Elena mengernyit. Selama beberapa detik, pikirannya mencoba meraba arah pembicaraan ini. Jika seorang pria dengan setelan jas mahal seperti Arthur Alderidge datang ke St. Jude, biasanya itu hanya untuk tiga hal: konsultasi donasi, mencari celah pajak, atau meminta rekomendasi terapis untuk kerabat jauh.
Arthur menunggu di ruang kantor Jenny. Elena berjalan menuju ke sana sambil menerka apa yang terjadi dengan keponakan Arthur sampai dia harus datang sendiri ke sini untuk meminta bantuan.
“Saya membutuhkan bantuan Anda untuk keponakan saya,” ucap Arthur begitu pintu tertutup. Pria ini bahkan tidak membuang waktu untuk basa-basi.
Elena mengambil tempat duduk di seberangnya, “Apa masalahnya?”
“Dia tidak berbicara.”
Arthur tidak langsung menceritakan semuanya. Pria itu menyajikan informasi seperti kepingan yang hanya akan dia lepaskan jika diminta. Elena tahu ia harus menggali.
“Berapa usianya?” tanya Elena.
“Enam tahun. Namanya Theo.”
“Sejak kapan dia berhenti berbicara?”
Ada jeda sebelum Arthur menjawab. “Tiga minggu lalu. Sejak ibunya meninggal.”
Elena menahan napasnya pelan. Kehilangan orang tua secara mendadak adalah trauma besar bagi anak usia enam tahun. “Selain itu, apa lagi yang dia tunjukkan?”
“Dia menghindari interaksi dengan siapa pun,” jelas Arthur, matanya tidak beranjak dari wajah Elena. “Dia ketakutan terhadap suara keras. Sangat sensitif terhadap suara pintu yang ditutup, langkah kaki, atau nada suara tertentu. Beberapa profesional sudah mencoba menanganinya dalam tiga minggu terakhir. Mereka semua gagal.”
Arthur sama sekali tidak menyebutkan bagaimana ibu Theo meninggal, atau apa yang sebenarnya dilihat anak itu. Elena tahu ia sebaiknya tidak mendesak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu di pertemuan pertama ini.
“Kalau begitu, kenapa saya?” Elena menantang tatapan pria itu. “Jika para ahli sebelumnya gagal, apa yang membuat Anda berpikir saya bisa membantu keponakan Anda?”
“Karena Marcus.”
Alis Elena terangkat, menunggu lanjutan kalimat Arthur.
“Saya melihat apa yang Anda lakukan di bawah tadi,” lanjut Arthur. “Anda memberinya pilihan ketika dia kehilangan kendali. Kebanyakan orang dewasa akan mengambil alih masalahnya, atau meremehkan rasa frustrasinya. Anda tidak melakukan itu.”
Elena merasa sedikit mual mendengar observasi Arthur yang terlalu tajam. Pria ini benar-benar memperhatikannya, membedah metodenya hanya dari satu insiden kecil. Arthur kemudian mulai menjabarkan hal-hal yang tidak mungkin dia ketahui hanya dari mengamati dari balik kaca.
“Anda adalah seorang play therapist dengan sertifikasi trauma. Anda telah bekerja di sini selama lima tahun, memiliki tingkat keberhasilan tinggi dengan anak-anak dari latar belakang rumah tangga yang tidak stabil, dan jadwal praktik Anda cukup fleksibel bulan ini karena dua pasien Anda baru saja selesai masa terminasi.”
Elena menatapnya dengan rahang sedikit menegang. “Berapa lama Anda sudah menyelidiki saya?”
Arthur tidak menyangkal. “Cukup untuk tahu Anda orang yang tepat.”
“Jika saya mengambil kasus ini,” kata Elena, suaranya berubah tajam, “saya yang menentukan batasannya. Saya tidak bisa bekerja dengan Theo kalau Anda atau siapa pun memaksakan metode tertentu. Tidak boleh ada campur tangan keluarga selama sesi berlangsung. Theo tidak akan dipaksa untuk berbicara jika dia belum siap. Dan yang terpenting, Anda tidak bisa menuntut hasil dalam deadline yang Anda tentukan sendiri.”
Elena bersiap menerima bantahan atau negosiasi.
Tetapi Arthur hanya mendengarkan dalam diam. Ketika Elena selesai, pria itu memiringkan kepalanya. “Apa lagi?”
Elena sedikit terkejut karena Arthur membiarkannya menentukan semua syarat tanpa perlawanan. “Itu saja,” jawab Elena waspada.
“Bagus,” ucap Arthur. “Mengenai kompensasi, saya bersedia mengganti seluruh proyeksi penghasilan Anda selama setahun penuh ke depan jika Anda mendedikasikan waktu Anda untuk kasus Theo.”
Sebelum Elena sempat menolak tawaran angka yang fantastis itu, Arthur menambahkan, “Dan sebagai komitmen terhadap institusi ini, saya akan mendanai sepenuhnya perekrutan dan gaji lima terapis baru di St. Jude selama tiga tahun.”
Napas Elena tertahan. Pria ini tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Arthur tahu uang tidak akan bisa membeli Elena. Dia menggunakan hal yang Elena sangat pedulikan, yaitu anak-anak. Dia membuat penawaran yang tidak bisa Elena tolak karena perempuan itu akan merasa egois kalau sampai menolak kesempatan untuk membantu puluhan anak lain di St. Jude.
“Anda tidak meminta bantuan saya,” desis Elena. “Anda sedang menjebak saya.”
“Saya hanya menawarkan kondisi yang saling menguntungkan,” balas Arthur tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kemudian, sorot mata pria itu sedikit berubah. “Lagi pula, Nona Reid... saya tidak meminta Anda untuk membuat Theo kembali berbicara.”
Elena benar-benar tidak menduga kalimat tersebut. “Lalu apa yang Anda inginkan?”
Arthur menatapnya. Elena melihat sesuatu yang tulus. Sesuatu yang nyaris terasa seperti keputusasaan yang ditekan dalam-dalam.
“Saya ingin dia merasa aman.”
Mereka saling diam untuk beberapa saat sebelum Arthur berdiri dari kursinya, “Mobil akan menjemput Anda pukul empat.”
Nada perintah itu muncul lagi. Nada yang membuat insting Elena langsung menolak. “Saya belum mengatakan ya.”
Arthur sama sekali tidak terlihat terganggu oleh penolakan tersebut. “Saya tahu,” ucapnya pelan. “Kalau begitu, saya akan menunggu jawaban Anda.”
Pria itu meninggalkan ruangan, meninggalkan Elena dengan beban pilihan yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Elena awalnya merasa sedang dimanipulasi dan saat ini ia tahu ia memang sedang dimanipulasi. Namun, setelah mendengar kalimat terakhir Arthur, ada dorongan lain yang tumbuh. Ia ingin melihat anak itu. Ia ingin melihat seperti apa ketakutan yang membuat Arthur Alderidge harus datang mencarinya.
Pukul tiga lewat lima puluh lima menit.
Elena masih berdiri di dekat jendela kantornya, memandang ke arah jalan. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari Jenny.
From: Jenny Lewis
Mobil Tuan Alderidge sudah sampai di depan.
Elena melihat ke bawah. Sebuah sedan hitam menepi dengan tenang di depan pintu masuk St. Jude. Sopirnya tidak membunyikan klakson. Tidak ada paksaan. Hanya sebuah tawaran diam yang menunggu dijawab.
Elena tahu ia masih bisa mengatakan tidak. Ia bisa berbalik, membereskan tasnya, dan pulang ke apartemennya yang tenang. Ia bisa mengabaikan manipulasi itu, tetapi di tengah kebimbangannya, suara rendah Arthur kembali bergema.
“Saya ingin dia merasa aman.”
Elena mengembuskan napas panjang lalu meraih tasnya dari atas meja. Ia melangkah keluar ruangan dan berjalan melewati pintu kaca St. Jude menuju mobil yang menunggunya.
Ia akan datang bukan karena Arthur Alderidge. Ia datang karena Theo.
Dan hari itu, Elena Reid memilih memasuki dunia Arthur Alderidge dengan kedua kakinya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!