Elena baru sadar bahwa ia mungkin sedang membuat kesalahan saat suara gerbang besi yang berat itu tertutup rapat di belakang sedan yang membawanya.
Bum.
Bunyi logam yang saling beradu itu menggema pelan. Ia kini resmi berada di dalam wilayah Alderidge.
Perempuan itu memandang ke luar jendela mobil yang berjalan pelan menyusuri jalan berkerikil yang panjang. Kediaman keluarga Alderidge jauh dari kesan menyeramkan. Sebuah mansion batu abu-abu yang megah, dikelilingi hamparan rumput dan pohon-pohon rindang yang tertata sempurna. Tetapi, bukan kemegahan ini yang membuat Elena waspada.
Tempat ini terlalu sempurna. Sejauh ini, Elena sudah menangkap ada tiga kamera keamanan yang tersembunyi dengan apik di balik dahan pohon. Dua petugas keamanan berjas gelap berdiri diam di dekat pilar gerbang utama. Tidak ada sepeda anak-anak yang tergeletak sembarangan di halaman. Tidak ada suara tukang kebun yang berseru atau tawa pelayan yang samar terdengar.
Rumah ini indah, tetapi lebih mirip seperti sebuah bangunan dengan keamanan tingkat tinggi yang menyamar menjadi tempat tinggal.
Mobil berhenti tepat di depan undakan tangga utama. Pintu Elena dibukakan oleh sopir. Elena sedikit dibuat terkejut oleh sosok yang sudah berdiri menunggunya di teras, Arthur Alderidge menyambutnya sendiri.
Pria itu tidak mengenakan setelan jas formal seperti saat di St. Jude. Arthur memakai kemeja gelap berlengan panjang, dipadukan dengan celana panjang. Dia tidak tersenyum atau mengulurkan tangan.
“Perjalanan Anda nyaman, Nona Reid?” sapa Arthur seperlunya.
“Cukup nyaman, terima kasih,” jawab Elena dengan nada suara netral.
Arthur mengangguk singkat dan berbalik, memimpin jalan masuk. “Theo ada di lantai atas.”
Begitu melewati pintu utama, Elena langsung merasakan perubahan. Suasana di dalam mansion itu begitu hening. Rumah sebesar ini seharusnya memiliki bising kehidupan seperti derap langkah kaki atau percakapan penghuninya. Namun, sepinya tempat ini seperti perpustakaan pribadi yang tertutup untuk umum.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong, mata Elena mulai menangkap detail-detail kecil. Ia melihat lensa kamera sekecil titik di sudut-sudut plafon dan ada pintu-pintu yang dipasangi panel keamanan elektronik. Beberapa staf berseragam melintas, tetapi mereka bergerak seperti bayangan, mengangguk hormat tanpa bersuara. Mereka seolah tahu persis kapan harus hadir dan kapan harus menghilang.
“Rumah ini memang selalu setenang ini?” tanya Elena tidak mampu menahan rasa penasarannya.
Langkah Arthur tidak melambat, tetapi suaranya merendah saat ia menjawab. “Sejak Theo berhenti berbicara.”
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi membawa informasi penting untuk Elena. Arthur tidak cuma mencari terapis, ia telah mengubah seluruh rumah raksasa ini demi menyesuaikan diri dengan ketakutan keponakannya. Dedikasi macam apa yang membuat seseorang membungkam satu rumah hanya karena seorang anak tidak tahan mendengar suara keras?
Mereka tiba di depan sebuah pintu di sayap barat lantai dua. Sebelum meraih gagang pintu, Arthur berhenti dan menoleh pada Elena. “Dia tidak suka orang asing yang masuk tiba-tiba,” Arthur memberi peringatan. “Jangan sentuh dia, kecuali dia yang mengizinkan.”
“Saya mengerti,” balas Elena lembut.
Arthur membuka pintu.
Kamar itu sangat luas, dipenuhi cahaya matahari dari jendela-jendela besar. Ada mainan-mainan mahal berserakan di karpet yang tebal. Namun, Elena tidak melihat seorang anak yang sedang bermain.
Di sudut ruangan, Theo memunggungi dinding sehingga ia bisa melihat langsung ke arah pintu.
Anak laki-laki berusia enam tahun itu duduk dengan kedua lutut ditarik ke dada. Balok-balok susun dan mobil-mobilan berada di sekitarnya, tetapi tangannya diam di atas pangkuan. Matanya menatap tajam ke arah pintu. Theo tidak sedang bermain. Ia seperti sedang berjaga-jaga.
Elena berhenti. Ia mematung tiga langkah dari ambang pintu.
Arthur meliriknya, menunggunya bergerak. Ketika Elena tetap diam, pria itu mengerutkan kening. “Kenapa Anda tidak masuk? Anda tidak memulai sesinya?”
“Tidak ada sesi hari ini. Saya belum akan mulai,” bisik Elena pelan, memastikan suaranya tidak mengagetkan anak itu.
“Kenapa?”
“Karena saya belum mengenal Theo,” jawab Elena. Di matanya, Theo bukanlah kasus yang harus diselesaikan hari ini. Ia adalah anak yang dunianya baru saja runtuh.
Perlahan, Elena melangkah masuk. Ia tidak mendekati Theo dan berhenti di tengah ruangan, memberikan jarak yang sangat aman. “Aku boleh duduk di sini?” tanya Elena, menunjuk ke arah karpet di dekat rak buku, masih cukup jauh dari Theo.
Theo tidak menjawab. Matanya hanya mengikuti gerakan Elena tanpa berkedip.
“Atau, aku bisa duduk di kursi itu,” Elena memberi pilihan dengan menunjuk sebuah kursi baca berlapis kain di dekat jendela.
Theo tetap diam membisu.
Elena tidak memaksakan jawaban dan lebih memilih berjalan menuju kursi itu dan duduk dengan tenang. Ia lalu menaruh tasnya di lantai dan hanya diam, membiarkan kehadirannya menjadi sesuatu yang bisa diamati oleh Theo. Persis seperti yang Elena harapkan, karena ia tidak memaksakan apapun, Theo menyadari bahwa perempuan asing ini bukan sumber bahaya.
Melihat itu, Arthur melangkah maju. “Theo biasanya tidak akan…”
“Tidak apa-apa,” potong Elena lembut tapi tegas.
Pria itu menatap Elena. Elena bersiap menerima bantahan keras dari Arthur. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Arthur mundur selangkah, pria itu mengalah.
Elena menangkap satu hal penting. Arthur Alderidge memang pria yang terbiasa mengontrol segala sesuatu. Namun, ketika menyangkut Theo, pria itu ternyata bersedia mundur jika ada orang lain yang lebih tahu darinya.
Tiba-tiba dari arah lantai bawah, seseorang menutup pintu terlalu keras.
Brak.
Theo langsung berubah. Tubuhnya menegang hebat, kedua tangan Theo mencengkeram ujung kemejanya. Napasnya berhenti dan matanya membelalak panik. Pandangannya mengarah ke arah pintu kamar, seolah monster akan mendobrak masuk kapan saja.
Arthur bergerak cepat melintasi ruangan menuju keponakannya. Arthur berlutut di dekat Theo, tidak menyentuhnya, hanya memblokir pandangan anak itu dari pintu. “Tidak apa-apa,” gumam Arthur, suaranya berat dan menenangkan.
Elena tetap diam di kursinya, tetapi matanya merekam segalanya. Reaksi Theo bukan sekadar ketakutan terhadap suara keras. Ada sesuatu yang jauh lebih spesifik di balik kepanikan itu. Anak ini tidak takut pada suara pintunya, tapi dia takut pada siapa yang mungkin datang setelah pintu itu ditutup.
“Begitulah setiap kali ada pintu yang dibanting,” ucap Arthur setelah napas Theo kembali teratur.
Elena mengangguk, “Siapa yang biasa membanting pintu di rumahnya dulu?”
“Ayahnya.”
Hanya satu kata, tapi suara Arthur terdengar seperti seseorang yang menahan diri agar tidak hilang kendali oleh emosi.
Dada Elena berdesir. Charles. Suami dari mendiang Kakak Arthur. Ia ingat pernah membaca berita suami dari Bella Alderidge itu menghilang setelah kematian istrinya. Apa yang sebenarnya dilakukannya terhadap anaknya sendiri?
Arthur kemudian berdiri. Dia bersiap meninggalkan Elena dan membiarkannya bekerja.
“Kalau dia ketakutan, panggil saya,” kata Arthur.
“Saya bisa men…”
Sebelum Elena menyelesaikan kalimatnya, Arthur sudah melangkah keluar. Pintu ditutup dari luar. Elena kini hanya berdua dengan Theo yang menunduk. Tangan kecilnya meraih sebatang krayon dari kotak di dekatnya dan mulai menggoreskannya ke atas kertas gambar.
Elena hanya menunggu dengan sabar. Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Lalu sebuah keajaiban kecil terjadi. Theo menghentikan gerakannya, menatap kertas itu, lalu mendorongnya dengan satu jari. Kertas itu bergeser pelan di atas karpet, berhenti sedikit lebih dekat ke arah Elena.
Elena bangkit perlahan dan melangkah mendekat. Ia berlutut di dekat kertas tersebut. Gambaran di kertas itu sangat sederhana. Sebuah rumah dengan tiga sosok manusia di sana. Satu sosok kecil berdiri di tengah. Satu sosok yang lebih besar berdiri di sudut kertas, terpisah jauh dari yang lain. Dan satu sosok lagi berada di dekat sosok kecil itu, tetapi wajah dan tubuhnya telah dicoret-coret dengan krayon hitam pekat.
Elena menelan ludah. “Ini siapa, Theo?” tanya Elena berusaha tetap tenang.
Theo tidak menjawab, tangannya lalu meraih patahan krayon hitam dari lantai. Theo menekan krayon itu ke atas sosok yang sudah menghitam. Ia mencoretnya lagi. Terus mencoretnya dengan gerakan dan penuh kemarahan, hingga ujung krayon itu menembus dan nyaris merobek kertasnya. Elena tidak tahu siapa ketiga sosok itu. Ia hanya yakin akan satu hal, Theo membenci salah satunya.
Bulu kuduk Elena meremang.
Ia menatap sosok hitam yang terkoyak di atas kertas itu, lalu menatap pintu kayu yang tertutup rapat, tempat Arthur baru saja keluar. Elena mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Theo sebelum ibunya meninggal? Dan kenapa Arthur Alderidge terlihat seperti pria yang memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mendekati anak itu?
Apa ada sesuatu yang jauh lebih buruk dan gelap yang sedang disembunyikan oleh keluarga Alderidge di balik dinding-dinding sempurna ini?














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!