1. The Man Behind The Glass

5 dibaca

A

Krek. Pensil krayon hitam itu patah di tangan Marcus.


Elena tidak bergerak. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap dua potong krayon di telapak tangannya. Napas Marcus mulai memburu, bahunya menegang.


Elena tidak buru-buru mengatakan, “Tidak apa-apa.” seperti kebanyakan orang dewasa lain. Kalimat semacam itu hanya akan menghapus emosi Marcus terlalu cepat dan menganggap rasa frustasinya tidak penting.


“Mau dibuang atau diperbaiki?” suara Elena terdengar tenang.


Marcus ragu-ragu. Ia meletakkan patahan krayon itu di atas meja. “Buang,” bisiknya pelan.


Elena mengangguk. Ia menyingkirkan sisa krayon hitam itu ke tepi meja, lalu menyodorkan krayon kuning sebagai gantinya. Marcus menerimanya, menarik napas panjang, dan kembali menggoreskan warna di atas kertas.


Lima belas menit kemudian, sesi selesai. Marcus pulang bersama ibunya dengan langkah yang jauh lebih ringan.


Elena masih berada di mejanya, mulai membereskan alat bermain, menyusun balok kayu, dan menumpuk kertas gambar, ketika ia merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ia mendongak, di balik kaca tebal ruang administrasi St. Jude Community Center, berdiri seorang pria.


Pria itu berpostur tinggi dan mengenakan jas dengan potongan mahal. Dia berdiri tenang, tidak sedang berbicara dengan siapa pun. Ia hanya diam di sana, dan ketika Elena membalas tatapannya, mata pria itu tidak berpindah sedikit pun.


Elena tidak tahu apa yang membuatnya waspada. Tidak ada yang dilakukan pria itu selain berdiri dan menatapnya. Namun tengkuknya terasa dingin, dan tubuhnya sudah lebih dulu menyadari sesuatu yang belum mampu dirumuskan pikirannya.


Elena kemudian melihat Jenny, direktur St. Jude, menghampiri pria itu di balik kaca. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia hanya melihat pria itu mengatakan sesuatu. Jenny tertawa kecil, sebuah gestur yang aneh karena Jenny jarang sekali terlihat santai di depan tamu. Kemudian, dalam hitungan detik, tawa Jenny lenyap. Ekspresi direktur itu berubah serius.


Tiga menit kemudian, langkah kaki terdengar mendekati area bermain. Pria itu turun ke lantai bawah.


“Nona Reid.” Pria itu berhenti di dekat meja dan mengulurkan tangannya. “Arthur Alderidge.”


Elena menyambut uluran tangannya. “Elena Reid, seperti yang mungkin Anda sudah tahu.”


“Anda terapis anak di sini?” tanya Arthur, menarik tangannya perlahan.


“Ya, Tuan Alderidge. Di divisi play therapy,” jawab Elena, menjaga nada suaranya tetap profesional.


“Saya perhatikan Anda tidak langsung mengganti krayonnya.” Tatapan Arthur turun sekilas ke meja tempat anak tadi duduk. “Apakah itu pendekatan standar Anda?”


Elena diam sebentar, pria ini memperhatikannya cukup lama untuk tahu apa yang terjadi dengan Marcus. “Saya mengembalikan kendali kepadanya,” jawab Elena tenang.


“Atau Anda hanya ingin melihat apakah dia akan memilih sendiri?”


“Anak-anak yang datang ke sini sering kali merasa tidak berdaya. Di ruangan ini, saya ingin mereka tahu bahwa keputusan mereka punya kekuatan,” terang Elena menjawab pertanyaan lanjutan itu.


Elena merasa posisi mereka telah berubah. Bukan lagi seorang tamu yang bertanya kepada terapis, melainkan seseorang yang sedang menilai apakah dirinya layak memenuhi sesuatu yang bahkan belum ia ketahui.


Arthur memiringkan kepalanya sedikit. “Saya rasa kita akan bertemu lagi, Ms. Reid,” Arthur mengatakannya seperti sebuah kepastian sederhana.


Pria itu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Elena tetap mematung di tempatnya. Ia tidak paham mengapa satu kalimat perpisahan yang begitu sopan bisa terdengar seperti ancaman yang membuat tengkuknya dingin.


Hanya berselang beberapa menit, pintu ruangan kembali terbuka. Jenny melangkah masuk dengan cepat. Wajah direktur yayasan itu tampak tegang.


“Elena,” panggil Jenny, suaranya ditekan agar tidak menarik perhatian. “Arthur Alderidge ingin berbicara denganmu.”

Elena mengernyitkan dahi. “Tentang apa?”


Jenny terlihat ragu sebelum akhirnya menjawab, “Tentang keponakannya.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk