali
kasian mba kru nya ya Allah 😭 doxx dong siapa itu biar kita support
ini nih yang namanya privilege, cantik doang tapi attitude nol
@luminé_id masih mau pake brand ambassador kayak gini??
@luminé_id ✋ boikot sampe ganti BA
aku fans dari gadis sampul dan aku kecewa banget kak 💔
jangan2 bener yg kmrn bilang dia jutek, ternyata emang gini aslinya
Masker wajahnya mulai kering dan menarik kulit. Claire tidak melepasnya. Ia tidak bisa bergerak.
Pukul 00.40, tagar #ClaireAttitude naik ke nomor satu trending di X.
Pukul 01.15, seseorang mengunggah thread berjudul Kompilasi Claire Andalas Jutek ke Fans, Ternyata Udah Dari Dulu yang berisi foto-foto karpet merah di detik-detik antara senyumannya. Wajah lelah. Wajah kosong. Wajah yang menghitung napas. Semuanya diberi lingkaran merah.
Pukul 01.30, Ghea akhirnya berhasil menelepon. Suaranya tegang, cepat, profesional, dengan sesuatu yang retak di bawahnya.
“Luminé udah hapus semua foto kamu dari feed mereka. Semua, Claire. Termasuk kampanye yang baru naik minggu lalu. Brand manager-nya kirim email, mereka ‘sedang mengevaluasi kerja sama sesuai klausul etika’. Minuman isotonik sama e-wallet bilang tayang iklannya ditunda sampai ‘situasi kondusif’.” Jeda. Ghea menarik napas. “Dan Pak Hendra minta kita di kantor jam delapan pagi.”
Pak Hendra. CEO Prisma Talent. Pria yang hanya pernah memanggilnya ke kantor dua kali dalam enam tahun: saat ia menandatangani kontrak pertama, dan saat ia menolak tawaran sinetron tiga ratus episode.
“Ghe,” kata Claire. Suaranya aneh. Datar. Seperti suara orang lain. “Siapa yang rekam?”
Ghea diam terlalu lama.
“Akun-akun bilang dari kru. Tapi sudutnya dari arah sofa, Claire.”
Dari arah sofa.
Claire memejamkan mata. Ia melihat ponsel yang teracung. Ia mendengar suara riang. Aku lagi rekam BTS buat TikTok. Ia merasakan pelukan beraroma vanila. Udah aku hapus, beb. Aku kan sayang kamu.
Tidak. Tidak mungkin. Ada belasan orang di ruangan itu, dan setengahnya memegang ponsel. Siapa pun bisa duduk di dekat sofa. Valerie adalah sahabatnya sejak enam belas tahun. Valerie yang menangis paling keras di belakang panggung Gadis Sampul.
“Bisa siapa aja,” kata Claire.
Ghea tidak membantah. Itu yang membuatnya takut.
Pukul 02.05, Valerie mengunggah story Instagram. Latar hitam. Tulisan putih. Lagu akustik sedih.
Kadang orang baik juga bisa capek dan khilaf. Aku kenal dia dari lama, dia nggak sejahat itu kok. Tolong jangan hakimi temanku ya guys. Kita semua manusia 🤍🙏
Tidak menyebut nama. Tidak perlu menyebut nama.
Dalam satu jam, story itu di-screenshot dan diunggah ulang oleh empat akun gosip, dengan caption yang hampir sama: Bahkan sahabatnya sendiri ngaku dia ‘khilaf’. Berarti beneran dong?
Claire membaca kata khilaf itu berulang-ulang sampai hurufnya kehilangan arti.
Lalu pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk.
Mama berdiri di ambang pintu dengan daster sutra dan iPad di tangan, wajah tanpa riasan, pucat dengan cara yang Claire belum pernah lihat. Bukan pucat khawatir. Pucat menghitung.
“Kamu tahu berapa nilai kontrak Luminé?”
Bukan kamu kenapa? Bukan kamu nggak apa-apa?
“Ma...”
“Dua koma delapan miliar, Claire. Untuk dua tahun. Belum termasuk bonus perpanjangan. Kamu pikir semester depan Rafael di Melbourne dibayar pakai apa? Sekolah Kayla? Cicilan rumah ini? Utang Papa di bank?” Mama mengangkat iPad. Grafik sentimen yang biasanya hijau sekarang merah menyala, garisnya jatuh seperti orang terjun dari gedung. “Delapan puluh tujuh persen kemarin. Sekarang dua puluh tiga. Dua puluh tiga!”
“Itu bukan seperti yang kelihatan. Aku lagi panic attack, Ma, dan ruangannya penuh, dan aku udah minta mereka keluar baik-baik...”
“Mama nggak peduli kenapa!” Suara Mama naik. Lalu turun lagi, dingin, terkendali, suara yang lebih menakutkan daripada teriakan. “Yang orang lihat itu yang terjadi. Kamu ini artis, Claire. Kamu dibayar untuk dilihat. Dari kecil Mama sudah bilang. Kamu boleh capek, boleh sedih, boleh apa saja. Tapi jangan pernah di depan kamera.”
“Ma. Itu bukan kamera. Itu ruang rias.”
Mama menatapnya. Lama. Dengan sesuatu yang hampir seperti iba, tapi bukan untuk Claire. Untuk kebodohan Claire.
“Sayang,” katanya pelan. “Sekarang semuanya kamera.”
Pintu tertutup.
Lima menit kemudian, dua pesan masuk hampir bersamaan.
Papa: Kak, Papa lihat beritanya. Yang sabar ya, ini ujian. Nanti juga reda.
Papa: Oh iya, cicilan BCA jatuh tempo tgl 5. Jangan lupa ya Kak 🙏
Kayla: kak temen2 sekelasku pada ngomongin kakak di grup 😭😭 aku malu bgt sumpah
Kayla: btw DP study tour tetep jadi kan kak??
Claire membaca keduanya. Tidak membalas satu pun.
Di keluarga Andalas, tidak ada yang bertanya apakah Claire baik-baik saja. Semua orang hanya ingin tahu apakah tagihan mereka tetap aman.
Pukul 03.20, Claire menelepon Dean.
Ia tidak pernah menelepon Dean lebih dulu. Itu aturan tak tertulis mereka. Dean yang menghubungi, Dean yang menentukan jam, Dean yang memilih pintu. Tapi malam ini, di lantai kamar mandi dengan masker wajah yang sudah ia sobek dan buang ke wastafel, Claire tidak peduli dengan aturan.
Nada sambung. Satu kali. Dua kali.
Ditolak.
Ia menelepon lagi.
Ditolak lagi.
Tiga puluh detik kemudian, satu pesan masuk.
D: Lagi sama Mama. Dia udah lihat videonya. Jangan telepon dulu ya. Aku kabari nanti.
Claire membacanya. Lalu membacanya lagi.
Jangan telepon dulu.
Ia menunggu pesan berikutnya. Kamu nggak apa-apa? Atau aku tahu itu bukan kamu. Atau bahkan sekadar emoji hati, apa saja, satu tanda kecil bahwa pria yang dua tahun ini menyimpannya di lantai empat puluh dua juga melihat perempuan yang menangis di lantai kamar mandi, bukan hanya masalah yang harus disembunyikan dari ibunya.
Pesan berikutnya tidak pernah datang.
Claire meletakkan ponsel di lantai keramik. Layarnya masih menyala, terus menyala, notifikasi datang seperti hujan deras yang tidak tahu kapan berhenti. Empat ratus ribu komentar. Satu tagar nomor satu. Tiga sponsor yang menjauh. Satu sahabat yang menyebutnya khilaf. Satu ibu yang menghitung kerugian. Satu keluarga yang tetap menunggu transfer. Satu kekasih rahasia yang memintanya diam.
Satu video. Empat belas detik.
Selama enam tahun, Claire Andalas tidak pernah sekali pun berbohong di depan kamera dengan cara yang ketahuan. Ia tersenyum saat ingin menangis. Ia bilang “fokus kerja” saat sedang jatuh cinta. Ia bilang “aku baik-baik aja” ribuan kali. Semua kebohongan itu sempurna. Semua kebohongan itu dipercaya.
Dan satu-satunya momen yang menghancurkannya adalah momen paling jujur yang pernah ia biarkan terlihat.
Di luar jendela kamar mandi, langit Pondok Indah masih gelap. Belum subuh. Belum apa-apa.
Semuanya baru saja dimulai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!