The Terms of The Cage

1 dibaca

A

Setelah hampir satu jam berada di dalam kamar Theo, Elena melangkah keluar. Ia menutup pintu tanpa menimbulkan suara, meninggalkan anak laki-laki yang kini meringkuk diam bersama krayonnya.


Arthur Alderidge sudah berdiri menunggunya. Pria itu menyandarkan satu bahunya ke dinding, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


Elena berjalan menghampirinya, “Sesi pertama sudah selesai. Saya akan pulang.”


Arthur menoleh, menatapnya dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah. “Malam ini?”


“Tentu saja.”


Arthur memutar pergelangan tangannya sedikit untuk melihat jam tangan. “Tidak.”


Arthur mengucapkan kata itu tanpa intonasi ancaman atau suara yang ditinggikan. Namun justru kata ‘tidak’ yang diucapkan dengan begitu ringan itulah yang membuat langkah Elena terhenti sepenuhnya.


Elena menatap pria itu, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Maaf?”


“Theo mengalami episode paniknya pada malam hari,” jelas Arthur. “Theo tidak hanya bermasalah ketika berada di ruang terapi. Saya ingin Anda melihat bagaimana dia tidur, bagaimana dia bereaksi ketika terbangun di tengah malam, siapa yang dia hindari, dan suara apa yang membuatnya terjaga.”


“Itu bisa dilakukan melalui observasi malam yang terjadwal, Tuan Alderidge,” balas Elena cepat. “Bukan berarti saya harus tinggal di sini.”


Arthur mengangguk pelan. “Iya, Anda benar.”


Elena mengerutkan kening, “Lalu?”


“Saya tetap ingin Anda tinggal.”


Logika pria ini benar-benar tidak masuk akal. Dia mengakui argumen Elena benar, tapi ia sama sekali tidak peduli dan hanya mementingkan apa yang ia inginkan.


Elena mengembuskan napas kasar, “Saya tidak membawa pakaian.”


“Kamar Anda sudah disiapkan.”


“Saya juga tidak membawa perlengkapan kerja saya.”


“Semuanya ada.”


Mata Elena menyipit curiga. “Apa maksud Anda, semuanya ada?”


Arthur melepaskan sandarannya dari dinding, berdiri di hadapan Elena. “Masuklah ke kamar tamu di sayap timur. Makan malam akan disiapkan dalam satu jam. Setelah itu, kita bisa membicarakan apa pun yang masih Anda perlukan.”


Arthur berbalik dan berjalan menuruni tangga utama. Ia meninggalkan Elena tanpa pilihan. Elena sudah melihat gerbang besi tinggi itu dan ia tahu dua petugas keamanan di depan sana bukanlah sekadar pajangan. Pintu keluarnya tidak akan terbuka tanpa izin pria itu.


Elena kemudian berjalan menuju kamar yang ditunjuk Arthur. Ia membuka pintu dan seketika langkahnya membeku melihat barang-barang yang ada di dalamnya. Di atas meja rias, berjejer rapi botol-botol perawatan kulit dengan merek yang persis sama dengan yang Elena gunakan di apartemennya.


Elena berjalan ke arah lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka. Pakaian kerja, blus, celana panjang, hingga pakaian tidur tergantung di sana, semuanya dalam ukuran tubuhnya. Sepatu di rak bawah pun memiliki ukuran yang sama dengan kakinya.


Di atas meja kerja sudut, terdapat sebuah laptop keluaran terbaru dan sebuah tablet yang sudah terhubung dengan charger, lengkap dengan beberapa buku referensi psikologi anak yang sama persis dengan daftar bacaan di meja kerjanya di St. Jude.


Elena berdiri mematung di tengah ruangan. Ini lebih dari sekadar perasaan tidak nyaman. Arthur bukan hanya memiliki informasi tentang dirinya. Pria itu telah mengambil potongan-potongan kehidupan Elena dari tempat lain, lalu menyusunnya kembali di kamar ini seolah-olah semuanya memang sudah menjadi miliknya.


Ia sedang berada di dalam sebuah sangkar berlapis emas.


Satu jam kemudian, Elena turun ke ruang makan. Ia telah mencuci wajahnya, tetapi ia membuat satu keputusan kecil, ia tidak menyentuh satu pun pakaian di lemari itu. Ia tetap mengenakan kemeja dan celana kerja yang sudah sedikit kusut karena telah ia pakai sejak pagi.


Arthur sudah duduk di ujung meja makan panjang. Pria itu telah mengganti kemejanya dengan yang lebih santai. Saat Elena melangkah masuk, tatapan Arthur menyapu penampilannya.


“Tidak ada yang cocok?” tanya Arthur santai.


Elena menarik kursi dan duduk dengan punggung tegak. “Saya tidak suka memakai barang milik orang lain yang belum jelas asal-usulnya,” jawab Elena tajam.


Seketika, Arthur tertawa kecil. Itu adalah pertama kalinya Elena mendengar pria ini tertawa. Bukan karena ada lelucon yang dilontarkan, melainkan karena pria itu jelas-jelas sedang menikmati keberanian Elena. Tawa itu memunculkan perasaan yang aneh, sekaligus membuatnya semakin kesal. Kenapa orang ini malah tertawa?


Makan malam dihidangkan oleh pelayan yang bergerak tanpa suara. Selama beberapa menit, hanya ada denting pelan alat makan yang beradu dengan porselen.


“Saya tidak meminta Anda membeli semua ini,” ujar Elena, memecah keheningan.


Arthur menyesap wine di gelasnya dengan tenang. “Iya, saya tahu.”


“Lalu kenapa Anda melakukannya?”


“Karena Anda membutuhkan pakaian.”


“Saya bisa membeli pakaian saya sendiri.”


“Betul sekali. Saya yakin Anda bisa.”


Elena meletakkan garpunya. “Tapi Anda tetap mengambil keputusan untuk saya.”


Arthur menurunkan gelasnya perlahan. Matanya menatap lurus ke mata Elena, “Sekarang Anda mulai memahami saya.”


Elena mendengus pelan, menolak terintimidasi. “Saya justru mulai tidak menyukai Anda.”


Bukannya marah, Arthur justru tersenyum. “Bagus. Itu adalah sebuah kemajuan. Setidaknya sekarang Anda sudah punya pendapat tentang saya.”


Elena membuang muka, meraih gelas air putihnya dengan kesal.


“Besok,” Arthur kembali bersuara, “Anda akan mulai pukul berapa?”


Elena langsung menoleh, “Saya belum mengatakan saya akan tinggal.”


Arthur memiringkan kepalanya sedikit. “Tapi Anda masih duduk di sini.”


“Karena gerbang Anda dikunci.”


“Gerbang itu selalu dikunci,” balas Arthur lagi.




Keesokan paginya, Elena terbangun dengan pakaian kerjanya yang masih melekat di badan, karena ia menolak memakai piyama dari Arthur semalaman. Baru saja ia merapikan rambutnya, terdengar ketukan pelan dari balik pintu.


Elena berjalan mendekat dan memutar gagangnya. Di balik pintu, seorang pelayan wanita berseragam rapi berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Di belakangnya, berdiri dua pria berjas gelap mengikuti.


Di antara para staf itu, berdiri tiga buah koper berukuran sedang. Tiga koper yang sangat Elena kenali. Mata Elena terpaku pada koper berwarna biru di sebelah kiri. Ada goresan kecil di dekat ritsletingnya. Itu kopernya.


“Apa ini?” suara Elena bergetar.


“Barang-barang Nona Reid,” jawab pelayan itu sopan.


“Dari mana?”


“Apartemen Nona, di distrik utama.”


Elena mencengkeram kusen pintu, merasakan hawa dingin merayap naik dari ujung kakinya. “Siapa yang mengambilnya?”


Pelayan itu menunduk sedikit lebih dalam, tidak berani menatap mata Elena yang kini dipenuhi keterkejutan dan amarah.


“Perintah Tuan Alderidge, Nona.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk