Bab 12 : Kota Tanpa Masa Lalu

0 dibaca

A

Getaran mesin bus tua itu akhirnya kembali terasa di bawah telapak kaki Maryam. Suara deru yang kasar dan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada seolah menjadi nyanyian keselamatan yang paling indah baginya saat ini. Bayangan pria bermata lubang hitam dan kerumunan lalat yang tadi menyesaki pandangannya lenyap begitu lampu kabin bus menyala berkedip-kedip. Maryam tersentak, napasnya memburu, sementara tangan dingin yang tadi mencengkeram pundaknya kini tidak meninggalkan bekas apa pun kecuali rasa ngilu yang merambat hingga ke tulang selangka.


Nduk, kamu tidak apa-apa? tanya seorang ibu paruh baya yang duduk di seberang kursi Maryam. Wajah ibu itu terlihat cemas di bawah temaram lampu bus yang berwarna kuning pucat. Tadi kamu seperti orang sesak napas, mukamu pucat sekali.


Maryam menelan ludah yang terasa kering dan pahit. Ia mencoba mengatur detak jantungnya yang masih berpacu tidak beraturan. Saya hanya mimpi buruk, Bu. Maaf kalau mengganggu, jawab Maryam pelan. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara bising ban bus yang bergesekan dengan aspal jalanan pantura.


Ibu itu mengangguk pelan, meski matanya masih menyisakan keraguan. Tidurlah lagi, perjalanan ke Jakarta masih jauh. Mungkin kamu hanya kelelahan.


Maryam memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar sana, kegelapan Jawa Tengah perlahan-lahan mulai tertinggal di belakang. Pohon-pohon jati yang berdiri kaku di pinggir jalan tampak seperti siluet raksasa yang melambai melepaskannya. Ia merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat di dalam dadanya, semacam benang gaib yang menghubungkan jantungnya dengan tanah yang baru saja ia tinggalkan. Di tanah itu, ibunya mungkin sedang menangis di bawah pohon randu alas, atau mungkin ayahnya sedang merapal mantra untuk memanggilnya pulang.


Namun, Maryam sudah membulatkan tekad. Ia tidak ingin menjadi wadah bagi apa pun yang terkubur di bawah rumahnya. Ia ingin menjadi manusia biasa yang bangun pagi untuk bekerja, bukan terbangun karena bisikan orang mati di telinganya.


Bus terus melaju membelah malam. Setiap kali bus melewati papan penunjuk jalan yang menandakan jarak ke perbatasan provinsi semakin dekat, Maryam merasa bebannya sedikit berkurang. Ia memejamkan mata, namun bukan untuk tidur. Ia mencoba membangun dinding di dalam pikirannya, sebuah tembok tebal yang akan memisahkan Maryam si gadis desa dengan Maryam yang baru saja lahir di atas kursi bus ini.


Jangan senang dulu, Maryam, sebuah suara parau berbisik tepat di gendang telinganya.


Maryam tidak bergerak. Ia tidak membuka mata. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih. Di dalam kepalanya, ia membayangkan dirinya sedang berjalan di tengah padang yang sangat luas dan membakar semua jembatan yang ada di belakangnya. Suara itu adalah sisa-sisa kutukan, pikirnya. Selama ia tidak memberi ruang bagi rasa takut, suara itu hanyalah angin lalu.


Pukul lima pagi, bus mulai memasuki pinggiran kota besar. Pemandangan hijau dan rimbun berganti dengan deretan bangunan beton yang gersang dan lampu-lampu neon yang tidak pernah padam. Udara yang masuk melalui celah jendela bus terasa berbeda; tidak ada lagi aroma tanah basah atau bunga kantil yang menyeramkan. Yang ada hanyalah bau bensin, debu, dan aroma kehidupan yang tergesa-gesa.


Jakarta. Kota ini tampak seperti monster logam yang raksasa, namun bagi Maryam, monster ini jauh lebih aman daripada bayangan hitam yang menghuni hutan pinus di desanya. Di sini, tidak ada yang mengenal Wongso. Di sini, tidak ada yang tahu tentang perjanjian darah tujuh belas tahun yang lalu. Di sini, ia hanyalah satu dari jutaan kepala yang mencari suaka dari masa lalu masing-masing.


Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal yang hiruk pikuk. Suara klakson bersahutan dengan teriakan para calo dan pedagang asongan. Maryam berdiri, menyampirkan tas kainnya yang usang ke bahu. Kakinya terasa kaku saat ia melangkah turun ke aspal terminal yang becek oleh sisa hujan semalam.


Karcisnya mana, Mbak? tanya seorang petugas terminal dengan nada tidak sabar.


Maryam menyerahkan secarik kertas yang sudah lecek itu tanpa berkata-kata. Ia kemudian berjalan menjauh dari kerumunan, membiarkan dirinya ditelan oleh arus manusia yang bergerak cepat. Ia tidak tahu harus ke mana, ia tidak punya saudara di kota ini, namun rasa asing yang menyergapnya justru memberinya kekuatan. Di tempat ini, ia tidak punya identitas. Ia bisa menjadi siapa saja.


Ia berhenti di depan sebuah warung kopi kecil di sudut terminal. Aroma kopi murah dan asap rokok terasa sangat nyata dan membumi. Maryam menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara kota yang kotor namun terasa membebaskan.


Berapa harga kopi hitamnya, Pak? tanya Maryam kepada penjaga warung.


Lima ribu, Nduk. Mau pakai gula? jawab si bapak tanpa melihat ke arahnya, tangannya sibuk mengaduk gelas plastik.


Pakai gula, Pak, jawab Maryam singkat.


Ia duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu kasar. Sambil menunggu kopinya, ia mengeluarkan dompet kecil dari sakunya. Uang hasil jerih payahnya bekerja di warteg Bu Sari masih tersisa cukup untuk bertahan beberapa hari. Ia harus segera mencari pekerjaan, apa saja, asalkan ia tetap sibuk dan tidak punya waktu untuk melamun.


Saat ia sedang menyesap kopi panasnya, ia melihat bayangannya sendiri di kaca etalase warung yang berdebu. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia tujuh belas tahun. Matanya tampak lelah, namun ada sepercik api yang belum padam di sana. Ia menyentuh pergelangan tangannya, tempat bekas cengkeraman merah itu berada. Anehnya, bekas itu sudah hilang sepenuhnya, seolah kulitnya telah menghapus memori tentang sentuhan gaib itu.


Apakah kamu sudah pergi? bisik Maryam dalam hati, bertanya pada entitas yang selama ini bersembunyi di balik kesadarannya.


Tidak ada jawaban. Hanya suara televisi tua yang menyiarkan berita pagi dan kebisingan terminal yang semakin menjadi-jadi. Maryam tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir namun penuh kemenangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki kendali atas raganya sendiri.


Ia menghabiskan kopinya, lalu bangkit berdiri. Ia melangkah keluar dari area terminal, menuju jalan raya yang mulai dipadati kendaraan. Matahari pagi mulai mengintip dari balik gedung-gedung tinggi, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara. Maryam terus berjalan lurus, tidak sekali pun ia menoleh ke arah bus yang membawanya dari Jawa Tengah. Baginya, masa lalu adalah sebuah peta yang sudah ia bakar habis, dan sekarang, ia siap menuliskan sejarahnya sendiri di kota yang tidak mengenal namanya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk