Bab 3 Gadis Dalam Cengkraman Malam

1 dibaca

A

Tiga hari berlalu sejak penangkapan geng Svandal.

Sentana kembali bernapas dengan lega. Anak-anak bermain di jalanan tanpa takut, ibu-ibu menjemur pakaian di tali-tali yang direntangkan antar tiang tanpa mencemaskan pencuri, dan para pedagang di pasar kecil Sentana kembali menggelar dagangan mereka di atas tikar-tikar plastik berwarna-warni tanpa menyembunyikan uang hasil penjualan di dalam sepatu. Normalitas sebuah kemewahan yang sering kali tidak disadari nilainya sampai ia hilang, telah kembali, dan Sentana menikmatinya seperti orang haus yang menemukan oasis di tengah padang pasir.

Tapi malam selalu membawa cerita yang berbeda.

Malam di Sentana, meskipun jauh lebih tenang dari malam-malam di jantung Asbaratos, tetaplah malam. Dan malam adalah waktu di mana ketakutan-ketakutan manusia yang paling primitif bangkit dari sudut-sudut gelap pikiran mereka, ketika bayangan-bayangan di dinding berubah menjadi monster, ketika suara-suara kecil dari luar rumah menjadi langkah kaki penyusup.

Kavka merasakan ketakutan itu. Bukan ketakutannya sendiri. Vampir klan Enchant tidak merasakan takut terhadap kegelapan, karena kegelapan adalah rumah mereka, elemen yang mereka hirup dan keluarkan seperti udara. Ketakutan yang ia rasakan adalah milik orang lain. Getaran-getaran halus yang mengalir melalui udara malam, ditangkap oleh Aurasensenya yang selalu aktif, selalu waspada. Getaran yang datang dari arah rumah Klobas.

PLETOK! PLETOK!

Permen karet berputar di mulutnya saat ia duduk di atap gubuknya, tempat favoritnya untuk menjaga Sentana dari ketinggian. Matanya yang merah menyapu cakrawala malam dengan kesabaran seorang pemburu yang menunggu mangsa kecuali bahwa Kavka bukan menunggu mangsa. Ia menunggu masalah.

Dan masalah itu datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Langkah kaki itu terdengar sebelum orangnya terlihat. Langkah yang timpang, kaki kanan menginjak tanah lebih berat dari kaki kiri, menghasilkan ritme yang tidak seimbang, DUK! TAP! DUK! TAP! Irama yang khas milik Klobas, pria tua dengan kaki pincang yang selalu mengeluh soal punggungnya namun tidak pernah berhenti bekerja di ladangnya yang kecil.

Tapi malam ini, langkah Klobas berbeda. Biasanya lambat dan sabar, kini cepat dan terburu-buru, seolah setiap detik yang terbuang adalah satu detik terlalu banyak. Dan ada suara lain yang menyertainya, nafas yang tersengal-sengal, berat dan pendek, seperti nafas orang yang sedang menahan tangis atau menahan rasa sakit yang luar biasa.

Kavka sudah turun dari atap sebelum Klobas mencapai gubuknya.

Pintu kayu berderit saat ia membukanya, dan di sana, di bawah cahaya bulan sabit yang pucat, berdiri Klobas. Atau lebih tepatnya, Klobas nyaris ambruk di ambang pintunya.

Pria itu terlihat mengerikan. Bukan karena luka fisik. Meskipun ada memar besar berwarna ungu kehitaman di pelipisnya, dan bibir bawahnya pecah dengan darah kering yang menghitam di sudutnya. Yang membuat penampilannya mengerikan adalah ekspresinya. Wajah Klobas yang biasanya teduh dan tahan banting, wajah seorang pria yang pernah kehilangan istrinya karena penyakit dan membesarkan putrinya seorang diri tanpa pernah mengeluh, kini hancur. Mata kecilnya yang biasanya memancarkan keteguhan kini dipenuhi ketakutan yang begitu mentah, begitu primitif, hingga Kavka bisa merasakan getarannya di udara seperti aliran listrik yang menyengat.

“Kavka...” Suara Klobas keluar dari tenggorokannya seperti bisikan yang dipaksa, serak dan pecah, seolah setiap kata adalah pecahan kaca yang melukai mulutnya saat diucapkan. “Anak gadisku...”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lutut yang selama ini menopangnya melalui puluhan tahun kehidupan yang keras menyerah. Klobas ambruk ke lantai tanah di depan gubuk Kavka, tubuhnya gemetar hebat, dan tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. Tangis seorang ayah yang kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup.

Kavka berlutut di samping Klobas. Ia tidak menyentuh pria tua itu, bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia tahu sentuhan dingin tangannya yang bersarung tangan tidak akan membawa kenyamanan yang dibutuhkan Klobas saat ini. Yang dibutuhkan Klobas adalah telinga yang mendengarkan, dan Kavka memberikan itu.

“Ceritakan!” kata Kavka, suaranya datar seperti permukaan danau yang membeku, namun ada ketajaman di bawahnya, siap untuk memecah es kapan saja.

Klobas mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan jejak cokelat di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya, berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakan mimpi buruk yang sedang ia jalani.

“Anakku... Karina,” mulainya, dan nama itu keluar dari mulutnya seperti doa yang putus asa. “Dia... disandra. Semalam. Seorang pria... bernama Jigumen...”

Kavka mengenal nama itu.

Jigumen bukanlah penjahat kelas teri seperti geng Svandal, berandal-berandal jalanan yang bermain-main dengan bom Molotov dan pajak perlindungan. Jigumen berada di tingkat yang berbeda sama sekali. Ia adalah predator manusia dalam arti yang paling harfiah, seorang penculik, pemerasan, dan menurut bisikan-bisikan yang mengalir di gang-gang terdalam Asbaratos, seorang sadis yang menikmati penderitaan korbannya seperti orang lain menikmati secangkir kopi pagi. Ia beroperasi di distrik-distrik yang bahkan polisi Asbaratos enggan memasuki, membangun jaringan ketakutan yang melindunginya dari hukum konvensional.

Kavka pernah mencium jejak aura Jigumen beberapa kali selama berburu di malam-malam sebelumnya, aura hitam pekat yang menjijikkan, seperti bau mayat yang membusuk di bawah sinar matahari. Setiap kali ia menciumnya, naluri predatornya berteriak untuk mengejar, untuk mengakhiri keberadaan manusia itu. Tapi Kavka selalu menahan diri, karena Jigumen tidak pernah menyentuh Sentana.

Sampai sekarang.

“Dia datang semalam,” lanjut Klobas, suaranya kini sedikit lebih stabil, meskipun tangannya masih gemetar. “Tengah malam. Aku sudah tidur. Karina... dia biasa tidur di kamar belakang, dekat jendela, karena dia suka mendengar suara jangkrik.” Klobas tersenyum pahit pada kenangan itu, senyum yang langsung hancur oleh kenyataan. “Aku terbangun karena mendengar suara kaca pecah. Saat aku berlari ke kamarnya... dia sudah tidak ada. Jendelanya hancur. Di lantai, ada... ada ini.”

Klobas mengulurkan tangannya yang gemetar. Di telapak tangannya tergeletak secarik kertas kusut, kotor, dengan tulisan yang ditorehkan dengan kasar menggunakan tinta merah atau mungkin darah, Kavka tidak bisa memastikan hanya dari baunya karena campuran keringat dan tanah dari tangan Klobas menutupinya.

Kavka mengambil kertas itu dan membacanya.

Gadis cantikmu ada padaku. 50 juta atau kau tidak akan pernah melihatnya lagi. Jangan hubungi polisi. Jangan coba-coba. Aku tahu di mana kau tinggal.

J.

Lima puluh juta. Sebuah angka yang mungkin kecil bagi orang-orang kaya di menara-menara mewah Asbaratos, namun bagi Klobas, pria tua yang mencari nafkah dari ladang seluas satu petak kecil dan kadang-kadang menjual sayuran di pasar, lima puluh juta mungkin sama dengan meminta bulan dari langit.

“Aku tidak punya uang itu, Kavka,” bisik Klobas, dan pengakuan itu terdengar seperti vonis kematian yang ia jatuhkan pada dirinya sendiri. “Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya punya... Karina.”

Kavka melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Ia berdiri, menatap ke bawah pada Klobas yang masih berlutut di tanah. Bayangan Kavka jatuh di atas pria tua itu, gelap dan panjang di bawah cahaya bulan.

“Berapa umur Karina?” tanya Kavka. Pertanyaan yang tampak tidak relevan, tapi bagi Kavka, setiap detail penting.

“Tujuh belas,” jawab Klobas, suaranya nyaris tak terdengar. “Dia baru tujuh belas tahun bulan lalu. Kami merayakannya... dengan kue yang dibuatkan Nenek Yuko. Kue cokelat. Karina suka cokelat.”

Klobas menunduk lagi, tubuhnya gemetar. “Dia anak yang baik, Kavka. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia suka memasak, suka menyanyi saat mencuci piring, suka memberi makan kucing-kucing liar di belakang rumah. Dia... dia yang selalu memasangkan tali sepatuku di pagi hari karena aku tidak bisa membungkuk dengan mudah karena kakiku...” Suaranya terputus, tenggelam dalam isak tangis yang kembali pecah.

Kavka merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan dengan intensitas sebesar ini, amarah yang melampaui batas kendali. Bukan amarah dingin yang biasa ia simpan untuk dendam terhadap klan Kregor, amarah yang telah matang selama dua ratus tahun dan berubah menjadi batu es di dadanya. Ini adalah amarah yang berbeda. Amarah panas. Amarah yang mendidih dan menggelembung dan mengancam untuk meledak keluar melalui setiap pori-pori kulitnya. Amarah yang bangkit karena seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang suka cokelat dan kucing liar dan mengikat tali sepatu ayahnya telah direnggut dari rumahnya oleh seorang monster berkulit manusia.

Bulu-bulu angsa di pundak Kavka mengembang sepenuhnya, setiap helai bulu itu berdiri tegak, menciptakan siluet sayap gelap yang menyeramkan. Matanya menyala lebih terang dari biasanya, merah yang berkobar seperti tungku peleburan besi.

“Klobas,” kata Kavka, dan suaranya telah berubah. Bukan lagi bisikan angin malam yang lembut. Kini suaranya seperti gesekan logam terhadap logam, dingin, tajam, dan penuh dengan janji kekerasan yang terkendali. “Aku akan membawa Karina pulang. Malam ini.”

Klobas mengangkat wajahnya, matanya yang merah dan bengkak menatap Kavka dengan harapan yang rapuh, seperti lilin yang berkedip di tengah badai. “Benarkah? Kau... kau bisa?”

“Aku bisa,” jawab Kavka, dan dalam dua kata itu tidak ada keraguan, tidak ada kerendahan hati palsu, tidak ada syarat. Hanya kepastian absolut yang meninggalkan nol ruang untuk pertanyaan lebih lanjut.


Malam itu, Asbaratos terasa berbeda bagi Kavka.

Biasanya, ketika ia terbang di atas kota, meluncur di antara puncak-puncak gedung pencakar langit seperti bayangan yang tak bisa ditangkap, tubuhnya membelah angin malam dengan kecepatan yang membuat dunia di bawahnya berubah menjadi garis-garis cahaya yang mengabur, ia merasakan kebebasan. Langit malam adalah miliknya, satu-satunya tempat di mana ia benar-benar bebas dari beban keberadaannya, dari kenangan masa lalu, dari tatapan-tatapan manusia yang kadang penuh rasa takut dan kadang penuh rasa syukur. Di langit, ia hanyalah angin.

Tapi malam ini, langit terasa seperti labirin. Setiap hembusan angin membawa aroma yang berbeda, asap kendaraan, minyak goreng dari warung-warung malam, parfum murahan dari klub-klub di distrik hiburan, dan sesekali, bau darah yang samar. Kota ini, dengan jutaan penduduknya, adalah hutan beton tempat seorang gadis tujuh belas tahun bisa menghilang tanpa jejak, ditelan oleh kegelapan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Kavka harus menemukan Karina. Dan ia harus menemukannya sebelum fajar.

Ia mengaktifkan Aurasensenya pada kapasitas penuh sesuatu yang jarang ia lakukan karena sensasi yang dihasilkannya bisa sangat Overwhelming. Dunia di sekitarnya berubah. Warna-warna menghilang, digantikan oleh peta energi yang berpendar, setiap manusia di bawahnya berubah menjadi titik cahaya putih kekuningan untuk orang biasa, biru lembut untuk anak-anak yang tidur, hijau pucat untuk orang tua yang sakit. Dan di antara jutaan titik cahaya itu, ia mencari yang gelap. Noda-noda hitam. Aura-aura yang tercemar oleh kejahatan, kekerasan, dan keinginan untuk menyakiti.

Jigumen memiliki aura yang sangat khas. Kavka pernah menciumnya sebelumnya, hitam pekat, hampir solid, seperti ter yang mendidih. Aura itu meninggalkan jejak di mana pun Jigumen pergi, seperti siput yang meninggalkan lendir di jalurnya. Jejak itu bertahan beberapa jam sebelum menguap, cukup lama bagi Kavka untuk melacaknya jika ia bergerak cepat.

Ia terbang rendah di atas distrik-distrik gelap Asbaratos, mengikuti jejak aura hitam itu seperti anjing pelacak yang mengendus bau mangsanya. Dari distrik industri yang dipenuhi pabrik-pabrik terbengkalai, melewati pasar gelap yang buka hanya di malam hari, dan akhirnya memasuki jantung distrik terlarang, kawasan yang oleh penduduk Asbaratos disebut dengan berbisik, Kawah Gelap.

Kawah Gelap bukanlah kawah dalam pengertian geologis. Ia adalah kumpulan bangunan-bangunan yang dibangun di atas bekas tambang terbuka yang sudah lama ditinggalkan. Tanah di sana lebih rendah dari permukaan kota, menciptakan semacam cekungan alami yang tersembunyi dari pandangan, dan dari jangkauan hukum. Bangunan-bangunan di Kawah Gelap dibangun dari sisa-sisa material bekas Container pengiriman yang ditumpuk-tumpuk, lembaran seng dari konstruksi yang dibuang, potongan-potongan beton dari bangunan yang diruntuhkan. Hasilnya adalah sebuah labirin tiga dimensi, bangunan-bangunan yang tumbuh ke segala arah, ke samping dan ke atas, saling terhubung oleh jembatan-jembatan kayu reyot dan tangga-tangga besi yang berkarat, menciptakan struktur organik yang menyerupai sarang lebah raksasa yang dibangun oleh lebah-lebah gila.

Di sinilah Jigumen bersarang.

Kavka mendarat di atas salah satu Container pengiriman tertinggi di pinggir Kawah Gelap, kakinya menyentuh permukaan logam yang berkarat tanpa menghasilkan suara. Dari posisinya, ia bisa melihat seluruh kompleks di bawahnya, labirin Container dan seng yang diterangi oleh lampu-lampu minyak dan neon yang berkedip-kedip, menciptakan pemandangan yang menyerupai versi distopia dari kota miniatur.

Jejak aura Jigumen semakin kuat di sini. Hitam dan pekat, menyelimuti beberapa bangunan di bagian tengah Kawah Gelap seperti asap beracun yang tidak mau menguap. Kavka menyipitkan matanya, memfokuskan Aurasensenya pada area itu.

Dan di antara kegelapan aura Jigumen, ia menemukan titik cahaya yang berbeda. Titik biru lembut yang berkedip-kedip lemah, seperti lilin yang nyaris padam, dikelilingi oleh kegelapan dari segala sisi. Aura seorang gadis muda. Ketakutan, kesakitan, dan keputusasaan memancar dari titik itu seperti gelombang radio yang putus-putus.

Karina.

Kavka menghitung. Di sekitar titik biru itu, ada empat, tidak, lima, aura gelap lainnya. Anak buah Jigumen. Penjaga. Mereka tersebar di beberapa titik strategis, dua di pintu masuk bangunan, satu di atap, dan dua lagi di dalam ruangan bersama Karina.

Lima orang. Plus Jigumen sendiri.

Untuk Kavka, itu bukan masalah. Geng Svandal memiliki lima belas orang, dan ia menangani mereka dalam hitungan menit. Enam orang, bahkan jika mereka bersenjata dan Kavka yakin mereka bersenjata dan tidak akan menjadi tantangan yang berarti secara fisik.

Tapi ada variabel lain yang membuat situasi ini jauh lebih rumit, yaitu Karina. Dalam pertarungan dengan geng Svandal, tidak ada sandera. Tidak ada nyawa yang tak bersalah yang bergantung pada setiap gerakan Kavka. Ia bisa bertarung dengan bebas, menggunakan seluruh kekuatan dan kecepatannya tanpa mengkhawatirkan apa pun selain efisiensi. Tapi dengan Karina di dalam...

Jika Jigumen atau anak buahnya menyadari kedatangan Kavka sebelum ia bisa mencapai Karina, mereka bisa menggunakan gadis itu sebagai perisai. Atau lebih buruk, mereka bisa menyakitinya sebelum Kavka sempat bereaksi. Satu detik. Itu saja yang diperlukan. Satu detik kelengahan, dan gadis yang suka cokelat dan kucing liar itu bisa kehilangan nyawanya.

Kavka memejamkan matanya. Di dalam kegelapan pikirannya, ia menyusun rencana. Bukan rencana kompleks dengan puluhan variabel dan skenario alternatif. Ia bukan strategis militer. Rencananya sederhana, brutal, dan bergantung pada satu hal, kecepatan.

Masuk. Lumpuhkan penjaga luar. Tembus ke dalam. Lindungi Karina. Akhiri sisanya.

Mata merahnya terbuka.

Penjaga pertama bahkan tidak tahu ia sudah jatuh.

Ia berdiri di atap bangunan Container, punggungnya bersandar pada antena berkarat, rokok menyala di tangannya, matanya yang mengantuk menatap ke kejauhan tanpa benar-benar melihat apa-apa. Ia berpikir tentang uang yang akan ia terima dari Jigumen setelah urusan tebusan selesai, cukup untuk membayar utangnya di meja judi, mungkin masih ada sisa untuk membeli bir. Pikiran-pikiran biasa dari seorang pria biasa yang kebetulan memilih profesi yang luar biasa buruk.

Bayangan putih melintas di tepi penglihatannya atau mungkin tidak. Mungkin itu hanya angin, atau cahaya neon yang berkedip, atau imajinasinya yang bermain-main karena kurang tidur. Ia bahkan tidak sempat menoleh sepenuhnya sebelum tekanan di lehernya membuat dunianya menjadi gelap. Tubuhnya merosot ke tanah, rokok yang masih menyala terguling dari tangannya dan padam di genangan air hujan.

Dua penjaga di pintu masuk jatuh hampir bersamaan. Mereka berdiri berhadapan, masing-masing menyandarkan satu bahu pada sisi pintu yang berlawanan, senjata pistol rakitan murah dengan gagang yang dilapis lakban digenggam longgar di tangan mereka. Mereka sedang berbicara pelan, membahas sesuatu tentang taruhan sepak bola, ketika udara di antara mereka tiba-tiba menjadi sangat dingin. Dingin yang tidak wajar, dingin yang datang bukan dari angin atau cuaca, melainkan dari sesuatu yang bergerak melewati mereka dengan kecepatan yang melampaui kemampuan mata manusia untuk menangkap.

Satu detik mereka berdiri. Detik berikutnya, keduanya terkapar di lantai, pistol-pistol mereka tersungkur jauh dari jangkauan tangan mereka yang kini tak bisa digerakkan.

Tiga turun. Dua lagi di dalam. Plus Jigumen.

Kavka berdiri di depan pintu besi yang memisahkannya dari ruangan di mana Karina disekap. Ia bisa mendengar suara-suara dari dalam, tawa kasar seorang pria, suara botol kaca yang diletakkan di meja dengan keras, dan... isak tangis. Pelan. Tertahan. Seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menangis keras tapi tidak bisa berhenti menangis sama sekali.

Ia juga bisa mencium aroma di balik pintu itu. Keringat. Alkohol murah. Asap rokok. Dan di bawah semua bau itu, samar tapi jelas bagi indra vampir yang jutaan kali lebih sensitif dari manusia, bau air mata. Bau ketakutan. Bau seorang gadis yang telah menghabiskan berjam-jam atau mungkin lebih, dalam teror mutlak.

Kavka menarik napas panjang. Bukan untuk kebutuhan fisiologis. Ia melakukannya untuk mengunci amarahnya, untuk memastikan bahwa ketika ia memasuki ruangan itu, ia adalah instrumen presisi, bukan bom yang meledak tak terkendali. Karina ada di dalam. Ia harus berhati-hati. Ia harus tepat.

PLETOK!

Permen karet berputar untuk terakhir kalinya. Ia meludahkannya ke lantai.

Lalu, pintu besi itu meledak ke dalam.

Dua hal terjadi secara bersamaan ketika pintu itu terlempar dari engselnya dengan suara yang memekakkan telinga, suara logam yang dilipat paksa, berbenturan dengan lantai beton, dan bergema di ruangan sempit seperti ledakan.

Pertama, dua pria yang duduk di meja kayu di tengah ruangan, bermain kartu, botol-botol bir berserakan di antara tumpukan uang kertas dan puntung rokok, melompat dari kursi mereka, mata mereka lebar karena terkejut, tangan mereka secara refleks meraih senjata yang terletak di meja.

Kedua, Kavka sudah berada di antara mereka.

Pria pertama gemuk, berjenggot tipis, dengan tato tengkorak di lengan kanannya bahkan tidak sempat menyentuh pistolnya. Tangan Kavka, bergerak dengan kecepatan yang mengubah udara menjadi desisan tajam, menghantam dadanya. Bukan pukulan yang menghancurkan tulang rusuk Kavka menahan kekuatannya, kalibrasi yang ia lakukan secara naluriah setelah ratusan tahun berlatih, melainkan pukulan yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh rongga dadanya, membuat jantungnya berhenti berdenyut selama beberapa detik. Cukup untuk membuat pria itu kehilangan kesadaran sebelum otaknya sempat memerintahkan mulutnya untuk berteriak. Tubuhnya terhempas ke dinding, merosot ke lantai, dan tidak bergerak lagi.

Pria kedua, lebih kurus, lebih cepat, dengan insting bertahan hidup yang sedikit lebih tajam berhasil meraih pistolnya. Ia mengangkatnya, jari di pelatuk, moncong mengarah ke titik di mana Kavka berada satu detik lalu. Tapi Kavka sudah tidak di sana. Ia berada di belakang pria itu sekarang, dan sebelum pria itu sempat menyadari bahwa targetnya telah menghilang dari pandangan, tekanan di pangkal tengkuknya membuat kakinya menyerah. Pistol itu jatuh dari tangan yang tiba-tiba kehilangan kekuatan, dan tubuh pria itu menyusul ke lantai, tergeletak di samping rekannya.

Empat detik. Seluruh proses dari pintu yang terlempar hingga pria kedua yang jatuh, berlangsung dalam empat detik.

Dan kemudian, keheningan.

Kavka berdiri di tengah ruangan yang sekarang hening, matanya yang merah menyapu setiap sudut dengan kewaspadaan predator. Ruangan itu sempit dan kotor, dinding Container yang berkarat, lantai beton yang retak dan berlumut, langit-langit rendah yang membuatnya harus sedikit menunduk. Lampu neon yang tergantung dari kabel telanjang berkedip-kedip, menciptakan efek Strobo yang membuat bayangan-bayangan di dinding bergerak-gerak seperti makhluk hidup.

Di sudut terjauh ruangan, di balik tumpukan kardus bekas dan peti-peti kayu, ia melihatnya.

Karina.

Gadis itu duduk meringkuk di lantai, punggungnya menekan dinding Container, lututnya ditarik ke dada, lengannya memeluk kakinya sendiri dengan erat, posisi defensif primitif, posisi terakhir yang bisa dilakukan oleh seseorang ketika tidak ada lagi tempat untuk lari dan tidak ada lagi kekuatan untuk melawan. Tangannya diikat di depan tubuhnya dengan tali plastik yang mengiris pergelangan tangannya, meninggalkan garis-garis merah yang bengkak. Mulutnya ditutup dengan lakban abu-abu, dan matanya, mata cokelat besar yang mirip dengan mata ayahnya menatap Kavka dengan campuran ketakutan dan harapan yang begitu intens sehingga Kavka bisa merasakannya seperti pukulan fisik di dadanya.

Kavka berlutut di depan Karina. Pelan. Hati-hati. Seperti mendekati burung yang terluka, setiap gerakan yang terlalu tiba-tiba bisa membuat gadis itu semakin panik.

“Karina,” katanya, dan suaranya yang tadi seperti gesekan logam, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. Bukan lembut yang manis atau hangat, melainkan lembut yang tenang, stabil, seperti batu karang yang berdiri kokoh di tengah badai. Suara yang mengatakan, kau aman sekarang. “Namaku Kavka. Ayahmu mengirimku.”

Mata Karina melebar. Air mata baru mengalir dari sudut matanya, merembes di bawah lakban yang menutupi mulutnya. Ia mengangguk cepat, berulang-ulang, kepalanya bergerak naik-turun dengan kecepatan yang hampir frenetik.

Kavka melepaskan lakban dari mulut Karina dengan hati-hati, ujung jarinya yang bersarung tangan bekerja dengan presisi yang bertentangan dengan kuku-kuku tajam yang tersembunyi di baliknya. Kemudian, dengan satu gerakan cepat dari kuku telunjuknya, ia membiarkan satu kuku menembus sarung tangan untuk sesaat, ia memotong tali plastik yang mengikat pergelangan tangan Karina.

Karina menarik napas dalam-dalam begitu lakban terlepas, dan suara pertama yang keluar dari mulutnya bukan kata-kata, melainkan tangis. Tangis yang keras, tanpa kontrol, tanpa malu, tangis seorang gadis yang baru saja dibebaskan dari mimpi buruk yang nyata.

“Pa-Papa...” bisiknya di antara isak tangis. “Papa... aku mau pulang...”

“Kau akan pulang,” jawab Kavka. “Sekarang.”

Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk yang hancur.

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan yang lambat, sengaja, penuh percaya diri. Tepuk tangan seseorang yang merasa memiliki kendali penuh atas situasi, meskipun lima anak buahnya sudah terkapar di berbagai sudut bangunan.

“Pertunjukan yang bagus,” kata suara itu. Berat. Dalam. Mengandung kesenangan yang sakit. “Sangat bagus. Aku terkesan.”

Kavka berdiri dan berbalik. Di ambang pintu yang hancur, bersandar pada sisi Container dengan santai yang dipaksakan, berdiri Jigumen.

Pria itu tidak seperti yang Kavka bayangkan. Kebanyakan penjahat kelas atas Asbaratos berusaha tampil menyeramkan, tato, bekas luka, otot, ekspresi garang. Jigumen tidak melakukan semua itu. Ia terlihat... biasa. Tinggi sedang, tubuh sedang, wajah yang tidak akan membuat orang menoleh dua kali jika berpapasan di jalan. Rambut hitam yang dipotong rapi, jaket kulit cokelat yang tidak terlalu mahal namun tidak murah, dan sepatu kets yang bersih. Ia bisa menjadi siapa saja, guru sekolah, pegawai kantor, pengemudi taksi.

Tapi matanya. Matanya yang membuat Kavka langsung memasang posisi bertarung.

Mata Jigumen kecil, nyaris sipit, dan berwarna cokelat tua, warna yang normal, biasa. Tapi ada sesuatu di belakang mata itu yang tidak normal. Sesuatu yang dingin, kosong, dan sepenuhnya tanpa empati. Seperti melihat ke dalam mata boneka, bentuknya benar, warnanya benar, tapi tidak ada orang di balik sana. Hanya kegelapan.

“Siapa kau?” tanya Jigumen, kepalanya miring sedikit, senyum tipis di bibirnya. “Kau bukan polisi. Polisi tidak bergerak secepat itu. Polisi tidak memiliki mata merah. Polisi tidak...” Ia melirik anak buahnya yang terkapar. “...melakukan itu dalam empat detik.”

“Lepaskan gadis ini,” jawab Kavka, mengabaikan pertanyaan Jigumen sepenuhnya. Suaranya kembali ke mode logam terhadap logam.

Jigumen tertawa. Bukan tawa yang keras atau menggelegar tawa pelan, terkendali, seolah ia sedang menonton komedi ringan di televisi. “Lepaskan? Setelah aku repot-repot menculiknya? Setelah aku merencanakan semuanya dengan hati-hati? Gadis ini bernilai lima puluh juta, teman. Dan kau tahu apa yang lebih berharga dari lima puluh juta?” Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah pisau lipat. Bilahnya panjang, berkilau, dan tajam. “Rasa takut di mata seseorang saat mereka menyadari bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.”

Kavka merasakan Karina merapat ke punggungnya, tangan gadis itu mencengkeram jubah hitamnya dengan jari-jari yang gemetar. Ia bisa merasakan denyut jantung Karina melalui sentuhan itu, cepat, kacau, seperti genderang perang yang kehilangan ritme.

“Tutup matamu,” bisik Kavka pada Karina tanpa menoleh.

“A-apa?”

“Tutup matamu. Jangan buka sampai aku bilang boleh.”

Karina, yang entah mengapa merasa kepercayaan yang absolut pada pria berambut putih bermata merah yang baru saja membebaskannya dari tali dan lakban, menutup matanya.

Jigumen menyerang pertama.

Ia bergerak dengan kecepatan yang untuk ukuran manusia luar biasa. Pisaunya menebas udara dalam busur horizontal yang mengincar leher Kavka, teknik yang menunjukkan latihan bertarung yang tidak sembarangan. Ia bukan berandal jalanan yang mengayunkan senjata secara membabi buta. Ia pernah belajar, pernah berlatih, pernah membunuh dengan pisau ini sebelumnya.

Tapi bagi Kavka, gerakan Jigumen terlihat seperti gerak lambat. Seperti menonton seseorang berenang dalam madu. Setiap milidetik terentang menjadi ruang waktu yang luas, memberi Kavka waktu untuk menganalisis sudut serangan, menghitung kecepatan bilah, dan memilih respons optimal.

Ia menunduk, bilah pisau melintas di atas rambutnya, begitu dekat sehingga ia bisa merasakan angin yang dipotongnya. Kemudian, dalam gerakan yang sama, ia memukul pergelangan tangan Jigumen dengan telapak tangannya yang terbuka. Bukan pukulan keras, hanya tekanan yang tepat di titik saraf yang tepat.

Pisau itu terpental dari tangan Jigumen dan berdentang di lantai.

Jigumen mundur, wajahnya untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu selain kesenangan sakit, kejutan. Kejutan murni dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa apa yang ia hadapi bukan manusia biasa.

“Apa kau...” mulai Jigumen, tapi ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Kavka sudah berada di depannya. Satu tangan mencengkeram kerah jaket kulit Jigumen, mengangkat pria itu dari lantai seperti mengangkat anak kucing. Kaki Jigumen menggantung di udara, bergoyang-goyang dalam kepanikan yang memalukan. Tangan-tangannya mencakar sarung tangan Kavka, mencoba melepaskan cengkeraman yang terasa seperti semen yang sudah mengeras di sekitar lehernya.

“Kau menyakiti orang-orang yang tidak bisa membela diri,” kata Kavka, suaranya rendah, berbisik, intim, seolah mereka berdua sedang berbagi rahasia. “Kau menculik seorang gadis dari rumahnya. Kau membuatnya menangis. Kau membuat ayahnya berlutut.”

Jigumen membuka mulutnya, mencoba bicara, tapi cengkeraman di lehernya terlalu kuat. Yang keluar hanyalah suara tercekik yang menyedihkan.

“Aku tidak membunuh manusia,” lanjut Kavka, dan kalimat itu bukan pernyataan kebajikan, itu adalah fakta yang ia nyatakan dengan nada yang sama dengan mengatakan langit berwarna biru. “Tapi aku bisa membuatmu berharap aku melakukannya.”

Kavka melempar Jigumen ke dinding Container. Tubuh pria itu menghantam logam dengan bunyi BANG! yang menggema, menciptakan lekukan di permukaan Container, dan merosot ke lantai. Ia batuk-batuk, darah mengalir dari hidungnya yang patah, matanya yang biasanya dingin dan kosong kini dipenuhi sesuatu yang baru, ketakutan. Ketakutan yang murni, mentah, dan total. Ketakutan yang ia biasa tanamkan pada korban-korbannya, kini berbalik padanya seperti bumerang yang pulang.

“Si-siapa... kau...” rintih Jigumen, suaranya rusak.

Kavka tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil tali plastik yang tadi mengikat Karina, dan dengan gerakan cepat, mengikat kedua tangan dan kaki Jigumen. Simpul yang ia gunakan adalah simpul yang ia pelajari dari ayahnya, Marvos Helios, simpul klan Enchant yang semakin kencang saat ditarik, dan hanya bisa dilepaskan oleh orang yang memasangnya.

Jigumen tidak melawan. Ia sudah tidak memiliki kekuatan, fisik maupun mental untuk melawan apa pun.

“Boleh aku buka mataku?” suara Karina terdengar pelan dari sudut ruangan.

“Boleh,” jawab Kavka.

Karina membuka matanya. Ia melihat Jigumen, pria yang telah menculiknya, yang telah mengancamnya, yang telah membuatnya percaya bahwa ia tidak akan pernah melihat ayahnya lagi, kini terikat di lantai, wajahnya berlumuran darah, tubuhnya gemetar, matanya kosong. Di sampingnya, Kavka berdiri dengan tenang, seolah tidak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.

“Ayo pulang,” kata Kavka.

Karina bangkit dengan kaki yang masih gemetar. Ia melangkah ke arah Kavka, setiap langkahnya hati-hati, seolah lantai di bawahnya bisa runtuh kapan saja. Ketika ia sampai di sisi Kavka, ia meraih lengan pria itu, lengan yang terbungkus jubah hitam dan bulu-bulu angsa dan memegang erat-erat.

“Kak Kavka,” bisiknya, dan suaranya kini berbeda. Bukan lagi suara gadis yang ketakutan. Ini adalah suara seseorang yang telah melewati teror dan keluar dari sisi lain dengan pemahaman baru tentang siapa yang bisa ia percaya. “Terima kasih.”

Kavka mengangguk. Lalu, dengan gerakan yang lembut namun pasti, ia mengangkat Karina-satu lengan di bawah lutut, satu lagi menopang punggungnya, seperti menggendong anak kecil dan melangkah keluar dari bangunan Container.

Udara malam menyambut mereka. Segar, dingin, dan bersih, kontras tajam dengan udara pengap dan berbau di dalam ruangan Jigumen. Bintang-bintang berkelip di langit di atas mereka, dan bulan sabit yang pucat menerangi jalan mereka pulang.

Karina menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di dada Kavka saat mereka meluncur di udara malam, terbang melintasi atap-atap Asbaratos menuju Sentana. Ia tidak tahu bahwa pria yang menggendongnya bukanlah manusia. Ia tidak tahu tentang kuku-kuku yang bisa merobek baja, tentang mata merah yang bisa melihat dalam kegelapan total, tentang ratusan tahun keberadaan yang penuh dendam dan kesepian. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia aman. Bahwa ia akan pulang. Bahwa lengan yang menopangnya kuat dan tidak akan melepaskannya.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Fajar belum menyingsing ketika mereka tiba di Sentana.

Klobas menunggu di depan gubuk Kavka. Ia tidak tidur. Tentu saja tidak. Bagaimana seorang ayah bisa tidur ketika putrinya ada di tangan monster? Ia duduk di bangku kayu, punggungnya membungkuk, kepalanya tertunduk, tangannya saling meremas di pangkuannya. Setiap beberapa menit, ia mengangkat kepalanya, menatap ke langit, ke kegelapan, mencari bayangan-bayangan apa pun yang menandakan bahwa Kavka telah kembali.

Ketika ia melihat siluet bersayap hitam turun dari langit malam, membawa bundel putih dan cokelat di tangannya, Klobas bangkit dari bangkunya dengan kecepatan yang seharusnya mustahil bagi seorang pria tua berkaki pincang.

“KARINA!”

Suara itu bukan teriakan. Itu adalah ledakan emosi, semua ketakutan, keputusasaan, dan rasa bersalah yang telah menumpuk selama berjam-jam terakhir meledak dalam satu suku kata. Nama putrinya. Satu-satunya kata yang penting di seluruh dunia ini.

Kavka menurunkan Karina di tanah dengan lembut. Gadis itu, yang sempat tertidur selama penerbangan, kelelahan akhirnya mengalahkan adrenalin, terbangun saat kakinya menyentuh tanah. Ia berkedip beberapa kali, matanya menyesuaikan diri, lalu melihat ayahnya berlari ke arahnya.

“Papa!”

Mereka bertemu di tengah-tengah. Klobas memeluk Karina begitu erat seolah ia ingin memasukkan gadis itu kembali ke dalam tubuhnya, kembali ke tempat yang paling aman yang ia tahu. Karina menangis di bahu ayahnya, dan Klobas menangis di rambut putrinya, dan suara tangis mereka bercampur jadi satu, tangis reunifikasi, tangis syukur, tangis dua orang yang hampir kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidup mereka layak dijalani.

Kavka berdiri di samping, menonton. Ia tidak ikut memeluk. Ia tidak ikut menangis. Ia hanya berdiri di sana, bayangan panjangnya terjatuh di tanah Sentana, dan mengamati pemandangan di depannya dengan mata merah yang jika seseorang melihat sangat cermat, sangat dekat, di bawah cahaya yang tepat bersinar sedikit lebih redup dari biasanya. Sedikit lebih basah.

Tapi tidak ada yang melihat. Dan Kavka lebih suka begitu.

Beberapa menit berlalu sebelum Klobas melepaskan pelukannya dan itu pun bukan karena ia ingin, melainkan karena Karina mulai kesulitan bernapas.

“Kavka...” Klobas berbalik ke arah Kavka, wajahnya basah oleh air mata, hidungnya merah, ekspresinya campuran antara rasa syukur yang tak terhingga dan rasa tidak percaya bahwa semua ini nyata. “Kau... kau benar-benar...”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata tidak cukup. Tidak ada kata dalam bahasa mana pun yang bisa mengekspresikan rasa terima kasih seorang ayah yang mendapatkan kembali putrinya dari cengkeraman kegelapan.

Klobas melakukan satu-satunya hal yang ia bisa. Ia merogoh saku celananya, celana kerja lusuh yang sudah bertahun-tahun ia pakai dan mengeluarkan sebuah benda. Sebotol sabun cair. Kecil, murah, dengan label yang sudah setengah terkelupas. Aroma melati yang samar menguar dari tutupnya yang tidak sepenuhnya tertutup.

“Ini... ini yang bisa ku berikan,” kata Klobas, suaranya masih pecah oleh tangis. “Aku tahu ini tidak seberapa. Aku tahu tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa membalas apa yang kau lakukan malam ini. Tapi ini... ini dari hatiku, Kavka.”

Kavka menatap botol sabun itu. Plastik bening yang murah. Cairan wangi yang biasa. Sebuah benda yang harganya mungkin tidak lebih dari harga sebuah permen karet.

Tapi bagi Kavka, botol itu lebih berharga dari semua harta karun yang pernah ditimbun oleh klan mana pun di seluruh sejarah dunia vampir.

Karena botol itu bukan sabun.

Botol itu adalah kepercayaan. Kepercayaan seorang ayah kepada makhluk malam yang baru saja menyelamatkan putrinya. Kepercayaan bahwa di balik mata merah dan kuku tajam dan bulu-bulu hitam itu, ada sesuatu yang layak diberikan rasa terima kasih. Ada sesuatu yang baik.

Dan bagi Kavka Helios, vampir terakhir dari klan yang telah musnah, makhluk malam yang hidup di antara manusia yang seharusnya menjadi mangsanya, predator yang memilih untuk menjadi pelindung baik adalah satu-satunya identitas yang masih ia miliki. Satu-satunya yang membedakannya dari Zuriatador dan klan Kregor. Satu-satunya yang membuat keberadaannya di dunia ini memiliki makna.

“Terima kasih, Klobas,” kata Kavka, menerima botol sabun itu.

Ia berbalik dan berjalan menuju gubuknya. Di belakangnya, Klobas memeluk Karina lagi, membisikkan kata-kata cinta dan lega dan janji bahwa ia tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi lagi. Di atas mereka, bintang-bintang mulai memudar, kalah oleh cahaya fajar yang perlahan merambat dari ufuk timur.

Di dalam gubuknya, Kavka menuangkan sabun cair beraroma melati itu ke tangannya. Busa putih mengalir di antara jari-jarinya, membawa serta noda-noda malam sisa-sisa darah Jigumen, debu dari lantai Container, dan bau ketakutan yang masih melekat di kulitnya.

Air dingin dari ember kayu membasahi tubuhnya, dan bersama dengan aliran air itu, sedikit dari beban jiwanya ikut terbawa pergi. Bukan semuanya, beban itu terlalu berat untuk dibuang sekaligus, terlalu dalam untuk dicuci dengan sabun cair dan air dingin. Tapi sedikit. Cukup untuk membuatnya bisa bernapas lebih mudah. Cukup untuk membuatnya bisa duduk kembali di sudut gubuknya, menyandarkan punggung ke dinding yang lembap, dan memasukkan permen karet baru ke mulutnya.

PLETOK! PLETOK! PLETOK!

Ritme yang familiar. Jangkar yang menariknya kembali ke kenyataan.

Di luar, matahari terbit di atas Sentana. Satu malam lagi telah berlalu. Satu nyawa lagi telah diselamatkan. Satu botol sabun lagi telah ditambahkan ke koleksi.

Dan di suatu tempat di kegelapan Asbaratos yang tak pernah benar-benar pergi di balik gedung-gedung yang menjulang, di dalam lorong-lorong yang tak pernah melihat cahaya matahari, sepasang mata kuning masih mengawasi. Menunggu. Merencanakan.

Tapi itu adalah masalah untuk malam yang lain.

Untuk sekarang, Sentana aman. Karina pulang. Dan sabun cair beraroma melati menunggu di sudut gubuk, berjajar rapi di samping botol lavender dari Nenek Yuko dan botol Mint dari Budunsair.

Tiga botol. Tiga nyawa. Tiga kepercayaan yang tidak ternilai harganya.

Kavka Helios menutup matanya dan memasuki Dormire, senyum tipis nyaris tak terlihat terukir di bibirnya yang pucat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk