Suara keriuhan para pengembara yang sedang melakukan tawar menawar terdengar dari tempat Elaina berjalan, musik-musik instrumental khas Everdelle juga terdengar menyambut kedatangannya.
Ia masih berada di jalan turunan perbukitan yang luas sehingga dapat langsung melihat bagaimana ibu kota Westheaven; Bellavere, begitu padat dari atas sana. Beberapa penyihir terbang melewati atasnya dan beberapa naga yang sudah bertransformasi menjadi wujud manusia, hanya saja ia masih menggunakan sayapnya yang besar pun melewatinya.
Ah, tak lupa peri-peri kecil yang meloncat dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga lainnya. Elaina jarang bertemu dengan para peri karena mereka lebih suka tinggal berkelompok. Peri dan Elf dasarnya masih satu keturunan yang sama, namun leluhur para Elf memiliki ukuran normal seperti manusia sementara leluhur para peri memiliki tubuh yang sangat kecil. Mereka juga sudah memiliki sayap sejak lahir, berbeda dengan para elf.
“Sangat ramai,” celetuk Elaina sembari menengadahkan kepalanya setiap ada pengembara yang melintas.
Kriyuuuuukk
Perut Elaina berbunyi tanda ia belum makan siang, sebenarnya masih ada sih camilan yang Tobi berikan kepadanya tadi tapi dia sangat ingin makanan berat. Dengan bermodalkan rasa lapar, sihir-sihir magis Elaina mengelilingi tubuhnya mulai membentuk sayap untuk dirinya lepas landas.
“Nona silahkan dipilih; ada ubi manis bakar madu, jagung asam manis pedas, dan juga ini adalah makanan khas Bellavere roti roll lapis gandum dengan daging babi asap. Nona dijamin pasti menyukainya,” ujar salah satu pedagang yang sedang menawari seorang Nona Naga di depannya.
Elaina melirik ke kedai itu tapi ia sangat ingin memakan makanan yang berkuah dan terasa gurih di lidah. Ia juga membayangkan kuahnya yang sangat kental dan ada potongan daging sapi khas dalam di atasnya lalu jangan lupa juga taburan daun bawang yang menambah aromatik nya.
“Ahhhh… pasti enak sekali. Dimana aku bisa menemukan kedai mie ya?” celetuk Elaina yang sudah meneteskan air liurnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri namun hampir semuanya hanya menyajikan babi panggang, ayam goreng madu, atau bistik daging sapi.
Elaina mulai menyusuri setiap gang di pasar itu, berharap ia dapat menemukan mie berkuah yang sesuai dengan imajinasinya.
“Maling! Maling!”
Beberapa penjaga kedai mengejar seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun yang sedang memegang satu bungkus kue lapis isi sayur dan sosis. Ia berlari masuk kerumunan para pengembara, menyempil di sela-sela yang susah dilewati oleh para penjaga kedai itu. Tak terasa, liontin merah yang dikalungkan terjatuh diantara kerumunan itu dan ia tidak menyadarinya.
Bocah itu melirik ke kanan ke kiri sebelum akhirnya ia membelokkan arahnya berlawanan dengan para penjaga kedai yang mengejarnya, mengganti pakaiannya dengan cepat.
Benar, bocah itu bisa melakukan trik sihir sederhana. Ia mengubah penampilannya seolah dia adalah anak dari seorang bangsawan sehingga tidak ada yang tahu bahwa tadinya ia adalah seorang pencuri.
“Kemana perginya anak tadi?”
“Sialan! Kita kehilangan jejaknya lagi.”
Penjaga kedai itu kebingungan lalu kembali ke kedai masing-masing dengan perasaan marah dan kesal.
Elaina memegang sebuah liontin merah milik bocah itu yang terjatuh saat menyela kerumunan. Elaina jelas melihat seluruh kejadian pencurian itu, ia juga dapat melihat anak itu dengan sihirnya.
Awalnya Elaina tidak ingin berurusan dengan manusia, apalagi ras darah campuran seperti itu. Dia masih sibuk memilih kedai mie yang menurutnya bisa sesuai dengan imajinasinya namun tak satupun ada yang sesuai dengan keinginannya. Entah karena tak sesuai dengan keinginannya atau kepalanya masih tertuju pada pencuri kecil itu.
Bocah itu berlari melepaskan sihirnya, ia merayap di antara reruntuhan bangunan yang sudah berlumut. Kakinya beberapa kali menginjak lumpur yang basah, membuat bajunya yang usang itu bertambah kotor tapi bocah itu bahkan tidak mempedulikannya.
“Mama aku pulang,” ujar Bocah itu, memasuki sebuah reruntuhan bangunan yang masih agak tampak utuh. Ia berjalan masuk dan mengambil sebuah piring setengah kotor yang ada di depannya, menaruh roti curiannya tepat di atas piring itu. Ia juga mengambil sebuah dot bayi, menuangkan satu sendok susu yang sudah basi ke dalamnya; menyeduhnya dan membawanya ke dalam kamar.
Bocah itu pun duduk tepat di sebelah ranjang, menaruh makanan dan minumannya di sana. Sepertinya bocah itu berbicara dengan mamanya yang sedang sakit di ranjang, tubuhnya berbalut selimut bahkan tidak terlihat sama sekali. Meski aneh, namun anak itu tetap berbicara.
“Hari ini aku pintar sekali mama, aku mengambil roti ini untuk makan hari ini. Tenang saja mama, aku pasti akan membayarnya jika aku sudah beranjak dewasa. Mama tidak perlu khawatir tentangku,” ujar bocah itu dengan wajah yang sumringah. Ia membelah roti itu dengan pisau dan memakan bagiannya lalu meminum susu yang sudah basi itu.
Elaina mengamati bocah itu tepat menyandarkan dirinya di kusen pintu itu, “Sepertinya aku yang harus mengkhawatirkanmu, anak kecil.”
Suara Elaina itu membuat bocah itu terperangah kaget, ia dengan cepat mengeluarkan sebuah stik kayu dengan sihirnya, “Jangan macam-macam denganku!”
“Aku kemari tidak untuk memintamu bertanggung jawab, aku hanya ingin mengembalikan ini.”
Elaina menunjukkan sebuah liontin merah di tangannya. Bocah itu lalu berdiri dan mengambilnya dengan wajah kaget. Ia tidak menduga, liontinnya bisa terjatuh. Untungnya elf yang menemukannya berbaik hati mengembalikannya. Bocah itu memeluk liontin itu lalu menatap Elaina.
“Terimakasih Nona Elf, namaku Naoya. Silahkan duduk dulu, aku akan membawakanmu minum.” Naoya lalu berlari kecil menuju ruang tengah yang terbuka sebenarnya.
Elaina melirik ke arah ranjang, melihat mama yang bahkan tidak menjawab atau bergerak sedikitpun sedari tadi. Rasa kesal menyelimuti perasaan Elaina. Yang awalnya tidak ingin ikut campur malah menjadi rasa ingin masuk ke dalam masalah keluarga ini.
“Aku memang masih muda untuk seukuran elf, tetapi usiaku jauh di atasmu. Kenapa kamu melakukan ini kepada Naoya. Jika sakit, setidaknya berikan sedikit kasih sayangmu untuknya sebelum pergi meninggalkannya. Dia masih sekecil itu untuk mencuri.” Elaina mencoba menasehatinya. Elaina menarik napas, mencoba mengendalikan amarah di hatinya.
Namun, tidak ada jawaban.
Setelah lima menit pun masih tidak ada jawaban. Kekesalan Elaina pun mencapai puncaknya. Ia menarik selimut, berharap agar mendapat respon dari ‘Mama’ Naoya.
“Setidaknya jawab aku—”
Elaina tercengang, ia kini terdiam setelah melihat apa yang terbaring di ranjang itu. Pantas saja sedari tadi tidak ada jawaban dari balik selimut itu, ternyata—
Mama yang disebut Naoya hanya sebuah boneka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!