──── 🥀 ────
Waktu telah menunjukkan pukul enam malam. Mereka bertiga segera bergegas untuk berangkat menuju Regent’s Park. Kondisi Emily semakin lemah, sudah hampir dua hari ia menolak untuk makan. Hanya air putih yang masuk ke dalam tubuhnya.
Pancaran matanya meredup, kantung di bawah matanya pun menebal. Kehidupannya hanya berputar pada kamar tidur dan kamar mandi selama dua hari ini.
“Apabila ayahmu tidak mengkhianati kami, kau akan pulang.” Nicholas menggendong Emily, lengkap dengan tali yang terikat pada kaki dan tangannya, serta kain penutup yang menutupi matanya dan menyumpal mulutnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, mereka akhirnya sampai di Regent’s Park. Mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh Dean telah terparkir cukup jauh dari titik pertukaran mereka.
Sedangkan sebuah mobil chevrolet hitam—tempat di mana Nicholas dan Emily berada, terpakir di antara titik perjanjian dan mobil sedan milik Dean.
“Jangan bikin masalah. Setelah ini kau bisa pulang.” Nicholas menatap tajam Emily yang terikat di sisi belakang mobil chevrolet hitam itu. Tidak ada jendela kaca pada sisi-sisi mobil di bagian tengah dan belakang.
Detik terus berputar, sama halnya dengan Nicholas yang tak berhenti mengamati sekitar. Perlahan, sebuah sedan hitam mendekat dan berhenti tepat di titik pertukaran mereka hari ini.
Berdasarkan kesepakatan yang mereka buat, Alexander harus flashdisk berisikan data-data yang dibutuhkan oleh Nicholas dan Dean.
Di depan Alexander, Pria yang menemuinya akan menancapkan flashdisk pada alat pemindai yang sudah disiapkan. Apabila data dinyatakan sesuai, maka Alexander dapat menjemput Emily di lokasi yang akan diinformasikan selannjutnya.
Namun, ketika salah seorang Pria mendatangi Alexander dan hendak memindai data, sekumpulan polisi mendekat dan menyergap Pria itu.
Kenyataan yang tidak mereka ketahui adalah, Pria itu hanyalah Pria random yang mereka bayar untuk berinteraksi dengan Alexander. Namun, Alexander justru menghancurkan kesempatan untuk bertemu dengan anaknya.
Sudut bibir Nicholas terangkat tipis, pandangannya perlahan menoleh ke arah Emily yang duduk di sebelahnya, penuh dengan cucuran air mata. Nicholas sudah menduga hal ini. Tidak ada yang lebih penting dibandingkan kepentingannya sendiri. Bahkan nyawa anak perempuan satu-satunya sekalipun.
“Kau lihat itu? Aku tahu ini akan terjadi.” Nicholas menoleh ke arah Emily yang duduk di sebelahnya. Masih dengan mulut tersumpal kain. Matanya menjadi berkaca-kaca. Hilang sudah kesempatannya untuk segera pulang ke kediamannya.
“Mari kita pulang.” Nicholas kembali menutup mata Emily dengan kain dan melangkah rendah ke kursi kemudi.
Emily melihat semuanya. Seiring ban mobil berputar untuk berbalik dan melesat maju, air matanya mengalir deras membasahi kain hitam yang menutupi matanya.
Ia tidak memberontak kali ini, tubuhnya terlalu lemah untuk dapat bereaksi. Namun, hatinya sekali lagi terluka begitu dalam, sehingga ia tak dapat menghentikan isak tangisnya.
Nicholas yang melihat bayangan Emily dari pantulan kaca, hanya dapat mengembuskan napas. Ia tahu benar rasanya dikhianati. Itulah yang ia rasakan ketika ayah Emily mengkhianatinya.
“Kau harus makan. Kali ini jangan menolak.” Nicholas kemudian menghubungi Dean untuk membeli sebuah burger di sebuah kedai dekat Regent’s Park. Nicholas tahu bahwa burger adalah makanan yang cukup sering dibeli Emily.
Ia mengamati dengan jeli selama beberapa tahun ini—setiap langkahnya, makanan yang ia suka, tempat-tempat yang membuatnya bahagia. Nicholas cukup mengenal kebiasaannya.
Mereka kemudian sampai lebih dulu di rumah. Sedangkan Dean masih harus membeli burger dan beberapa hal. Ia sebenarnya cukup khawatir meninggalkan Nicholas dan Emily sendirian di rumah. Namun, peralatan yang harus ia beli tidak dapat menunggu lebih lama.
Terutama ketika rencana pertama telah gagal.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!