08. Something Shifted

1 dibaca

A

“Lepaskan aku...!!!” Emily terus memberontak di bawah tubuh Nicholas yang mulai menegang karena gairah amarah.

“Jangan berani-beraninya kau menjanjikan sesuatu yang tak dapat kau tepati! Kalian semua penipu!” Jeritan Emily begitu nyaring di telinga Nicholas. Namun, kalimat itu justru membuat pupil matanya membesar disertai dengan alis yang terangkat samar. Sorot matanya yang tajam, kini melembut. Namun tidak cukup lembut untuk melepaskan Emily dari cengkramannya.

Sebelum Nicholas dapat mengatakan sesuatu, cipratan saliva Emily sudah mengenai wajahnya.

Cuih...!!!

”Shit!” maki Nicholas. “Apa yang kau lakukan?”

“Daripada kau membuang waktu ayahku, bunuh saja aku sekarang!!!” Pikiran Emily   tidak karuan. Keningnya semakin berkerut dengan kilat mata yang menyala-nyala.

Sejak kemarin, ia cukup kesulitan memproses informasi yang secara bertubi-tubi ia terima. Pengkhianatan demi pengkhianatan yang selama ini dilakukan di belakangnya, seolah menjadikannya seperti boneka bodoh.

Dean yang melihat semuanya melalui celah kamera yang berkedip di sudut ruangan hanya bisa berdecak gelisah. “Apa aku harus masuk?”

“Sudahlah! Aku tahu kau bisa menahan diri,” gumamnya lirih. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. Dean kemudian memalingkan wajahnya dari lima layar berukuran sedang yang tersusun acak di hadapannya.

Nicholas kemudian menarik dirinya. Kali ini, tidak ada amarah di wajahnya, meski Emily telah meludahinya.

“Aku sudah memberimu kesempatan,” suaranya datar dan parau. Nicholas perlahan bangkit dan segera menarik lengan Emily. Ia mengikatkan tangan Emily kepada lubang-lubang kayu pada sisi sandaran kasur.

Emily beberapa kali memberontak. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tarikan tali yang mengikat pergelangan tangannya.

“Siapkan dirimu! Aku berani jamin, pria tua itu akan mengkhianatimu!” Nicholas memalingkan wajahnya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Emily tidak menjawab, namun kerutan di keningnya semakin terlihat jelas.

“Wanita sialan!” makinya saat berjalan menuju dapur.

Ia kemudian membilas wajahnya dan menyekanya dengan kain putih baru dari tumpukan di dalam lemari kecil berwarna cokelat tua. Tangannya kemudian merogoh ke dalam saku celananya untuk menarik satu sebuah kotak rokok. Satu batang rokok kembali ia jepit di antara kedua bibirnya. Namun tatapannya kosong.

Ia seolah memutar kembali adegan-adegan yang sebelumnya berada di kamar Emily.

Perubahan ekspresi, rona wajah, sorot mata yang sangat berbeda dibandingkan dengan masa-masa ketika Nicholas masih sering mengamati di kampusnya. Bahkan, tampak lebih kosong dibandingkan ketika ia memohon agar mereka melepaskannya, saat pertama kali ia dibawa ke rumah ini.

Di tengah lamunan panjangnya, Dean mendatangi Nicholas, dan memakinya.

“Insane! Bukankah sudah kubilang! Jangan ada kontak fisik.” Wajah Dean memerah, rahangnya mengeras.

Namun Nicholas tidak berkata apa pun. Matanya justru beralih pada korek api perunggu dengan ukiran naga yang berada di atas meja. Perlahan, ia mengambil dan menyalakan korek api itu.

𝘉𝘻𝘻𝘵𝘵...

Setelah membakar ujung rokok itu, Nicholas menarik dalam-dalam lintingan tembakau itu, dan mengembuskannya perlahan. Ketegangan yang berada di pundaknya, perlahan menghilang.

Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Dean sudah kehilangan kesabaran.

“Apabila kau tidak bisa menjalankan tugas ini, aku akan meminta James untuk menggantimu,” ancam Dean.

“Aku tetap pada misi ini!” Nicholas mengangkat pandangannya yang semula tertunduk. Ketegangan pada matanya seolah mengunci amarah pada sorot mata Dean.

“Kamu terlalu menganggap ini personal.” Alis Dean menyatu. Suaranya lirih, namun penuh penekanan.

“Bagaimana tidak?” ujar Nicholas dengan suara datar. Namun tatapannya terlalu tajam untuk dikatakan biasa.



════════ 🥀 ════════

Terima kasih sudah menemani perjalanan cerita ini sampai di bab ini! 🤍

Kalau kalian suka ceritanya, jangan lupa like ❤️ dan tinggalkan komentar 💬 pada bab ini ya. Aku akan sangat senang membaca komentar-komentar kalian!

Sampai ketemu di bab selanjutnya!

Martha Han

@Marutanova

════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════════════ 🥀 ════════

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk