Unusual Breakfast

1 dibaca

A

Elena baru saja selesai mandi. Ia kemudian berdandan dan mengenakan blus dan celana panjang miliknya, pakaian yang dibawakan dari apartemennya atas perintah Arthur. Saat menyisir rambut, Elena memandang sekeliling. Semua yang ia perlukan ada di sini. Laptopnya ada di meja, pelembap wajahnya ada di wastafel, dan buku novelnya tergeletak di atas nakas.

Ia bisa meneruskan kehidupannya di mansion ini tanpa perlu kembali ke apartemennya sama sekali. Tidak ada kebutuhannya yang kurang, tetapi kenyataan itulah yang membuat perut Elena melilit tak nyaman. Sangkar ini terlalu mudah untuk ditinggali.

.Elena mengembuskan napas panjang, meletakkan sisirnya, lalu berjalan keluar kamar untuk turun ke ruang makan.

Arthur Alderidge sudah berada di sana. Di tangan kirinya terdapat secangkir kopi, sementara tangan kanannya membalik halaman sebuah dokumen tebal. Seorang pelayan perempuan mendekati Elena begitu ia duduk, menuangkan kopi panas ke dalam cangkir porselen di hadapannya.

“Gula, Nona?” tanya pelayan itu sopan.

Elena baru saja hendak menggeleng ketika Arthur memotong, “Tanpa gula.”

Pelayan itu mengangguk dan mundur tanpa suara.

Elena perlahan mengangkat wajah dan menatap pria di seberangnya. Arthur bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen.

“Terima kasih. Ternyata Anda ingat?” tanya Elena.

Arthur membalik satu halaman lagi. “Hanya memperhatikan,” jawab Arthur datar.

Untuk sesaat, Elena tidak tahu apakah ia harus merasa tersanjung karena pria ini mengingat detail sekecil itu dari makan malam mereka, atau justru merasa semakin waspada karena Arthur terus merekam segala sesuatu tentang dirinya.

Elena meraih cangkirnya. “Anda selalu bekerja saat sarapan?”

“Tidak,” jawab Arthur.

“Buktinya, sekarang?”

Kali ini, Arthur mengangkat wajahnya, “Kali ini, saya sedang menyelesaikan pekerjaan.”

“Harus di waktu sarapan?”

“Ada yang salah dengan kegiatan saya waktu sarapan, Nona Reid?”

“Cuma aneh. Karena kegiatan Anda, meja sarapan pagi ini suasananya jadi mirip dengan ruang direksi,” balas Elena.

Arthur terdiam sedetik, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Sudut matanya berkerut tipis dan secara tidak masuk akal, jauh lebih menarik. Elena segera membuang pandangannya ke arah jendela. Melihat kemungkinan Arthur menjadi sosok yang hangat dan menyenangkan adalah hal yang berbahaya.

Langkah kaki kecil yang ragu terdengar memasuki ruangan. Theo.

Anak laki-laki itu masih mengenakan piyama, menyeret boneka kelinci berwana coklat di tangan kirinya. Biasanya, Theo selalu sarapan sendiri di kamar atau bersama pengasuhnya. Begitu melihat Elena, langkah Theo terhenti.

“Pagi, Theo,” sapa Elena lembut sambil tersenyum kecil.

Theo tidak menjawab. Anak itu lantas berjalan mendekati meja, melewati deretan kursi kosong, dan menarik kursi tepat di sebelah Elena.

Arthur melihat pilihan itu. Pria itu menatap Elena, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Elena tidak membesar-besarkan momen tersebut agar Theo tidak merasa sedang menjadi pusat perhatian.

Sarapan berjalan dalam keheningan. Saat Theo tampak kesulitan membuka tutup selai stroberi kecil di dekat piringnya, Elena dengan santai mengambil alih, membukakannya, lalu menggesernya kembali tanpa banyak bicara.

“Apa?” tanya Elena saat ia mendapati Arthur sedang menatapnya.

“Tidak ada,” jawab Arthur.

“Kenapa melihat saya seperti itu?”

“Cuma mengamati.”

“Sama saja.”

Arthur tersenyum tipis, menyesap kopinya dengan santai. “Anda selalu sensitif seperti ini sebelum cangkir kopi kedua?”

Elena mendengus. “Coba saja lihat lagi setelah kopi kedua.”

Arthur kembali tertawa tertahan.. Untuk beberapa saat di ruang makan, ketegangan di antara mereka menguap. Hanya percakapan singkat, aroma kopi, dan seorang anak kecil yang sibuk mengoleskan selai.

Setelah Theo selesai sarapan dan dibawa oleh pengasuhnya untuk bersiap-siap, Elena menyampaikan pendapatnya sebagai terapis Theo. “Menurut saya, terlalu banyak hal di rumah ini yang dikontrol di sekitar Theo. Pintu-pintu utama selalu ditutup rapat. Staf selalu mengantisipasi kebutuhannya sebelum dia meminta. Rumah ini dibuat hening sedemikian rupa. Dan hampir setiap saat, dia selalu diarahkan sebelum sempat membuat pilihan sendiri.”

Raut wajah Arthur langsung berubah kaku. “Semua itu dilakukan agar dia aman.”

“Saya tahu,” balas Elena tenang.

“Lalu apa masalahnya?”

“Masalahnya adalah, dia perlu belajar bahwa rasa takut tidak selalu berarti ada bahaya.” Elena menatap Arthur dengan serius. “Jika Anda terus menyingkirkan semua hal yang mungkin membuatnya takut, dia tidak akan pernah belajar menghadapinya.”

Arthur mengerutkan kening. “Dan kalau pilihan itu justru membuatnya panik?”

“Saya akan berada di dekatnya,” jawab Elena mantap.

“Anda akan membiarkannya mengambil pilihan yang salah?”

“Kalau pilihan itu tidak membahayakan secara fisik, saya akan biarkan.”

Arthur menatap Elena dalam-dalam, seolah sedang menimbang kata-katanya. “Anda benar-benar percaya bahwa anak enam tahun yang trauma harus diberi pilihan sebanyak itu?”

“Saya percaya anak enam tahun perlu tahu bahwa hidupnya masih miliknya.”

Hening seketika membekap ruang makan itu. Elena menatap Arthur, dan Arthur balas menatapnya.  Arthur tidak membalas. Pria itu hanya menatapnya lama, lalu bangkit berdiri, membawa diamnya keluar dari ruangan.


Satu jam kemudian, sesi terapi dimulai.

Elena dan Theo sedang menyusun balok-balok kayu di atas karpet ketika Elena menyadari ada hal yang berubah. Pintu besar di ujung lorong luar, yang biasanya selalu tertutup rapat dan dijaga, kini dibiarkan terbuka sedikit. Tidak ada pengumuman dari Arthur. Pintu itu hanya dibiarkan terbuka, membiarkan sedikit celah udara dan cahaya masuk.

Theo ternyata menyadarinya. Anak itu berhenti menyusun balok. Matanya terpaku pada celah pintu itu. Tubuhnya sedikit menegang.

Elena hanya duduk di tempatnya. “Kamu boleh melihatnya kalau kamu mau, Theo,” ujar Elena pelan.

Theo menatap Elena, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia berjalan ke arah pintu. Tangan kecilnya mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar. Anak itu mengintip ke luar. Tidak ada bahaya. Theo melepaskan napasnya, membiarkan pintu itu terbuka, lalu berlari kecil kembali ke sisi Elena dan melanjutkan susunan baloknya.

Itu adalah kemenangan kecil yang luar biasa.

Setelah sesi selesai, Elena melangkah keluar dari ruangan. Seperti biasa, Arthur sudah berada di lorong. Elena berjalan mendekat, “Anda membiarkan pintunya terbuka.”

“Sesuai saran Anda,” sahut Arthur tenang.

Elena melirik, “Jadi, sekarang Anda mendengarkan saran saya?”

Arthur membalas sedikit kesal, “Saya tidak membayar mahal seorang profesional untuk mengabaikan apa yang dia katakan.”

“Saya kira Anda tidak suka diberi tahu apa yang harus dilakukan,” balas Elena, nadanya sedikit menantang.

“Saya memang tidak suka.” Arthur menatap Elena dan diam beberapa saat. “Tapi ada sesuatu yang lain dari Anda.”

Jantung Elena berdebar dan jalur napasnya tiba-tiba terasa sempit. Ia berusaha mencari tanda manipulasi di wajah pria itu, tetapi gagal karena Arthur terlihat sepenuhnya jujur.

Arthur memecah kecanggungan itu dengan mengubah arah pembicaraan.”Kenapa Anda memilih bekerja dengan anak-anak?” tanya Arthur.

“Karena orang dewasa sering menganggap anak-anak tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Mereka pikir anak-anak bisa dibohongi dengan mudah,” jawab Elena sambil membuang pandangan ke lorong.

“Dan Anda tidak setuju?”

“Anak-anak mungkin tidak mengerti semuanya,” suara Elena merendah. “Tapi mereka selalu merasakan sesuatu. Ketakutan, kesedihan, kehilangan... mereka merasakannya sama hancurnya dengan kita, hanya saja mereka tidak punya kosakata untuk menjelaskannya.”

Arthur terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Saat Elena menunduk, ia melihat noda warna di tangannya.

“Tangan Anda,” ucap Arthur tiba-tiba.

Elena mengerutkan kening, “Apa?”

“Krayon,” Arthur menunjuk dengan dagunya.

Arthur mengangkat tangannya, seolah hendak menyapu noda biru di punggung tangan Elena dengan ibu jarinya. Namun, hanya beberapa sentimeter sebelum kulit mereka bersentuhan, Arthur berhenti dan menyadari batasannya. Elena menelan ludah, buru-buru mengusap noda itu dengan ibu jarinya sendiri.

“Saya bisa bersihkan sendiri,” gumam Elena sedikit serak.

Tangan Arthur turun kembali ke sisinya. “Saya tahu.”


Elena sedang duduk di kursi baca di kamarnya malam harinya. Sejak tinggal di mansion ini, kehidupannya hanya berkutat di interaksi bersama Theo dan Arthur. Itu artinya dia punya banyak waktu luang untuk membaca buku-buku yang lama tak disentuhnya.

Tok. Tok.

Suara ketukan pelan terdengar di pintu. Elena berdiri dan membuka pintu. Arthur berdiri di sana dengan sweater berwarna gelap.

“Ada apa?” tanya Elena dengan tangannya masih memegang kenop pintu.

Arthur menatapnya lekat-lekat. “Saya ingin menunjukkan sesuatu.”

Kening Elena berkerut dalam, “Sekarang? Selarut ini?”

“Sekarang.”

Elena menahan napas curiga. Ia tak bisa membaca ekspresi Arthur, “Tentang apa?”

“Tentang Bella,”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk