Chapter 3: Sempro dan Nasi Goreng

0 dibaca

A

Dasi yang mencong dirapikan Aldo. Dia membusungkan dada di depan kaca, memutar badannya ke kiri dan ke kanan. Kemeja putihnya ditepuk-tepuk, memastikan tidak ada bagian yang kusut. Bergantian, dia mengangkat kakinya untuk memeriksa celana hitam yang dikenakannya.

Aldo melihat layar HP.

07:00 AM.

Sempro sialan, bikin gua deg-degan aja...

Dia memasukkan HP-nya di saku, lalu mengambil tas dan duduk di depan pintu.

Sepasang sepatu pantofel hitam sudah siap. Jari jemarinya menarik tumit belakang sepatu, membiarkan telapak kakinya meluncur masuk dengan pas.

Aldo terdiam sebentar. Matanya menatap lantai. Dia menghela napas, lalu berdiri dan membuka pintu.

Langit pagi yang cerah ditemani suara burung yang berkicau. Sambil mengunci pintu dari luar, Aldo melirik kecil ke arah pintu Vira.

Masih tidur...?

Setelah terkunci, Aldo bergegas turun ke lantai satu untuk mengambil sepedanya di parkiran kosan.

Satu kaki sudah siap di pedal.

Tangannya sudah meremas kuat setang sepeda.

Aldo menghela napas.

Dia berangkat.


Beberapa jam kemudian, tepuk tangan terdengar dari dalam ruangan. Aldo keluar bersama beberapa temannya sambil melonggarkan simpul dasi.

“Gimana, do?” tanya lelaki Elf berambut pirang.

“Lolos. Tapi revisinya nggak ngotak.”

“Gas nonki kalo gitu, biar seger.”

Mereka mengobrol, sesekali tertawa, lalu akhirnya berjalan keluar dari kampus.


Langit sudah menguning. Setelah menghabiskan siang bersama teman-temannya, Aldo akhirnya kembali ke kos. Dengan jalan yang sempoyongan, dia menaiki tangga dengan satu per satu. “Eugh... pengen tidur...”

Sebelum sampai ke kamarnya, mata Aldo yang sayu sempat melirik ke pintu Vira.

Buset, nggak keluar-keluar...

Sesampainya di dalam, dia langsung melonggarkan dasi dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Tidak butuh waktu lama sampai kesadarannya menghilang.

Beberapa jam kemudian, suara perutnya sendiri membangunkannya.

“Lapar...”

Tangan Aldo meraba kasur, meraih HP-nya.

07:45 PM.

“Nasi goreng enak nih...”

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, langkahnya tertatih ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti baju.

Pintu kamar pun dibuka.

Langit sudah gelap. Lorong kosan sunyi, nyaris tidak ada suara.

Langkahnya terhenti di ambang pintu. Tarikan napas panjang diambilnya dalam-dalam sebelum diembuskan ke udara malam.

“Hah... plong banget abis sidang.”

Setelah terdiam beberapa detik, Aldo melangkah keluar dan memutar kunci pintu kamarnya. Saat hendak menuju parkiran, tatapannya lagi-lagi terlempar ke arah pintu Vira.

“Nih orang, nolep apa gimana?” gumamnya heran, lalu melangkah pergi.


Rem sepeda berdecit. Aroma bawang dan kecap dari wajan panas langsung menyambut Aldo.

“Lah, lu di sini?” sahutnya saat berhenti di depan gerobak nasi goreng.

Di depannya, Vira sedang berada di paling belakang antrean.

Lampu jalan di atasnya memantulkan cahaya kuning ke bawah, membuat kardigan krem yang Vira pakai terlihat lebih lembut.

Vira menoleh ke arah Aldo.

“Aldo?”

“Makan nasi juga lu,” ucap Aldo sambil memarkirkan sepedanya.

“Ya iyalah...” jawab Vira sambil mengerutkan dahinya. “Kamu dari mana aja?”

Itu pertanyaan gua harusnya...

“Ohh, sibuk sempro, gua, “ jawab Aldo sambil melihat ke daftar menu yang menempel di gerobak. “Bukannya lu yang nggak keluar seharian?”

“Eh?” Mata Vira terbuka lebar.

“Kenapa?”

“A-ah, nggak...”

Vira menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, lalu menoleh ke arah abang yang sedang memasak nasi goreng.

“Tadi mataharinya panas banget, jadi aku nggak bisa keluar,” ucap Vira sambil tersenyum tipis.

“Ohh...” Lupa gua, dia kan vampir.

Hening.

Tidak ada yang membuka suara lagi. Hingga akhirnya, keheningan itu dipecah oleh pertanyaan abang nasi goreng. “Mau beli berapa mas, mba? Dua, ya?”

“A-ah, iya, dua...” ucap Aldo ragu sambil melirik ke arah Vira.

Vira melirik balik.

“Efisiensi waktu... lagian kita kan satu kosan,” lanjut Aldo sambil melepaskan lirikannya.

Vira menggelengkan kepala dengan senyum tipis yang muncul di wajahnya.

“Mau pedes atau nggak?” tanya abang nasi goreng.

“Saya pedes, sama satu lagi...” jawab Aldo menoleh ke arah Vira.

“Punya aku nggak pedes.”

“Siap,” balas abang nasi goreng.

“Lah, katanya suka saos, kok nggak suka pedes?” tanya Aldo.

“Yang aku beli kan saus tomat, bukan saus sambel.”

“Ohh iya, ya, haha. Waktu itu kalo gua beli saos sambel gimana, tuh?”

“Ya kamu ganti lah beli baru.”

“Dih, kan duitnya udah dipake beli yang sambel.”

“Kalo gitu duitnya dibalikin lagi.”

“Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan” ucap Aldo sambil menunjukkan telunjuknya.

“Ih, curang.” Vira tertawa kecil.

Begitupun dengan Aldo.

Setelah itu, mereka kembali diam hingga beberapa menit berlalu. Tidak ada yang membuka topik, hanya suara osengan dan aroma bawang yang sudah memenuhi hidung Aldo.

“Udah Mas,” ucap abang nasi goreng.

Aldo mengeluarkan uang dua puluh ribu. “Ini Bang, duit-“ Dia membeku menatap uang yang dipegangnya.

“Pake ini aja.” Vira menyodorkan selembar uang seratus ribuan.

“Yah... Mba, saya belum punya kembalian nih. Ada duit pas nggak?”

“Hmm...”

Vira merogoh kantong celananya, seperti sedang mencari harta karun.

Uang pertama, dua puluh ribu.

Vira merogoh kantongnya lagi.

Uang kedua, dua ribu.

Merogoh lagi.

Sebelum Vira mengeluarkan uangnya-“Nah, ada nih.”

Uang ketiga, lima puluh ribu.

Uang itu terlihat baru, seperti uang yang baru keluar dari ATM.

Melihat itu, Aldo menyipitkan matanya.

Bawa duit banyak amat... ”Kok langsung tau itu lima puluh ribu?”

“Magic...”

“Heh.” Sudut bibir Aldo terangkat.

Vira memberikan uang itu ke abang nasi goreng, lalu mengambil kantong plastik darinya.

“Kembalian dua puluh ribu ya, Mba. Makasih!” ucap abang nasi goreng sambil memberikan uang kembali.

Vira mengangguk singkat dan menerima uang itu. Sebelum melangkah pulang, dia menoleh ke arah Aldo.

“Yaudah aku duluan ya,” pamitnya, lalu berbalik badan.

Angin bertiup pelan malam itu. Lampu jalan yang menyinari jalanan sesekali mati dan hidup kembali.

Aldo menatap punggung Vira yang pelan-pelan menjauh. Tangannya mengepal rapat. Bibirnya terkatup rapat, menahan sesuatu yang bergejolak di dada.

“Tunggu!”

Teriakan Aldo memecah keheningan malam.

Langkah Vira membeku seketika. Dia menoleh ke belakang.

“Kenapa?”

Aldo menatap tajam ke arah Vira, sementara Vira hanya memiringkan kepala dengan raut bingung.

Perlahan, tangan Aldo terangkat ke depan, menunjuk lurus ke arahnya.

“Nasi goreng gua, woy...”

“...”

“...”

Hening.

Hanya tersisa suara wajan yang dioseng oleh abang nasi goreng.

“A-ah... iya. Nasi goreng,” ucap Vira sambil melihat plastik di tangannya.

Tidak menunggu waktu lama, Aldo melangkah maju ke arah Vira.

“Laper banget kayaknya, sampe ngambil dua.” Aldo tertawa kecil.

“Ihh, aku lupa!”

“Sama ini, duitnya.” Aldo memberikan uang dua puluh ribu ke Vira.

“Aku nggak ada duit lima ribu...”

“Yaudah pas di kosan aja.”

“Oke.”

Vira membuka satu bungkus nasi goreng dari plastik, lalu memberikan plastik berisi satu bungkus ke Aldo.

“Yaudah, nih.”

Aldo terdiam menatap plastik itu.

“Masa lu bawa nasgor kek gitu?”

“Ya abisnya gimana?”

Aldo menghela napas.

“Sini.”

Aldo mengambil satu bungkus nasi goreng dari tangan Vira, lalu memasukkannya kembali ke dalam plastik.

Vira terdiam, seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Bareng aja kalo gitu. Mau naik sepeda atau jalan?”

“... Jalan aja.”

“Oke.”

Mereka berdua pun berjalan berbarengan.

Sambil mendorong sepedanya, Aldo hanya menatap ke arah depan.

Lah, kenapa nggak minta plastik aja?

Dia menggeleng dengan sudut bibirnya terangkat.

Bodo, lah...

Suara rantai sepeda berbunyi, berbarengan dengan langkah kaki mereka.

Vira yang menaruh tangannya ke belakang punggung, mulai membuka topik. “Tadi, kamu bilang sempro ya?”

“Hm, kenapa emang?”

“Bisa, nggak?”

“Bisa, sih, bisa. Tapi-aduh, dosen sialan, ngasih revisi nggak ngotak.”

Vira tertawa kecil. “Yang susah dari skripsi itu bukan pas bikinnya sih, yang susah itu revisinya.”

“Nah, betul-loh, lu kuliah?” Aldo menoleh ke arah cewek itu dengan alis sedikit terangkat.

“Kuliah... tapi udah nggak.”

“Maksudnya?”

Vira terdiam sesaat. Dagunya sedikit terangkat saat dia menatap langit malam.

“Udah lulus...”

“Ohh... emang umur lu berapa, dah?”

Vira menoleh ke Aldo lalu menempelkan telunjuk ke bibirnya. “Never ask a woman her age.”

“Haha, penasaran aja, lu kelihatan lebih muda dari gua, tapi malah udah lulus kuliah.”

“Hmm...” Dia menoleh sedikit ke arah Aldo sebelum kembali menatap ke depan. “Kalo diliat, kayaknya aku lebih tua dari kamu deh. Bukan berarti aku Nenek ya!”

“Percaya, percaya, Nenek Vira...”

“Uuu...”

Jalanan malam mulai sepi. Kendaraan yang lewat hanya terlihat beberapa saja.

Vira berhenti melihat seekor kucing yang duduk di depan warung. Dia mengelus kucing itu, sesekali menirukan suaranya.

“Meong...”

Aldo hanya berdiri sambil memegang sepedanya, memperhatikan Vira yang masih sibuk dengan urusannya.

“Dadah...” Vira melambaikan tanganya ke arah kucing itu, dan akhirnya mereka berjalan pergi.

Sepanjang jalan, mereka beberapa kali mengobrol, lalu akhirnya diam menikmati keheningan malam. Tidak sadar mereka telah sampai di kosan.

Aldo langsung mendorong sepedanya menuju ke parkiran, diikuti oleh Vira di belakangnya.

“Ke atas ajah duluan,” ucap Aldo.

“Nggak apa-apa, sekali-kali liat parkiran.”

Vira melihat-lihat ruangan parkiran itu. Dari sekian banyak motor, hanya Aldo yang menggunakan sepeda.

“Baru kali ini liat parkiran kosan,” ucap Vira.

“Nggak bawa motor, lu?” tanya aldo sambil memarkirkan sepeda.

“Nggak, aku kan jarang keluar.”

“Ohh...”

Selesai memarkirkan sepeda. Aldo dan Vira akhirnya naik tangga menuju kamarnya masing-masing.

“Makasih udah dianterin pulang... wahai laki-laki gen-tle-man,” ucap Vira sambil senyum nyindir.

“Haha, iya, iya, vampir pemakan saos tomat...”

Dua pintu terbuka bersamaan.

Dan ditutup bersamaan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk