One Word Too Late

3 dibaca

A

Pagi yang ditunggu Ethan datang lebih lambat dari biasanya. Ia tiba di Sterling Financial Partners lima belas menit lebih awal, menyalakan komputer, lalu membuka sebuah dokumen kosong. Beberapa baris kalimat ia ketik tanpa benar-benar membaca isinya. Sekadar membuatnya terlihat sibuk.

”Hey, dude.”

Suara berat Derek membuat Ethan menghela napas pelan.

“Pagi sekali kau datang.”

Ethan segera menutup dokumen kosong itu dan menggantinya dengan kotak masuk email.

“Laporan kuartal. Deadline,” balas Ethan singkat.

“Yeah. Aku juga.”

Derek berdiri di depan mejanya dengan secangkir kopi. Ethan sudah bisa menebak arah pembicaraan berikutnya.

”Party last night?”

Ethan langsung menyesal telah bertanya.

”Like heaven.” Derek menyeringai. “Dua wanita pulang bersamaku. Kau tahu betapa—“

Langkah sepatu terdengar mendekat. Derek mendadak berhenti.

”Morning.”

Mendengar suara itu, Ethan seketika mendongak. Shamila berdiri beberapa langkah dari mereka dengan tas kerja di tangannya.

”Morning, Sham.” Derek langsung mengubah sikapnya. ”Coffee?”

”Thank you. Tapi aku belum ingin minum.”

Shamila menarik kursinya dan duduk.

Derek mengangkat bahu lalu pergi sementara Ethan kembali menatap layar.

Morning,” sapa Ethan. Matanya tetap terpaku pada layar komputer.

Morning.” Suara Shamila kembali terdengar dari sebelahnya.

Ethan tersenyum samar tanpa menoleh.

Ia tidak tahu mengapa ia selalu mengenali suara itu bahkan di tengah keramaian kantor.


Dua bulan berlalu tanpa sesuatu yang benar-benar istimewa. Setidaknya begitulah yang Ethan katakan kepada dirinya sendiri.

Pekerjaannya tetap sama. Deadline datang dan pergi. Klien berganti. Pasar naik turun.

Dan Shamila tetap duduk di meja sebelahnya.

Mereka terkadang pulang bersama sampai Grand Central. Tidak banyak bicara. Sesekali hanya membahas pekerjaan atau saling mengucapkan selamat malam sebelum naik kereta yang sama.

Namun Ethan mulai menyadari sesuatu.

Ia menyukai keberadaan wanita itu.

Shamila tidak banyak bicara. Ia juga tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian.

Ia berbicara dengan suara rendah, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah meninggikan suara bahkan ketika berhadapan dengan rekan kerja yang membuat kesalahan.

Ketika tertawa, ia hampir selalu menutup mulut dengan telapak tangan, seolah suara tawanya sendiri harus tetap berada dalam batas yang sopan.

Ia juga menjaga jarak dengan rekan kerja pria. Bukan dengan cara yang membuat orang merasa ditolak, melainkan dengan batas yang begitu alami hingga tak seorang pun merasa perlu mempertanyakannya.

”She’s Muslim.”

Itulah jawaban Julia ketika Ethan suatu hari bertanya dengan nada santai.

Ethan mengangguk.

Ia tahu apa arti Muslim dan apa itu Islam. Ia hanya tidak pernah memikirkan agama itu lebih dari sekadar sesuatu yang sesekali muncul di berita.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihatnya dalam diri seseorang yang ia kenal.

Dan semakin lama Ethan memperhatikan Shamila, semakin banyak hal kecil yang menarik perhatiannya.

Wanita itu selalu mendengarkan orang lain sampai selesai tanpa memotong pembicaraan. Ia mudah mengingat nama klien, bahkan detail kecil dari percakapan yang mungkin sudah dilupakan orang lain.

Saat makan, ia mengambil secukupnya dan menyuap perlahan. Ketika tersenyum, senyumnya muncul sedikit demi sedikit, seolah bermula dari sudut bibir sebelum akhirnya mengubah seluruh wajahnya.

Bahkan lesung pipit di pipi kirinya mulai menjadi sesuatu yang Ethan sadari.

Ia tidak pernah berniat mencari tahu tentang Shamila. Anehnya, tanpa pernah bertanya, ia justru mulai mengetahui banyak hal tentang wanita itu hanya dengan memperhatikannya.

Atau mungkin karena ia mulai terlalu sering memperhatikannya.

Dan yang lebih aneh lagi, Ethan tidak merasa keberatan.


Suatu sore, Julia mendatangi meja Ethan.

“Kau ikut makan malam, kan?”

Ethan bahkan tidak menoleh dari layar. “Tidak bisa. Aku ada janji.”

“Oh, ayolah.”

“Julia.”

“Ini surprise party.”

Ethan akhirnya menoleh. “Untuk siapa?”

Julia menunjuk meja di sebelahnya. “Shamila.”

Ethan termenung sesaat.

“Dia ulang tahun hari ini.”

Sore itu, Ethan baru mengetahui bahwa Shamila berusia dua puluh delapan tahun.

Tanpa sadar, ia menghitung selisih usia mereka.

Enam tahun.

Entah mengapa angka itu menetap lebih lama daripada seharusnya di kepalanya.


Malam itu mereka berkumpul di sebuah restoran tidak jauh dari kantor.

Shamila benar-benar terkejut. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tertawa pelan ketika semua orang meneriakkan ucapan selamat ulang tahun. Setelah itu ia berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Ethan tidak banyak bicara malam itu. Ia lebih sering memperhatikan Shamila dari tempat duduknya.

Wanita itu hanya mengambil sedikit makanan dan minumannya pun sederhana. Ketika seseorang menawarkan hidangan yang tidak ia inginkan, Shamila menolaknya dengan senyum kecil dan ucapan terima kasih. Tidak ada wajah masam atau penolakan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Tanpa tahu alasannya, Ethan memperhatikan hal-hal semacam itu. Padahal biasanya ia tidak peduli.

Tetapi malam itu, Ethan pulang dengan terlalu banyak hal tentang Shamila yang tersimpan di kepalanya.

Keesokan paginya, Ethan datang lima belas menit lebih awal seperti biasa. Namun Shamila sudah berada di mejanya.

“Hai.”

“Hai.”

Ethan baru hendak menyalakan komputer ketika melihat beberapa kotak makanan memenuhi meja wanita itu.

“Apa itu?”

Shamila tersenyum. “Tunggu sebentar. Yang lain belum datang.”

Beberapa menit kemudian, kantor mulai dipenuhi karyawan.

Shamila berdiri.

“Guys, aku bawa sarapan. Silakan dinikmati.”

Dalam hitungan detik, beberapa orang berkumpul di sekitar mejanya. Aroma rempah memenuhi ruangan.

Shamila mengambil piring kecil, menaruh satu porsi makanan, lalu menyerahkannya kepada Ethan.

“Coba ini.”

Ethan menerimanya lalu menyendok sesuap ke mulutnya.

“Enak,” komentarnya tulus.

Shamila tersenyum.

“Apa ini?” tanya Ethan.

“Halwa puri. Tapi aku membuatnya sedikit lebih ringan.”

Ethan mengambil satu suapan lagi.

“Enak.”

“Jangan lupa purinya.”

Ethan mengangguk. “Thanks, Sham.”

Julia datang dan langsung menatap meja yang penuh makanan.

“Sebanyak ini? Kau masak sendiri?”

Shamila mengangguk kecil. “Aku menyiapkannya di rumah.”

“Jam berapa kau bangun?”

“Sekitar jam empat.”

Julia membelalak. “Empat pagi?”

Shamila tersenyum. “Sudah biasa.”

“Dan kau melakukan semua ini sendirian?”

Shamila hendak menjawab ketika Julia kembali bertanya.

“Serius, bagaimana kau bisa?”

“Suamiku membantu,” jawab Shamila ringan.

Tangan Ethan berhenti. Sendok yang tadi bergerak menuju mulutnya tertahan di udara. Suara di sekitar mereka mendadak terdengar jauh.

Suami.

Satu kata.

Hanya satu kata.

Namun rasanya seperti sesuatu yang berat jatuh tepat ke dadanya.

Ethan menatap Shamila. Wanita itu masih tersenyum santai sambil menjelaskan sesuatu kepada Julia.

“Hamza suka sekali membantu di dapur,” katanya.

Ethan menelan ludah.

Hamza.

Nama itu terdengar asing. Tetapi sekarang nama itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui sejak awal.

Ethan menurunkan pandangan ke piringnya. Makanan yang beberapa detik lalu terasa lezat mendadak kehilangan rasanya.

Ia kembali ke mejanya tanpa mengatakan apa-apa.

Sepanjang hari itu, pekerjaan yang biasanya dapat diselesaikannya dengan mudah terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Angka-angka di layar tidak masuk ke kepalanya. Email yang dibaca berulang kali tetap tidak memiliki arti.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Ethan berharap jam kerja segera berakhir.

Ia ingin pulang. Ingin sendiri. Ingin kembali pada kehidupannya sebelum Shamila datang dan perlahan-lahan memenuhi ruang yang tidak pernah ia sadari kosong.

Namun semakin keras Ethan mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan kembali seperti semula, semakin jelas satu hal yang tidak bisa ia bantah.

Ia sudah terlambat.

Entah sejak kapan, Shamila Farooqi telah menjadi seseorang yang ia tunggu setiap pagi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk