06. The Doomed

1 dibaca

A

“Nicho... bagaimana bisa?” Emily bergumam, tidak percaya.

Ia kemudian berusaha melepaskan diri dari ikatannya. tubuhnya mulai merasa pegal akibat terlalu lama berada dalam posisi duduk di bangku kayu itu.

Krekkk... Krekkk...

“Tidak bisa...” Emily mencoba menarik lengannya hingga sedikit terluka.

“Hahh!!!” Emily kemudian menariknya kembali, namun tali itu tetap tidak dapat ia lepaskan. Ia seketika menoleh ke arah pintu cokelat di hadapannya. Rahangnya mengatup erat.

“Nicho...!!!” Sekeras mungkin ia memanggil nama pria itu.

Setelah beberapa kali meneriakkan namanya, suara langkah kaki kembali terdengar. Nicholas menaiki tangga, menuju ke kamar Emily. Setidaknya, itu yang ia pikirkan. Namun ketika pintu terbuka, sosok pria lain yang justru berdiri di hadapannya.

“Aku nggak memanggilmu!” Emily membentak.

”So?” Dean mengangkat satu alisnya. “Nggak usah berlama-lama! Mau apa?”

“Panggil Nicho!” Emily kembali membentak Dean. Ia kemudian berteriak-teriak memanggil nama Nicholas.

“Diam, Emily!” Dean membentaknya.

Cuihhh...!

Lagi-lagi Emily meludah ke arah Dean.

”What the hell!” Refleks, Dean melangkah mundur.

“Pantas Ryan tidak menyukaimu! Kau memang lelaki brengsek!” Emily membentaknya sekali lagi.

“Oh... aku?” Dean tertawa terbahak-bahak. Tawanya jelas terlihat dibuat-buat.

“Kau tahu? Dia mungkin nggak akan repot mencari keberadaanmu, karena sibuk bercinta dengan sahabatmu!” Suara Dean menajam.

“Jaga bicaramu!”

“Jaga bicaraku? Well...” Dean mengangguk kecil sebelum merogoh saku celananya yang sempit. Ia mengambil ponsel hitamnya dan menggeser-geser sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia menyodorkan ponselnya tepat di depan mata Emily.

”See that?” Dean tersenyum. Seolah ia telah memenangkan sesuatu.

Emily tidak menjawab, ia termenung cukup lama.

Hari ini adalah hari terburuk di dalam hidupnya. Henry ternyata bukan lah orang yang benar-benar tulus berteman dengannya. Nicho yang selama ini ia kira sudah meninggal, ternyata masih hidup, bahkan hadir hanya untuk menculiknya. Ryan, pacar yang selalu ia banggakan, ternyata berselingkuh di belakangnya. Penutup dari hidangan yang menakutkan ini adalah...

Sahabatnya lah yang merupakan selingkuhan dari pacarnya. Seolah tidak ada seorang pun yang dapat ia percayai.

Seketika, kepala wanita itu terasa berdenyut hebat dengan oksigen yang seolah menipis. Dadanya naik turun dan pandangannya mulai gelap.

Brakk!!!

“Nicholas!!!” Dean spontan berteriak memanggil Nicholas.

Dengan langkah cepat dan tegas, Nicholas segera berjalan menuju lantai dua.

“Ada apa?” Nicholas segera memasuki kamar Emily.

“Dia pingsan.” Wajah Dean tenang, namun segera bertindak dengan melepaskan tali yang mengikat tubuh Emily.

Ia kemudian mengangkat Emily ke kasur. “Bagaimana dengan ikatannya?”

Nicholas melihat pergelangan tangan Emily yang sedikit terluka. “Kita biarkan saja. Kunci dari luar.”

Mereka kemudian membiarkan Emily tanpa ikatan. Dean pun bergegas menuruni anak tangga untuk mengambil kotak obat yang berada di lantai satu. Dengan hati-hati, ia membersihkan dan mengobati pergelangan tangan Emily.

“Apa yang kau lakukan?” Mata Nicholas tetap fokus mengobati pergelangan tangan Emily.

Pada awalnya, Dean hanya melirik tanpa mengatakan sepatah kata pun. ”I told her about Ryan.”

“Apa?” Nicholas menoleh tajam.

“Dia berhak tau.”

”Not like this!” Suara Nicholas sedikit tajam.

Dean pun tidak berusaha mendebat hal itu.

Malam itu, beberapa kali mereka memastikan Emily dalam kondisi yang baik. Dean terus memantau melalui CCTV yang terpasang di kamar Emily.

Waktu bergulir dengan ritme yang terasa lambat bagi kedua pria itu. Tak satu pun dari mereka dapat merasakan tidur nyenyak setelah apa yang terjadi pada Emily. Padahal, Keesokan harinya, mereka harus melakukan misi selanjutnya dalam penculikan ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.

”Ready?” Dean menoleh ke arah Nicholas.

“Hmm..” Mata Nicholas menajam. Sebuah ponsel satelit berada dalam genggamannya.

Ia kemudian menekan beberapa nomor dan menunggu panggilan tersebut hingga tersambung.

“Halo...” Suara seorang pria terdengar gusar di balik telepon itu.

Nicholas menoleh, kemudian mengangguk kecil ke arah Dean. Seolah sedang memerintahkan sesuatu kepadanya.

Dean segera menekan tombol yang sudah tersambung dengan ponsel itu.

“Hello.” Nicholas menjawabnya. Suaranya kini berubah akibat sebuah alat pengubah suara.

Belum sempat pria itu bertanya, Nicholas sudah memotongnya. “Emily bersama kami. Kalau kau ingin dia selamat, jangan lapor polisi!”



════════ 🥀 ════════

Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍

Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!

Sampai ketemu di bab selanjutnya!


Martha Han
@Marutanova

════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk