Bab 3 Two Screens, One Target

1 dibaca

A

Matahari sore menggantung rendah di cakrawala barat ketika Vessel menginjakkan kakinya di dek La Sombra untuk kedua kalinya. Kali pertama, dia menyelinap diam-diam lewat sisi kanan kapal seperti kucing yang masuk ke rumah orang. Kali ini, dia naik lewat tangga tali yang tergantung di sisi kiri, dipandu oleh Naja yang sudah mendayung sekoci membawa mereka berdua dari dermaga Yokot.

Vessel berdiri di dek dan berputar pelan, mata cokelat keemasannya menyapu setiap sudut kapal dengan tatapan yang berbeda dari tatapan pertamanya. Tatapan pertama adalah tatapan pencuri yang mencari apa yang bisa dicuri. Tatapan kali ini adalah tatapan pelaut yang membaca kapal seperti membaca buku, yang melihat setiap tali dan setiap layar dan setiap papan kayu dan memahami ceritanya.

“Kapal yang bagus,” kata Vessel. Suaranya pelan, nyaris hormat. Tangannya menyentuh tiang utama, jari-jarinya meraba kayu yang permukaannya sudah halus karena puluhan tangan yang sebelumnya memegang tiang itu selama bertahun-tahun. “Tua. Tapi kokoh. Kayunya... oak? Bukan. Lebih berat dari oak.”

“Teak,” kata Naja dari belakangnya. “Dibangun di galangan kapal di Tunis. Empat belas tahun lalu.”

“Teak,” ulang Vessel dengan anggukan yang menghargai. “Pantas kuat. Tapi ada beberapa papan di lambung kanan yang sudah mulai melunak. Perlu diganti sebelum kita melewati perairan yang kasar.”

Naja tidak menjawab, tapi matanya menyempit sedikit. Laki-laki ini memang tahu kapal.

Vessel berjalan ke arah kemudi. Menyentuh roda kayu yang besar. Memutarnya sedikit ke kiri, merasakan resistensinya, lalu ke kanan.

“Kemudinya sedikit berat ke kiri. Mungkin ada ganggang atau kerang yang menempel di daun kemudi di bawah. Perlu dibersihkan.”

“Aku tahu,” kata Naja.

“Dan tali layar kedua dari kiri di tiang utama sudah hampir putus. Seratnya sudah terurai di satu titik. Kalau angin kencang dan layar penuh, tali itu akan putus dan layarnya akan jatuh.”

“Aku tahu itu juga.”

Vessel menoleh ke Naja. Senyum miringnya muncul sebentar sebelum dia ingat kesepakatan mereka dan menekannya kembali. Tapi mata-matanya masih tersenyum, dan itu lebih sulit disembunyikan.

“Kau tahu semua masalahnya,” kata Vessel. “Tapi kau tidak bisa memperbaiki semuanya sendirian.”

“Sekarang aku tidak sendirian.”

Vessel menatap Naja. Naja menatap balik. Mata hitam bertemu mata cokelat keemasan. Tidak ada senyum di wajah Naja. Tidak ada humor. Hanya pernyataan fakta yang dingin dan langsung, kau di sini sekarang, kau berguna, jangan buat aku menyesal.

“Baik, Kapten,” kata Vessel. Dan untuk pertama kalinya, kata “Kapten” yang keluar dari mulutnya tidak terdengar seperti lelucon.


Mereka bekerja sampai matahari terbenam.

Vessel, terlepas dari semua kekurangannya sebagai manusia yang jujur, ternyata adalah pekerja yang efisien dan cekatan. Tangannya yang biasa mencuri dan memegang pisau ternyata sama lihai ketika memegang tali tambang dan palu dan jarum layar. Dia mengganti tali yang hampir putus di tiang utama dengan tali cadangan yang ditemukan Naja di gudang bawah, jari-jarinya mengikat simpul simpul pelaut dengan kecepatan dan ketepatan yang menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini. Dia menambal sobekan di layar kedua dengan kanvas dan jarum tebal, tusukannya rapi dan kuat dan merata seperti pekerjaan penjahit profesional.

Naja, sementara itu, menata ulang ruang penyimpanan. Menempatkan perbekalan baru yang dibeli di Yokot di tempat yang tepat. Mengamankan tong air agar tidak bergeser saat kapal oleng. Memeriksa tali tali yang mengikat barang di dek agar semuanya kencang.

Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali Vessel bertanya, “Tali ini kemana?” atau “Layar yang ini digulung atau dibiarkan?” dan Naja menjawab singkat, satu atau dua kata, dan Vessel melakukan apa yang diminta tanpa komentar tambahan.

Ketika matahari menyentuh cakrawala dan langit berubah dari biru ke oranye ke merah tua ke ungu, Naja menarik jangkar dan mengarahkan La Sombra keluar dari teluk Yokot. Vessel berdiri di tiang utama, menarik tali layar sesuai instruksi Naja, dan layar besar itu mengembang perlahan, menangkap angin sore yang bertiup dari timur laut.

Kapal bergerak.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, gerakan itu terasa berbeda. Bukan gerakan kapal yang dipaksakan oleh satu orang yang kelelahan. Melainkan gerakan kapal yang benar, gerakan yang lahir dari kerja sama antara kapten yang mengarahkan dan awak yang menjalankan, gerakan yang halus dan mantap dan punya tujuan.

Naja berdiri di kemudi, kedua tangannya di roda kayu, matanya menatap ke depan, ke laut yang membentang di bawah langit senja. Angin menyapu rambutnya yang hitam ke belakang. Jubahnya berkibar pelan. Dan di dadanya, di tempat yang biasanya hanya ada tekad dan kemarahan dan kesedihan, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang kecil dan rapuh dan yang belum berani diberi nama.

Harapan, mungkin.

Atau mungkin hanya kelegaan karena ada orang lain di kapal ini yang bisa dimintai tolong mengangkat tong air.


Malam pertama di laut bersama.

Vessel duduk di dek depan dengan punggung bersandar di tiang pengawas, kaki-kaki panjangnya diluruskan di depannya, tangan kanannya memutar-mutar pisau kecil di antara jari-jarinya dengan gerakan yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan, sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir, seperti orang lain mengetuk-ngetukkan jari atau menggoyangkan kaki.

Naja duduk di dek belakang dekat kemudi, punggungnya bersandar di dinding kabin, peta kulit kambing yang sudah lusuh dibentangkan di pangkuannya, lentera minyak kecil menerangi garis-garis tinta yang pudar di atas kulit yang tembus cahaya. Matanya menelusuri rute yang sudah dihitungnya puluhan kali. Selat Gibraltar. Pantai Afrika Barat. Tanjung Harapan. Samudera Hindia. Selat Malaka. Pasifik.

Yababa.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Suara Vessel dari dek depan. Dibawa angin malam yang dingin dan berbau garam.

“Tergantung pertanyaannya,” jawab Naja tanpa mengangkat matanya dari peta.

“Kau mau ke mana?”

“Ke barat daya.”

“Itu arah, bukan tujuan.”

Naja mengangkat matanya. Menatap Vessel yang duduk di kejauhan, siluetnya yang gelap memotong latar langit malam yang bertabur bintang. Wajahnya tidak terlihat jelas dalam gelap, hanya garis-garis samar yang diterangi oleh cahaya bintang, tapi Naja bisa merasakan tatapannya. Tatapan yang penasaran dan tajam dan sabar, tatapan seseorang yang tahu cara menunggu jawaban.

Naja menimbang.

Apakah dia harus memberitahu Vessel tentang Yababa? Tentang Yrav? Tentang tujuan perjalanan ini yang gila dan berbahaya dan yang mungkin akan membunuh mereka berdua?

Di satu sisi, Vessel berhak tahu. Dia ikut berlayar. Dia mempertaruhkan hidupnya. Dia berhak tahu ke mana kapal ini akan membawanya.

Di sisi lain, jika Vessel tahu tentang Yrav, tentang artefak yang nilainya bisa membeli rumah di sebuah kota, siapa yang menjamin bahwa sifat pencurinya tidak akan bangkit? Siapa yang menjamin bahwa Vessel tidak akan mencoba mengambil Yrav untuk dirinya sendiri begitu mereka menemukannya?

“Ada sebuah pulau,” kata Naja akhirnya, suaranya hati-hati dan terukur, memilih setiap kata seperti memilih langkah di jalan yang dipenuhi jebakan. “Jauh. Di Lautan Pasifik. Namanya Yababa.”

“Yababa,” ulang Vessel. Kata itu keluar dari mulutnya dengan nada yang tidak bisa dibaca Naja. Bukan pengenalan. Bukan ketidaktahuan. Sesuatu di antaranya.

“Kau pernah dengar?”

“Pernah. Pelaut-pelaut tua di taverna Yokot kadang menyebut nama itu. Biasanya sambil meminum bir. Biasanya sambil berbisik. Biasanya sambil membuat tanda cakra di dada mereka.”

“Kenapa mereka membuat tanda cakra?”

“Karena, menurut cerita yang aku dengar, Yababa adalah pulau di mana bajak laut pergi untuk mati.”

Angin bertiup. Layar La Sombra bergemerisik di atas mereka. Ombak memukul lambung kapal dengan irama yang konstan dan monoton, suara yang sudah menjadi bagian dari keheningan, bukan pemecah keheningan.

“Tidak ada yang pernah kembali dari Yababa,” kata Naja. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

“Itulah yang mereka bilang. Puluhan bajak laut. Mungkin ratusan. Selama ratusan tahun. Pergi ke arah Yababa. Tidak ada yang kembali. Tidak satu pun.”

“Dan kau tetap mau ikut?”

Vessel terdiam. Pisau di jari-jarinya berhenti berputar untuk sesaat sebelum berputar lagi.

“Aku bilang aku mau pergi dari Yokot,” kata Vessel. “Aku tidak bilang aku peduli ke mana.”

“Ini bukan pelayaran biasa, Vessel. Ini bukan perjalanan dagang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Ini perjalanan ke tempat yang tidak ada orang yang pernah kembali.”

“Aku dengar itu. Dan aku tetap di sini.”

“Kenapa?”

Vessel tidak langsung menjawab. Pisau berhenti berputar lagi. Tangannya menekan pisau itu ke pahanya dan diam. Dalam cahaya bintang yang redup, Naja bisa melihat ekspresi di wajah Vessel berubah. Topeng humor dan keceriaan yang biasanya menutupi wajahnya seperti cat tebal perlahan menipis, dan di baliknya ada sesuatu yang lebih tua dan lebih berat, sesuatu yang terlihat seperti kelelahan yang sudah sangat lama ditanggung.

“Karena aku tidak punya tempat untuk kembali,” kata Vessel pelan. “Yokot bukan rumahku. Yokot adalah tempat aku bersembunyi. Dan sekarang, tempat persembunyianku sudah tidak aman. Jadi aku butuh tempat baru. Atau, lebih tepatnya, aku butuh perjalanan. Perjalanan yang cukup panjang dan cukup berbahaya untuk membuat aku tidak perlu memikirkan tempat.”

“Kau lari dari sesuatu.”

“Semua orang lari dari sesuatu, Kapten. Kau juga. Bedanya, kau lari ke arah sesuatu pada saat yang bersamaan. Aku belum menemukan arah itu. Jadi untuk sementara, arahmu cukup untukku.”

Naja menatap Vessel dalam kegelapan. Dan di kegelapan itu, tanpa topeng humor dan senyum miring yang biasanya menutupinya, Vessel terlihat berbeda. Lebih sunyi. Lebih jujur. Lebih manusia.

“Ada sebuah artefak di Yababa,” kata Naja. Dan dia sendiri terkejut bahwa dia mengatakannya. Terkejut bahwa dia memberikan informasi ini kepada orang yang baru dikenalnya beberapa jam, orang yang pertama kali ditemuinya dalam konteks pencurian. Tapi ada sesuatu di kegelapan ini dan di keheningan ini dan di pengakuan Vessel yang membuat Naja merasa bahwa ini saat yang tepat untuk jujur. Bahwa kesendirian yang sudah dia tanggung selama tiga minggu terlalu berat untuk ditanggung sendiri lebih lama lagi. Bahwa berbagi beban, meskipun dengan orang yang belum sepenuhnya dipercaya, lebih baik dari menahan beban itu sampai punggung patah.

“Artefak itu bernama Yrav. Guci kuno berwarna turquoise. Legendanya sudah beredar ratusan tahun di kalangan bajak laut. Nilainya sangat besar. Konon bisa dilelang seharga satu set rumah di sebuah kota.”

Vessel tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya mendengarkan.

“Aku ingin menemukan Yrav. Membawanya kembali. Melelangnya.”

“Dan uangnya?”

“Untuk orang-orang miskin di Roma.”

Hening.

Panjang.

Ombak memukul lambung kapal. Angin bertiup melalui tali-tali layar dan menciptakan suara rendah yang menyerupai senandung, lagu tanpa lirik yang dinyanyikan oleh kapal dan laut dan langit bersama sama.

“Kau serius,” kata Vessel akhirnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Dan di dalam pernyataan itu ada sesuatu yang terdengar seperti ketidakpercayaan yang perlahan berubah menjadi penghormatan. “Kau berlayar ke ujung dunia. Ke pulau yang tidak ada orang yang pernah kembali. Untuk mengambil artefak yang mungkin tidak ada. Untuk dijual. Dan uangnya diberikan kepada orang miskin.”

“Aku serius.”

“Kau bisa mati.”

“Aku tahu.”

“Kita bisa mati.”

“Kau yang menawarkan diri.”

“Benar. Aku yang menawarkan diri.”

Vessel berdiri. Pisau kecilnya menghilang ke dalam lengan bajunya dengan gerakan yang sudah otomatis. Dia berjalan ke dek belakang, langkah kakinya yang ringan nyaris tidak bersuara di atas kayu dek, dan berhenti di depan Naja. Dalam cahaya lentera minyak yang redup, wajahnya terlihat jelas sekarang. Mata cokelat keemasannya menatap Naja dengan ekspresi yang tidak pernah dilihat Naja sebelumnya pada wajah itu. Bukan humor. Bukan kejahilan. Bukan kesedihan.

Tekad.

“Aku ikut,” kata Vessel. “Sampai Yababa. Sampai Yrav. Sampai apa pun yang menunggu kita di sana. Aku ikut.”

Naja menatapnya dari bawah. Dari posisi duduknya, Vessel berdiri di atasnya dengan latar belakang langit berbintang di belakangnya, dan untuk sesaat, dalam cahaya bintang dan lentera, Naja melihat sesuatu yang tidak disangkanya akan dilihatnya pada pencuri dari Yokot yang mencuri dua puluh tiga keping emasnya dan berlari sambil tertawa di pasar ikan.

Dia melihat orang yang bisa dipercaya.

Mungkin.

Suatu hari nanti.

“Tidurlah,” kata Naja. “Giliran jagamu mulai empat jam lagi. Aku yang jaga duluan.”

“Baik, Kapten.”

Vessel berbalik dan berjalan ke dek bawah, ke tempat tidur gantung yang dipilihnya dari dua puluh tempat tidur gantung kosong yang bergoyang pelan di kegelapan ruangan yang sepi. Langkah kakinya menuruni tangga. Suara tempat tidur gantung yang berderit ketika tubuhnya merebahkan diri. Lalu keheningan.

Dan Naja sendirian lagi di dek, dengan lentera dan peta dan kemudi dan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya di langit yang tak berujung.

Tapi sendirian kali ini terasa berbeda.

Sendirian dengan seseorang yang tidur di dek bawah, seseorang yang bernapas dan bermimpi dan yang besok pagi akan bangun dan menarik tali layar dan berkata sesuatu yang mungkin lucu dan mungkin menyebalkan tapi yang pasti nyata, sendirian semacam itu tidak benar-benar sendirian.

Naja menatap bintang-bintang di atas. Mencari rasi bintang yang ditunjukkan Petrus kepadanya bertahun-tahun lalu, rasi yang mengarah ke selatan, yang mengarah ke Selat Gibraltar, yang mengarah ke jalan keluar dari Mediterania dan masuk ke lautan yang lebih besar dan lebih liar dan lebih penuh misteri.

“Yababa,” bisik Naja. “Kami datang.”

Kapal La Sombra berlayar ke selatan di bawah langit yang penuh bintang, membawa dua orang yang sama-sama lari dari sesuatu dan berlari ke arah sesuatu, yang belum saling percaya sepenuhnya tapi yang sudah memilih untuk berada di kapal yang sama, yang belum tahu apa yang menunggu mereka di depan tapi yang sudah memutuskan untuk menghadapinya bersama.

Kapten dan pencurinya.

Dua layar. Satu arah.


Hari-hari berikutnya membentuk ritme.

Pagi, Naja bangun sebelum matahari terbit. Memeriksa kompas. Memeriksa peta. Memeriksa angin. Mengarahkan kemudi. Menarik atau mengendurkan layar sesuai kebutuhan. Vessel bangun setengah jam kemudian, mengucek mata, menguap lebar tanpa menutup mulut, lalu langsung bekerja tanpa perlu diperintah dua kali. Memeriksa tali. Memeriksa layar. Membersihkan dek. Mengecek lambung.

Siang, bergantian di kemudi. Yang tidak di kemudi memperbaiki sesuatu yang perlu diperbaiki, atau mengurus perbekalan, atau memasak. Memasak adalah kata yang terlalu mewah untuk apa yang mereka lakukan. Mereka memanaskan ikan asin di atas kompor kecil di dapur kapal, memotong keju keras dengan pisau, merendam gandum kering dalam air panas sampai menjadi bubur yang tidak enak tapi mengenyangkan.

Vessel ternyata bisa memasak lebih baik dari Naja. Bukan berarti Vessel jago memasak. Hanya berarti Naja sangat tidak bisa memasak. Naja adalah kapten kapal, bukan juru masak. Naja bisa mengarahkan kapal melewati badai dan bertarung melawan sepuluh orang sekaligus dan membaca bintang untuk menemukan arah di laut yang gelap gulita. Tapi memotong bawang dengan benar dan tidak membakar ikan asin? Di luar kemampuannya.

“Bagaimana bisa kau bertahan hidup sendirian tiga minggu di laut jika kau tidak bisa memasak?” tanya Vessel suatu siang ketika dia menggantikan Naja di kompor setelah Naja berhasil mengubah ikan asin yang seharusnya dipanaskan menjadi arang berbau.

“Aku makan mentah.”

“Kau makan ikan asin mentah selama tiga minggu?”

“Ikan asin, gandum kering, dan buah kering. Tidak perlu dimasak.”

“Itu bukan makan. Itu bertahan hidup.”

“Itulah yang kulakukan. Bertahan hidup.”

Vessel menatap Naja dengan ekspresi yang campurannya sulit dibaca. Ada kasihan di sana, tapi juga ada kagum, dan ada sesuatu lain yang lebih hangat dan lebih dalam yang bergerak di balik mata cokelat keemasannya sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali ke kompor dan berkata dengan nada yang sengaja dibuat ringan, “Mulai sekarang, aku yang masak. Itu perintah pencuri, bukan kapten.”

Naja tidak berdebat.


Sore, waktu istirahat yang pendek sebelum senja. Kadang mereka duduk di dek, masing-masing di sisinya sendiri, dengan jarak yang nyaman di antara mereka. Naja membersihkan pedang Zar, menggeser batu asah sepanjang bilah baja dengan gerakan yang lambat dan ritmis, suara logam dan batu yang berdesis pelan seperti bisikan. Vessel melempar lempar pisaunya, menangkapnya di udara, memutarnya di jari, melemparnya ke tiang kayu di tiang pengawas dan mencabutnya kembali, latihan yang sudah menjadi kebiasaan dan yang akurasinya membuat Naja meskipun tidak mengatakannya, cukup terkesan.

Kadang mereka berbicara.

“Kau bilang kau pernah jadi mata-mata,” kata Naja suatu sore, matanya tidak meninggalkan pedangnya yang sedang diasah. “Mata-mata walikota Yokot.”

“Bukan ‘pernah.’ Itu pekerjaanku sebelum aku jadi pencuri penuh waktu. Atau, lebih tepatnya, bersamaan dengan jadi pencuri. Walikota membayarku untuk mengumpulkan informasi. Siapa yang datang dan pergi di pelabuhan. Kapal apa yang singgah. Siapa yang berdagang apa. Siapa yang berbohong tentang apa.”

“Kenapa berhenti?”

“Walikota yang baru tidak suka mata-mata yang terlalu banyak tahu. Walikota yang lama mempekerjakan aku. Walikota yang baru ingin membunuh aku. Perbedaan manajemen.”

Naja mengangkat matanya dari pedangnya.

“Jadi kau bukan hanya pencuri.”

“Aku banyak hal. Pencuri. Mata-mata. Pelaut amatir. Juru masak darurat. Dan sekarang, awak kapal dari kapten bajak laut perempuan yang mau berlayar ke pulau kematian demi guci turquoise. Hidupku tidak pernah membosankan.”

“Keterampilan apa lagi yang kau punya yang belum kau beritahu?”

Vessel memiringkan kepalanya. Pisaunya berputar sekali di jari telunjuknya sebelum berhenti.

“Aku bisa membaca empat bahasa. Arab, Latin, Italia, dan sedikit Yunani. Aku bisa menggambar peta. Aku bisa memalsukan surat resmi yang cukup meyakinkan untuk melewati pemeriksaan pelabuhan. Aku bisa menyelam cukup dalam dan menahan napas cukup lama. Dan aku cukup mahir dalam pedang kecil. Bukan pedang besar seperti punyamu. Pisau. Belati. Pedang pendek. Senjata yang dibuat untuk kecepatan, bukan kekuatan.”

“Tunjukkan.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Vessel berdiri. Dari berbagai tempat di tubuhnya, muncul senjata-senjata yang Naja tidak tahu ada di sana. Pisau dari lengan kanan. Pisau lain dari lengan kiri. Belati dari balik punggung, tersembunyi di balik ikat pinggang. Pedang pendek dari sarung yang terikat di paha, tersembunyi di balik celana yang longgar.

Empat senjata. Semuanya tersembunyi. Semuanya tajam. Semuanya siap digunakan dalam hitungan detik.

“Kau membawa semua itu sepanjang waktu?” tanya Naja, dan ada nada di suaranya yang bisa jadi keterkejutan atau bisa jadi kekaguman atau mungkin keduanya.

“Selalu. Pencuri yang baik selalu siap. Dan mata-mata yang masih hidup adalah mata-mata yang tidak pernah tidak bersenjata.”

“Tunjukkan caramu bertarung.”

Vessel menatap Naja. Lalu menatap pisau di tangannya. Lalu menatap tiang pengawas yang berdiri di tengah dek, tiang kayu berdiameter sebesar lengan atas yang permukaannya penuh goresan dan paku dan simpul tali.

Vessel bergerak.

Cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari yang terlihat mungkin untuk tubuh manusia. Tangan kanannya yang memegang pisau menebas udara di depan tiang dengan gerakan yang bukan tebasan kekuatan melainkan tebasan presisi, irisan yang tipis dan tepat yang mengenai tiang di titik yang sama tiga kali berturut turut dengan kecepatan yang membuat ketiga tebasan itu terlihat seperti satu gerakan tunggal. Tangan kirinya yang memegang pisau kedua menusuk dari arah yang berbeda, dari bawah, sudutnya rendah dan tidak terduga, gerakan yang dirancang bukan untuk menyerang dari depan melainkan untuk menyelinap di bawah pertahanan lawan.

Lalu Vessel berputar. Tubuhnya berputar di atas satu kaki dengan keseimbangan penari, dan belati di punggungnya sudah di tangan kanannya entah kapan, menebas dari arah yang berlawanan, dan pedang pendek di pahanya sudah di tangan kirinya, menusuk ke depan dengan gerakan yang final dan pasti.

Empat senjata. Empat sudut serangan. Dalam waktu kurang dari tiga detik.

Vessel berhenti. Berdiri tegak. Tidak terengah. Tidak berkeringat. Seolah yang baru saja dilakukannya bukan lebih dari peregangan pagi.

Naja menatap tiang pengawas. Ada enam goresan baru di kayu itu. Enam garis tipis yang membentuk pola yang nyaris simetris, masing-masing dengan kedalaman yang sama, masing-masing dengan sudut yang berbeda.

“Cukup bagus,” kata Naja.

Vessel menyimpan senjata senjatanya kembali ke tempat-tempat rahasia di tubuhnya. Satu per satu menghilang seperti sulap, masuk ke lengan baju dan balik punggung dan paha dengan gerakan yang sudah terlalu terlatih untuk terlihat sebagai usaha.

“Hanya ‘cukup bagus’?” tanya Vessel.

“Kau mengandalkan kecepatan. Bagus untuk lawan yang lebih lambat. Tapi kalau lawanmu sama cepatnya denganmu?”

“Belum pernah bertemu yang sama cepatnya.”

“Belum,” kata Naja, dan ada sesuatu di matanya yang mungkin tantangan dan mungkin janji.


Malam, giliran jaga. Empat jam Naja, empat jam Vessel. Yang jaga duduk di kemudi, menatap bintang dan laut dan kegelapan, mendengarkan suara kapal dan ombak dan angin, menjaga agar La Sombra tetap di jalurnya. Yang tidak jaga tidur di dek bawah, di tempat tidur gantung yang bergoyang pelan, dibuai oleh gerakan kapal dan suara laut.

Kadang, saat pergantian jaga, mereka berpapasan di tangga. Vessel yang turun dari dek dan Naja yang naik, atau sebaliknya. Di tangga yang sempit itu, tubuh mereka hampir bersentuhan. Bahu dan bahu. Lengan dan lengan. Napas dan napas. Dan dalam jarak sedekat itu, dalam kegelapan dek bawah yang hanya diterangi satu lentera kecil yang bergoyang di pengaitnya, Naja bisa mencium bau Vessel. Bau yang aneh dan tidak seharusnya menyenangkan, keringat kering, garam laut, kayu bakar, dan sesuatu lain yang mungkin sabun murah atau mungkin hanya bau kulit manusia yang bersih dan hangat.

Dan Vessel, dalam jarak yang sama, bisa mencium bau Naja. Bau kulit yang terbakar matahari, bau logam dari pedang yang selalu dibawanya, bau rambut hitam yang panjang yang berbau angin laut, dan sesuatu yang lebih halus, sesuatu yang Vessel tidak bisa identifikasi tapi yang membuatnya ingin berdiri lebih dekat, meskipun lebih dekat berarti terlalu dekat.

Mereka tidak pernah berdiri lebih dekat.

Mereka berpapasan, mengangguk singkat dalam gelap, dan melanjutkan ke arah masing-masing. Satu ke atas, ke bintang dan kemudi dan jaga malam. Satu ke bawah, ke tempat tidur gantung dan mimpi dan kegelapan.

Ritme.

Hari demi hari.


Tujuh hari setelah meninggalkan Yokot, La Sombra memasuki perairan yang lebih sempit. Arus menjadi lebih kuat. Angin berubah arah lebih sering. Tebing-tebing batu menjulang di kedua sisi, semakin dekat, membentuk lorong air yang Naja kenal dari peta.

Selat Gibraltar.

Pintu gerbang antara Laut Mediterania dan Samudera Atlantik. Celah sempit di antara daratan Eropa dan Afrika yang airnya bergolak karena dua laut yang berbeda bertemu dan berbenturan, arus yang saling tarik-menarik, angin yang terkompresi di antara tebing-tebing tinggi dan menjadi lebih kuat dan lebih tak terduga.

Naja berdiri di kemudi, kaki-kaki melebar untuk keseimbangan, kedua tangan di roda kayu yang berputar dan bergetar di bawah tekanan arus. Matanya menyipit, menatap perairan di depannya yang berbusa putih di mana arus bertemu arus.

“Vessel!” teriaknya. “Tarik layar utama! Kencangkan tali cadangan! Kita masuk ke selat!”

Vessel berlari ke tiang utama. Tangannya yang cekatan menarik tali dengan kecepatan dan kekuatan yang dikumpulkan dari hari-hari berlatih di kapal ini, otot-ototnya yang ramping tapi kuat menegang di bawah kulit kecokelatannya. Layar utama berkurang setengah, membuat kapal lebih mudah dikendalikan dalam angin yang bergolak.

“Layar cadangan?” teriak Vessel dari tiang.

“Biarkan! Kita butuh kecepatan tapi bisa dikendalikan! Anginnya dari arah barat, kita gunakan untuk mendorong tapi jangan sampai terbawa!”

Kapal memasuki selat. Air di bawah lambung bergemuruh. La Sombra oleng ke kiri, keras, dan Naja menahan kemudi dengan seluruh kekuatan tubuhnya, giginya menggertak, urat-urat di lengannya menonjol. Kapal kembali stabil. Oleng ke kanan. Naja menahan lagi. Kembali stabil.

“Batu karang di kanan!” teriak Vessel dari haluan, di mana dia berlari setelah selesai dengan layar, matanya yang tajam mengawasi perairan di depan. “Dua puluh depa di depan! Agak ke kiri!”

Naja memutar kemudi ke kiri. Kapal berbelok. Batu karang yang gelap dan tajam dan basah melintas di sisi kanan kapal, begitu dekat sehingga Naja bisa melihat kerang-kerang yang menempel di permukaannya dan rumput laut yang bergoyang di bawah air.

“Bersih!” teriak Vessel.

Mereka melewati selat dalam waktu tiga jam. Tiga jam yang terasa seperti tiga puluh jam, tiga jam yang menguras setiap tetes energi dan konsentrasi dari tubuh dan pikiran mereka, tiga jam di mana satu kesalahan kecil, satu keterlambatan sepersekian detik dalam memutar kemudi atau menarik tali, bisa berarti kapal hancur di batu karang dan mereka berdua mati di perairan yang bergolak di antara dua benua.

Tapi mereka melewatinya.

Ketika La Sombra keluar dari ujung barat Selat Gibraltar dan memasuki perairan terbuka Samudera Atlantik, ketika ombak yang bergolak berubah menjadi gelombang panjang yang lambat dan teratur, ketika angin yang terkompresi di selat menjadi hembusan lebar yang bebas dan sejuk, Naja melepaskan kemudi dan membiarkan tubuhnya merosot ke dek.

Punggungnya bersandar di dinding kabin. Napasnya berat. Tangannya gemetar. Keringat mengalir di pelipisnya dan menetes ke jubah hitamnya yang basah.

Vessel datang dari haluan. Duduk di dek di sebelah Naja. Jarak antara mereka lebih dekat dari biasanya. Bahu mereka hampir bersentuhan.

“Kita berhasil,” kata Vessel. Suaranya juga lelah, tapi ada kegembiraan di dalamnya, kegembiraan yang tenang dan dalam, kegembiraan pelaut yang baru saja melewati bahaya dan masih hidup untuk menceritakannya.

“Kita berhasil,” ulang Naja.

Mereka duduk berdampingan di dek La Sombra yang basah, menatap Samudera Atlantik yang membentang di depan mereka, luas dan biru tua dan tanpa akhir, lautan yang menjanjikan kebebasan dan bahaya dalam ukuran yang sama besar.

“Atlantik,” bisik Vessel.

“Baru permulaan,” kata Naja.

“Aku tahu.”

“Masih jauh.”

“Aku tahu itu juga.”

“Akan ada hal-hal yang lebih buruk dari selat tadi.”

“Aku harap begitu,” kata Vessel. Dan ketika Naja menoleh dengan tatapan bingung, Vessel menambahkan, “Kalau tidak ada yang lebih buruk, perjalanan ini akan membosankan. Dan aku tidak ikut berlayar ke ujung dunia untuk bosan.”

Naja menatapnya. Vessel menatap balik. Mata hitam dan mata cokelat keemasan. Dua orang yang kelelahan dan basah dan lapar dan yang baru saja hampir mati di selat yang sempit di antara dua benua.

Dan Naja tertawa.

Bukan tawa besar. Bukan tawa keras. Tawa kecil yang pelan dan pendek dan yang mungkin lebih mirip hembusan napas yang tidak biasa dari tawa yang sebenarnya. Tapi itu tawa. Tawa pertama Naja dalam tiga minggu lebih. Dan suaranya, meskipun kecil dan pendek, terdengar seperti sesuatu yang hidup dan hangat di udara malam yang dingin.

Vessel mendengar tawa itu. Dan sesuatu di matanya berubah. Sesuatu yang hangat dan lembut yang muncul dan hilang begitu cepat sehingga mungkin hanya ilusi yang diciptakan oleh cahaya bintang. Tapi yang ada di sana, untuk sepersekian detik, sebelum Vessel mengalihkan pandangannya kembali ke lautan dan berdeham pelan.

“Kita harus makan,” kata Vessel, berdiri dan membersihkan celananya. “Aku lapar. Kau lapar. Dan kalau aku tidak segera memasak sesuatu, kau mungkin akan mencoba memasak lagi dan aku tidak mau kapal ini terbakar sebelum kita sampai ke Yababa.”

“Aku tidak seburuk itu.”

“Kapten, dengan segala hormat, ikan asin yang kau masak kemarin bisa digunakan sebagai senjata. Aku cukup yakin kalau kita lempar ke musuh, mereka akan menyerah.”

“Keluar dari pandanganku sebelum aku menggunakan pedangku.”

“Baik, Kapten. Makan malam dalam tiga puluh menit.”

Vessel berjalan ke dapur kapal dengan langkah yang ringan dan senandung yang pelan, senandung lagu yang tidak dikenal Naja tapi yang melodinya sederhana dan ceria dan yang entah bagaimana terasa cocok dengan malam ini, dengan laut ini, dengan perasaan yang ada di dada Naja yang masih belum berani diberi nama tapi yang semakin sulit untuk diabaikan.


Samudera Atlantik menyambut mereka dengan kemurahan hati yang tidak terduga.

Angin bertiup dari arah utara timur laut, mendorong La Sombra ke selatan dengan kecepatan yang baik tanpa terlalu kuat untuk dikendalikan oleh dua orang. Ombak panjang dan teratur, menaikkan dan menurunkan kapal dengan irama yang lembut dan konstan seperti napas raksasa yang tertidur di bawah permukaan. Langit cerah di siang hari dan berbintang di malam hari, tanpa awan gelap yang mengancam badai.

Hari demi hari, La Sombra meluncur ke selatan menyusuri pantai barat Afrika yang garis pantainya terlihat samar di kejauhan sebelah timur, garis hijau gelap yang kadang muncul dan kadang menghilang tergantung jarak dan kabut.

Dan setiap hari, tanpa direncanakan dan tanpa disadari, jarak antara Naja dan Vessel menyusut.

Bukan jarak fisik. Meskipun itu juga menyusut, dari dua sisi dek yang berlawanan menjadi dua sisi dek yang berdekatan, dari tempat duduk yang terpisah saat makan menjadi makan di tempat yang sama. Tapi jarak yang lebih penting, jarak yang dibangun dari ketidakpercayaan dan kecurigaan dan kehati-hatian, jarak yang seperti tembok tak terlihat antara dua orang yang baru bertemu, tembok itu perlahan menipis.

Vessel mulai bercerita.

Awalnya hanya potongan-potongan kecil. Komentar singkat tentang masa lalunya yang keluar hampir tidak sengaja, seperti koin yang jatuh dari kantong yang sobek.

“Aku belajar bertarung dari pamanku. Dia bukan orang baik, tapi dia ahli pedang. Dia bilang, ‘Vessel, pedang besar untuk orang bodoh yang mengandalkan kekuatan. Pisau kecil untuk orang pintar yang mengandalkan otak.’ Aku tidak pernah setuju sepenuhnya, tapi aku lebih suka pisau.”

“Aku pernah tinggal di Genoa. Setahun. Bekerja untuk seorang pedagang kain sebagai pengawal. Ternyata pedagang kain itu juga penyelundup. Ternyata menjadi pengawal penyelundup lebih berbahaya dan lebih menguntungkan dari menjadi pengawal pedagang kain.”

“Ibuku meninggal waktu aku kecil juga. Penyakit. Bukan penyakit yang besar. Demam biasa. Tapi kami tidak punya uang untuk dokter. Demam biasa menjadi mematikan kalau kau miskin.”

Kalimat terakhir itu keluar di malam hari, saat pergantian jaga, di tangga yang sempit antara dek atas dan dek bawah. Vessel mengatakannya dengan nada yang ringan, nada yang sama dengan nada yang dipakainya untuk lelucon dan komentar santai, tapi Naja mendengar apa yang ada di bawah nada itu. Berat yang ditanggung bertahun-tahun dan yang sudah menjadi begitu familiar sehingga si pembawa tidak lagi menyadarinya.

Naja tidak menjawab dengan kata kata simpati. Naja tidak bilang “aku turut berduka” atau “aku mengerti perasaanmu” atau kalimat-kalimat kosong lain yang biasa diucapkan orang ketika tidak tahu harus berkata apa.

Naja hanya bilang, “Ibuku juga.”

Dua kata. Tapi dua kata itu, di tangga sempit yang gelap itu, di antara dua orang yang sama-sama kehilangan ibu mereka terlalu muda dan yang sama-sama membawa kehilangan itu seperti bekas luka yang tidak pernah sepenuhnya sembuh, dua kata itu cukup.


Dua minggu setelah Selat Gibraltar.

Sore yang tenang. Matahari rendah di barat. Laut berkilau seperti tembaga cair.

Naja dan Vessel duduk berhadapan di dek dengan peta di antara mereka. Naja menunjukkan rute selanjutnya, menyusuri pantai Afrika terus ke selatan, memutari Tanjung Harapan di ujung selatan benua Afrika, lalu belok ke timur menuju Samudera Hindia.

“Dari sini ke Tanjung Harapan, mungkin enam sampai delapan minggu,” kata Naja, jarinya menelusuri garis pantai di peta. “Tergantung angin dan arus. Kita perlu singgah setidaknya dua kali untuk mengisi air dan perbekalan.”

“Dan setelah Tanjung Harapan?”

“Samudera Hindia. Lebar. Ombak besar. Arus kuat. Mungkin tiga bulan untuk menyeberanginya sampai ke Selat Malaka.”

“Lalu?”

“Pasifik.”

“Lalu?”

“Yababa.”

Vessel menatap peta itu. Matanya mengikuti rute yang ditunjukkan Naja, garis imajiner yang melintasi setengah bola dunia, ribuan mil laut yang harus dilalui oleh kapal kecil dengan dua awak kapal.

“Berapa lama total?”

“Enam bulan. Mungkin lebih.”

Vessel mengangguk pelan. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah ekspresi seseorang yang menerima kenyataan sebagaimana adanya, tanpa mengeluh dan tanpa memperkecilnya.

“Enam bulan,” ulang Vessel. “Di laut. Berdua.”

“Berdua,” konfirmasi Naja.

Mata mereka bertemu di atas peta. Sore yang tenang. Matahari yang rendah. Cahaya keemasan yang menerangi wajah mereka dari samping, membuat bayangan yang panjang dan lembut.

“Aku bisa memikirkan cara yang lebih buruk untuk menghabiskan enam bulan,” kata Vessel pelan.

Naja tidak menjawab. Tapi dia juga tidak mengalihkan pandangannya.

Momen itu bertahan tiga detak jantung. Empat. Lima. Sebelum Naja berdeham dan menunduk kembali ke peta dan berkata, “Kita perlu membahas rencana untuk tempat singgah pertama,” dengan suara yang profesional dan datar dan yang sama sekali tidak mengkhianati apa pun yang mungkin terjadi di balik suara itu.

“Tentu, Kapten,” kata Vessel. Dan senyumnya, yang kali ini bukan senyum miring pencuri melainkan senyum kecil yang lembut dan pribadi dan yang sepertinya bukan ditujukan kepada Naja melainkan kepada dirinya sendiri, senyum itu bertahan di sudut bibirnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya sebelum menghilang.


Malam itu, di dek atas, di bawah langit Atlantik yang dipenuhi bintang-bintang yang jumlahnya lebih banyak dari yang bisa dihitung dalam seumur hidup, Naja berdiri di haluan kapal dan menatap ke depan.

Di belakangnya, di dek tengah, Vessel berbaring telentang di atas dek kayu, tangan-tangan dilipat di belakang kepala, mata menatap langit.

“Kapten,” panggil Vessel.

“Apa?”

“Bintang yang paling terang di sebelah kanan sana. Yang biru. Apa namanya?”

Naja menoleh ke arah yang ditunjuk Vessel.

“Sirius. Bintang anjing. Yang paling terang di langit malam.”

“Sirius,” ulang Vessel. “Nama yang bagus untuk bintang. Kedengarannya serius.”

“Karena memang ‘serius.’ Sirius datang dari bahasa Latin yang berarti membakar. Bintang itu begitu terang sehingga orang Romawi kuno percaya itu bisa membakar bumi.”

“Kau tahu banyak tentang bintang.”

“Petrus mengajariku. Navigatorku. Dia...” Naja terdiam. Bayangan Petrus yang melompat ke laut dengan senyum kosong di wajahnya melintas di pikirannya seperti kilat. “Dia mengajariku semua tentang bintang.”

Vessel tidak bertanya lebih lanjut. Vessel sudah cukup memahami nada suara Naja untuk tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam.

Mereka diam selama beberapa menit. Angin bertiup pelan. Bintang-bintang berkilau.

“Petrus dan yang lainnya,” kata Vessel akhirnya, suaranya hati-hati dan lembut, “mereka pergi karena siren?”

Naja mengangguk. Tidak menoleh.

“Dua puluh orang?”

“Dua puluh orang.”

“Dalam satu malam?”

“Dalam satu jam.”

Vessel tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu dia berdiri dari dek. Berjalan ke haluan. Berdiri di samping Naja, cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuhnya tapi tidak cukup dekat untuk menyentuh.

“Aku tidak tergoda oleh nyanyian yang indah,” kata Vessel pelan, menatap ke depan, ke lautan gelap yang sama yang ditatap Naja. “Aku lebih tergoda oleh orang yang diam di haluan kapal sendirian di tengah malam dan menghafal nama bintang yang diajarkan oleh teman yang sudah tiada.”

Naja menoleh.

Vessel menatapnya.

Dalam kegelapan malam di tengah Samudera Atlantik, di haluan kapal yang bergerak pelan di atas ombak yang panjang dan lambat, dua orang berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat untuk mendengar detak jantung satu sama lain jika mereka cukup diam. Tapi mereka tidak cukup diam. Jantung mereka berdetak terlalu keras.

“Tidurlah,” kata Naja. Suaranya sedikit serak. “Giliranmu jaga tiga jam lagi.”

“Baik, Kapten.”

Vessel berbalik. Berjalan ke tangga. Berhenti di anak tangga pertama.

“Kapten.”

“Apa lagi?”

“Kalau siren datang lagi, kau tidak perlu berteriak sendirian. Aku akan menutup telingaku. Dan aku akan berdiri di sampingmu. Dan kita akan menatap mereka bersama sampai mereka pergi.”

Naja tidak menjawab.

Vessel turun ke dek bawah.

Dan Naja berdiri sendirian di haluan, menatap bintang-bintang, menatap laut, menatap kegelapan yang membentang di depannya yang penuh dengan bahaya yang belum diketahui dan tantangan yang belum dibayangkan.

Tapi untuk pertama kalinya sejak malam siren mengambil dua puluh awak kapalnya, Naja tidak merasa takut.

Tidak sepenuhnya.


La Sombra berlayar ke selatan. Dua orang. Satu kapal. Satu tujuan.

Dan di depan mereka, menunggu di suatu tempat di lautan yang luas dan gelap dan penuh misteri, ada sesuatu yang bukan manusia dan bukan binatang dan yang belum punya nama di kepala mereka.

Sesuatu yang berjubah hitam.

Sesuatu yang membawa pilihan.

Sesuatu yang bernama Noon.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk