──── 🥀 ────
Beberapa waktu berselang.
Nicholas dan Emily akhirnya tiba di rumah. Pintu mobil terbuka dari sisi belakang. Nicholas kemudian menggendong Emily untuk kembali ke kamarnya.
Perlahan, Nicholas membuka penutup mata dan penutup mulut Emily. Melihat wajahnya yang sudah layu dengan wajah yang sembap, ada sebuah perasaan gelisah di dalam dadanya. Pertahanannya mulai runtuh sedikit demi sedikit karena teman kecilnya.
Nicholas kemudian menarik kursi untuk mendekat kepada Emily. “Okay, mari kita buat perjanjian.” Ia menatap Emily dengan tatapan lembut, namun terjaga penuh.
Emily menaikkan pandangannya. Mata cantiknya yang saat ini terlihat jauh lebih sayu itu kemudian menatap Nicholas. Ia tidak menjawab, hatinya masih terasa ngilu membayangkan ayah kandungnya tidak peduli dengan nyawanya.
“Aku akan melepaskan ikatanmu. Kita akan makan di meja makan. Apakah kamu bisa dipercaya?” tanya Nicholas.
Sedikit kekuatan terpancar dari balik matanya. Ia mengangguk kecil.
“Tunggulah di sini, aku akan memasakkanmu sesuatu.” Nicholas menatapnya. Seolah mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi, bahwa wanita yang berada di hadapannya dalam kondisi lemah. Sehingga ia tidak mungkin melakukan hal nekat.
Setelah kembali mengunci Emily di kamar, Nicholas melangkan pelan menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan segera memasak steak dengan saus barbeque, disajikan dengan potongan wortel dan buncis di piring itu.
Setelah beberapa waktu, Nicholas kembali menuju lantai dua untuk membuka ikatannya. “Berjanjilah dulu padaku.” Nicholas menatap Emily lekat-lekat.
“Okay,” ujarnya lirih.
Sebelum mengajak Emily untuk turun, Nicholas memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci rapat. Mereka kemudian menuruni tangga tua yang tidak terlalu tinggi secara perlahan-lahan. Mata Emily menyapu seluruh ruangan yang ada di hadapannya saat ini.
Ini kali pertama ia mengetahui bagaimana bentuk ruang-ruang dalam rumah itu.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruang makan—sebuah ruang tanpa pintu. Ruangan ini hanya tertutupi gorden merah tua yang terlihat lawas.
Ketika melangkah masuk, dua piring steak sudah tersedia di hadapan mereka. Emily cukup terkejut dengan usaha yang dilakukan oleh sahabat kecilnya itu. Seketika, ia merasa kembali dekat dengannya.
“Silakan.” Nicholas berkata dengan suara beratnya yang entah mengapa lebih lembut dibanding biasanya.
Emily dan Nicholas kemudian menarik kursinya masing-masing. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Mata mereka sesekali saling menatap, jelas menunjukkan rasa canggung di antara mereka.
Mengikis rasa canggung di antara mereka, Emily perlahan mengambil pisau dan garpu di hadapannya sebelum akhirnya Nicholas mengambil alih.
“Let me...” Nicholas kemudian mengambil pisau dan garpu yang berada di tangan Emily. Ia menarik piring Emily dengan hati-hati dan memotong-motong daging yang berada di hadapannya, sebelum akhirnya dikembalikan kepada Emily.
Melihat hal itu, Emily tersenyum samar. Bahkan Ryan tidak pernah melakukan hal ini kepadanya. Meskipun mereka sudah bersama hampir dua tahun.
Steak buatan Nicholas adalah satu-satunya makanan yang ia makan setelah dua hari berada di rumah itu.
“Ehm...” Emily tersenyum dan menatap Nicholas yang juga sedang menatapnya bingung. “Ini enak. Thanks!”
Nicholas kemudian tersenyum dan mengangguk kecil.
Tak berapa lama, suara Emily kembali terdengar. “Apa yang kalian inginkan dari ayahku?”
Nicholas seketika menegang. Pembicaraan ini tidak seharusnya dibicarakan di sini. Ia hanya menatap Emily tanpa mengatakan apa pun.
“Apa kah...”
Emily terhenti sejenak, “Apakah kematian orang tua mu...”
Belum sempat ia lanjutkan, Nicholas sudah memotongnya. “Mari kita makan saja.”
Emily yang mendengar hal itu, justru merasa frustasi. Pikirannya semakin melayang ke mana-mana. Perasaan takut kembali terpancar dari caranya melihat dan menatap Nicholas.
Secara impulsif, ia justru berdiri dan menodongkan pisau daging kepada Nicholas.
“Hey!” Nicholas segera berdiri. Tubuhnya sedikit membungkuk. Satu tangannya memegang sesuatu di saku belakangnya, di saat tangan yang lain terulur, telapak tangannya menghadap ke arah Emily.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!