“Tidak perlu banyak bicara Emily, kau mungkin tidak melakukannya. Tapi darahmu bertanggung jawab atas kematian orang tuaku.” Nicholas menatap tajam manik mata Emily. Sorot matanya tidak goyah meski Emily perlahan berlinang air mata.
Padahal...
Ia pernah menjadi pria yang selalu mengusap air mata Emily kecil, setiap kali ia terjatuh dan menangis.
Emily dan Nicholas adalah sahabat dekat sejak usia muda. Kedua orang tuanya sama-sama memiliki keterlibatan di dunia politik. Tidak jarang mereka bertemu di aula besar tempat para anggota politik berkumpul.
Ayah Emily dulunya adalah seorang Menteri Pertahanan. Sementara ayah Nicholas adalah Menteri dalam Negeri. Mereka berada dalam kubu politik yang sama, serta rekan kerja yang cukup solid.
Hingga suatu hari, sesuatu terjadi...
Sebuah berita menggemparkan televisi-televisi swasta pada tanggal 10 Januari 2007. Keluarga Palmer dinyatakan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tunggal ketika kendaraan mereka melintasi jalan berbatu menuju London.
Emily kecil berkabung, ia tidak hanya kehilangan teman bermain. Namun sahabat sejatinya, Nicho.
“Apa maksudmu, Nicho?” tanya Emily.
Nicho adalah panggilan Emily kecil kepada Nicholas. Ketika semua orang terbiasa memanggilnya Nicholas. Emily kecil yang terlalu susah menyebutkan nama lengkapnya yang terdiri dari tiga kata, kemudian memanggilnya dengan sebuatan singkatnya, yakni Nicho.
Baru saja Nicholas membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, Dean membuka pintu. “Nicholas.”
Ia mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu kamar Emily. “Come on...”
Dean tahu bahwa situasi ini tidak boleh berubah menjadi situasi yang emosional. Ia segera memanggil Nicholas agar mengakhiri percakapannya bersama Emily.
“Nicho...!!! Jawab aku!” Emily kembali berteriak ketika Nicholas melangkahkan kakinya keluar.
Ia berhenti sebelum menoleh kepada Emily. “Tidak perlu makan kalau tidak mau. Mintalah jika kau ingin minum.”
Brakkk!!!
Nicho kemudian menutup pintu kamar Emily. Perasaan Emily saat ini begitu tak menentu. Di satu sisi, ia masih tidak mengerti akan apa yang terjadi. Di sisi lain, rasa rindu kepada sahabat kecilnya yang ia simpan bertahun-tahun seolah memuncak ketika melihat sosoknya berdiri di depan matanya.
Emily sangat menyayangi Nicholas. Hal ini lah yang tidak pernah diketahui oleh Nicholas.
Setelah kepergiannya sepuluh tahun silam, Emily sempat mengurung diri di kamar. Ia tidak ingin makan, bermain dengan siapapun, bahkan pergi ke sekolah.
Meski usianya masih tergolong muda, Nicho satu-satunya orang yang terus bersamanya, bahkan sejak ia duduk di bangku kanak-kanak.
Setelah ia cukup dewasa, ia rutin hadir ke makam Nicholas. Makam kosong tempat ia bercerita dengan tawa atau pun tangis. Makam tempat ia selalu menyesali kepergian Nicholas.
════════🥀🥀🥀════════
Di sisi ruang yang lain, Dean dan Nicholas bercakap-cakap tentang Emily.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Dean.
“Hmm...?” Pria itu kembali menjepit rokok di bibirnya. Dengan santai ia menyalakan korek api dan menyulut ujung rokok itu, membiarkan bara api membakar habis tembakau di dalamnya.
“Apa yang ingin kau katakan padanya?”
“Apa urusanmu?” Nicholas melirik ke arah Dean.
”Shit!!!” Dean menendang kaki-kaki meja di hadapannya.
“Kenapa kau rahasiakan hubungan kalian?” tanya Dean lagi. Ia tidak dapat memproses semua informasi yang ia peroleh saat menguping Nicholas.
“Kau tidak bertanya,” katanya.
“Jangan kacaukan semua ini!” Dean mengacungkan telunjukknya kepada Nicholas.
“Kenapa menurutmu aku akan mengacaukan rencana?” Nicholas mengangkat pundaknya dengan kedua alis yang terangkat samar. Wajahnya terlihat malas di saat sosok di hadapannya justru terlihat berapi-api.
“Aku lah musuh keluarga itu yang sesungguhnya. Jadi kau tidak perlu khawatir. Urus saja bagianmu.” Nicholas kemudian bersandar dan menutup matanya. Ia menyedot dalam-dalam sebelum mengembuskan asap.
“Aku akan mengurus bagianku...” katanya lagi.
════════ 🥀 ════════
Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍
Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!
Sampai ketemu di bab selanjutnya!
Martha Han
@Marutanova
════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!