03. The Deal

1 dibaca

A

──── 🥀 ────


”Well... hello, Princess.” Dean melangkah maju. Tatapannya mengunci tatapan Emily, dengan seringai senyum terukir tipis di bibirnya.

“Kenapa kamu melakukan ini, Henry?” tanya Emily. Isak tangisnya beradu pelan dengan suara jangkrik yang saling bersahutan di hutan dekat rumah tua itu.

Ia tidak menyadari, bahwa ada sosok lain yang berdiri di belakang Dean.

“Henry? Tidak, sayang... Namaku bukan Henry!” Henry menyentuh dadanya dengan satu langkah terayun mundur, seolah sedang mengejek Emily.

“Cukup... Dean.” Seorang pria dengan suara rendah menghampiri mereka. Tubuhnya kekar, sementara sejumlah tato bergaris menyusuri lengan kanannya. Sepuntung rokok menggantung di antara bibirnya yang tidak terlalu tebal, asap tipis mengepul perlahan dari ujungnya.

“S-siapa kamu?” tanya Emily sedikit histeris.

“Berteriaklah kalau kau mau berteriak lagi, Emily.” Sekali lagi, Dean mencoba mengejeknya,

“Apa salahku?” tanya Emily. Air matanya berlinang membasahi pipi mulusnya.

“Tidak ada yang salah denganmu.” Pria itu menjawabnya dengan datar.

“Lantas, apakah aku pantas mendapatkan perlakuan ini?” Emily kembali berteriak. Suaranya yang selalu lembut, kini berubah menjadi jeritan kemalangan.

“Bukan kamu! Tapi orang tua mu yang keparat itu!” Dean kemudian menunjuk wajah Emily.

“Dean.” Suara pria itu kembali terdengar.

“Pergilah terlebih dahulu,” katanya lagi.

Dean kemudian melangkah mundur dan berbalik. Langkahnya lamban, namun tegas. Ia kemudian menutup pintu kamar itu.

“M-mau apa kau?” Mata Emily terbelalak seiring langkah pria itu kian mendekat.

“Tolong tuan... jangan sakiti aku. Aku mohon.” Derai air mata Emily membasahi wajahnya.

Pria itu kemudian berjongkok di hadapan Emily yang terus mengucurkan air mata. Ia menarik rokok yang masih terselip di bibirnya, lalu mengembuskan asapnya perlahan tepat ke wajah Emily.

“Sshh... ikuti saja rencana kami. Maka kau akan aman.”

“Tidakkkk!!!” Emily berteriak.

Dean yang semua menunggu di luar, kemudian membuka pintu itu lagi dengan keras. “Apa yang terjadi?”

“Tidak ada! aku bahkan tidak menyentuhnya.” Pria itu menoleh ke arah Dean.

Mata Dean seolah menelusuri Emily dengan sedikit panik.

”Relax! Our deal is a deal!” Pria itu kembali meyakinkan Dean sebelum akhirnya ia menutup pintu itu.

“Jangan buang waktumu untuk berteriak.” Pria itu berdiri perlahan. Ia kemudian memasukkan kembali rokoknya ke dalam bibirnya.

“Kita bicarakan besok!” lanjutnya lagi.

Sementara pria itu melangkah keluar, Emily terus menangis dan berteriak.

“Tolong! Aku tidak akan lapor polisi... Tolong biarkan aku pergi!”

“Bagaimana?” Dean bertanya kepada Pria itu.

“Kita bicara ketika ia sudah tenang,” jawabnya.

“Kita sudah berjanji untuk tidak menyakitinya.” Dean menatap tajam Pria itu.

“Dan aku tidak melakukannya.” Dengan santai, pria itu mengangka bahunya. “Kau periksa saja CCTV,” katanya lagi,

Dean kemudian melangkahkan kaki menuju dapur. Ia mengambil piring berwarna perak, kemudian mengisinya dengan spaghetti dan roti bawang putih.

Ia berjalan membawa piring itu dan segelas air putih untuk Emily.

Krekk..

“Sudah lelah?” tanya Dean kepada Emily.

Mata Emily masih sembap dan memerah akibat tangisnya.

Dean kemudian duduk bersila di hadapannya. Tangannya memutar garpu perlahan untuk mengambil spaghetti itu.

“Cepat makan!” Dean kemudian menyodorkannya kepada Emily.

Tanpa banyak bertanya, Emily menerimanya. Namun, alih-alih menelannya, ia justru menyemburkan spaghetti itu hingga mengenai wajah Dean.

”Shit!” Dean memaki. “Apa yang kau lakukan?”

“Lepaskan aku, Dean atau siapa pun kamu!” Emily membentak Dean.

Dean segera berdiri dan membersihkan potongan spaghetti yang menempel di wajahnya. Ia kemudian menatap Emily lekat-lekat.

“Tidak ada makanan untukmu malam ini!”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk