Bab 4 Ruangan Gelap

2 dibaca

A

Lucy tidak tahu berapa lama dia terbaring di kegelapan itu.

Mungkin beberapa menit. Mungkin beberapa jam. Waktu tidak memiliki arti di tempat ini, di mana tidak ada cahaya yang bisa membedakan siang dan malam, tidak ada suara yang bisa dijadikan patokan berlalunya detik demi detik, dan tidak ada apa pun yang bisa dilihat, diraba, atau didengar selain kegelapan yang absolut dan detak jantungnya sendiri yang berdentum pelan di dalam rongga dadanya.

Lucy berbaring telentang di atas permukaan yang lunak dan dingin. Tangannya meraba-raba ke kiri dan ke kanan, mencoba memahami apa yang ada di bawah tubuhnya. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang terasa seperti lumut, tebal, basah, dan lembut, yang tumbuh di atas permukaan batu yang keras dan dingin. Bau tanah yang lembap dan batu yang basah memenuhi penciumannya, bercampur dengan bau lain yang lebih samar, bau lilin yang terbakar. Ya. Lucy bisa mencium bau lilin. Sangat tipis, sangat samar, tapi pasti ada.

Lucy memaksakan tubuhnya untuk duduk. Setiap otot di tubuhnya menjerit protes, punggungnya sakit, kakinya pegal, tangannya tergores dan perih, tapi dia memaksanya untuk bangkit karena dia tahu bahwa berbaring di kegelapan dan menangis tidak akan membawanya kembali kepada Ray. Dan Ray membutuhkannya. Ray yang tidak bisa bergerak, yang tubuhnya mematung di atas pematang sawah, yang saat ini mungkin sedang dipeluk oleh makhluk mengerikan yang menyamar sebagai wanita berambut putih.

“Ray,” bisik Lucy ke dalam kegelapan. Suaranya bergema pelan, memantul dari dinding-dinding yang tidak terlihat dan kembali kepadanya dalam bentuk gema yang semakin melemah. Gema itu memberi tahu Lucy bahwa dia berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, mungkin seukuran ruang tamu rumahnya, atau mungkin sedikit lebih luas.

Lucy merangkak perlahan di atas permukaan berlumut yang dingin, meraba-raba kegelapan di depannya dengan kedua tangan. Lututnya menyentuh batu-batu yang basah dan licin. Jari-jarinya meraba permukaan lantai yang tidak rata, naik turun mengikuti kontur batu alam yang terbentuk secara alami. Dia merangkak ke arah di mana dia mencium bau lilin yang paling kuat, mengikuti aroma samar itu seperti anjing pelacak yang mengikuti jejak di tengah malam.

Dan kemudian, jari-jarinya menyentuh sesuatu.

Sesuatu yang kecil, bulat, dan hangat.


Lucy meraba benda itu dengan hati-hati. Bentuknya silinder pendek, terbuat dari bahan yang terasa seperti lilin, permukaan yang halus dan sedikit berminyak, dengan bagian atas yang mencair dan membentuk cekungan kecil. Dan di tengah cekungan itu, Lucy merasakan sesuatu yang tipis dan basah, sumbu lilin yang telah padam.

Sebuah lilin.

Lilin itu sudah padam, tapi tubuhnya masih hangat, menandakan bahwa lilin itu baru saja menyala beberapa saat yang lalu. Seseorang, atau sesuatu, baru saja memadamkan lilin ini. Atau mungkin lilin ini padam dengan sendirinya, kehabisan udara atau kehabisan bahan bakar.

Lucy meraba-raba saku celananya dengan tangan yang bergetar. Di dalam saku itu, di antara bungkusan garam kasar yang sudah agak rusak karena kejatuhan tadi, ada sesuatu yang dia hampir lupa dia bawa. Sebuah korek api. Korek api yang dia masukkan ke dalam tas bekal mereka di dapur pagi tadi, yang entah bagaimana berpindah ke saku celananya, atau mungkin memang dia yang memasukannya ke saku tanpa sadar.

Tangan Lucy gemetar ketika dia mengeluarkan korek api dari sakunya. Jari-jarinya yang dingin dan basah kesulitan memegang batang korek api yang kecil itu. Dia menggoreskan ujung korek api ke sisi kotak dengan gerakan yang cepat dan penuh harap.

Percikan pertama gagal.

Percikan kedua gagal.

Percikan ketiga, api menyala.


Cahaya kecil yang muncul dari ujung korek api terasa seperti matahari bagi mata Lucy yang sudah terbiasa dengan kegelapan total. Dia menyipitkan matanya, menunggu beberapa detik hingga matanya menyesuaikan diri dengan cahaya, kemudian perlahan-lahan membuka matanya lebih lebar.

Dengan tangan yang masih gemetar, Lucy mendekatkan nyala korek api ke sumbu lilin yang ada di depannya. Sumbu yang basah itu memerlukan waktu beberapa detik sebelum akhirnya menangkap api dan mulai menyala. Api lilin yang kecil bergoyang-goyang sesaat, mengancam akan padam, tapi kemudian menegakkan diri dan mulai menyala dengan stabil, memancarkan cahaya kuning keemasan yang lemah namun cukup untuk menerangi area di sekitar Lucy dalam radius beberapa meter.

Lucy mengambil lilin itu dengan tangan kirinya dan mengangkatnya setinggi wajah. Cahaya lilin yang bergoyang-goyang pelan menerangi sekelilingnya, dan untuk pertama kalinya sejak dia jatuh ke tempat ini, Lucy bisa melihat di mana dia berada.

Dia berada di sebuah ruangan.

Ruangan itu terbuat dari batu, dinding-dindingnya dari batu alam yang kasar dan tidak rata, lantainya dari batu yang datar dan tertutup lumut hijau yang tebal, dan langit-langitnya dari batu yang melengkung ke atas seperti kubah gua kecil. Ruangan itu tidak terlalu besar, mungkin sekitar enam kali enam meter, dengan langit-langit yang cukup tinggi sehingga Lucy bisa berdiri tegak tanpa menyentuhnya. Di beberapa tempat di dinding, lumut yang tumbuh tebal membentuk pola-pola yang tampak seperti ukiran, meskipun Lucy tidak yakin apakah itu memang ukiran buatan tangan atau hanya permainan alam yang kebetulan membentuk pola yang teratur.

Udara di ruangan itu dingin dan lembap, tapi tidak pengap. Ada aliran udara yang sangat tipis yang bergerak dari suatu tempat, mungkin dari celah di dinding atau dari lorong yang terhubung dengan ruangan ini, yang membawa sedikit kesegaran ke dalam ruangan batu yang terkurung ini.

Dan di ujung ruangan yang berlawanan dengan tempat Lucy duduk, ada sebuah pintu.

Bukan pintu biasa yang terbuat dari kayu atau besi. Pintu itu adalah sebuah lubang persegi panjang yang terbuka di dinding batu, cukup tinggi untuk dilewati orang dewasa, dengan tepi-tepi yang terlihat seperti dipahat dengan tangan, tidak rapi, tidak simetris, tapi jelas buatan manusia atau buatan sesuatu yang memiliki kecerdasan.

Di balik pintu itu, kegelapan membentang.


Lucy berdiri dengan perlahan. Lututnya bergetar dan hampir tidak kuat menahan berat tubuhnya yang kelelahan, tapi dia memaksa dirinya untuk tetap berdiri. Dia memegang lilin di tangan kirinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, berusaha melihat sebanyak mungkin dari ruangan ini sebelum dia memutuskan untuk melangkah ke mana pun.

Di sudut ruangan yang dekat dengan pintu batu, Lucy melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah benda kecil yang tergeletak di lantai batu di dekat dinding. Lucy berjalan mendekat, memperhatikan langkahnya agar tidak tersandung oleh batu-batu yang menonjol dari lantai, dan berlutut di depan benda itu.

Sebuah boneka kain.

Boneka itu kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan Lucy. Terbuat dari kain putih yang sudah menguning karena usia, dengan rambut dari benang hitam yang dijahit di bagian kepalanya, dan mata dari dua buah kancing hitam kecil yang sudah kusam. Boneka itu mengenakan gaun kecil dari kain bermotif bunga-bunga yang warnanya sudah pudar, dan di lehernya tergantung sebuah pita merah kecil yang masih terlihat cukup terang.

Lucy mengambil boneka itu dan membolak-balikkannya di tangannya. Boneka mainan anak-anak. Tua. Sudah bertahun-tahun, mungkin berpuluh-puluh tahun. Tapi masih utuh. Masih bisa digenggam. Masih menyimpan kenangan siapa pun yang pernah memilikinya.

Siapa yang meninggalkan boneka anak-anak di tempat seperti ini?

Lucy meletakkan boneka itu kembali di tempatnya. Bukan miliknya. Bukan haknya untuk membawanya pergi. Dia berdiri dan mengarahkan lilinnya ke arah pintu batu yang terbuka di ujung ruangan.

“Aku harus mencari jalan keluar dari sini,” gumam Lucy pada dirinya sendiri. “Aku harus menemukan Ray.”

Dengan langkah yang pelan dan hati-hati, Lucy berjalan menuju pintu batu dan melangkah melewatinya, memasuki kegelapan yang membentang di baliknya.


Di balik pintu batu, sebuah lorong sempit membentang ke depan. Lorong itu terbuat dari batu yang sama dengan ruangan sebelumnya, dinding batu alam yang kasar dan berlumut, lantai batu yang tidak rata dan licin, dan langit-langit batu yang rendah sehingga Lucy harus sedikit menundukkan kepalanya di beberapa tempat. Cahaya lilin yang dia bawa menerangi lorong itu hanya beberapa meter ke depan, selebihnya tertelan oleh kegelapan yang pekat dan tidak berujung.

Lucy berjalan perlahan menyusuri lorong itu. Tangannya yang tidak memegang lilin menyentuh dinding batu di sampingnya, menggunakan dinding itu sebagai panduan agar dia tidak kehilangan arah di dalam kegelapan. Dinding itu terasa dingin dan basah di bawah jari-jarinya, dengan permukaan yang kasar dan tidak rata yang sesekali terasa tajam dan menggores kulitnya.

Lorong itu berkelok-kelok, berbelok ke kiri di satu tempat, lalu ke kanan di tempat lain, kemudian menurun sedikit sebelum naik lagi, seolah-olah lorong itu dibangun mengikuti kontur alami formasi batu di bawah tanah. Di beberapa tempat, langit-langitnya menjadi sangat rendah sehingga Lucy harus membungkuk untuk melewatinya, dan di tempat-tempat lain langit-langitnya melengkung tinggi ke atas sehingga cahaya lilinnya tidak cukup kuat untuk meneranginya.

Suara langkah kakinya bergema pelan di lorong yang sempit itu, menciptakan irama yang monoton dan hipnotis. Suara tetes-tetes air yang jatuh dari langit-langit ke lantai terdengar sesekali, menambah suara latar yang membuat suasana di lorong bawah tanah ini terasa semakin sunyi dan semakin terisolasi dari dunia di atas.

Lucy tidak tahu berapa lama dia berjalan menyusuri lorong itu. Mungkin sepuluh menit. Mungkin dua puluh. Lilinnya sudah mulai memendek, tapi masih menyala dengan stabil.

Dan kemudian, lorong itu berakhir.


Lucy berdiri di ambang sebuah ruangan lain.

Ruangan ini lebih besar dari ruangan pertama tempat dia mendarat. Jauh lebih besar. Cahaya lilinnya hanya mampu menerangi sebagian kecil dari ruangan ini, tapi dari gema langkah kakinya yang memantul dari dinding-dinding yang jauh, Lucy bisa merasakan bahwa ruangan ini sangat luas, mungkin seluas aula besar yang pernah dia lihat di balai desa kota terdekat.

Tapi yang membuat Lucy berhenti dan terpaku di tempatnya bukan ukuran ruangan itu.

Di dinding sebelah kiri ruangan, tepat di tempat di mana cahaya lilinnya menyentuh permukaan batu, tergantung sebuah foto.

Sebuah foto berbingkai kayu yang berukuran cukup besar, kira-kira selebar dua telapak tangan orang dewasa. Foto itu terlihat tua, kertas fotonya sudah menguning di bagian tepi dan bingkai kayunya sudah lapuk dimakan usia. Tapi gambar di dalam foto itu masih cukup jelas untuk bisa dilihat.

Lucy mengangkat lilinnya lebih dekat ke foto itu.

Dan napasnya tertahan.


Di dalam foto itu, sebuah keluarga tersenyum.

Seorang pria bertubuh tegap berdiri di tengah, mengenakan kemeja putih yang rapi dan celana kain berwarna gelap. Wajahnya tampan dan ramah, dengan rambut hitam yang tersisir ke samping dan kumis tipis yang terpangkas rapi. Matanya memancarkan kehangatan dan kebahagiaan yang tulus, dan bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi.

Di sampingnya, seorang wanita berdiri dengan anggun. Tangannya melingkari lengan pria itu dengan mesra. Wanita itu mengenakan gaun berwarna terang dengan motif bunga-bunga kecil, dan rambutnya yang hitam panjang tergerai indah di bahunya. Wajahnya cantik dan berseri-seri, dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan dan bibir yang tersenyum manis.

Lucy mengenali wajah itu.

Wanita di foto itu adalah Karla.

Tapi bukan Karla yang Lucy kenal. Bukan Karla yang berambut putih dan bergaun putih dan bertubuh bercahaya kebiruan. Wanita di foto ini memiliki rambut hitam, kulit yang berwarna sawo matang yang sehat, dan mata yang berwarna cokelat gelap yang hangat dan hidup. Wanita ini adalah Karla ketika dia masih manusia. Ketika dia masih hidup. Ketika dia masih memiliki keluarga dan kebahagiaan dan segalanya yang membuatnya tersenyum dengan senyuman yang tulus dan bukan senyuman yang mengerikan.

Di depan pasangan itu, dua orang anak berdiri berdampingan. Seorang anak perempuan yang kira-kira berusia enam atau tujuh tahun, mengenakan gaun kecil berwarna merah muda dengan rambut yang dikepang dua, dan seorang anak laki-laki yang lebih kecil, mungkin empat atau lima tahun, mengenakan baju bergaris-garis dan tersenyum lebar dengan gigi depan yang tanggal.

Sebuah keluarga yang bahagia. Lengkap. Utuh. Penuh cinta.

Lucy merasakan air matanya mengalir lagi. Bukan air mata ketakutan kali ini. Ini adalah air mata yang berbeda. Air mata yang muncul ketika seseorang melihat sesuatu yang indah yang sudah hancur, sesuatu yang utuh yang sudah pecah, sesuatu yang hidup yang sudah mati. Karla pernah memiliki semua ini. Suami. Anak-anak. Kebahagiaan. Senyuman yang tulus.

Apa yang terjadi? Apa yang merenggut semua itu darinya?


Lucy melangkah menjauh dari foto itu dan menyusuri ruangan lebih jauh ke dalam. Cahaya lilinnya yang semakin pendek bergoyang-goyang pelan, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di dinding-dinding batu seperti makhluk-makhluk hidup yang menari dalam diam.

Di bagian lain ruangan, Lucy menemukan perabotan-perabotan yang ditata seolah-olah ruangan bawah tanah ini adalah sebuah rumah. Sebuah meja kayu kecil yang sudah lapuk berdiri di dekat dinding, dengan dua buah kursi kayu yang sudah patah satu kakinya tergeletak di sampingnya. Di atas meja, sebuah vas bunga dari tanah liat berisi sisa-sisa bunga kering yang sudah menjadi debu. Sebuah rak kayu yang miring bersandar di dinding, berisi beberapa toples kaca yang kosong dan berdebu.

Dan di sudut ruangan, di tempat yang paling jauh dari lorong yang baru saja dia lewati, Lucy melihat sesuatu yang membuat kakinya berhenti melangkah.

Sebuah televisi.

Televisi tua dengan layar yang cembung dan badan yang besar dan berat, terbuat dari plastik berwarna abu-abu kecokelatan yang sudah pudar dan berdebu. Televisi itu diletakkan di atas sebuah meja rendah dari kayu, dan di sampingnya terdapat sebuah VCD player yang sama tuanya, dengan kabel-kabel yang berseliweran di belakangnya dan sebuah keping VCD yang sudah dimasukkan ke dalam slotnya, siap untuk diputar.

Lucy berdiri di depan televisi itu. Dia tidak mengerti mengapa ada televisi dan VCD player di tempat seperti ini, di sebuah ruangan bawah tanah yang terisolasi dari dunia, yang tidak memiliki listrik, yang tidak memiliki apa pun yang berhubungan dengan kehidupan modern.

Dan kemudian, tanpa peringatan apa pun, tanpa ada tangan yang menyentuh tombol apa pun, tanpa ada suara klik atau desis atau bunyi mekanis, televisi itu menyala.


Layar televisi itu berkedip-kedip sesaat, garis-garis horizontal berwarna putih dan abu-abu berlari-lari di atas layar seperti hujan statis, sebelum akhirnya gambar muncul. Gambar yang agak buram dan bergoyang-goyang, seperti rekaman video yang dibuat dengan kamera genggam oleh tangan yang tidak terlalu stabil. Warna gambarnya agak pudar dan kekuningan, menandakan bahwa rekaman ini sudah sangat tua.

Lucy mundur selangkah dari televisi itu. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya yang memegang lilin bergetar sehingga cahaya lilin bergoyang-goyang liar, membuat bayangan-bayangan di dinding menari dengan lebih cepat dan lebih gelisah.

Di layar televisi, sebuah taman muncul.

Taman yang indah dan terawat dengan baik. Rumput yang hijau dan terpangkas rapi membentang luas, dihiasi oleh pohon-pohon rindang yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin. Bunga-bunga warna-warni tumbuh di sepanjang pagar kayu rendah yang mengelilingi taman, menciptakan pita warna yang cerah di bawah sinar matahari yang hangat.

Dan di tengah taman itu, sebuah keluarga sedang bermain.

Lucy mengenali mereka. Keluarga yang sama dengan yang ada di foto berbingkai kayu yang baru saja dia lihat di dinding. Karla, Karla yang masih berambut hitam, yang masih berkulit sawo matang, yang masih manusia, duduk di atas selimut piknik yang dibentangkan di atas rumput, tertawa sambil mengupas buah jeruk untuk kedua anaknya. Anak perempuannya yang berkepang dua berlarian mengejar kupu-kupu di sekitar taman, gaun merah mudanya berkibar-kibar terkena angin, sementara anak laki-lakinya yang lebih kecil duduk di pangkuan ayahnya, bermain dengan mobil-mobilan kayu.

Pria itu, suami Karla, tersenyum sambil memeluk anaknya. Senyumannya hangat dan penuh kasih sayang. Dia mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Lucy karena suara dari televisi hanya berupa dengungan statis yang pelan, tapi dari gerakan bibirnya dan ekspresi wajahnya, Lucy bisa melihat bahwa dia sedang bercerita lucu yang membuat anak laki-lakinya tertawa terbahak-bahak.

Lucy merasakan dadanya menjadi sesak. Keluarga yang bahagia. Keluarga yang utuh. Keluarga yang tidak tahu bahwa kebahagiaan mereka akan direnggut.


Gambar di layar televisi berubah.

Masih taman yang sama, tapi suasananya berbeda. Kamera yang merekam kini menangkap Karla yang sedang berdiri dari selimut pikniknya, matanya tertuju pada seseorang yang baru saja tiba di taman. Lucy melihat sosok seorang wanita berjalan menghampiri keluarga Karla dari arah pintu pagar taman.

Wanita itu lebih muda dari Karla. Tubuhnya lebih kecil, rambutnya dipotong pendek sebahu, dan wajahnya memiliki kemiripan dengan Karla, bentuk mata yang sama, garis rahang yang sama, hidung yang sama, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman yang terlihat ramah namun tidak menyentuh matanya.

Lucy tahu siapa wanita itu bahkan sebelum tulisan muncul di layar televisi.

Tema.

Adik Karla.

Tema berdiri di hadapan Karla dan keluarganya dengan senyuman yang terpasang di wajahnya seperti topeng yang dipasang dengan hati-hati. Dia memeluk Karla dengan pelukan yang terlihat mesra dan hangat, mencium pipi kakaknya, kemudian berlutut untuk memeluk kedua keponakan yang berlari menghampirinya dengan gembira.

Tapi mata Tema, mata yang tertangkap kamera hanya sekilas ketika dia menoleh ke samping saat memeluk anak perempuan Karla, memancarkan tatapan yang membuat bulu kuduk Lucy berdiri. Tatapan sinis. Tatapan iri. Tatapan seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang jahat di balik senyuman manisnya.

Suami Karla, yang kini Lucy ketahui bernama Berna, dari tulisan yang muncul sekilas di bagian bawah layar televisi seperti subtitle yang berkedip, menyambut Tema dengan ramah. Dia berdiri dan berjabat tangan dengan adik iparnya itu, tersenyum lebar dan menepuk bahunya dengan akrab. Berna tidak melihat tatapan sinis yang baru saja melintas di mata Tema. Tidak ada yang melihatnya. Hanya kamera. Dan kini, hanya Lucy.


Gambar di layar berubah lagi.

Kali ini, latar tempatnya bukan taman. Melainkan sebuah ruangan. Ruang tamu sebuah rumah yang sederhana namun rapi dan nyaman. Karla tidak ada di sana. Hanya Tema dan Berna.

Tema duduk di sofa berhadapan dengan Berna. Wajahnya serius, keningnya berkerut, bibirnya bergerak cepat mengucapkan kata-kata yang tidak bisa didengar Lucy karena suara televisi masih hanya berupa dengungan statis. Tapi dari bahasa tubuhnya, Lucy bisa melihat bahwa Tema sedang mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang mendesak. Tangannya bergerak-gerak dengan ekspresif, menunjuk ke arah jendela, ke arah pintu, ke arah hutan yang terlihat di kejauhan melalui jendela rumah.

Tema menyuruh Berna untuk menyampaikan sesuatu kepada Karla.

Gambar berubah lagi. Kali ini Karla ada di sana. Karla berdiri di ruang tamu yang sama, mendengarkan Tema yang berbicara dengan wajah yang penuh kepedulian palsu. Tema memegang tangan Karla, menatap mata kakaknya dengan tatapan yang dibuat-buat sedih, dan bibirnya bergerak menyampaikan permohonan.

Lucy bisa menebak apa yang sedang Tema katakan.

Tema meminta Karla untuk mencari sebuah tanaman. Tanaman yang berpucuk seperti suplir dan berdaun seperti anggrek. Tanaman yang tumbuh di hutan. Tanaman yang bernama Cortez. Tema mengatakan bahwa dia sakit. Bahwa hanya Cortez yang bisa menyembuhkannya. Bahwa hanya Karla, kakaknya tersayang, yang bisa menolongnya.

Dan Karla, Karla yang baik hati, Karla yang menyayangi adiknya, Karla yang tidak bisa menolak permintaan orang yang dia cintai, mengangguk.


Gambar di layar televisi berubah sekali lagi. Dan kali ini, gambar itu membuat Lucy merasakan kemarahan yang membakar dadanya.

Di layar, Karla terlihat berjalan masuk ke sebuah hutan. Sendirian. Dengan pakaian yang sederhana dan tas kecil di punggungnya. Hutan itu gelap dan berkabut, hutan yang sama, Lucy yakin, dengan hutan tempat dia sendiri baru saja mencari Cortez. Karla berjalan menyusuri semak-semak dan memanjat akar-akar pohon raksasa, mencari tanaman yang diminta adiknya, mencari Cortez yang mungkin ada atau mungkin tidak ada di kedalaman hutan tua itu.

Hari berganti hari. Gambar di layar menunjukkan Karla yang semakin kelelahan, semakin kurus, semakin pucat. Pakaiannya robek-robek oleh duri dan ranting. Wajahnya yang tadinya cantik dan berseri kini menjadi tirus dan kusut. Matanya yang tadinya berbinar kini menjadi redup dan berkabut. Tapi dia tidak menyerah. Dia terus berjalan, terus mencari, terus memasuki bagian hutan yang lebih dalam dan lebih gelap, karena adiknya sakit dan membutuhkan Cortez.

Sementara itu, di gambar yang bergantian muncul di layar, rumah Karla dan Berna terlihat tanpa Karla di dalamnya. Tema ada di sana. Tema duduk di ruang tamu Karla. Tema bermain dengan anak-anak Karla. Tema memasak di dapur Karla. Tema tersenyum kepada Berna.

Dan Berna, Berna yang ditinggal istrinya pergi ke hutan untuk mencari tanaman yang tidak jelas keberadaannya, perlahan-lahan mulai terbiasa dengan kehadiran Tema. Perlahan-lahan mulai bergantung pada Tema yang mengurus rumah tangganya dan anak-anaknya. Perlahan-lahan mulai memandang Tema bukan lagi sebagai adik ipar, tapi sebagai sesuatu yang lain.

Lucy memahaminya sekarang.

Tema tidak pernah sakit. Tidak pernah membutuhkan Cortez. Semua itu adalah kebohongan. Tipuan. Rencana yang disusun dengan hati-hati untuk menyingkirkan Karla dari keluarganya sendiri, untuk mengirim kakaknya ke hutan mencari tanaman yang mungkin tidak bisa ditemukan, agar Tema bisa merenggut apa yang menjadi milik Karla, suaminya, anak-anaknya, rumahnya, kebahagiaannya.


Gambar di layar berubah untuk terakhir kalinya.

Di layar, Karla terlihat duduk di lantai hutan yang basah dan berlumpur. Dia tidak lagi berjalan. Tidak lagi mencari. Tubuhnya yang kurus dan kelelahan bersandar di batang pohon raksasa yang berlumut. Pakaiannya sudah menjadi serpihan kain yang hampir tidak menutupi tubuhnya. Rambutnya yang dulu hitam dan berkilau kini kusut dan kotor dan, Lucy melihatnya dengan jelas, mulai berubah warna menjadi putih.

Karla menangis. Air matanya mengalir deras di pipinya yang tirus, membuat alur-alur bersih di antara debu dan kotoran yang menutupi wajahnya. Dia menangis karena dia tahu. Dia sudah tahu. Bahwa adiknya tidak pernah sakit. Bahwa dia telah ditipu. Bahwa sementara dia terjebak di hutan mencari tanaman yang mungkin memang ada tapi tidak mungkin ditemukan oleh orang biasa, adiknya telah mengambil segalanya yang pernah menjadi miliknya.

Suaminya. Anak-anaknya. Rumahnya. Kehidupannya.

Karla menangis di lantai hutan, sendirian, ditinggalkan, dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.

Dan kemudian, dari balik pepohonan yang gelap, sesosok makhluk muncul.

Makhluk itu memiliki rambut yang sangat panjang, begitu panjang sehingga ujungnya menyeret di tanah dan tersangkut di akar-akar pohon. Tubuhnya kurus dan tinggi, ditutupi oleh jubah gelap yang menyatu dengan bayangan hutan. Wajahnya tidak terlihat jelas, hanya sepasang mata yang bersinar redup di bawah tirai rambut panjangnya yang hitam.

Makhluk itu mendekati Karla yang menangis. Makhluk itu berdiri di depannya, menatapnya dari atas dengan mata yang bersinar itu, dan kemudian mengulurkan tangannya.

Tawaran.

Makhluk itu menawarkan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dilihat Lucy dengan jelas dari gambar televisi yang buram. Tapi dari gerakan bibirnya, atau apa yang terlihat seperti bibir di balik tirai rambut panjangnya, makhluk itu sedang mengucapkan sebuah kata.

Keabadian.

Karla mendongak. Matanya yang basah dan memerah menatap makhluk itu. Dan di mata Karla yang sudah kehilangan segalanya, suami, anak, rumah, kebahagiaan, bahkan identitasnya sebagai manusia biasa, Lucy melihat sesuatu yang sangat dia kenali. Keputusasaan. Keputusasaan yang begitu total sehingga apapun yang ditawarkan, oleh siapapun yang menawarkan, terasa seperti tali penyelamat yang harus diraih meskipun tali itu mungkin akan membawa ke tempat yang lebih gelap.

Karla mengangguk.

Makhluk berambut panjang itu menggenggam tangan Karla dan menariknya berdiri. Kemudian, bersama-sama, mereka berjalan menuju sebuah titik cahaya yang muncul entah dari mana di antara pepohonan, sebuah titik cahaya putih kebiruan yang berkedip-kedip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Mereka melangkah masuk ke dalam cahaya itu, dan cahaya itu menelan mereka, dan mereka menghilang.

Layar televisi menjadi gelap.


Lucy berdiri di depan televisi yang sudah padam, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Lilin di tangannya bergoyang-goyang pelan, cahayanya yang semakin redup menerangi wajahnya yang basah dan pucat.

Sekarang dia mengerti.

Karla bukan monster yang dilahirkan dari kegelapan. Karla adalah seorang wanita biasa yang pernah memiliki suami bernama Berna, anak-anak yang manis dan lucu, rumah yang nyaman, dan kehidupan yang bahagia. Karla adalah seorang kakak yang baik hati yang rela pergi ke hutan sendirian demi mencarikan obat untuk adiknya yang mengaku sakit. Karla adalah korban pengkhianatan dari orang yang paling dia percaya, adiknya sendiri, Tema.

Dan ketika Karla kehilangan segalanya, ketika dia sendirian dan putus asa di hutan yang gelap dan dingin, makhluk berambut panjang itu datang dan menawarkan keabadian. Menawarkan kekuatan untuk bertahan. Menawarkan eksistensi yang melampaui batas-batas kehidupan manusia.

Tapi keabadian itu bukan tanpa harga.

Karla mendapatkan keabadian, tapi kehilangan kemanusiaannya. Dia mendapatkan kekuatan, tapi kehilangan kehangatan. Dia mendapatkan kemampuan untuk bertahan selamanya, tapi kehilangan kemampuan untuk merasakan kebahagiaan yang pernah membuatnya tersenyum di taman bersama keluarganya.

Dan sekarang, setelah entah berapa lama hidup dalam keabadian yang dingin dan sepi, Karla menginginkan sesuatu yang bisa mengisi kekosongan di dalam dirinya. Seseorang yang bisa menemaninya. Seseorang yang bisa menjadi miliknya.

Ray.

Lucy menghapus air matanya dengan lengan bajunya. Kakinya bergetar, tubuhnya kelelahan, hatinya hancur karena apa yang baru saja dia saksikan. Tapi di dalam semua rasa sakit dan kelelahan dan ketakutan itu, ada satu hal yang tetap berdiri tegak dan tidak goyah.

Tekadnya untuk menyelamatkan suaminya.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Ray, Karla,” bisik Lucy ke dalam kegelapan ruangan bawah tanah yang sunyi. “Aku mengerti rasa sakitmu. Aku mengerti pengkhianatannya. Tapi Ray adalah suamiku. Dan aku akan membawanya pulang.”

Di belakang Lucy, di tempat di mana kegelapan paling pekat dan cahaya lilin tidak bisa menjangkaunya, sebuah suara muncul.

Suara yang lembut dan dingin dan penuh dengan kesedihan yang sudah berusia sangat tua.

“Akhirnya kau paham,” bisik suara itu. “Bagaimana rasanya dikhianati. Kehilangan. Ditipu.”

Lucy membalikkan tubuhnya.

Dan di sana, berdiri di kegelapan, Karla menatapnya dengan mata yang gelap dan tanpa dasar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk