“Sial! Hahhh...!” Dean melangkahkan kakinya keluar dari kamar Emily dengan perasaan kesal. Sementara Pria itu hanya mengamatinya, masih dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya.
“Berikan padaku.” Pria itu mematikan rokok pada asbak perak yang sudah terisi penuh oleh belasan tumpukan rokok. Entah berapa banyak rokok yang ia habiskan hari itu.
“Jangan beri dia makan!” Dean menoleh tajam. Air mengalir membasahi wajahnya.
Pria itu berjalan dengan langkah tegas. Mengambil piring berwarna perak yang terletak di atas meja kayu berwarna cokelat tua. “Biar aku yang urus.”
”Whatever!” Dean kembali membasuh wajahnya, berusaha menghilangkan sisa-sisa minyak yang masih menempel di kulitnya.
Krekk... Krekk....
Langkah kaki pria di atas kayu tua itu terdengar jelas di telinga Emily. Ia yang semula sudah mulai tenang, kembali mengerutkan wajahnya. Air matanya kembali berlinang karena rasa frustasi menekan dadanya.
Tok... Tok...
Emily menoleh tajam ke arah pintu kamar yang seharusnya tidak perlu diketuk. Toh... pria itu akan tetap membukanya, meski Emily tidak mengizinkannya.
”Dinner time!” Pria gagah itu membawa piring dan tersenyum lebar seolah sedang menghibur anak kecil. Namun bagi emily, hal ini justru olokan untuknya.
Cuihh...!!!
Emily meludah jauh ke samping, tetapi cipratannya justru mengenai paha pria itu.
Menyangka hal ini akan memprovokasi Pria itu, ia justru tersenyum dan memiringkan wajahnya. ”That’s it?”
Pria itu justru membungkuk perlahan, mengusap cipratan saliva dari Emily, dan menjilatnya.
Emily terperanjat, matanya membulat.
Pria ini sudah gila! Itulah yang terlintas di pikirannya ketika melihat tingkah Pria itu.
“Kalau pacarku tahu, kau akan mati!” bentak Emily.
“Wow... menakutkan!” Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Emily, seolah lelucon di mata Pria itu. “Mati? Aku sudah pernah merasakannya.”
Emily tidak tahu maksud di balik ucapan Pria itu. Namun ia tidak peduli, ia justru kembali berteriak sambil menangis dengan kencang. Sesekali ia memohon ampun. Ia berjanji tidak akan melaporkan mereka ke polisi, dan menuruti apa pun yang mereka mau.
Namun, pria itu justru tak bergeming. Ia seolah menikmati setiap teriakan Emily yang menggema di udara.
“Ayolah, Emily...” Ia tersenyum sembari menegakkan tubuhnya. “Apa yang aku lakukan bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluargamu.
Mendengar hal itu, Emily tidak menunjukkan rasa kaget. Matanya justru menajam, keningnya berkertu, bibirnya mengatup rapat, dan rahangnya terlihat mengeras.
Namun, ia merasa enggan bertanya atau pun menjawab Pria itu.
“Okay. Mari kita mulai dari perkenalan.” Pria itu kembali tersenyum lebar.
Wajahnya berubah menjadi serius sembari berjongkok perlahan. “Namaku, Nicholas Palmer. Sudah mengingat aku?” Ia menatap Emily. Matanya setajam belati, seolah siap menguliti setiap lapisan pertahanan Emily.
Emily terhenyak.
“Nicholas... Palmer...?” gumam Emily lirih. Sorot matanya seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Wajah Emily yang semula dipenuhi oleh amarah, kini berubah menjadi sendu. “Mereka bilang...”
Namun... belum sempat Emily melanjutkan kalimatnya, Nicholas sudah memotongnya kilat, “mati?” Ia kemudian terkekeh kecil. Ada dendam membara yang tak pernah padam di balik tawa kecilnya.
“A-apa hubungannya denganku, Nicholas?” tanya Emily. Nicholas hanya menatap. Sorot matanya intens.
“Mereka bilang, keluargamu meninggal dunia. Kau juga meninggal dunia.” Emily
“Sedih? Melihatku masih hidup?” Nicholas terkekeh kecil.
“Nggak!” Hati Emily seperti mendapatkan tusukan dari beribu-ribu jarum. “Aku selalu menunggumu. Aku merindukanmu, Nicholas.”
”Bullshit!” ejek Pria itu.
════════ 🥀 ════════
Terkadang, Hidup tidak sesederhana yang terlihat.
Apa yang tampak di depan mata belum tentu sesuai dengan kenyataan di baliknya.
Terkadang, kebenaran justru menjadi hal yang paling ingin disembunyikan.
–– Martha Han
@Marutanova
════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!