Bab 9 : Warung bu Sari

0 dibaca

A

Maryam tersentak bangun dengan napas yang memburu. Paru-parunya terasa sesak seolah-olah baru saja diisi paksa oleh air sungai yang dingin. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menghalau bayangan ayahnya yang memegang keris di depan jurang kegelapan. Ternyata, itu hanya bagian dari mimpi buruk atau mungkin sekadar halusinasi akibat kelelahan yang luar biasa. Ia tidak berada di sebuah lembah gaib, melainkan tergeletak di atas trotoar semen yang kasar di pinggir jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lintas kendaraan.


Sinar matahari pagi terasa menyengat di kulit wajahnya yang kotor. Tubuhnya terasa remuk. Maryam bangkit berdiri dengan perlahan, memegangi pinggiran tiang listrik agar tidak jatuh kembali. Bajunya yang lembap kini sudah mengering, meninggalkan bercak-bercak lumpur dan bau amis air sungai. Perutnya melilit sangat perih, sebuah rasa lapar yang nyata dan menyiksa, lebih menakutkan daripada bayangan makhluk-makhluk yang mengejarnya di hutan.


Ia berjalan terseok-seok mengikuti arah jalan aspal yang menurun. Di depannya, terlihat sebuah bangunan sederhana dengan dinding papan berwarna hijau kusam. Di depan bangunan itu, tergantung sebuah papan kayu bertuliskan Warteg Bu Sari dengan cat merah yang sudah banyak mengelupas. Aroma masakan yang kuat—perpaduan antara sambal goreng, bawang putih goreng, dan uap nasi panas—tercium sampai ke jalan raya, membuat air liur Maryam menetes tanpa sadar.


Maryam berhenti tepat di depan pintu warung yang terbuka lebar. Di dalamnya, seorang wanita paruh baya dengan tubuh tambun dan rambut yang digulung asal-asalan sedang sibuk menata piring di atas etalase kaca. Wanita itu mengenakan daster batik yang sudah pudar warnanya. Di atas meja panjang, tersedia berbagai macam lauk-pauk yang terlihat sangat menggoda bagi seseorang yang belum makan selama dua hari.


“Mau makan, Nduk? Masuk saja, mumpung nasinya masih mengepul,” sapa wanita itu tanpa menoleh, tangannya masih lincah memindahkan tempe goreng ke piring saji.


Maryam terdiam di ambang pintu. Ia meraba saku bajunya, namun ia tahu tidak ada sepeser pun uang di sana. Ia hanya memiliki raga yang letih dan beban gaib yang ia bawa dari rumahnya.


“Maaf, Bu. Saya tidak punya uang,” kata Maryam dengan suara serak.


Wanita yang dipanggil Bu Sari itu berhenti bekerja. Ia menoleh dan menatap Maryam dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya tajam, menyelidiki setiap detail penampilan Maryam yang berantakan, rambutnya yang penuh ranting kering, dan wajahnya yang pucat pasi.


“Kamu habis kecopetan atau bagaimana? Penampilanmu seperti orang yang habis dikejar macan di hutan,” tanya Bu Sari sambil meletakkan capit makanan yang ia pegang.


“Saya habis menempuh perjalanan jauh. Saya mencari pekerjaan, Bu. Apa saja yang penting saya bisa makan dan ada tempat untuk berteduh sebentar,” jawab Maryam dengan jujur.


Bu Sari mendengus pelan, lalu berkacak pinggang. Ia melihat ke sekeliling warungnya yang mulai didatangi oleh beberapa supir truk dan buruh bangunan. Asistennya yang biasa membantunya mencuci piring tidak datang sejak kemarin karena sakit, dan tumpukan piring kotor di bagian belakang warung sudah mulai menggunung.


“Siapa namamu?” tanya Bu Sari lagi.


“Maryam, Bu.”


“Baiklah, Maryam. Aku memang sedang butuh orang untuk bantu-bantu. Tapi jangan kira kamu bisa bersantai di sini. Kerjanya berat, mulai dari cuci piring, menyapu lantai, sampai mengupas bawang. Kalau kamu sanggup, kamu boleh makan sekarang dan mulai bekerja setelah itu,” kata Bu Sari tegas.


Mata Maryam berkaca-kaca. Ia mengangguk cepat. “Saya sanggup, Bu. Apa pun akan saya kerjakan.”


Bu Sari kemudian mengambil sebuah piring plastik, mengisinya dengan nasi yang banyak, lalu menyiramnya dengan sayur lodeh dan sepotong tahu bacem. Ia menyodorkan piring itu kepada Maryam.


“Duduk di pojok sana dan habiskan. Jangan bicara dulu kalau belum kenyang,” perintah Bu Sari.


Maryam duduk di bangku kayu panjang yang terletak paling sudut. Ia menyuapkan nasi itu ke mulutnya dengan gemetar. Rasa nasi yang hangat dan gurihnya sayur lodeh terasa begitu nikmat, seolah-olah itu adalah makanan terbaik yang pernah ia cicipi sepanjang hidupnya. Namun, di tengah kepuasan itu, Maryam merasakan sesuatu yang janggal.


Saat ia sedang mengunyah, ia melihat bayangannya sendiri di lantai semen yang sedikit becek di bawah meja. Bayangan itu tidak bergerak mengikuti gerakannya. Saat Maryam menunduk untuk mengambil suapan lagi, bayangan itu tetap tegak diam, seolah sedang memperhatikannya dengan cara yang sangat dingin.


Maryam segera memejamkan mata, berusaha mengabaikan penglihatan itu. Ia teringat pesan ibunya untuk terus maju dan jangan menghiraukan gangguan apa pun. Ia menelan nasinya dengan cepat, berusaha memenuhi rongga perutnya agar memiliki tenaga untuk bertahan hidup di tempat asing ini.


Selesai makan, Maryam langsung menuju ke bagian belakang warung sesuai arahan Bu Sari. Di sana terdapat sebuah sumur pompa dan tumpukan piring yang sangat banyak. Ia mulai bekerja dengan giat. Ia menggosok piring-piring itu dengan sabun, membilasnya hingga bersih, dan menatanya kembali di rak. Bu Sari berkali-kali datang mengecek pekerjaannya dan tampak cukup puas dengan ketangkasan Maryam.


“Kamu rajin juga, Nduk. Dari mana asalmu sebenarnya? Kamu tidak terlihat seperti orang kota,” tanya Bu Sari sambil mengelap meja di dekat tempat Maryam bekerja.


“Saya dari desa di balik gunung, Bu. Saya ingin mencari pengalaman baru di sini,” jawab Maryam singkat, tidak ingin membongkar rahasia keluarganya.


“Baguslah kalau begitu. Di sini aman, asalkan kamu jujur dan mau kerja keras. Tapi ingat, kalau malam hari, jangan sembarangan keluar warung. Daerah di kaki gunung ini kadang-kadang terasa agak aneh kalau sudah lewat tengah malam. Banyak cerita yang tidak masuk akal sering terdengar dari arah hutan di atas sana,” kata Bu Sari dengan nada memperingatkan.


Maryam hanya mengangguk pelan. Ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Bu Sari. Kegelapan yang dibicarakan wanita itu bukanlah hal baru baginya. Kegelapan itu adalah sesuatu yang sudah menyatu dengan darahnya.


Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan pelanggan mulai sepi, Bu Sari memberikan sebuah sarung bersih dan bantal kecil kepada Maryam. Ia mengizinkan Maryam untuk tidur di sebuah dipan kayu yang terletak di ruang belakang, dekat dapur.


“Malam ini kamu tidur di sini. Besok subuh kita sudah harus bangun untuk masak masakan baru,” kata Bu Sari sebelum ia sendiri masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Maryam merebahkan tubuhnya yang sangat letih di atas dipan. Ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu bohlam kuning yang redup. Bau kayu bakar dan sisa bumbu masakan tercium kuat di udara. Ia merasa sedikit lebih tenang karena memiliki atap di atas kepalanya. Namun, saat ia mulai memejamkan mata, ia mendengar suara tawa kecil yang sangat halus, persis seperti suara yang ia dengar di bawah pohon randu alas.


Suara itu berasal dari kolong dipan tempatnya berbaring. Maryam mengeratkan pelukannya pada bantal, menolak untuk menunduk dan melihat apa yang ada di bawah sana. Ia menarik sarung menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala.


“Aku sudah bekerja, aku sudah makan,” bisik Maryam pada dirinya sendiri, seolah-olah mantra itu bisa menjauhkannya dari gangguan gaib.


“Kamu tidak bisa lari, Maryam,” bisik suara itu kembali, kali ini terdengar lebih jelas di telinganya. “Warteg ini hanya tempat mampir. Wadah sepertimu tidak ditakdirkan untuk mencuci piring selamanya.”


Maryam menutup telinganya dengan kedua tangan. Ia memaksa dirinya untuk tidur, mengabaikan getaran halus yang mulai merambat dari lantai kayu ke seluruh tubuhnya. Di luar, angin gunung bertiup kencang, menggoyang papan nama warteg hingga menimbulkan suara berdecit yang pilu di tengah kesunyian malam. Di dalam warteg yang sederhana itu, Maryam menyadari bahwa sejauh mana pun ia berlari, identitas aslinya sebagai pewaris ilmu hitam Wongso akan selalu menemukannya, bahkan di balik aroma harum masakan Bu Sari.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk