Subuh itu masih gelap ketika Lucy dan Ray melangkah keluar dari rumah mereka yang sederhana.
Udara dingin menyergap tubuh mereka begitu kaki mereka menyentuh tanah pekarangan yang lembap. Embun menempel di dedaunan pisang dan sereh yang tumbuh di sekeliling rumah, membuat setiap helai daun terlihat berkilauan samar di bawah cahaya remang-remang yang belum sepenuhnya menjadi pagi. Langit di ufuk timur baru saja menunjukkan semburat tipis warna biru kelabu, tanda bahwa matahari masih bersembunyi jauh di balik garis cakrawala.
Lucy berjalan di depan dengan langkah yang cepat dan tergesa-gesa. Rambutnya yang hitam panjang diikat ke belakang dengan sehelai kain biru tua, dan tubuhnya dibalut baju lengan panjang yang cukup tebal untuk melindungi kulitnya dari duri dan ranting. Di tangannya dia membawa tas karung kecil berisi sebungkus nasi dalam daun pisang, sebotol air minum, sebungkus garam kasar, dan sebuah pisau lipat milik mendiang ibunya. Wajahnya pucat dan matanya dikelilingi lingkaran hitam yang tebal, bukti bahwa sudah dua malam berturut-turut dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Ray berjalan di belakangnya, berusaha menyamai langkah istrinya yang tergesa-gesa itu. Sebilah parang terselip di sabuk rafia yang melilit pinggangnya. Tubuhnya masih terasa pegal di beberapa bagian, sisa-sisa dari kerja keras memanen padi bersama mertuanya beberapa hari yang lalu. Pijatan dari Dean memang sudah membantu, tapi otot-otot di punggung dan bahunya masih belum sepenuhnya pulih.
Mereka tidak banyak berbicara sepanjang perjalanan. Hanya suara langkah kaki mereka di atas tanah yang basah dan suara napas mereka yang sedikit terengah-engah yang mengisi kesunyian subuh itu. Sesekali terdengar kokok ayam dari kejauhan, bersahutan dari satu pekarangan ke pekarangan lainnya, seolah-olah saling memberitahukan bahwa pagi sudah hampir tiba.
Mereka melewati jalan tanah yang sempit di antara rumah-rumah penduduk yang masih tertidur, lalu berbelok ke arah barat menuju sawah. Jalan setapak yang mereka lalui semakin menyempit ketika memasuki area persawahan, berubah menjadi pematang tanah yang hanya cukup untuk dilalui satu orang. Di kiri dan kanan mereka, hamparan sawah milik penduduk desa membentang luas dengan padi-padi yang sudah menguning dan menunduk berat, siap untuk dipanen.
Sawah milik Regard, ayah Lucy, terletak paling ujung di sebelah barat. Sawah itu berbatasan langsung dengan hutan tua yang tidak memiliki nama resmi. Penduduk desa menyebutnya “hutan belakang sawah” atau kadang-kadang “hutan tua.” Dari kejauhan, garis pepohonan hutan itu terlihat seperti dinding hitam yang menjulang tinggi, memisahkan dunia desa yang mereka kenal dari dunia lain yang tersembunyi dan misterius di baliknya.
Semakin dekat mereka menuju tepi hutan, semakin kencang jantung Lucy berdebar. Bisikan yang selama dua malam terakhir menghantui kepalanya masih terdengar samar di sudut pikirannya yang paling dalam. Temukan Cortez. Temukan Cortez. Suara Karla yang dingin dan lembut itu berulang-ulang seperti mantra yang tidak pernah habis. Lucy mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di hutan, ingin segera menemukan tanaman itu, ingin segera mengakhiri semua teror bisikan yang sudah merampas tidurnya selama dua malam berturut-turut.
Mereka sudah bisa melihat mulut hutan dengan jelas sekarang. Pohon-pohon besar dengan batang yang tebal dan berlumut berdiri berdekatan satu sama lain, cabang-cabang mereka saling bertautan membentuk kanopi yang gelap dan rapat. Semak-semak liar tumbuh lebat di antara batang-batang pohon, bersama dengan pakis-pakis besar dan tanaman merambat yang menjalar ke segala arah. Dari celah-celah pepohonan itu, kabut putih kelabu mengalir keluar dengan perlahan, seperti asap yang merayap di atas permukaan tanah, menyebar ke arah sawah dan membuat udara di sekitar mereka menjadi semakin dingin dan semakin lembap.
Jarak mereka dengan mulut hutan tinggal sekitar lima meter lagi.
Dan saat itulah semuanya berubah.
Ray berhenti melangkah.
Bukan karena dia memilih untuk berhenti. Bukan karena kakinya lelah atau karena dia merasa takut. Tubuhnya berhenti bergerak begitu saja, seolah-olah setiap otot, setiap sendi, setiap tulang di dalam tubuhnya tiba-tiba membeku dan menolak untuk menuruti perintah otaknya. Kaki kanannya yang baru saja terangkat untuk melangkah ke depan terhenti di udara selama sepersekian detik, lalu mendarat kembali ke tanah dengan bunyi pelan, dan setelah itu tidak mau bergerak lagi.
Ray mencoba menggerakkan tangannya. Tidak bisa. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tidak bisa. Dia mencoba menolehkan kepalanya. Tidak bisa. Seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki telah menjadi seperti patung batu yang terpaku di atas pematang sawah. Kedua matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan ke arah mulut hutan yang gelap dan berkabut. Mulutnya sedikit terbuka, seolah-olah sedang hendak mengatakan sesuatu ketika seluruh tubuhnya tiba-tiba membeku.
“Lucy!”
Suara Ray yang keluar dari mulutnya terdengar aneh dan janggal di telinganya sendiri. Seluruh tubuhnya tidak bergerak, tapi mulutnya masih bisa berbicara. Bibirnya masih bisa bergerak, lidahnya masih bisa membentuk kata-kata, pita suaranya masih bisa menghasilkan bunyi. Seolah-olah apa pun kekuatan yang telah membekukan tubuhnya sengaja membiarkan mulutnya tetap berfungsi, membiarkannya bisa berteriak tapi tidak bisa berlari, bisa meminta tolong tapi tidak bisa menolong dirinya sendiri.
“Lucy! Tubuhku! Aku tidak bisa bergerak!” teriak Ray dengan nada panik yang tidak bisa dia sembunyikan.
Lucy yang sudah beberapa langkah di depan suaminya langsung berbalik. Matanya membelalak lebar ketika dia melihat Ray berdiri kaku seperti patung di atas pematang sawah. Tubuh suaminya yang biasanya tegap dan bergerak lincah kini menjadi sekaku batang pohon yang sudah mati. Hanya matanya yang bergerak-gerak liar ke kiri dan ke kanan, dan bibirnya yang bergetar ketika dia berusaha berbicara.
“Ray! Ray!” Lucy berlari kembali ke arah suaminya. Tangannya mencengkeram bahu Ray dan mengguncang-guncangkannya, tapi tubuh Ray tidak bergerak satu milimeter pun. Seperti mengguncang tiang besi yang tertanam di dalam beton. Lucy meraba tangan Ray yang terkulai kaku di samping tubuhnya. Tangan itu terasa hangat, masih hidup, darahnya masih mengalir di balik kulit yang terasa tegang dan kaku. Tapi tangan itu tidak merespons sentuhannya. Jari-jari Ray yang biasa menggenggam tangannya dengan lembut kini terbuka kaku seperti jari-jari boneka kayu.
“Apa yang terjadi?! Ray, katakan sesuatu!” jerit Lucy sambil menangis. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
“Aku tidak tahu!” jawab Ray. Matanya yang tidak bisa berpaling menatap lurus ke depan, tapi suaranya penuh dengan kepanikan yang sama besarnya dengan kepanikan Lucy. “Tiba-tiba saja. Tiba-tiba seluruh tubuhku berhenti. Aku tidak bisa menggerakkan apa pun. Kakiku. Tanganku. Leherku. Semuanya. Seperti ada sesuatu yang menahan seluruh tubuhku dari luar.”
Lucy menangis semakin keras. Dia memeluk tubuh suaminya yang kaku, membenamkan wajahnya di dada Ray yang terasa seperti dinding batu yang hangat. Dia merasakan detak jantung Ray di balik tulang rusuknya, berdetak kencang, sangat kencang, tanda bahwa meskipun tubuhnya tidak bergerak, di dalam sana Ray masih hidup dan masih ketakutan.
“Lucy, dengarkan aku.”
Suara Ray terdengar lebih tenang sekarang, meskipun Lucy tahu suaminya sedang berusaha mati-matian mengendalikan kepanikannya sendiri.
“Jangan hiraukan aku,” kata Ray. “Pergi ke hutan. Cari Cortez.”
“Tidak!” jerit Lucy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya di dada suaminya. “Aku tidak mau meninggalkanmu di sini sendirian dalam keadaan seperti ini!”
“Lucy, dengarkan!” suara Ray menjadi lebih tegas. “Kamu tidak tidur dua malam berturut-turut karena bisikan Karla yang terus-terusan menganggumu. Kalau kamu tidak menemukan Cortez sekarang, bisikan itu tidak akan berhenti. Kamu akan semakin tersiksa. Semakin tidak bisa tidur. Semakin kehilangan kekuatanmu. Cari Cortez. Temukan tanaman itu. Dan setelah kamu menemukannya, kembali ke sini. Aku akan menunggumu di sini.”
“Tapi kamu...”
“Aku akan mencari cara untuk terbebas dari keadaan ini,” kata Ray, dan meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak, suaranya mengandung tekad yang tidak bisa diragukan. “Mulutku masih bisa bicara. Otakku masih bisa berpikir. Aku akan mencari tahu apa yang menahan tubuhku dan aku akan berusaha melepaskan diri. Tapi kamu harus pergi sekarang, Lucy. Sekarang. Sebelum matahari naik dan hutan menjadi terlalu panas.”
Lucy mengangkat wajahnya dari dada Ray. Dia menatap mata suaminya yang menatap lurus ke depan, tidak bisa berpaling, tidak bisa menatapnya balik. Tapi Lucy tahu bahwa di balik mata yang tidak bisa bergerak itu, Ray sedang menatapnya dengan seluruh cinta dan kekhawatiran yang dia miliki.
“Aku akan kembali,” bisik Lucy sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya. “Aku janji aku akan kembali secepat mungkin.”
“Aku tahu kamu akan kembali,” jawab Ray. “Pergilah.”
Lucy mundur selangkah dari suaminya. Dia memandang Ray untuk terakhir kalinya, tubuhnya yang tegap berdiri kaku di atas pematang sawah, seperti patung prajurit yang menjaga perbatasan antara dunia yang aman dan dunia yang tidak dikenal. Kemudian Lucy berbalik, menghapus sisa air matanya, menarik napas dalam-dalam, dan berlari menuju mulut hutan yang gelap dan berkabut.
Hutan menelan Lucy dalam hitungan detik.
Begitu dia melewati barisan pertama pohon-pohon besar di tepi hutan, cahaya pagi yang tadinya mulai menerangi langit langsung menghilang. Kegelapan yang pekat dan lembap menyelimuti segalanya, hanya sedikit diringankan oleh kabut putih kelabu yang mengambang di mana-mana seperti asap yang tidak memiliki sumber. Kabut itu begitu tebal sehingga Lucy hanya bisa melihat beberapa meter ke depan sebelum semuanya menghilang ditelan oleh dinding kabut yang bergerak perlahan dan tak bersuara.
Udara di dalam hutan sangat berbeda dari udara di luar. Dingin, lembap, dan berat, seolah-olah setiap tarikan napas yang Lucy ambil harus dipaksa masuk ke dalam paru-parunya. Aroma hutan yang khas memenuhi penciumannya, bau kayu yang lapuk, daun-daun yang membusuk, lumut yang tumbuh tebal di atas batu-batu besar, dan tanah yang basah dan berminyak. Dan di balik semua aroma itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa Lucy jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang terasa tua, purba, dan hidup, seolah-olah hutan ini sendiri adalah makhluk bernapas yang sedang memperhatikan setiap langkahnya.
Lucy berjalan perlahan, kedua tangannya terulur ke depan untuk meraba-raba jalan di antara batang-batang pohon yang besar dan akar-akar yang muncul dari tanah seperti ular-ular raksasa yang membeku. Kakinya beberapa kali tersandung oleh akar yang tidak terlihat di bawah lapisan kabut, membuatnya hampir jatuh tersungkur ke tanah hutan yang basah dan berlumpur. Semak-semak berduri mencakar lengan bajunya, meninggalkan goresan-goresan tipis di kain yang melindungi kulitnya.
Dia tidak tahu arah mana yang harus dia tuju. Tidak ada jalan setapak di dalam hutan ini. Tidak ada tanda-tanda yang bisa dia ikuti. Hanya pohon, semak, kabut, dan kegelapan yang membentang ke segala arah tanpa batas. Bisikan di dalam kepalanya masih berulang temukan Cortez, temukan Cortez, tapi kali ini bisikan itu tidak lagi terasa seperti gangguan. Bisikan itu terasa seperti kompas yang menuntunnya, menarik pikirannya ke satu arah tertentu, membisikkan kepadanya bahwa tanaman yang dia cari ada di suatu tempat di kedalaman hutan ini.
Lucy mengikuti arah bisikan itu.
Dia tidak tahu berapa lama dia berjalan di dalam hutan. Waktu terasa kehilangan maknanya di tempat ini, di mana tidak ada matahari yang bisa dijadikan penunjuk, tidak ada bayangan yang bisa diukur panjangnya, dan tidak ada suara dari dunia luar yang bisa dijadikan patokan. Yang ada hanyalah suara langkah kakinya sendiri yang menginjak daun-daun kering dan ranting-ranting yang patah, suara napasnya yang semakin tersengal, dan suara jantungnya yang berdebar di telinganya sendiri.
Kabut semakin tebal semakin dia masuk ke dalam. Pohon-pohon menjadi semakin besar, batang-batang mereka semakin tebal dan semakin berlumut, akar-akar mereka semakin tinggi dan semakin berliku-liku. Beberapa pohon memiliki batang yang begitu besar sehingga Lucy harus berjalan memutar untuk melewatinya. Di beberapa tempat, akar-akar pohon yang saling bertautan membentuk gua-gua kecil yang gelap, di mana Lucy bisa melihat sepasang mata kecil yang berkilat menatapnya dari kegelapan sebelum menghilang dengan cepat, mungkin tikus, mungkin musang, mungkin sesuatu yang lain.
Lucy terus berjalan. Kakinya yang sudah mulai pegal dan sakit dipaksanya untuk terus melangkah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya meskipun udara di dalam hutan terasa dingin, karena upaya fisik untuk menembus semak-semak dan memanjat akar-akar besar memerlukan tenaga yang tidak sedikit. Sesekali dia berhenti untuk minum air dari botol yang dia bawa, lalu melanjutkan perjalanannya lagi tanpa istirahat.
Dan kemudian, di antara kabut yang bergerak lambat di depannya, Lucy melihat sesuatu.
Sesuatu yang berbeda dari pohon-pohon dan semak-semak yang selama ini dia lewati. Sesuatu yang bentuknya tidak biasa dan warnanya menyolok di antara warna-warna gelap hutan.
Lucy mempercepat langkahnya. Jantungnya berdebar semakin kencang. Tangannya yang memegang tas karung bergetar karena campuran antara kelelahan dan harapan.
Di depannya, di tengah sebuah bukaan kecil di antara tiga pohon raksasa yang batangnya berlumut tebal, tumbuh sebuah tanaman yang belum pernah dia lihat sepanjang hidupnya.
Tanaman itu berdiri tegak setinggi lutut Lucy, tumbuh sendirian di atas tanah yang lembap dan hitam. Pucuknya menyerupai pakis raksasa, ujungnya menggulung spiral ke dalam dengan sempurna, seperti kepalan tangan bayi yang sedang tertidur, atau seperti ujung biola yang diukir oleh tangan seniman yang sangat ahli. Spiral itu berwarna hijau tua di bagian luar dan berangsur-angsur menjadi hijau muda kekuningan di bagian dalamnya yang paling rapat.
Dan daunnya. Daun-daunnya tidak seperti daun pakis pada umumnya yang berbentuk menyirip dan tipis. Daun-daun tanaman ini berbentuk seperti daun anggrek, tebal, berdaging, dengan permukaan yang licin dan mengkilap. Warnanya hijau zamrud yang sangat pekat, dengan urat-urat daun yang berwarna keperakan dan berkilau samar ketika kabut yang mengambang di sekitarnya menyentuh permukaannya. Setiap daun tumbuh berpasangan di sepanjang batang utama, menghadap ke kiri dan ke kanan secara bergantian, seperti sayap-sayap kecil yang sedang terlipat rapat.
Batangnya berwarna cokelat kehijauan, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak, dengan tekstur yang halus seperti batang suplir. Di pangkal batang, tepat di tempat di mana tanaman itu bertemu dengan tanah, tumbuh akar-akar kecil yang berwarna putih keperakan dan menyebar ke segala arah seperti jari-jari tangan yang sedang meraba-raba tanah di sekelilingnya.
Lucy jatuh berlutut di depan tanaman itu. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini bukan air mata ketakutan atau keputusasaan. Ini adalah air mata lega. Air mata seorang wanita yang sudah dua malam tidak tidur, yang sudah berjalan sendirian menembus hutan yang gelap dan berkabut, yang sudah meninggalkan suaminya yang mematung di tepi sawah, dan akhirnya menemukan apa yang dia cari.
“Cortez,” bisik Lucy dengan suara yang pecah. “Ini Cortez.”
Pada saat itu, bisikan di dalam kepalanya berhenti.
Keheningan yang tiba-tiba itu terasa seperti gelombang kehangatan yang menyapu seluruh isi kepalanya, membersihkan setiap sudut pikirannya dari suara yang selama dua hari terus-menerus bergema tanpa henti. Lucy memejamkan matanya dan menikmati keheningan itu selama beberapa saat, membiarkan otaknya beristirahat untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Kemudian dia membuka matanya, menarik napas dalam-dalam, dan dengan kedua tangannya yang masih bergetar, dia mencabut tanaman Cortez dari tanah dengan hati-hati. Akar-akar putih keperakan itu terlepas dari tanah dengan mudah, seolah-olah tanaman itu memang sudah siap untuk dipindahkan. Lucy mengangkat tanaman itu dan mendekapnya di dadanya, merasakan daunnya yang dingin dan halus menyentuh kulit tangannya.
“Sekarang aku harus kembali ke Ray,” kata Lucy pada dirinya sendiri sambil bangkit berdiri.
Tapi dia tidak perlu kembali ke mana pun untuk menemui Karla.
Karena Karla sudah ada di sana.
Tepat di depannya. Berdiri di antara kabut yang bergerak lambat, di bawah naungan pohon raksasa yang batangnya berlumut tebal. Karla berdiri dengan gaun putihnya yang panjang menyapu tanah hutan, rambutnya yang putih menjuntai ke bawah melewati bahunya, dan tubuhnya memancarkan cahaya putih kebiruan yang menerangi kabut di sekelilingnya dengan cara yang tidak alami.
Dan dia tersenyum.
Senyuman yang sama seperti pertama kali mereka bertemu di depan rumah Lucy pada subuh hari itu. Lembut. Tenang. Menawan. Senyuman yang membuat Lucy ingin percaya bahwa wanita di depannya ini memang hanya seorang kakak yang sedang mencari obat untuk adiknya yang sakit.
“Kamu menemukannya,” kata Karla. Suaranya bergema di antara pepohonan, lembut dan dingin seperti angin yang bertiup dari puncak gunung yang tertutup salju.
Lucy mengangguk. Dia mengulurkan tanaman Cortez yang dia dekap di dadanya ke arah Karla, menyodorkannya dengan kedua tangan.
“Ini Cortez yang kamu minta,” kata Lucy. Suaranya bergetar karena campuran antara kelegaan dan kelelahan. “Untuk adikmu. Aku harap adikmu bisa sembuh.”
Karla melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Gerakannya halus dan tanpa suara, seolah-olah kakinya tidak menyentuh tanah. Tangannya yang putih dan panjang terulur untuk menerima tanaman Cortez dari tangan Lucy.
Jari-jari mereka bersentuhan.
Dan dalam sekejap, segalanya berubah.
Senyuman Karla berubah.
Perubahan itu terjadi begitu cepat sehingga Lucy hampir tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi. Senyuman yang tadinya lembut dan menawan itu menarik diri dari wajah Karla seperti topeng yang dilepaskan, dan di baliknya terungkap senyuman yang sama sekali berbeda. Senyuman yang lebar. Senyuman yang dingin. Senyuman yang memperlihatkan deretan gigi-gigi putih yang terlalu panjang dan terlalu tajam untuk menjadi milik seorang wanita biasa. Senyuman yang jahat.
Mata Karla yang tadinya berwarna putih keperakan kini berubah menjadi gelap, sangat gelap, seperti dua lubang hitam yang terbuka di wajahnya yang pucat. Pupilnya menghilang, digantikan oleh kekosongan yang dingin dan tanpa dasar, seolah-olah di balik mata itu tidak ada apa pun kecuali kegelapan yang tak berujung.
Dan tubuhnya.
Tubuh Karla mulai berubah.
Tulang-tulangnya berderak dengan suara yang mengerikan, seperti ranting-ranting kering yang dipatahkan satu per satu. Lengannya yang tadinya ramping dan putih mulai memanjang, memanjang, memanjang melampaui proporsi tubuh manusia yang wajar. Jari-jarinya yang tadinya lentik dan anggun berubah menjadi cakar-cakar panjang dan bengkok, dengan kuku-kuku yang menghitam dan meruncing seperti pisau. Lehernya berderak dan memanjang, kepalanya bergerak naik semakin tinggi, dan tubuhnya yang tadinya langsing kini menjadi kurus kering seperti kerangka yang hanya dibalut oleh kulit yang terlalu tipis.
Gaun putihnya yang tadinya bersih dan berkilauan kini robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit yang pucat dan kelabu di bawahnya. Cahaya putih kebiruan yang tadinya memancar lembut dari tubuhnya kini berubah menjadi cahaya yang dingin dan menyilaukan, seperti cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di ruangan yang gelap.
Karla berdiri di sana, menjulang tinggi di atas Lucy yang membeku ketakutan, dengan tubuhnya yang memanjang dan terdistorsi, dengan senyumnya yang jahat dan lebar, dengan matanya yang gelap dan kosong, dan dengan jari-jarinya yang panjang seperti cakar yang perlahan-lahan terangkat ke arah leher Lucy.
“Cortez bukan untuk adikku,” bisik Karla. Suaranya yang tadinya lembut kini terdengar seperti dua suara yang berbicara bersamaan, satu suara wanita yang dingin dan satu suara yang lebih dalam, lebih tua, lebih mengerikan, yang seolah-olah datang dari tempat yang sangat jauh di bawah tanah. “Cortez adalah kunci untuk membuka gerbang.”
Jari-jari Karla yang panjang dan berkuku hitam bergerak menuju leher Lucy.
Lucy berteriak.
Teriakan itu keluar dari mulutnya dengan kekuatan yang dia tidak tahu dia miliki. Teriakan yang berasal dari tempat paling primitif di dalam dirinya, dari insting bertahan hidup yang sudah ada sejak manusia pertama berjalan di muka bumi. Teriakan yang memecah kesunyian hutan dan membuat burung-burung yang bersembunyi di kanopi dedaunan di atas beterbangan dengan panik.
Dengan gerakan refleks yang didorong oleh ketakutan yang luar biasa, Lucy melemparkan tanaman Cortez yang masih ada di tangannya. Tanaman itu terlempar ke samping, mendarat di atas tanah hutan yang basah dan berlumpur dengan bunyi pelan. Daun-daunnya yang seperti anggrek terpental dan beberapa lembar terlepas dari batangnya.
Dan Lucy berlari.
Dia berlari seperti dia belum pernah berlari sebelumnya dalam hidupnya. Kakinya yang tadinya pegal dan sakit kini bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin murni. Dia tidak melihat ke belakang. Tidak mau melihat ke belakang. Tidak berani melihat ke belakang. Dia hanya berlari, menembus kabut yang tebal, melompati akar-akar pohon yang muncul dari tanah, menabrak semak-semak berduri yang mencakar wajah dan tangannya, tidak peduli sakit, tidak peduli luka, tidak peduli apa pun selain satu hal, kembali ke Ray.
Harus kembali ke Ray.
Hutan yang tadinya terasa gelap dan sunyi kini terasa seperti labirin yang bernapas. Pohon-pohon besar seolah-olah bergerak di sekelilingnya, berpindah posisi, mengubah jalan yang tadinya dia lewati. Kabut semakin tebal dan semakin pekat, membuat semuanya terlihat sama di setiap arah. Lucy tidak tahu apakah dia berlari ke arah yang benar atau justru semakin jauh ke dalam hutan. Yang dia tahu hanyalah dia harus terus berlari. Harus terus bergerak. Harus keluar dari hutan ini. Harus kembali ke suaminya.
Napasnya tersengal-sengal. Paru-parunya terasa terbakar. Keringat mengalir deras dari setiap pori-pori kulitnya. Air mata dan keringat bercampur di wajahnya, membuat pandangannya kabur dan buram. Tapi kakinya tidak berhenti. Terus berlari. Terus melangkah. Terus menembus kegelapan.
Dan kemudian, dia melihat cahaya.
Cahaya pagi yang tipis dan kelabu menerobos masuk melalui celah-celah pepohonan di depannya, menandakan bahwa tepi hutan sudah dekat. Lucy menambah kecepatannya, menerjang semak-semak terakhir yang menghalangi jalannya, dan akhirnya meluncur keluar dari mulut hutan ke atas pematang sawah yang terbuka dan terang.
Dan di sana, beberapa meter di depannya, Ray masih berdiri.
Masih mematung. Masih tidak bergerak. Masih berdiri kaku seperti patung di atas pematang sawah dengan mata yang menatap lurus ke depan. Masih di tempat yang sama persis di mana Lucy meninggalkannya tadi.
“Ray!” teriak Lucy sambil berlari menuju suaminya. “Ray! Kita harus pergi dari sini! Karla! Karla bukan...”
Kata-katanya terhenti di tenggorokannya.
Karena di belakang Ray, berdiri Karla.
Sosok yang baru saja Lucy tinggalkan di dalam hutan, sosok yang tubuhnya memanjang dan terdistorsi, yang senyumnya jahat dan mengerikan, yang jari-jarinya panjang seperti cakar, kini berdiri tepat di belakang suaminya yang mematung dan tidak bisa bergerak. Karla ada di sana, menjulang tinggi di belakang Ray, dengan tubuhnya yang kurus dan panjang yang membungkuk di atas tubuh Ray seperti bayangan gelap yang menyelimuti cahaya.
“Lucy! Lari!” teriak Ray. Suaranya penuh dengan ketakutan yang luar biasa. “Jangan mendekat! Pergi!”
Tapi Lucy tidak berlari. Kakinya yang baru saja membawanya keluar dari hutan dengan kecepatan luar biasa kini terasa berat seperti ditimpa batu. Matanya terpaku pada pemandangan di depannya, suaminya yang mematung dan tidak berdaya, dan Karla yang berdiri di belakangnya dengan senyuman jahat yang lebar dan mata gelap yang tanpa dasar.
Karla mengangkat lengannya yang panjang dan kurus.
Dan memeluk Ray.
Pelukan itu bukan pelukan kasih sayang. Bukan pelukan cinta. Bukan pelukan seorang wanita kepada seorang pria. Pelukan itu adalah pelukan kepemilikan. Pelukan yang mengatakan “ini milikku.” Lengan-lengan Karla yang panjang tidak wajar melingkari tubuh Ray yang kaku, membungkusnya seperti ular yang membelit mangsanya. Jari-jarinya yang berkuku hitam mencengkeram bahu dan dada Ray dengan kekuatan yang membuat kain baju Ray tertarik dan hampir robek.
Karla meletakkan dagunya di atas bahu Ray. Kepalanya miring ke samping, sehingga wajahnya yang pucat dan senyumnya yang jahat menghadap langsung ke arah Lucy. Mata gelapnya yang tanpa pupil menatap Lucy dengan tatapan yang penuh kemenangan, seolah-olah dia sedang berkata “aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan kamu tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Dia milikku sekarang,” bisik Karla. Dua suaranya yang berbicara bersamaan bergema di udara pagi yang dingin. “Aku sudah menginginkannya sejak pertama kali dia datang ke desa ini.”
“LEPASKAN SUAMIKU!” jerit Lucy dengan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya. Dia berlari ke depan, tangannya terulur untuk menarik Karla menjauh dari Ray. “LEPASKAN DIA!”
“Lucy, jangan!” teriak Ray. “Pergi! Jangan dekat-dekat! Dia akan...”
Tapi Lucy tidak mendengarkan. Dia tidak peduli dengan bahaya. Dia tidak peduli dengan ketakutannya sendiri. Yang dia peduli hanyalah suaminya. Suaminya yang tidak bisa bergerak, yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri, yang tubuhnya sedang dipeluk oleh makhluk yang bukan manusia.
Lucy mencengkeram lengan Karla yang melingkari tubuh Ray dan menariknya sekuat tenaga. Kulit Karla terasa seperti es yang dibalut kulit ular, dingin, licin, dan keras. Lucy menarik, mendorong, mencakar, berusaha melepaskan pelukan Karla dari tubuh suaminya. Tapi lengan-lengan Karla tidak bergerak. Mereka tetap melingkari tubuh Ray dengan kekuatan yang jauh melampaui kekuatan manusia biasa.
Karla tertawa.
Tawanya terdengar seperti lonceng yang pecah, berdenting di udara dengan nada yang tinggi dan menusuk telinga. Tawa yang tidak memiliki kehangatan, tidak memiliki kegembiraan, hanya kedinginan dan kegilaan yang mendalam.
“Kamu tidak bisa melepaskannya dariku, Lucy,” kata Karla di antara tawanya. “Dia milikku. Sejak awal, dia memang ditakdirkan untukku.”
Lucy menangis dan terus menarik lengan Karla. Kuku-kukunya yang pendek menggores kulit Karla yang dingin, tapi tidak meninggalkan bekas apa pun. Kakinya menghentak-hentak tanah pematang sawah dengan frustasi, berusaha mendapatkan pijakan yang lebih kuat untuk menarik lebih keras.
Dan saat itulah tanah di bawah kakinya bergerak.
Bukan gerakan gempa bumi. Bukan getaran dari dalam perut bumi yang biasa dirasakan penduduk desa sesekali. Ini berbeda. Tanah di bawah pijakan Lucy bergerak ke bawah, seolah-olah ada tangan raksasa yang menarik tanah itu dari bawah, menciptakan lubang yang membesar dengan cepat tepat di tempat Lucy berdiri.
Lucy merasakan kakinya kehilangan pijakan.
“RAY!” teriaknya.
Tanah di bawahnya runtuh.
Amblas.
Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk bisa dihindari, tanah pematang sawah di bawah kaki Lucy terbuka lebar seperti mulut raksasa yang menganga. Tanah yang tadinya padat dan kokoh berubah menjadi pasir yang mengalir ke bawah, menarik Lucy bersamanya ke dalam kegelapan yang terbuka di bawah kakinya.
“LUCY!” teriak Ray. Suaranya terdengar dari atas, semakin jauh, semakin kecil, semakin menghilang. “LUCY! LUCY!”
Lucy mencoba meraih sesuatu, apa saja, untuk menghentikan jatuhnya. Tangannya mencakar-cakar dinding tanah yang runtuh di sekelilingnya, tapi tanah itu terlalu gembur dan terlalu basah untuk bisa digenggam. Jari-jarinya menggali tanah yang langsung hancur dan ikut jatuh bersamanya.
Dia jatuh.
Jatuh ke bawah.
Jatuh menembus kegelapan yang semakin pekat, semakin dalam, semakin dingin.
Suara-suara dari dunia di atas, teriakan Ray yang memanggil namanya, tawa Karla yang menggema, kicau burung di sawah, angin yang bertiup di atas pematang, semua itu semakin jauh dan semakin menghilang, digantikan oleh denyut jantungnya sendiri yang berdebar di telinganya dan suara angin yang berdesir di sekelilingnya saat tubuhnya terus jatuh ke bawah.
Dan kemudian, dia mendarat.
Tidak ada rasa sakit.
Lucy mendarat di atas sesuatu yang lunak dan dingin, seperti lumut yang tumbuh tebal di atas batu. Tubuhnya memantul pelan sebelum akhirnya berhenti, terbaring telentang di atas permukaan yang tidak bisa dia lihat di dalam kegelapan yang absolut.
Lucy terbaring di sana selama beberapa saat, napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar sangat kencang, seluruh tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan dan kejatuhan yang baru saja dia alami. Matanya terbuka lebar, tapi yang dia lihat hanyalah kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat dan begitu total sehingga dia tidak bisa melihat tangannya sendiri meskipun dia mengangkatnya tepat di depan wajahnya.
Tidak ada cahaya di sini. Tidak ada suara selain napasnya sendiri dan detak jantungnya yang menggema di telinganya. Tidak ada bau selain bau tanah yang basah dan batu yang lembap. Tidak ada angin, tidak ada gerakan udara, tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa tempat ini terhubung dengan dunia di atas.
Lucy berbaring di kegelapan yang absolut itu, sendirian, di sebuah ruangan yang dia tidak tahu di mana, yang dia tidak tahu seberapa luas, yang dia tidak tahu apakah memiliki dinding atau langit-langit atau pintu keluar.
“Ray,” bisik Lucy ke dalam kegelapan. Suaranya bergema pelan, memantul dari dinding-dinding yang tidak terlihat dan kembali kepadanya sebagai gema yang semakin melemah. “Ray...”
Tidak ada jawaban.
Hanya kegelapan dan kesunyian yang melingkupinya dari segala arah, memeluknya dengan pelukan yang jauh lebih dingin dan jauh lebih menakutkan daripada pelukan Karla kepada suaminya di atas sana.
Lucy menutup matanya meskipun tidak ada bedanya antara memejamkan mata dan membukanya di tempat gelap ini dan menangis dalam diam.
Di atas sana, jauh di atas kepalanya, di dunia yang penuh cahaya dan suara dan kehidupan, suami yang dia cintai berdiri mematung di pelukan makhluk yang bukan manusia, tidak bisa bergerak, tidak bisa menolong dirinya sendiri, hanya bisa memanggil-manggil nama istrinya ke dalam lubang gelap yang sudah menutup kembali di atas permukaan tanah, seolah-olah lubang itu tidak pernah ada.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!