MAYIT TANPA NAMA

1 dibaca

A

MAYIT TANPA NAMA


Suara jeritan dari arah pemakaman terdengar hingga ke seluruh penjuru Desa Weningrejo.


Jeritan itu hanya berlangsung beberapa detik.


Namun bagi orang-orang yang mendengarnya, suara tersebut terasa jauh lebih panjang.


Seolah-olah suara itu tidak berasal dari satu tempat.


Melainkan dari seluruh penjuru desa.


Setelah jeritan tersebut menghilang, suasana kembali sunyi.


Tidak ada suara jangkrik.


Tidak ada suara anjing.


Bahkan angin yang sejak sore berembus di antara pepohonan mendadak berhenti.


Desa Weningrejo seperti kehilangan napas.


Di dalam rumahnya, Raka masih berdiri di depan kamar dengan wajah pucat.


Tangannya menggenggam potongan kain putih yang ditemukan di bawah tempat tidurnya.


Tulisan merah di atas kain itu masih terlihat jelas.


WENINGREJO — MAKAM NOMOR 17.


Raka menatap tulisan tersebut cukup lama.


“Bu...”


Tidak ada jawaban.


Ia menoleh.


Ibunya duduk di lantai dengan kedua tangan menutupi wajah.


Tubuh perempuan itu gemetar.


“Ibu?”


Bu Sari perlahan menurunkan tangannya.


“Jangan pergi ke makam itu.”


Raka menghela napas.


“Justru karena Ibu melarang, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


“Kamu tidak mengerti.”


“Kalau begitu jelaskan.”


Bu Sari terdiam.


Raka berjongkok di hadapannya.


“Sejak tadi Ibu terus mengatakan bahwa semuanya berhubungan dengan masa lalu. Ayah mengenal Sulastri. Sulastri meninggal karena teluh. Sekarang perempuan itu datang kepadaku dan menyuruhku mencari makamnya.”


Raka menunjukkan kain putih di tangannya.


“Kalau Ibu tahu sesuatu, sekarang waktunya bicara.”


Bu Sari menatap kain itu.


Tatapannya berubah ketakutan.


“Itu bukan kain biasa.”


“Apa maksud Ibu?”


“Potongan kain seperti itu pernah ditemukan ketika Sulastri meninggal.”


Raka mengerutkan kening.


“Di mana?”


“Di dekat tubuhnya.”


Raka terdiam.


Bu Sari melanjutkan.


“Waktu itu semua orang mengira kain itu bagian dari pakaian Sulastri. Tapi beberapa hari setelah pemakaman, kain itu hilang.”


“Siapa yang mengambilnya?”


“Aku tidak tahu.”


“Apakah Ayah?”


Bu Sari tidak menjawab.


Raka mulai memahami sesuatu.


“Ibu tahu, kan?”


Perempuan itu menundukkan kepala.


“Ayahmu memang pernah mengambil sesuatu dari rumah Sulastri.”


“Apa?”


Bu Sari menggeleng.


“Aku tidak pernah melihatnya.”


“Tapi Ibu tahu.”


“Iya.”


“Apa yang diambil?”


Bu Sari mengusap air matanya.


“Sebuah benda kecil yang dibungkus kain putih.”


Raka menatap kain di tangannya.


“Seperti ini?”


Bu Sari mengangguk.


“Tapi benda itu tidak pernah ditemukan.”


“Ke mana Ayah membawanya?”


“Aku tidak tahu.”


Raka berdiri.


“Kalau begitu aku akan mencari tahu sendiri.”


Bu Sari langsung memegang tangan anaknya.


“Raka.”


“Apa?”


“Jangan sampai kamu mengulangi kesalahan ayahmu.”


Raka menatap mata ibunya.


“Kesalahan apa?”


Bu Sari menarik napas dalam-dalam.


“Kesalahan orang yang mengira sesuatu yang sudah mati tidak akan pernah kembali.”




Beberapa kilometer dari rumah Raka, di sebuah rumah tua yang berada di dekat sungai, seorang lelaki bernama Karto terbangun karena suara anjing menggonggong.


Usianya sekitar lima puluh tahun.


Ia tinggal seorang diri sejak istrinya meninggal.


Karto duduk di tempat tidur dan menatap jam dinding.


Jarumnya menunjukkan pukul 00.17.


Ia mengerutkan kening.


“Siapa yang masih keluyuran?”


Suara anjing semakin keras.


Karto turun dari tempat tidur.


Ia mengambil lampu senter lalu berjalan menuju jendela.


Saat tirai dibuka, halaman rumah terlihat kosong.


Tidak ada siapa-siapa.


Tetapi anjing milik tetangganya masih terus menggonggong ke arah jalan.


Karto membuka pintu.


“Hei!”


Anjing itu mendadak diam.


Karto melangkah keluar.


Udara malam terasa sangat dingin.


Ia mengarahkan senter ke jalan.


Kosong.


Namun hidungnya menangkap aroma yang membuatnya langsung berhenti.


Bunga kenanga.


Karto menoleh ke kiri dan kanan.


“Aneh.”


Kemudian ia mendengar suara.


Srakk...


Seperti seseorang menyeret kaki.


Suara itu berasal dari belakang rumah.


Karto menggenggam senter lebih erat.


“Siapa?”


Tidak ada jawaban.


Srakk...


Suara itu terdengar lagi.


Karto berjalan perlahan.


Ketika sampai di belakang rumah, ia melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku.


Ada seorang perempuan berdiri di bawah pohon mangga.


Rambutnya panjang.


Tubuhnya mengenakan kain putih kotor.


Wajahnya tidak terlihat.


Karto mundur.


“Siapa kamu?”


Perempuan itu diam.


Karto mengangkat senter.


Cahaya senter mengenai kakinya.


Kaki perempuan itu tidak menyentuh tanah.


Melainkan menggantung beberapa sentimeter di atas permukaan tanah.


Karto menjatuhkan senter.


“Astagfirullah...”


Perempuan itu perlahan mengangkat kepala.


Rambut yang menutupi wajahnya bergerak tertiup angin.


Namun angin tidak berembus ke arah Karto.


Hanya di sekitar perempuan tersebut.


Kemudian suara terdengar.


“Karto...”


Lelaki itu membeku.


“Siapa kamu?”


“Masih ingat aku?”


Karto mulai mundur.


“Tidak...”


“Benarkah?”


Perempuan itu tertawa kecil.


Suara tawanya terdengar seperti suara seseorang yang sedang menangis.


“Kau pernah membantunya.”


Karto menggeleng.


“Aku tidak tahu siapa kamu.”


Perempuan itu mengangkat tangan.


Jarinya menunjuk ke dada Karto.


“Pembohong.”


Karto tiba-tiba merasakan dadanya panas.


Ia terbatuk.


Kemudian sesuatu keluar dari mulutnya.


Sebuah kelopak bunga kenanga.


Karto memegang lehernya.


“Ahh...”


Napasnya mulai sesak.


Perempuan itu semakin dekat.


“Katakan pada mereka...”


Karto jatuh berlutut.


“...aku belum selesai.”


Tubuh perempuan itu menghilang.


Karto terkapar.


Beberapa menit kemudian, tetangganya menemukan lelaki itu sudah tidak bernyawa.


Di dada Karto terdapat sebuah tanda hitam berbentuk telapak tangan.


Dan tepat di samping tubuhnya...


terdapat bunga kenanga putih.




Pagi datang ke Desa Weningrejo.


Namun tidak membawa ketenangan.


Kabar kematian Karto menyebar dengan cepat.


Orang-orang berkumpul di depan rumahnya.


Tidak ada yang berani mendekati tubuh terlalu lama.


Mereka semua melihat tanda hitam di dada Karto.


“Apa itu?”


“Seperti bekas tangan.”


“Siapa yang melakukan?”


“Jangan bicara sembarangan.”


“Ini bukan kematian biasa.”


Bisik-bisik semakin ramai.


Di antara kerumunan itu berdiri seorang lelaki tua bernama Mbah Darman.


Ia dikenal sebagai salah satu orang yang paling memahami sejarah desa.


Tatapannya tertuju pada bunga kenanga yang diletakkan di samping tubuh Karto.


Wajahnya berubah.


“Jangan sentuh bunga itu.”


Semua orang menoleh.


“Kenapa, Mbah?”


Mbah Darman tidak menjawab.


Ia justru mengambil langkah mundur.


“Suruh semua orang keluar dari rumah ini.”


“Kenapa?”


“Karena ini baru permulaan.”


Seorang warga bertanya,


“Permulaan apa?”


Mbah Darman menatap makam tua di kejauhan.


“Teluh Mayit.”


Kerumunan langsung terdiam.


Beberapa orang saling berpandangan.


Seorang lelaki tua lain berkata,


“Jangan sebut nama itu.”


Mbah Darman menggeleng.


“Kalau dia sudah kembali, tidak ada gunanya lagi kita menyembunyikannya.”




Di rumah Raka, pagi itu terasa jauh lebih berat.


Raka tidak tidur semalaman.


Ia duduk di meja sambil menatap kain putih yang ditemukan tadi malam.


Di hadapannya terdapat secangkir kopi yang sudah dingin.


Pikirannya terus berputar.


Siapa Sulastri?


Mengapa ayahnya mengenal perempuan itu?


Apa hubungan ayahnya dengan kematian Sulastri?


Dan yang paling penting...


mengapa dirinya sekarang menjadi sasaran?


Bu Sari masuk membawa sebuah kotak kayu kecil.


Raka langsung menatap benda itu.


“Apa itu?”


“Ibu menemukan ini di kamar ayahmu.”


Raka berdiri.


“Kenapa baru sekarang?”


“Karena selama bertahun-tahun Ibu tidak berani membukanya.”


Kotak tersebut diletakkan di atas meja.


Warnanya hitam.


Permukaannya dipenuhi ukiran aneh.


Di bagian atas terdapat gambar seperti bunga yang dikelilingi garis-garis menyerupai akar.


Raka menyentuhnya.


Dingin.


Sangat dingin.


“Ibu yakin ini milik Ayah?”


“Yakin.”


“Sudah pernah dibuka?”


“Belum.”


Raka mencari pengunci kotak.


Tidak ada.


Ia mencoba mengangkat tutupnya.


Tidak bergerak.


“Bagaimana membukanya?”


Bu Sari menggeleng.


“Tidak tahu.”


Raka memperhatikan bagian bawah kotak.


Ada tulisan kecil.


Tulisan Jawa kuno.


Ia tidak bisa membacanya.


Namun ketika jarinya menyentuh tulisan tersebut, kepalanya tiba-tiba terasa sakit.


Duk!


Raka memegang pelipis.


“Ah...”


Bu Sari panik.


“Raka!”


“Aku tidak apa-apa.”


Raka menutup mata.


Dalam sekejap, sebuah bayangan muncul di pikirannya.


Seorang lelaki muda.


Ayahnya.


Berdiri di tengah hutan.


Di depannya terdapat seorang perempuan.


Sulastri.


Perempuan itu menangis.


“Aku percaya padamu.”


Ayah Raka terlihat memegang sebuah bungkusan kain putih.


“Aku akan mengembalikannya.”


Sulastri menggeleng.


“Jangan.”


“Aku hanya ingin menyelamatkanmu.”


“Kamu tidak mengerti.”


Sulastri menangis.


“Kalau benda itu keluar dari tempatnya, teluh akan mencari darahmu.”


Ayah Raka menatap bungkusan itu.


“Aku tidak takut.”


Sulastri menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.


“Suatu hari nanti...”


Ia berhenti.


“...anakmu yang akan membayar semuanya.”


Bayangan itu menghilang.


Raka membuka mata dengan napas tersengal.


Bu Sari memegang bahunya.


“Apa yang terjadi?”


Raka menatap kotak itu.


“Aku melihat Ayah.”


Bu Sari langsung pucat.


“Di mana?”


“Di hutan.”


Raka kemudian menyebut nama yang baru saja didengarnya.


“Sulastri.”


Bu Sari terdiam.


“Apa yang dia katakan?”


Raka menatap ibunya.


“Dia bilang...”


Raka menelan ludah.


“...suatu hari anak Ayah akan membayar semuanya.”


Bu Sari memejamkan mata.


Air matanya jatuh.


“Berarti sudah dimulai.”


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu.


Tok... tok... tok...


Raka dan Bu Sari saling memandang.


Ketukan itu terdengar tiga kali.


Sama seperti malam sebelumnya.


Raka berdiri.


“Jangan dibuka.”


Bu Sari mengangguk.


Namun kemudian terdengar suara seorang lelaki dari luar.


“Raka.”


Raka membeku.


Ia mengenali suara tersebut.


Suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah didengarnya.


Suara ayahnya.


“Raka...”


Raka perlahan mendekati pintu.


Bu Sari langsung menangkap lengannya.


“Jangan.”


“Tapi itu suara Ayah.”


“Raka, ayahmu sudah meninggal.”


Suara dari luar kembali terdengar.


“Raka... buka pintunya.”


Raka memejamkan mata.


“Siapa kamu?”


Tidak ada jawaban.


Kemudian suara itu berubah.


Bukan lagi suara ayahnya.


Melainkan suara perempuan.


“Bagus...”


Raka membuka mata.


“Dia mulai mengingat.”


Bu Sari mundur.


“Raka...”


Perempuan itu tertawa dari balik pintu.


“Datanglah ke makam nomor tujuh belas.”


Raka diam.


“Aku akan menunggumu.”


Kemudian suara tersebut menghilang.


Raka membuka pintu dengan cepat.


Tidak ada siapa-siapa.


Hanya sebuah benda tergeletak di depan pintu.


Sebuah kunci besi tua.


Di ujung kunci itu terdapat ukiran angka.


17.


Raka mengambilnya.


Saat tangannya menyentuh kunci tersebut, terdengar bisikan tepat di telinganya.


“Jangan percaya ibumu.”


Raka langsung berbalik.


Tidak ada siapa-siapa.


Ia menatap Bu Sari.


Untuk pertama kalinya, muncul keraguan di dalam dirinya.


Apa sebenarnya yang selama ini disembunyikan ibunya?


Dan mengapa semua jalan selalu mengarah kepada satu nama?


Sulastri.


Sementara jauh di utara desa, di balik pemakaman tua yang telah lama ditinggalkan, tanah di sebuah makam perlahan bergerak.


Tanah itu retak.


Sedikit demi sedikit.


Lalu sebuah jari pucat muncul dari dalamnya.


Di atas batu nisan yang hampir seluruh tulisannya telah hilang, hanya tersisa dua kata:


SULASTRI W.


Kemudian dari dalam liang terdengar suara lirih.


“Raka...”


Tanah kembali bergerak.


“Anakku...”


Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun...


mayit itu membuka mata.



-

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk