──── 🥀 ────
Tanpa membuang banyak waktu, Dean segera mengambil alih kemudi setir dan membawa Emily.
“Semua berjalan sesuai rencana!” Suara berat dan parau dari sisi belakang kursi Emily seketika memecah keheningan.
“Akhirnya!” Dean yang menyetir melempar senyum kecil kepada pria itu.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih hingga satu jam perjalanan hingga mereka dapat sampai di sebuah rumah kayu dengan ukuran sedang di tengah hutan. Selama perjalanan, Dean terus melaju tanpa banyak berdiskusi dengan Pria itu.
“Aku akan menggendongnya. Kau turunkan saja barang-barang” Pria itu sudah bergerak dan bersiap untuk mengangkat kepala Emily.
”Okay!” Dean mengangkat kedua tangannya. Ia mengolet untuk menghilangkan lelah sebelum akhirnya menurunkan barang-barang.
Pria itu menggendong Emily menuju lantai dua. Langkahnya penuh dengan kehati-hatian. Ia kemudian memasukkan Emily ke dalam sebuah kamar sederhana dengan cat berwarna krem yang sudah mengelupas di beberapa sisinya. Aroma kamar itu seperti aroma kayu lapuk, dengan pencahayaan berwarna kuning terang.
Tak menunggu waktu lama hingga ia merebahkan wanita itu di atas sebuah ranjang kayu berukuran super single dengan busa yang tidak terlalu tebal di atasnya. Seprai putih bersih dengan dua buah bantal telah tertata dengan rapi di atasnya.
Tidak ada jendela, tidak lemari. Hanya sebuah kamar sempit berukuran kurang lebih tiga kali tiga meter, dengan sebuah ranjang sederhana yang menempati hampir separuh ruangan, dan meja kayu berukuran kecil di sudut ruangan yang dilengkapi dengan kursi kayu sederhana berwarna cokelat.
“Perlu diikat?” tanya Dean. Ia turut masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa tali goni yang memiliki diameter berukuran delapan sentimeter.
“Bagaimana kalau kita dudukkan dan ikat dia di kursi?” Pria itu justru bertanya balik.
“Boleh, kalau dia berontak, akan lebih susah untuk kita,” jawab Dean.
Dean segera menyeret kursi ke dekat ranjang. Pria itu kemudian mendudukkannya, dan mengikatnya pada sela-sela kursi kayu itu.
“Cepat. Aku takut ia akan segera bangun.”
“Jangan khawatir. Aku menggunakan tiga tetes. Dia akan tidur setidaknya enam jam,” kata Pria itu.
Dean segera menoleh ke arah Pria itu. Wajahnya berubah seketika.
“Tenang saja. Ini dosis aman.” Pria itu menoleh ke arah Dean. Ia seolah tahu pertanyaan yang akan diajukan oleh Dean hanya dengan raut wajahnya.
Dean kemudian melepaskan napasnya. Sementara pria itu hanya menggelengkan kepala perlahan dengan senyum yang tersungging samar.
“Sudah siap. Sekarang kita hanya tinggal tunggu dia bangun.” Dean menepuk kedua tangannya, membersihkan debu-debu pada tali yang menempel di tangannya.
Setelah selesai mengikat Emily, mereka menuju dapur dan menyiapkan makan malam.
“Spaghetti? lagi?” Dean bertanya pada Pria itu.
“Hmm...” Ia terus memutar-mutar spaghetti di dalam panci dangkal dengan rokok yang tertahan di mulutnya.
Dean pun menghela napas pelan. Ia mengambil dua piring dari rak piring kaca, sementara pria itu mengangkat panci dan menuangkan spaghetti ke masing-masing piring.
“Setidaknya kali ini tidak terlalu lembek,” gumam Dean.
Pria itu hanya mendengus. Ia membawa kedua piring ke meja makan, lalu duduk berhadapan dengan Dean.
Mereka mulai makan dalam diam. Hanya suara garpu yang sesekali beradu dengan piring yang terdengar memenuhi ruang makan. Baru beberapa suapan, sebuah suara samar terdengar dari lantai dua.
“Tolong!”
Tangan Dean yang sedang menggulung spaghetti dengan garpu terhenti sejenak. Keduanya saling berpandangan.
“Tolong! Ada yang bisa dengar aku?”
Suara itu terdengar lebih jelas kali ini.
Dean kembali menatap piringnya. Ia menghela napas kecil, lalu melanjutkan untuk menyantap makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dia sudah bangun,” katanya santai.
Pria itu hanya mengangguk sambil mengambil satu suapan spaghetti lagi.
“Tolong! Tolong aku!” Teriakan Emily kembali terdengar dari lantai dua.
Dean mengunyah makanannya dengan tenang. Setelah menelannya, ia menyesap minumannya.
“Berisik juga,” gumamnya.
Pria di hadapannya hanya mengangkat bahu. Mereka tetap lanjut menyantap makanan di hadapannya dan membiarkan suara Emily memenuhi rumah.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya menaiki tangga menuju lantai dua. Dean berjalan lebih dulu dan menjadi orang pertama yang membuka pintu.
Emily yang berada di dalam kamar sontak tersentak ketika melihat sosok yang masuk ke dalam ruangan kecil itu. Matanya terbelalak.
“Henry?” gumamnya tak percaya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!