Dari balik telepon, Nicholas dapat mendengar suara isak tangis seorang wanita paruh baya. Dapat diperkirakan bahwa itu adalah ibu dari Emily. Namun, mendengar hal itu, tidak ada rasa iba di dada Nicholas.
“Regent’s Park, pukul delapan malam.” Nicholas menegaskan. “Bawa polisi, jangan salahkan saya jika anakmu sudah tak bernyawa.”
Nicholas menoleh pelan ke arah Emily yang terikat lemah di ranjangnya. Hatinya terasa hambar, tatapannya kosong—menyimpan kepedihan dan rasa bingung dari balik iris matanya yang berwarna cokelat kehijauan. Bahkan ketika mendengar ancaman itu, Emily tidak bereaksi apa pun.
Nicholas menutup telpon yang mereka pasang di kamar Emily. Dean pun mengambil koper penyimpanannya dan memasukkan peralatan mereka dengan hati-hati—alat pengubah suara, kabel-kabel yang menjuntai dari telepon yang terpasang, alat pemblokir lokasi.
“Lapar?” suara Nicholas memecah lamunan Emily. Gadis cantik ini jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Ia tidak menjawab. Mulutnya terkunci rapat.
“Bicaralah apabila kau ingin makan.” Nicholas menatapnya sejenak sebelum akhirnya melangkah ke luar.
Aku akan segera keluar dari sini...
Hanya kalimat ini yang terus ia putar seperti kaset rusak di kepalanya.
Waktu terus bergulir, membawa sang matahari menuju barat. Langit yang semula bersinar cerah, sudah mengganti warnanya menjadi jingga. Namun emily tetap menatap dinding-dinding kosong di dalam kamarnya.
“Dia tidak makan sejak kemarin.” Dean melaporkan kepada Nicholas.
“Biarkan saja.” Nicholas yang sibuk dengan peralatan mengintai, tidak terlihat peduli dengan kondisi gadis itu.
Dean hanya menggeleng pelan sebelum akhirnya ikut bersiap-siap.
Saat mereka siap, Nicholas melangkah menuju kamar Emily. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengetuk dan memasuki ruangan.
“Hari ini, kau akan kembali kepada ayahmu.” Nicholas berjalan mendekati ranjang. Emily perlahan menoleh ke arah Nicholas. Bahkan tanpa raut wajah yang bersemangat.
“Apabila kau makan.” Nicholas kemudian menyodorkan sepiring nasi goreng dengan daging cincang di atasnya.
Emily melihat sekilas.
“Okay,” suaranya lirih.
Nicholas kemudian meletakkan piring itu di atas kursi kosong di sebelah ranjang Emily. Ia kemudian mengetuk pintu dua kali. Seolah menjadi isyarat bagi Dean untuk mengunci pintunya.
“Aku akan melepaskan ikatanmu, jangan coba-coba melawan.” Nicholas memperingati Emily. Namun tidak ada jawaban.
“Apabila kau mengacaukan semuanya, maka kau tidak akan pulang,” tambahnya.
“Ehm...” Emily terkekeh kecil sebelum akhirnya membuka mulutnya. “Kau kira aku bodoh?”
Mata Nicholas menajam.
“Aku sudah melihat wajahmu, mengetahui identitas Henry. Kalian pasti berniat membunuhku setelah mendapatkan apa yang kalian mau.” Emily tersenyum dengan isyarat penuh ejekan.
Namun Nicholas justru memaksakan tawanya. “Kami? mendapatkan apa yang kami mau? hahaha.”
“Aku berani bertaruh, ayahmu akan menggagalkan semuanya. Ia akan mengkhianatimu malam ini, bukan kami.” Nicholas tersenyum dengan tatapan mata yang terkunci pada Emily.
Mendengar hal itu, mata Emily justru menyipit, ia mengerutkan hidungnya, disertai dengan bibir yang tertarik ke dalam.
Ia sangat ingin memaki Pria yang berdiri di hadapannya. Namun, terakhir kali ia yakin pada kepercayaannya, ia justru merasa sangat dikhianati oleh taruhan itu.
“Makan!” Nicholas mendekati Emily.
Perlahan ia membuka tali yang mengikat kencang Emily pada lubang-lubang kayu di sandaran kasur.
“Kami bukan ayahmu. Kau bisa pegang kata-kataku.” Kalimat itu bukannya menenangkan Emily, justru membuatnya semakin kesal.
“Ayahku tidak akan mengkhianatiku,” katanya pelan sebelum ia kemudian menggigit lengan Nicholas dengan kencang.
“Arghh....” Nicholas segera menarik lengannya.
Setitik darah segar keluar dari sisi lengan yang tertancap gigi Emily. Tangan Nicholas sempat terangkat di udara, dorongan untuk memukul wanita itu nyaris tak terbendung.
Namun, alih-alih memukulnya, ia justru menerjang Emily hingga tubuhnya terhempas ke kasur. Ia segera menimpali wanita itu, menekan kedua pundaknya dengan keras, hingga ia tak bisa menyerangnya lagi.
════════ 🥀 ════════
Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍
Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!
Sampai ketemu di bab selanjutnya!
Martha Han
@Marutanova
════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!