Bab 11 : Satu Bulan

3 dibaca

A

“Ini upahmu untuk minggu terakhir, Maryam. Kamu yakin benar-benar ingin pergi ke Jakarta besok pagi?” tanya Bu Sari sembari meletakkan sebuah amplop cokelat yang permukaannya sudah agak berminyak di atas meja makan kayu yang retak di beberapa sudut.


Maryam menghentikan gerakannya yang tengah mengelap sisa tumpahan kuah sayur lodeh. Ia mendongak, menatap wajah Bu Sari yang memancarkan guratan kekhawatiran seorang ibu. Aroma bawang goreng yang gurih dan uap nasi hangat yang mengepul dari bakul besar di sudut warteg biasanya memberikan rasa nyaman bagi siapa saja, namun bagi Maryam, bau itu kini bercampur dengan aroma amis yang samar, aroma yang hanya bisa dicium oleh hidungnya sendiri.


“Yakin, Bu. Saya harus pergi. Jakarta mungkin tempat yang lebih luas untuk saya mencari peruntungan,” jawab Maryam dengan suara datar, mencoba menyembunyikan getaran yang merayap di tenggorokannya.


Bu Sari mendesah panjang. Ia mengusap bahu Maryam dengan lembut. “Kota itu keras, nduk. Kamu baru sebulan di sini, baru saja mulai terbiasa dengan ritme warteg. Tapi ya sudahlah, kalau tekadmu sudah bulat, Ibu tidak bisa melarang. Hanya saja, matamu itu... kamu kurang tidur lagi?”


Maryam hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya yang cekung. Ia tidak mungkin menceritakan pada Bu Sari bahwa setiap kali ia memejamkan mata, ia tidak melihat kegelapan yang tenang, melainkan sebuah pohon randu alas yang akarnya perlahan-lahan melilit lehernya. Ia tidak mungkin bicara bahwa selama satu bulan ini, ia telah mencuci beribu piring hanya untuk meredam suara tawa seorang perempuan yang gemar berbisik di telinganya saat tengah malam tiba.


Setelah Bu Sari masuk ke kamar belakang, Maryam menarik kursi dan duduk perlahan. Ia membuka amplop itu. Jemarinya yang kasar dan sedikit mengelupas akibat deterjen sabun cuci piring menghitung lembar demi lembar uang di dalamnya. Itu adalah hasil keringatnya selama tiga puluh hari. Tidur di dipan keras di dapur, bangun sebelum fajar menyapa, dan melayani supir truk yang mampir dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Uang ini adalah tiketnya. Uang ini adalah satu-satunya jembatan yang mungkin bisa membawanya pergi jauh dari jangkauan bayang-bayang ayahnya, Wongso.


Ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri. Bekas kemerahan berbentuk lima jari itu belum hilang. Alih-alih memudar, warna kulit di sana berubah menjadi keunguan gelap, seolah-olah lebam itu telah menyatu dengan dagingnya. Setiap kali ia merasa lelah, lebam itu akan berdenyut, mengirimkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.


“Kamu pikir Jakarta akan cukup bising untuk membungkamku, Maryam?” suara itu muncul lagi. Lembut, namun tajam seperti silet yang mengiris permukaan air.


Maryam memejamkan mata rapat-rapat. “Diam,” bisiknya pada ruang kosong di depannya.


“Di sana banyak orang mati yang belum sempat mengucap selamat tinggal. Aku akan punya banyak teman di sana. Kita akan punya banyak teman,” lanjut suara di dalam kepalanya, diiringi tawa kecil yang terdengar sangat mirip dengan suara Maryam sendiri jika ia kehilangan akal sehatnya.


Maryam tidak membalas. Ia memasukkan uang itu ke dalam sebuah kantong plastik kecil, lalu menyembunyikannya di dalam lipatan baju yang paling dalam di tas kainnya. Ia merasa jika ia berada di tengah jutaan manusia di ibu kota, keberadaannya akan tersamar. Ia berharap bisingnya mesin kendaraan dan silau lampu kota bisa membutakan mata gaib yang terus menguntitnya. Di desanya, ia adalah sebuah mercusuar bagi kegelapan. Di Jakarta, ia berharap bisa menjadi hanya sebutir pasir di tengah gurun beton.


Malam itu, Maryam tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi dipan, menatap bayangan pohon mangga di luar jendela yang bergoyang ditiup angin gunung. Bayangan ranting-ranting itu tampak seperti tangan-tangan kurus yang berusaha menggapai kaca jendela. Ia teringat pada ibunya, Sumini. Apakah ibunya masih sering menangis di lantai tanah rumah mereka? Ataukah ayahnya telah mengubah ibunya menjadi sesuatu yang lain? Pikiran itu menyayat hatinya, namun ia tahu ia tidak boleh kembali. Kembali berarti menyerah pada kontrak darah yang tidak pernah ia tandatangani.


Pukul empat pagi, kabut tebal masih menyelimuti kaki gunung saat Maryam berpamitan pada Bu Sari. Pemilik warteg itu memberinya bungkusan nasi timbel dan sedikit bekal tambahan. Maryam berjalan kaki menuju terminal kecil tempat bus antarkota biasa bersandar. Langkah kakinya terasa berat, seolah-olah tanah yang ia pijak mencoba menahannya, menarik tumitnya agar tetap tinggal di wilayah kekuasaan yang dikenal oleh para leluhurnya.


Terminal itu sepi. Hanya ada satu lampu neon yang berkedip-kedip dan suara mesin bus tua yang menderu rendah, mengeluarkan asap hitam ke udara dingin. Maryam menyerahkan sejumlah uang kepada kondektur dan naik ke atas bus. Ia memilih kursi paling belakang, di sudut yang gelap, tempat ia bisa meringkuk tanpa perlu berinteraksi dengan siapa pun.


Saat bus mulai bergerak perlahan meninggalkan area terminal, Maryam menatap keluar jendela. Ia melihat deretan pohon dan rumah-rumah kayu yang perlahan menghilang ditelan kabut. Untuk pertama kalinya dalam satu bulan, ia merasa ada sedikit harapan. Ia sedang menuju tempat di mana tidak ada pohon randu alas.


Namun, saat bus berbelok di tikungan tajam yang mengarah ke jalan raya lintas provinsi, bus itu tiba-tiba mengerem mendadak. Bunyi decit ban yang bergesekan dengan aspal memecah kesunyian subuh. Maryam terlempar ke depan, dahinya membentur sandaran kursi di hadapannya.


Para penumpang mulai gaduh, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sang supir bus turun dengan wajah pucat pasi, senternya mengarah ke tengah jalan. Maryam, dengan jantung yang berdegup kencang, ikut melongok lewat jendela yang berembun.


Di tengah jalan yang sepi dan berkabut itu, tidak ada kecelakaan, tidak ada pohon tumbang. Hanya ada seorang pria tua yang berdiri tegak membelakangi bus. Pria itu mengenakan surjan lusuh dan jarik yang motifnya sudah pudar, pakaian yang sangat dikenali oleh Maryam. Di tangan kanan pria itu, terdapat sebuah keris tua yang dibungkus kain putih, dan di tangan kirinya, ia memegang sebuah payung kertas yang sudah robek-robek.


Supir bus itu berteriak menyuruh orang itu menyingkir, namun pria itu tetap bergeming. Perlahan, pria itu mulai menoleh. Maryam menahan napas, seluruh tubuhnya menjadi kaku seolah-olah darahnya berhenti mengalir. Saat wajah itu sepenuhnya menghadap ke arah bus, lampu depan bus yang terang benderang menyinari sosok tersebut.


Itu bukan ayahnya. Namun, pria itu memiliki lubang hitam di tempat seharusnya matanya berada, dan dari mulutnya yang menganga, keluarlah ribuan lalat hitam yang langsung menyerbu ke arah kaca depan bus. Di tengah kerumunan lalat yang menutup pandangan, Maryam mendengar suara yang sangat jelas di telinganya, seolah-olah seseorang duduk tepat di sebelahnya.


“Jangan pergi tanpa izin, Maryam. Perjalanan ini belum dibayar dengan darah.”


Tiba-tiba, mesin bus mati total. Kegelapan pekat menyergap kabin bus, dan di tengah keheningan yang mencekam itu, Maryam merasakan sebuah tangan dingin yang sangat besar mulai mencengkeram pundaknya dari arah kursi kosong di belakangnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk