Lucy membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang begitu cepat sehingga lilin di tangannya hampir terlepas dan jatuh ke lantai batu yang basah. Jantungnya berdentum keras di dalam rongga dadanya, begitu keras sehingga dia bisa merasakan getarannya di tenggorokan dan di ujung-ujung jarinya yang gemetar.
Karla berdiri di sana.
Tepat di belakangnya. Begitu dekat sehingga Lucy bisa merasakan hawa dingin yang mengalir dari tubuh Karla menyentuh kulit wajahnya seperti hembusan angin dari mulut gua yang dalam. Cahaya putih kebiruan yang memancar dari tubuh Karla menerangi ruangan bawah tanah itu dengan cara yang membuat bayangan-bayangan di dinding bergerak mundur dan bersembunyi di sudut-sudut yang paling gelap, seolah-olah bayangan-bayangan itu sendiri takut kepada makhluk yang berdiri di hadapan Lucy.
Karla tidak lagi menjulang tinggi seperti ketika dia mengejar Lucy di hutan tadi. Tubuhnya telah kembali ke bentuk yang pertama kali Lucy kenal, seorang wanita berambut putih panjang yang mengenakan gaun putih yang menyentuh lantai. Tapi matanya masih gelap. Masih tanpa pupil. Masih seperti dua lubang hitam yang terbuka di wajahnya yang pucat dan tanpa ekspresi.
“Akhirnya kau paham,” ulang Karla. Suaranya bergema pelan di ruangan batu itu, memantul dari dinding ke dinding seperti lonceng yang dibunyikan di dalam sumur yang dalam. “Bagaimana rasanya dikhianati. Kehilangan. Ditipu.”
Lucy menelan ludahnya. Tangannya yang memegang lilin bergetar hebat sehingga cahaya lilin bergoyang-goyang liar, membuat wajah Karla yang pucat berkedip-kedip antara terang dan gelap, antara terlihat dan tidak terlihat.
“Aku sudah melihat semuanya, Karla,” kata Lucy. Suaranya bergetar, tapi dia memaksakan dirinya untuk tidak mundur, untuk tidak berlari, untuk berdiri tegak di tempatnya meskipun setiap sel di dalam tubuhnya berteriak kepadanya untuk lari sejauh mungkin dari makhluk yang berdiri di depannya ini. “Aku sudah melihat apa yang Tema lakukan kepadamu. Aku sudah melihat bagaimana dia mengirimmu ke hutan untuk mencari Cortez yang tidak pernah dia butuhkan. Aku sudah melihat bagaimana dia merenggut keluargamu sementara kamu sendirian di hutan.”
Karla tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas. Dia berdiri seperti patung es yang diukir dengan sempurna, hanya matanya yang gelap dan tanpa dasar yang menunjukkan bahwa ada sesuatu, atau seseorang, di balik wujud yang membeku itu.
“Dan aku mengerti rasa sakitmu,” lanjut Lucy. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena ketakutan. Air mata ini mengalir karena dia benar-benar merasakan apa yang Karla rasakan. Dia membayangkan dirinya di posisi Karla, ditinggalkan, dikhianati, kehilangan segalanya, dan rasa sakit itu terasa begitu nyata dan begitu tajam sehingga dadanya sesak dan napasnya tercekat.
Karla memiringkan kepalanya ke samping. Gerakan kecil itu membuat rambut putihnya yang panjang bergeser dan jatuh menutupi sebagian wajahnya, sehingga hanya satu matanya yang gelap yang terlihat menatap Lucy dari balik tirai rambut putih itu.
“Kau mengerti rasa sakitku?” bisik Karla. Suaranya terdengar seperti dua orang yang berbicara bersamaan, satu suara wanita yang lembut dan sedih, dan satu suara yang lebih dalam dan lebih tua yang bergema dari tempat yang sangat jauh. “Kau tidak tahu apa-apa tentang rasa sakitku, Lucy. Kau tidak tahu bagaimana rasanya berjalan sendirian di hutan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, mencari tanaman yang tidak pernah bisa kau temukan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika kau akhirnya menyadari bahwa kau telah ditipu, bahwa adikmu sendiri telah mengirimmu ke hutan bukan untuk mencari obat, tapi untuk menyingkirkanmu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika kau mencoba pulang dan menemukan bahwa rumahmu sudah bukan lagi rumahmu, bahwa suamimu sudah bukan lagi suamimu, bahwa anak-anakmu sudah tidak lagi mengenalimu.”
Suara Karla bergetar. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, Lucy melihat sesuatu berkilat di mata Karla yang gelap. Sesuatu yang basah. Sesuatu yang menyerupai air mata, meskipun air mata itu berwarna keperakan seperti merkuri dan bukan bening seperti air mata manusia.
“Aku kehilangan segalanya, Lucy,” bisik Karla. “Segalanya. Dan yang tersisa hanyalah aku. Sendirian. Di hutan yang gelap. Untuk selamanya.”
“Tapi itu bukan salah Ray,” kata Lucy dengan suara yang pecah. “Ray tidak ada hubungannya dengan apa yang Tema lakukan kepadamu. Ray adalah suamiku. Dia tidak pernah menyakitimu. Dia tidak pernah mengkhianatimu. Mengapa kau ingin mengambilnya dariku?”
Karla terdiam.
Keheningan yang mengisi ruangan bawah tanah itu terasa berat dan menekan, seperti air yang perlahan-lahan naik dan mengisi setiap sudut ruangan. Lucy bisa mendengar detak jantungnya sendiri, bisa mendengar napasnya sendiri yang tersengal, bisa mendengar tetes-tetes air yang jatuh dari langit-langit batu ke lantai dengan irama yang lambat dan teratur.
Kemudian Karla berbicara.
“Karena aku kesepian, Lucy.”
Tiga kata itu keluar dari mulut Karla dengan suara yang begitu pelan dan begitu rapuh sehingga hampir tidak terdengar. Suara yang kedua, suara yang lebih dalam dan lebih tua, menghilang, dan yang tersisa hanyalah suara seorang wanita yang sangat, sangat lelah. Wanita yang sudah menanggung kesendirian yang begitu panjang sehingga waktu itu sendiri sudah kehilangan artinya baginya.
“Aku sudah sendirian selama sangat lama,” lanjut Karla. “Bertahun-tahun. Berpuluh-puluh tahun. Mungkin lebih. Aku tidak lagi menghitung. Aku tidak lagi merasakan berlalunya waktu. Yang aku rasakan hanyalah kekosongan. Kedinginan. Kesunyian yang tidak pernah berakhir. Dan ketika aku melihat Ray datang ke desa ini, ketika aku melihat cara dia tersenyum, cara dia berjalan, cara dia memelukmu dengan penuh kasih sayang, aku teringat Berna. Aku teringat suamiku. Aku teringat bagaimana rasanya dipeluk oleh seseorang yang mencintaimu. Dan aku menginginkan perasaan itu kembali.”
Lucy menangis. Air matanya mengalir deras di pipinya, menetes dari dagunya dan jatuh ke lantai batu yang dingin. Dia menangis bukan hanya untuk dirinya sendiri, bukan hanya untuk Ray, tapi juga untuk Karla. Untuk wanita yang pernah memiliki segalanya dan kehilangan segalanya. Untuk wanita yang kesendirian dan rasa sakitnya sudah melampaui batas yang bisa ditanggung oleh jiwa manusia biasa.
“Tapi mengambil Ray tidak akan menghilangkan rasa sakitmu, Karla,” kata Lucy di antara isakannya. “Ray bukan Berna. Ray adalah suamiku. Dia adalah kekasih sehidup sematiku. Dia adalah orang yang selama ini dan selamanya akan bersama aku. Mengambilnya dari aku hanya akan menciptakan rasa sakit yang sama dengan yang kau rasakan, rasa sakit kehilangan orang yang paling kau cintai.”
Karla menatap Lucy.
Lama. Sangat lama. Matanya yang gelap dan tanpa pupil menatap mata Lucy yang basah dan memerah, dan di antara dua pasang mata yang saling berhadapan itu, sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh dua jiwa yang saling berhadapan di dalam ruangan bawah tanah yang gelap dan dingin.
Lucy melihat kemarahan di mata Karla. Kemarahan yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, membusuk dan mengeras di dalam jiwa yang sudah kehilangan kemampuan untuk melepaskannya. Kemarahan kepada Tema yang mengkhianatinya. Kemarahan kepada Berna yang membiarkan dirinya digantikan. Kemarahan kepada dunia yang membiarkannya menderita sendirian di hutan yang gelap. Dan kemarahan kepada dirinya sendiri, kepada Karla yang dulu, Karla yang terlalu baik hati, terlalu percaya, terlalu naif, yang membiarkan semua itu terjadi tanpa pernah melawan.
“Aku tidak peduli,” kata Karla. Suaranya berubah lagi. Bukan lagi suara wanita yang rapuh dan kesepian. Ini adalah suara yang keras dan dingin dan penuh dengan tekad yang gelap. “Aku sudah terlalu lama sendirian. Aku sudah terlalu lama kesakitan. Aku pantas mendapatkan seseorang. Aku pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan jika aku harus mengambilnya dari orang lain, maka aku akan mengambilnya.”
“Tidak!” teriak Lucy. “Aku tidak akan membiarkanmu!”
Karla tersenyum. Senyuman yang lebar dan dingin dan jahat, senyuman yang sama dengan yang Lucy lihat ketika Karla berubah di hutan tadi. Senyuman yang memperlihatkan gigi-gigi putih yang terlalu panjang dan terlalu tajam.
“Kau tidak bisa menghentikan aku, Lucy,” bisik Karla. “Kau hanyalah manusia biasa. Petani kecil dari desa kecil. Apa yang bisa kau lakukan?”
Dan dengan kata-kata itu, Karla bergerak.
Tangan kanan Karla memanjang.
Seperti di hutan tadi, lengan Karla memanjang melampaui batas-batas proporsi tubuh manusia, menjulur ke depan dengan kecepatan yang mengerikan, jari-jarinya yang berkuku hitam dan panjang terbuka lebar seperti cakar burung pemangsa yang siap menerkam. Tangan itu bergerak lurus menuju tubuh Lucy, menuju pinggangnya, menuju untuk melilit dan mengikat dan menahan.
Lucy berteriak dan melompat ke samping.
Tangan Karla yang memanjang menghantam dinding batu di belakang tempat Lucy berdiri tadi, menimbulkan bunyi dentuman yang keras dan bergema di seluruh ruangan. Serpihan-serpihan batu berjatuhan dari dinding, dan retakan tipis menjalar dari titik hantaman seperti jaring laba-laba yang terbentuk di atas permukaan batu.
Lucy jatuh tersungkur di lantai batu yang basah. Lilin yang dia pegang hampir terlepas dari tangannya, tapi dia berhasil mencengkeramnya kembali pada detik terakhir, meskipun nyala apinya bergoyang-goyang liar dan hampir padam.
Karla menarik tangannya kembali dari dinding. Lengannya yang panjang mengkerut kembali ke ukuran normal, lalu memanjang lagi, kali ini kedua tangannya sekaligus, menjulur ke arah Lucy yang masih tergeletak di lantai.
Lucy berguling ke kanan. Tangan kiri Karla menghantam lantai di tempat dia berbaring tadi, menimbulkan bunyi debuman yang membuat lantai batu bergetar. Lucy berguling lagi ke kiri. Tangan kanan Karla menghantam lantai di sampingnya, begitu dekat sehingga ujung kuku hitam Karla menggores lengan baju Lucy dan merobek kainnya.
Lucy bangkit berdiri dengan susah payah. Lututnya yang sudah pegal dan sakit hampir tidak kuat menahan berat tubuhnya. Tangannya yang memegang lilin gemetar hebat, dan nyala api lilin bergoyang-goyang liar, mengancam akan padam setiap saat.
Karla berdiri di ujung ruangan yang berlawanan. Kedua tangannya yang panjang dan berkuku hitam terangkat di sampingnya seperti sayap kelelawar yang siap terbang. Matanya yang gelap menatap Lucy dengan tatapan yang dingin dan tanpa belas kasihan. Senyumannya masih terpasang di wajahnya yang pucat, senyuman yang lebar dan jahat dan penuh kemenangan.
“Menyerahlah, Lucy,” kata Karla dengan suara yang bergema di ruangan batu. “Kau tidak bisa melawanku. Serahkan Ray kepadaku dan aku akan membiarkanmu pergi. Kau bisa kembali ke desamu. Kembali ke ayahmu. Hidup seperti biasa. Tanpa Ray.”
“TIDAK AKAN PERNAH!” teriak Lucy dengan seluruh kekuatan yang tersisa di paru-parunya. “Ray adalah suamiku! Sehidup sematiku! Aku tidak akan pernah menyerahkan dia kepada siapa pun! Tidak kepadamu! Tidak kepada siapa pun!”
Karla tertawa. Tawa yang dingin dan pecah dan menggema di ruangan bawah tanah itu seperti suara kaca yang dihancurkan di dalam katedral yang kosong.
“Keras kepala,” desisnya. “Sama seperti aku dulu. Sama keras kepalanya. Sama bodohnya.”
Tangan kiri Karla memanjang lagi, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Tangan itu melesat ke arah Lucy seperti ular yang menyerang, jari-jarinya yang berkuku hitam terbuka lebar, siap untuk mencengkeram.
Lucy tidak sempat menghindar.
Tangan Karla melilit pinggangnya.
Jari-jari Karla yang panjang dan dingin melilit tubuh Lucy seperti tali yang terbuat dari es. Lilitan itu semakin kuat, semakin erat, menekan tulang-tulang rusuk Lucy dari luar sehingga napasnya menjadi pendek dan tersengal. Dingin yang luar biasa menembus baju Lucy dan menyentuh kulitnya, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti air es yang dituangkan ke atas daging hidup.
Lucy menjerit. Suaranya memecah kesunyian ruangan bawah tanah dan bergema di dinding-dinding batu, memantul ke segala arah dan kembali kepadanya sebagai gema yang penuh kesakitan.
Karla menarik tangannya, menyeret Lucy ke arahnya. Tubuh Lucy terseret di atas lantai batu yang basah, lututnya dan sikunya tergores oleh permukaan batu yang kasar. Lucy mencakar-cakar tangan Karla yang melilit tubuhnya, kuku-kukunya menggores kulit Karla yang dingin dan keras seperti menggores permukaan batu pualam, tidak meninggalkan bekas apa pun.
“Lepaskan!” jerit Lucy. “Lepaskan aku!”
Karla tidak melepaskannya. Dia terus menarik Lucy mendekat, lilitan tangannya semakin erat, semakin menekan, semakin menyakitkan. Wajah Karla yang pucat semakin dekat, senyumannya yang jahat semakin lebar, matanya yang gelap semakin dalam, dan hawa dingin yang mengalir dari tubuhnya semakin menusuk.
Lucy merasakan kesadarannya mulai memudar. Tekanan di tulang-tulang rusuknya membuat setiap tarikan napas menjadi perjuangan yang menyiksa. Pandangannya mulai menggelap di bagian tepi, seolah-olah kegelapan ruangan bawah tanah itu perlahan-lahan merambat masuk ke dalam matanya dan berusaha memadamkan cahaya yang tersisa di dalamnya.
Dan kemudian, di tengah kesakitan dan ketakutan yang hampir membuatnya kehilangan kesadaran, Lucy merasakan sesuatu di tangannya.
Kehangatan.
Lilin.
Lucy masih memegang lilin di tangan kirinya. Di tengah semua kekacauan, di tengah semua kesakitan, di tengah tangan Karla yang melilit tubuhnya dan menyeretnya di atas lantai batu, Lucy masih mencengkeram lilin kecil itu dengan jari-jarinya yang gemetar. Dan lilin itu masih menyala. Nyala apinya yang kecil dan kuning keemasan masih bergoyang-goyang di ujung sumbu yang pendek, masih hidup, masih bertahan, seperti harapan terakhir yang menolak untuk padam.
Kehangatan.
Api.
Karla takut api.
Pikiran itu muncul di benak Lucy seperti kilat yang menyambar di langit malam, terang, tajam, dan tiba-tiba. Dia tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. Mungkin dari instingnya. Mungkin dari sesuatu yang dia lihat di mata Karla ketika api lilinnya bergoyang di depan wajah makhluk itu. Mungkin dari cara tubuh Karla yang terbuat dari kedinginan dan kegelapan secara alamiah bertentangan dengan kehangatan dan cahaya.
Dengan sisa kekuatan terakhir yang ada di tubuhnya, Lucy mengangkat tangan kirinya yang memegang lilin dan mendekatkan nyala api itu ke tangan Karla yang melilit pinggangnya.
Api menyentuh kulit Karla.
Reaksinya luar biasa.
Api kecil dari lilin Lucy menyentuh kulit tangan Karla yang putih dan dingin, dan dalam sekejap, api itu menjalar. Bukan menjalar seperti api yang membakar kertas atau kayu, ini menjalar seperti api yang menemukan bahan bakar yang sudah lama menunggu untuk dinyalakan. Api itu melompat dari titik sentuhan dan berlari di sepanjang permukaan kulit Karla dengan kecepatan yang menakjubkan, meninggalkan jejak cahaya kuning kemerahan yang menyala terang di atas kulit putih yang tadinya bercahaya kebiruan.
Karla menjerit.
Jeritan yang keluar dari mulut Karla bukan jeritan manusia biasa. Jeritan itu terdengar seperti dua suara yang berteriak bersamaan, jeritan wanita yang kesakitan dan raungan makhluk yang terluka, bercampur menjadi satu suara yang begitu tajam dan begitu memilukan sehingga dinding-dinding batu ruangan itu bergetar dan serpihan-serpihan kecil berjatuhan dari langit-langit.
Tangan Karla yang melilit tubuh Lucy langsung mengendur. Jari-jarinya yang panjang dan berkuku hitam melepaskan cengkeramannya dan menarik diri dengan gerakan yang cepat dan panik, seperti tangan anak kecil yang tidak sengaja menyentuh kompor yang panas. Lilitan itu lepas dari pinggang Lucy, dan Lucy jatuh terduduk di lantai batu, tersengal-sengal, memegangi tulang-tulang rusuknya yang sakit dan perih.
Karla mundur ke belakang. Tangan kirinya yang terbakar diangkat tinggi-tinggi di depannya, dan matanya yang gelap menatap api yang menjalar di kulitnya dengan ekspresi yang bukan hanya kesakitan, tapi juga ketakutan. Ketakutan yang mendalam dan primitif. Ketakutan makhluk yang sudah hidup dalam kedinginan dan kegelapan selama berpuluh-puluh tahun terhadap satu hal yang menjadi kelemahannya yang paling mendasar.
Api.
Cahaya.
Kehangatan.
Api terus menjalar di lengan Karla. Dari tangannya naik ke pergelangan, dari pergelangan naik ke lengan bawah, dari lengan bawah naik ke siku. Kulit Karla yang tadinya putih dan bercahaya kebiruan kini berubah menjadi hitam dan hangus di setiap tempat yang disentuh api, dan dari kulit yang hangus itu mengepul asap tipis yang berwarna kelabu dan berbau seperti kayu yang terbakar dicampur dengan sesuatu yang lebih tajam dan lebih pahit.
Karla berteriak lagi. Suaranya memenuhi ruangan bawah tanah dengan kesakitan yang nyata dan yang sangat manusiawi meskipun keluar dari mulut makhluk yang sudah bukan manusia lagi. Dia mengayunkan tangannya yang terbakar ke kiri dan ke kanan, berusaha memadamkan api yang semakin meluas, tapi api itu tidak mau padam. Api itu sudah menemukan rumah barunya di kulit dingin Karla dan tidak berniat untuk pergi.
Tubuh Karla mulai berubah lagi.
Bukan berubah menjadi lebih mengerikan seperti ketika dia mengejar Lucy di hutan. Kali ini, tubuhnya berubah karena api yang membakarnya. Kulit yang tadinya putih dan mulus berubah menjadi hitam dan retak seperti tanah kering yang terlalu lama tidak disiram hujan. Gaun putihnya yang panjang mulai menguning dan mengerut di bagian yang terdekat dengan api, pinggiran-pinggiran kainnya berubah menjadi cokelat gelap dan mulai mengeluarkan asap.
Karla jatuh berlutut di lantai batu. Tangan kanannya yang belum terbakar menekan lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk sepenuhnya. Matanya yang gelap menatap Lucy yang duduk beberapa meter di depannya, dan di mata yang gelap itu, Lucy melihat sesuatu yang membuatnya merasakan tusukan yang tajam di dadanya.
Kesedihan.
Bukan kemarahan. Bukan ancaman. Bukan kebencian. Kesedihan yang begitu dalam dan begitu tua sehingga tidak ada kata dalam bahasa manusia mana pun yang cukup untuk menggambarkannya.
“Kau sama seperti mereka,” bisik Karla. Suaranya sekarang hanya satu, suara wanita yang rapuh dan yang sedang hancur, baik secara fisik maupun secara jiwa. “Sama seperti Tema. Sama seperti Berna. Sama seperti semua orang. Kalian semua hanya tahu cara menyakitiku.”
Lucy menangis.
Dia menangis karena dia baru saja membakar makhluk yang dulunya adalah seorang wanita biasa. Seorang ibu. Seorang istri. Seorang kakak yang baik hati. Dan meskipun makhluk itu baru saja mencoba menyakitinya, baru saja mencoba melilit tubuhnya dan merenggut suaminya, Lucy tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir untuk Karla.
Tapi Lucy juga tidak bisa membiarkan Karla mengambil Ray.
“Aku bukan seperti Tema,” kata Lucy dengan suara yang pecah dan basah. “Aku tidak mengkhianatimu, Karla. Aku bahkan tidak mengenalmu sebelum kau muncul di depan rumahku pagi itu. Aku hanya ingin hidup tenang bersama suamiku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, siapa pun, mengambil Ray dariku.”
Karla menatap Lucy. Api di lengannya masih menyala, masih membakar kulitnya yang retak dan menghitam. Tapi Karla tidak lagi berusaha memadamkannya. Dia berlutut di lantai batu dengan tubuh yang setengah terbakar, menatap Lucy dengan mata yang gelap dan basah oleh air mata keperakan, dan tersenyum.
Senyuman yang berbeda.
Bukan senyuman jahat. Bukan senyuman menawan yang palsu. Ini adalah senyuman yang sedih. Senyuman terakhir seorang wanita yang sudah terlalu lelah untuk melawan.
“Kalau begitu,” bisik Karla, “kau harus merebutnya kembali dariku.”
Dan dengan kata-kata itu, tubuh Karla berubah menjadi asap.
Asap putih yang tebal dan dingin mengepul dari seluruh permukaan tubuh Karla, menyelimuti sosoknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam hitungan detik, Karla menghilang sepenuhnya, digantikan oleh gumpalan asap putih yang mengambang di udara selama beberapa saat sebelum perlahan-lahan menipis dan akhirnya lenyap, menyatu dengan kegelapan ruangan bawah tanah yang dingin dan sunyi.
Lucy duduk sendirian di lantai batu yang basah.
Lilin di tangannya masih menyala. Nyala apinya yang kecil dan kuning keemasan bergoyang-goyang pelan, menerangi ruangan yang kini terasa jauh lebih gelap dan jauh lebih sunyi setelah kepergian Karla.
Di lantai, di tempat di mana Karla berlutut tadi, tersisa bekas-bekas hangus yang menghitam di atas permukaan batu. Bau asap dan kulit yang terbakar masih mengambang samar di udara, bercampur dengan bau lembap dan dingin ruangan bawah tanah.
Lucy menarik napas dalam-dalam. Tulang-tulang rusuknya masih sakit akibat lilitan tangan Karla. Beberapa goresan di lengan dan lututnya masih perih dan mengeluarkan sedikit darah. Tubuhnya kelelahan, kelaparan, kehausan, dan setiap ototnya menjerit meminta istirahat.
Tapi Lucy tidak punya waktu untuk beristirahat.
“Kau harus merebutnya kembali dariku.”
Kata-kata terakhir Karla bergema di dalam kepalanya. Lucy tahu apa artinya. Ray masih ada di suatu tempat di bawah sini. Karla telah membawanya, atau bagian dari kekuatan Karla telah menahan Ray, di suatu tempat di dalam labirin bawah tanah ini. Dan Lucy harus menemukannya.
Lucy memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Lututnya bergetar dan nyaris tidak kuat menahan berat tubuhnya, tapi dia menggigit bibirnya dan memaksa kedua kakinya untuk tegak. Dia mengangkat lilin yang sudah semakin pendek di tangannya, mungkin tinggal seperempat dari ukuran semula, dan memandang ke sekeliling ruangan.
Ada pintu lain.
Di dinding sebelah kanan ruangan, sebagian tersembunyi di balik rak kayu tua yang miring, Lucy melihat sebuah lubang persegi panjang yang sama dengan pintu batu yang dia lewati untuk masuk ke ruangan ini. Lubang itu lebih kecil dari pintu pertama, dan tepinya lebih kasar, seolah-olah dipahat dengan terburu-buru atau dengan kekuatan yang tidak terkendali. Di balik lubang itu, kegelapan membentang.
Lucy berjalan menuju pintu itu. Tangannya yang tidak memegang lilin menyingkirkan rak kayu yang menghalangi dengan mendorongnya ke samping. Rak itu bergeser dengan bunyi berderit yang keras dan menyakitkan telinga, dan toples-toples kaca yang ada di atasnya berjatuhan dan pecah di lantai batu dengan bunyi yang nyaring dan pecah.
Di balik rak, pintu batu itu terbuka lebar ke arah lorong lain yang lebih lebar dan lebih tinggi dari lorong pertama yang dia lewati. Udara yang mengalir dari lorong itu membawa bau yang berbeda dari ruangan-ruangan sebelumnya, bau yang lebih hangat, lebih kering, bercampur dengan sesuatu yang samar-samar menyerupai bau obor yang menyala.
Obor.
Bau obor berarti ada api di suatu tempat di ujung lorong itu. Api berarti cahaya. Cahaya berarti sesuatu, atau seseorang, yang membutuhkan cahaya untuk melihat. Dan satu-satunya orang yang Lucy tahu berada di bawah sini selain dirinya adalah Ray.
Lucy melangkah masuk ke lorong itu.
Lorong ini berbeda dari lorong pertama.
Dinding-dindingnya masih terbuat dari batu alam yang kasar, tapi di beberapa tempat, Lucy bisa melihat bekas-bekas pahatan di permukaan batu, garis-garis dan pola-pola yang terlihat seperti ukiran primitif, meskipun cahaya lilinnya yang redup tidak cukup kuat untuk menunjukkan detail ukiran itu dengan jelas. Lantainya lebih rata dan lebih kering, tanpa lumut yang menutupinya seperti di ruangan-ruangan sebelumnya.
Dan yang paling penting, ada cahaya di ujung lorong.
Cahaya itu sangat redup dan sangat jauh, hanya berupa titik kecil berwarna kuning kemerahan yang berkedip-kedip di ujung lorong yang panjang dan berkelok. Tapi bagi mata Lucy yang sudah terlalu lama berada di kegelapan, titik cahaya itu terlihat seperti bintang yang muncul di langit yang mendung, sebuah harapan, sebuah petunjuk, sebuah janji bahwa ada sesuatu di ujung sana selain kegelapan dan keputusasaan.
Lucy berjalan menuju cahaya itu. Langkahnya semakin cepat setiap kali cahaya itu semakin jelas dan semakin terang. Lorong berkelok ke kanan, lalu ke kiri, lalu turun sedikit melalui anak-anak tangga yang terbuat dari batu alam yang tidak rata, sebelum akhirnya meluruskan diri lagi dan membawa Lucy menuju sumber cahaya.
Dan ketika Lucy sampai di ujung lorong dan melihat apa yang ada di depannya, dia berhenti dan napasnya tertahan di tenggorokannya.
Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang sangat besar. Jauh lebih besar dari ruangan mana pun yang pernah dia masuki di bawah sini. Ruangan ini berbentuk seperti aula dengan langit-langit yang melengkung tinggi ke atas seperti kubah katedral, dan dinding-dindingnya yang terbuat dari batu hitam yang mengkilap memantulkan cahaya dari puluhan obor yang terpasang di sepanjang tepinya.
Obor-obor itu menyala dengan nyala api yang berwarna kuning kemerahan, dipasang pada dudukan besi yang tertancap di dinding batu pada ketinggian yang sama di seluruh keliling ruangan. Cahaya mereka menerangi ruangan aula itu dengan cahaya yang hangat dan bergoyang-goyang, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari di lantai batu yang hitam dan mengkilap.
Dan di tengah ruangan aula yang besar dan megah itu, Lucy melihat Ray.
Dan Lucy melihat monster.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!