Dinginnya udara di kaki gunung merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu kamar yang sempit, membelai kulit Maryam dengan sentuhan yang terasa seperti ujung jari mayat. Di atas dipan kayu yang hanya beralaskan kasur tipis dan seprai kusam, Maryam berbaring dengan mata yang sulit terpejam. Bau minyak goreng yang meresap ke dalam serat bajunya bersaing dengan aroma kayu lapuk yang lembap. Tubuhnya luar biasa lelah setelah seharian membantu Bu Sari mencuci tumpukan piring dan melayani sopir truk yang singgah, namun pikirannya justru tetap terjaga, berputar-putar seperti gasing di atas lantai tanah. Suara angin yang bersiul di sela pepohonan di luar sana terdengar seperti bisikan-bisikan tanpa wujud yang terus memanggil namanya.
Ketika akhirnya rasa kantuk itu berhasil menyeretnya ke dalam kegelapan, Maryam tidak menemukan kedamaian yang ia harapkan. Ia justru menemukan dirinya berdiri di sebuah pelataran luas yang diselimuti kabut putih setinggi lutut. Tempat itu tidak terasa seperti kaki gunung, melainkan sebuah ruang hampa yang entah berada di mana. Bau bunga kantil yang sangat kuat menusuk hidungnya, begitu tajam hingga membuatnya mual. Di tengah pelataran itu, berdiri sebuah pohon randu alas yang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang ada di halaman rumah ayahnya. Akar-akarnya mencuat dari tanah seperti urat-urat raksasa yang berdenyut pelan, seolah-olah pohon itu sedang bernapas.
Seorang perempuan berdiri membelakanginya di bawah bayang-bayang pohon itu. Ia mengenakan kebaya beludru hitam dengan kain jarik bermotif parang yang tersampir sempurna di pinggulnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi dengan tusuk konde emas yang berkilau meski tidak ada cahaya matahari di sana. Maryam merasa kakinya terpaku pada lantai batu yang dingin saat perempuan itu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya cantik, namun kecantikan itu terasa ganjil, seperti sebuah lukisan yang terlalu sempurna sehingga tidak tampak hidup. Matanya yang tajam dan berwarna gelap seolah mampu menembus setiap lapis rahasia yang disembunyikan Maryam dalam relung hatinya yang terdalam.
“Siapa kamu?” tanya Maryam, namun suaranya hanya berakhir menjadi getaran tanpa bunyi di tenggorokannya.
Perempuan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat, dan setiap langkahnya tidak menimbulkan suara sama sekali. Gerakannya gemulai, namun menyimpan wibawa yang menekan dada Maryam hingga ia sulit bernapas. Ketika jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, perempuan itu mengulurkan tangannya yang lentik. Jemarinya yang pucat mengelus pipi Maryam, memberikan sensasi dingin yang menyengat seperti es. Maryam ingin lari, namun tubuhnya terasa seperti dikhianati oleh otot-ototnya sendiri. Ia hanya bisa berdiri terpaku, membiarkan perempuan asing itu menatapnya dengan pandangan yang penuh kerinduan sekaligus ancaman.
“Jangan takut, cah ayu,” bisik perempuan itu. Suaranya terdengar merdu, namun bergaung, seolah-olah berasal dari dasar sumur yang sangat dalam. “Aku adalah cerminmu. Aku adalah apa yang seharusnya ada di dalam dirimu sebelum dunia ini mencoba membuangnya.”
Maryam menggelengkan kepala sekuat tenaga. “Tidak, aku bukan kamu. Simbok bilang aku harus pergi. Simbok bilang aku harus menyelamatkan diri,” katanya dengan suara serak yang akhirnya berhasil keluar.
Perempuan itu tersenyum kecil, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya. “Ibumu hanya takut pada apa yang tidak dia mengerti. Dia melihat kegelapan, sementara aku melihat takhta. Dia melihat kutukan, sementara aku melihat kedaulatan. Darah Wongso yang mengalir di nadimu bukan sekadar cairan merah, Maryam. Itu adalah tinta yang digunakan untuk menuliskan takdir kita berdua. Kamu tidak bisa melarikan diri ke warteg kumuh ini dan berharap semuanya selesai. Tempatmu bukan di antara piring kotor dan sisa makanan.”
Perempuan itu kemudian menggenggam tangan Maryam, dan seketika itu juga pemandangan di sekitar mereka berubah. Pelataran kabut itu lenyap, berganti dengan kilasan bayangan orang-orang yang bersujud dalam kegelapan, suara gamelan yang ditabuh dengan irama yang salah dan menyakitkan telinga, serta bau darah segar yang menggenangi lantai. Maryam melihat dirinya sendiri, namun dengan pakaian yang sama dengan perempuan itu, duduk di atas sebuah kursi kayu besar dengan keris terhunus di pangkuannya. Di hadapannya, ayahnya, Wongso, berdiri dengan tatapan bangga yang paling mengerikan yang pernah ia lihat.
“Lepaskan aku!” jerit Maryam.
Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke telinga Maryam. Napasnya terasa sedingin angin kutub. “Kita adalah satu, Maryam. Semakin kamu berlari, semakin dalam aku berakar. Tidurlah, dan saat kamu bangun nanti, ingatlah bahwa setiap kali kamu menutup mata, aku akan selalu ada di sini menunggu untuk menjemput milikku kembali.”
Cengkeraman di tangan Maryam terasa semakin kencang, seolah kuku-kuku perempuan itu mulai menembus kulitnya. Rasa sakit itu begitu nyata hingga Maryam tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia terduduk di atas dipan, mencengkeram dadanya yang naik-turun tak beraturan. Kamarnya masih sama, gelap dan sunyi, hanya diterangi cahaya bulan yang tembus melalui celah genteng. Namun, saat ia menoleh ke arah tangannya sendiri, Maryam terpekik tertahan.
Di pergelangan tangannya, terdapat bekas kemerahan berbentuk lima jari, seolah seseorang baru saja mencengkeramnya dengan sangat kuat. Bau bunga kantil masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan bau pengap kamar itu. Maryam gemetar. Ia memeluk lututnya erat-erat, tidak berani kembali memejamkan mata. Ia menyadari bahwa pelariannya ke kaki gunung ini tidak mengubah apa pun. Perempuan dalam mimpinya bukan sekadar bunga tidur, melainkan bagian dari warisan hitam yang kini mulai menampakkan wujudnya, menuntut ruang di dalam raga dan jiwanya. Di kejauhan, suara anjing hutan melolong panjang, seolah menyapa kehadiran sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di masa lalu. Maryam tahu, malam-malam selanjutnya tidak akan pernah lagi sama, karena kini ia tidak lagi sendirian di dalam kepalanya sendiri. Ada orang lain yang sedang menunggu giliran untuk mengendalikan jemarinya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!