Cerita Tobi

1 dibaca

A

Elaina melangkahkan kakinya di ubin-ubin kayu dengan ukiran bunga-bunga khas Everdelle. Bunga yang tumbuh dengan kelopaknya yang bertumpuk-tumpuk dan memiliki sihir magis. Warnanya berbeda-beda di setiap daerah dan dapat bersinar di malam hari.

Mata Elaina lalu beralih pada goresan-goresan halus yang mengukir pegangan tangga, terasa sangat halus dan seperti sulur-sulur batang tanaman.


Cantik, pikirnya.


Akhirnya ia sudah melangkahkan kaki di lantai satu, banyak pajangan-pajangan foto di sepanjang dinding. Foto seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dengan kedua orang tuanya.

Elaina melangkahkan kakinya masih tetap terfokus pada foto-foto itu, di sebelah foto pertama tadi ada seorang anak kecil berusia 10 tahun sedang memegang gagang sekop di kebunnya dengan wajah ceria dan kedua orangnya pun berada di sana dengan senyuman yang merekah.

Sedangkan di foto sebelahnya anak kecil itu kini sudah tumbuh menjadi remaja 13 tahun. Mungkin saja itu saat ia mulai masuk ke Akademi Perkebunan Everdelle. Ia tumbuh dengan senyum khas yang sama seperti saat ia kecil begitu pun dengan kedua orang tuanya yang masih sama namun sekarang sudah terlihat agak menua.

Mata Elaina lalu bergeser ke foto selanjutnya saat anak itu sepertinya sudah berusia 17 tahun. Ia mengenakan seragam sekolah dan memegang sebuah kertas kelulusan. Kedua orangnya membawakan sebuah buket bunga matahari yang cantik di genggamannya. Kemungkinan, itu adalah hadiah untuk pemuda itu.

Foto itu kemudian tidak berlanjut seolah perjalanan anak itu masih dalam proses atau sudah terhenti. Ia melirik ke arah Tobi yang sedang memegang sebuah panci dari tanah liat dengan sarung tangannya.


“Aww.. aw.. panas,” keluhnya sebelum akhirnya dia berhasil meletakkan panci itu di meja makan yang sudah sangat rapi.


Elaina menatap Tobi tanpa ekspresi, namun Tobi membalasnya dengan senyuman yang khas yang sama dengan pemuda di dalam foto itu.


“Kemarilah, mari kita makan bersama. Jangan malu-malu,” lambai Tobi.


Elina celingukan melihat ke kanan dan ke kiri ruangan, seolah Elaina sedang menunggu dua orang lainnya yang berada di foto tetapi sayangnya tidak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya.


“Apa tidak menunggu yang lain datang?” tanya Elaina. Tobi menaikkan alisnya, ia seperti mencoba memahami pertanyaan Elaina.


“Yang lain?”


“Mereka.”


Elaina menunjuk kedua orang tuanya yang berada di foto itu. Tobi terlihat sedikit terkesiap dengan kata-kata Elaina. Ia lalu menarik napasnya dan melangkah untuk menarik Elaina ke meja makan, membiarkannya duduk lalu memberikannya semangkuk sup labu yang terlihat sangat enak tanpa menjawab pertanyaan Elaina sedikit pun.


“Sudahlah makan saja, aku memiliki 1000 pertanyaan untukmu. Ini pertama kalinya aku bertemu elf dan aku sangat merasa beruntung. Aku dengar elf sangat suka berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Aku sangat ingin mendengar pengalamanmu…”


Tobi terus berceloteh tanpa henti, tapi celotehannya hanya bercerita tentang kekagumannya dengan bagaimana hidup seorang elf yang pastinya memiliki banyak pengalaman karena sudah mengembara ke banyak tempat di Everdelle. Dia juga terus menanyakan tentang tanaman-tanaman apa saja yang sudah Elaina temui sepanjang hidupnya namun Elaina belum sempat menjawab karena Tobi terus menerus berbicara.

Karena itu, Elaina hanya menikmati sup labu di depannya. Kuah sup itu terasa sangat manis dan menyegarkan, daging labunya pun lumer seketika ketika berada di dalam mulut membuat Elaina tidak bisa berhenti untuk memakannya.

Melalui celotehannya yang panjang, Elaina bisa menyimpulkan bahwa Tobi memang sangat ahli berkebun, dia mencoba menanam berbagai macam sayuran dan buah-buahan yang ada di Everdelle dan mengolahnya menjadi makanan yang sangat enak. Tak jarang para pengembara lewat di depan kebunnya dan membeli beberapa sayuran untuk bekal persediaannya.

Dari dalam dapur, Elaina bisa melihat kebun belakang halaman Tobi yang begitu tertata rapi dan terlihat berwarna-warni. Banyak kupu-kupu dan lebah yang terbang di sepanjang kebun.


“Sayangnya… orang tuaku tidak bisa mencoba hasil kebunku karena mereka sudah pergi lebih dulu.”


“Pergi ke mana? Mereka berkelana?” tanya Elaina dengan polosnya. Tobi hanya menggeleng.


“Mereka berdua… sudah meninggal 2 tahun yang lalu.”


Ucapan Tobi yang bergetar itu membuat Elaina langsung menatapnya membeku. Ternyata itu alasan kenapa foto di dinding itu tidak berlanjut dan Tobi tidak menjawabnya di awal. Orang tuanya meninggal secara berurutan, ayahnya meninggal karena kecelakaan perahu saat mencari ikan sedangkan ibunya meninggal karena sakit terpukul oleh kepergian suaminya.

Kini Tobi hidup seorang diri, meski dibawah rasa kehilangan yang begitu dahsyat namun dia tetap berusaha menjadi seorang anak laki-laki yang sama seperti yang orang tuanya ketahui.

Elaina kini berdiri di belakang Tobi yang tertunduk menahan tangisnya namun gagal. Elaina menepuk pelan pundak Tobi, sedikit demi sedikit dia membiarkan sihir magis mengelilingi Tobi agar jiwanya yang rapuh menjadi jauh lebih kuat lagi. Rasa hangat tiba-tiba mencuat dari dalam tubuh Tobi, seolah ia merasakan kembali pelukan hangat orang tuanya ketika dia masih kecil.

Tangisan Tobi pecah seketika namun rasa lega mendatangi dirinya, ia dapat mendengarkan kedua orang ya mengatakan bahwa ia sangat bangga dengan Tobi dan meminta maaf karena pergi lebih dulu.

Melihat tangisan Tobi, Elaina hanya terdiam membiarkan Tobi memproses perasaan sedihnya.


Manusia benar-benar sangat rapuh, pikir Elaina sekali lagi.


Elaina kini sudah berada di depan halaman topi dan bersiap-siap untuk menuju ibu kota Westheaven. Beberapa camilan dan buah-buahan yang diberikan Tobi secara gratis ditaruhnya di penyimpanan tanpa batasnya. Ia melirik Tobi yang masih memberikan senyuman khasnya. Ia jauh lebih bersinar dibanding tadi bahkan kali ini ia seperti jauh lebih bebas dari ikatan yang membelenggunya.

Ada hal yang mengganjal jika dia meninggalkan Tobi tanpa kenangan, tentu saja itu adalah tanda terima kasihnya juga atas pertolongan Tobi. Mungkin saja ketika dia kembali nanti Tobi sudah beranak pinak atau bahkan memiliki cucu.

Sebuah kekuatan sihir seperti kilatan cahaya terbentuk di hadapan mereka berdua, membentuk sebuah layar yang menampilkan pantulan mereka berdua.


“Kemarilah Tobi, kita harus mengabadikan momen ini sebelum akhirnya berpisah. Ah iya, ini juga biji-biji tanaman yang aku dapat dari kota-kota lain,” ujar Elaina sembari memberikan sebungkus bungkusan hitam kepada Tobi.




Sebuah foto dengan sedikit sentuhan magis membuat foto itu tampak bersinar di antara foto-foto yang lain di dinding rumah Tobi. Foto dirinya dengan seorang elf bernama Elaina saat dia berusia 19 tahun. Kini dirinya sudah tua, bahkan duduk di kursi roda.

Setelah sepeninggalan Elaina, dia bertemu dengan seorang gadis yang akhirnya menikah dengannya dan memiliki 2 orang anak laki-laki yang gagah dan ceria sama seperti dirinya.

Tahun demi tahun berlalu, kini ia memiliki seorang cucu yang selalu terpesona setiap kali berada di rumah kakeknya.


“Kakek, foto ini tampak sangat cantik. Siapa wanita yang berada di dalam foto itu kakek?”


Tobi tersenyum melihat pertanyaan polos cucunya yang berada di pangkuannya, “Dia adalah Elaina, seorang elf pengembara yang pernah kakek tolong.”


Cucu itu menganggukkan kepalanya lalu berlari menuju kebun belakang rumah Tobi yang sudah tertanam berbagai tumbuhan yang berasal dari kota-kota lain di penjuru Everdelle.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk