Tiga koper itu berdiri di atas karpet.
Elena masih mematung di ambang pintu, “Kapan barang-barang ini diambil?” suaranya terdengar lebih rendah menahan kemarahan yang mulai mendidih di dadanya.
Pelayan wanita itu menunduk sedikit lebih dalam, menghindari tatapan Elena. “Tadi malam, Nona.”
Tadi malam.
Saat ia sedang duduk di ruang makan, mencicipi anggur mahal, dan bertukar kalimat sarkastik dengan Arthur Alderidge, orang-orang suruhan pria itu sedang menyusup masuk ke dalam apartemennya.
Elena melangkah melewati pelayan itu, mendekati koper yang setengah terbuka. Barang-barangnya benar-benar lengkap. Di sana ada pouch kosmetiknya, charger laptopnya, buku catatan kerjanya, bahkan buku novel yang baru ia baca separuh jalan yang ia tinggalkan di atas nakas sebelah tempat tidurnya.
Elena menutup koper itu dengan sekali sentakan keras. Ia berbalik menatap sang pelayan.
“Di mana Tuan Alderidge?”
“Di ruang kerja utama, Nona. Di lantai…”
Sebelum pelayan itu selesai bicara, Elena melangkah keluar dari kamar. Ia menuruni tangga utama dengan langkah cepat. Saat pintu ruang kerja Arthur berdiri di hadapannya, Elena dengan sengaja tidak mengetuk, Ia mendorongnya terbuka.
Arthur Alderidge sedang membaca sebuah dokumen. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, terlihat begitu tenang. Seolah tidak ada satu pun hukum di dunia ini yang baru saja ia langgar. Mendengar pintu terbuka, Arthur mengangkat pandangannya. Matanya bertemu dengan kilat kemarahan di mata Elena.
“Selamat pagi,” sapa Arthur sopan.
Elena berjalan mendekat hingga tubuhnya nyaris menyentuh tepi meja kerja Arthur. “Anda masuk ke apartemen saya.”
Arthur menutup map di tangannya. “Saya mengambil barang-barang Anda.”
“Tanpa izin.”
“Ya.”
Tidak ada penyangkalan. Arthur terlalu percaya diri untuk merasa perlu berbohong.
“Anda sadar itu adalah pelanggaran privasi?” desis Elena, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Itu pembobolan, Mr. Alderidge.”
“Saya sadar.”
“Dan Anda tetap melakukannya.”
“Ya.”
Tangan Elena terkepal di sisi tubuhnya. Pria ini bahkan tidak merasa bersalah. Dalam kepala Arthur, seluruh dunia bekerja berdasarkan logika dan kebutuhannya. “Anda pikir Anda siapa?”
Arthur menatapnya dengan ketenangan yang nyaris tidak manusiawi. “Anda memutuskan untuk tinggal di sini.”
“Saya tidak pernah memutuskan itu!” sergah Elena cepat.
Arthur berhenti sebentar, “Anda menghabiskan malam di sini.”
“Karena Anda tidak mengizinkan saya pulang!”
“Dan pagi ini Anda masih di sini,” balas Arthur tidak terpancing sedikit pun.
“Karena Anda mengambil barang saya.” Elena menekan setiap kata, dadanya penuh dengan emosi. “Anda menjebak saya.”
“Saya memastikan Anda tidak perlu membuang waktu kembali ke kota hanya untuk mengambilnya,” Arthur menjelaskan logikanya. “Theo membutuhkan Anda hari ini. Ini adalah solusi yang paling efisien.”
Elena menarik napas panjang dan menatap lurus ke dalam sepasang mata di hadapannya. “Dengar baik-baik, Tuan Alderidge,” ucap Elena, suaranya kini sama datarnya dengan suara Arthur. “Anda boleh mengatur keamanan rumah ini. Anda boleh mengatur staf Anda. Anda bahkan boleh mengatur jadwal Theo kalau itu memang tanggung jawab Anda. Tapi Anda tidak mengatur hidup saya.”
Arthur terdiam. Pandangannya tidak lepas sedetik pun dari bibir Elena.
“Saya bukan salah satu aset Anda,” tegas Elena.
Arthur menatapnya lama. “Saya tidak pernah menganggap Anda sebagai aset,” ucap Arthur akhirnya.
“Kalau begitu jangan perlakukan saya seperti itu,” balas Elena tanpa ragu.
“Kalau saya meminta izin kepada Anda tadi malam,” Arthur memulai sambil menyandarkan punggung ke kursinya, “apakah Anda akan memberikannya?”
Elena terdiam seketika. “Tidak.”
“Itulah masalahnya.”
“Bukan.” Elena menggeleng tegas, menolak masuk ke dalam kerangka berpikir pria itu. “Masalahnya adalah Anda merasa jawaban saya tidak penting. Anda merasa berhak melewati kata ‘tidak’ saya hanya karena Anda bisa melakukan apapun.”
“Baik,” ucap Arthur pelan.
Elena sedikit terkejut, namun ia menyembunyikannya dengan baik.
“Mulai sekarang,” lanjut Arthur, menatap mata Elena, “saya akan meminta izin sebelum menyentuh barang pribadi Anda atau kehidupan Anda di luar rumah ini.”
Elena tidak langsung percaya. Pria ini tidak mungkin berubah menjadi orang baik hanya dalam satu menit. “Dan kalau saya bilang tidak?” tantang Elena.
“Saya akan mempertimbangkannya.”
Elena mendengus tak percaya. “Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban paling jujur yang bisa saya berikan kepada Anda saat ini, Nona Reid.”
Sebelum Elena sempat membalas, sebuah gerakan kecil di ambang pintu menarik perhatian mereka berdua.
Keduanya menoleh. Di sana, di ujung lorong yang temaram, berdiri Theo.
Anak laki-laki itu mengenakan piyama bergambar planet, memegang satu krayon biru di tangan kirinya. Ia tidak berbicara. Matanya menatap ruang kerja itu dengan waspada. Arthur langsung menegakkan tubuhnya. Namun, sebelum Arthur sempat berdiri dan menghampiri, Theo sudah lebih dulu melangkah maju.
Langkah kecil itu tidak mengarah ke meja kerja pamannya.
Theo berjalan langsung menuju Elena.
Ia berhenti tepat di samping kaki Elena, mendongak sedikit, lalu menatap perempuan itu dalam diam. Elena menunduk. Amarah yang tadi memenuhi dadanya perlahan mereda ketika melihat anak itu berdiri di sampingnya.
Di balik meja, Arthur melihat pemandangan itu. Pria itu diam, tetapi raut wajahnya menunjukkan kelegaan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Arthur, Elena mengulurkan tangannya pada Theo. Theo berjalan mendahuluinya keluar dari ruang kerja. Elena mengikutinya dari belakang. Arthur tidak menghentikan mereka.
Mereka masuk ke ruang bermain. Theo duduk di atas karpet kesukaannya. Ia meletakkan krayon biru di lantai, lalu meraih krayon kuning dari dalam kotak, dan mendorong krayon kuning itu ke arah Elena.
Satu untuk dirinya. Satu untuk Elena.
Elena tersenyum tipis. Ia melipat kakinya dan duduk di atas karpet. Mereka mencoret-coret kertas dalam kesunyian yang nyaman. Setelah sepuluh menit hanya terdengar gesekan krayon di atas kertas, suara serak dan pelan memecah kesunyian.
“Kamu pulang?”
“Belum,” tangan Elena terhenti. Itu adalah pertanyaan pertama Theo yang benar-benar ditujukan kepadanya. Elena menatap anak itu.
“Kenapa?” Theo menatap dengan mata besarnya yang polos.
Elena melirik sekilas ke arah pintu ruang bermain yang terbuka. Ia menarik napas, lalu tersenyum kecil dengan nada yang sedikit menggoda. “Karena sepertinya pamanmu belum mengizinkan aku pulang.”
Theo kembali menatap gambarnya. Tangan kecilnya menggenggam krayon biru itu sedikit lebih erat. “Jangan pergi.”
Dua kata itu diucapkan dengan volume yang sangat pelan. Itu bukan sekadar rengekan anak kecil yang ingin teman bermain. Itu adalah permohonan dari seorang anak yang dunianya telah dihancurkan oleh kehilangan, dan kini mati-matian menggenggam seorang asing yang entah bagaimana berhasil membuatnya merasa tidak terancam.
Elena terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia menyadari betapa rentannya anak ini. Namun, sebelum Elena sempat memberikan jawaban, ekor matanya menangkap pergerakan halus di ambang pintu.
Elena mendongak perlahan. Di luar ruang bermain, berdiri Arthur. Pria itu tidak bersuara. Elena tidak tahu sudah berapa lama Arthur berdiri di sana, tetapi melihat tatapannya yang terpaku pada mereka, Elena tahu pria itu mendengar semuanya.
Perlahan, mata Arthur bergeser dari sosok kecil Theo di atas karpet, lalu naik, mengunci pandangan Elena. Ekspresi Arthur tetap tidak terbaca, tetapi Elena melihat sebuah perubahan kecil di mata pria itu.
Elena tidak bisa membaca pikiran Arthur. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu, tetapi tatapan Arthur tidak beranjak dari dirinya. Ia tak tahu apa sebabnya, tengkuknya kembali terasa dingin.
Elena merasa permintaan Theo barusan telah mengubah sesuatu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!